Indomie, Teh Botol, Rokok, Gorengan dan Semua Dagangan Kaki Lima Yang Kita Suka Tapi Katanya Bikin Kita Cepat Mati

January 6, 2012 at 2:17 pm | Posted in filsafat, iseng, katarsis, ngoceh | 5 Comments
Tags: , , , , , ,

Pada suatu hari dalam hidup saya yang tidak luar biasa ini, saya bertanya begini kepada istri saya yang sedang bosan sama saya: Can one choose to be happy? I mean, can one be happy for no reason — like melancholy or unconditional love?

Kata Alfamart, ini harganya Rp1.100. Dulu saya beli tiga ratus lima puluh rupiah satu tapi beli seribu dapet empat bungkus.

Dia bilang: Bisa. Tapi saya ragu dia benar punya pendapat. Apa betul, begitu, orang bisa seneng tanpa alasan? We’re always happy for something, right? Saya senang kalau Anda senang. Atau kalau Anda susah. Atau kalau Anda sangat-sangat susah — gak punya duit, gak punya pacar, gak punya Blackberry, gak punya duit, gak punya duit, gak punya duit — dan saya baik-baik saja (hehe. Ya, saya tahu ini egois namanya, tapi semua orang begitu, bukan? Maksud saya, siapa sih yang rela nyumbang gaji sebulan, apalagi setahun, buat orang miskin, terus melepas semua dia punya buat orang yang gak punya?). Pokoknya, intinya, orang senang karena suatu hal: apapun itu, termasuk senang karena tidak ada apa-apa, yang tentunya tidak bisa disamain dengan senang tanpa alasan.

Saya bisa salah tentu saja. Istri saya benar mungkin. Saya benar-benar tidak tahu, dan saya tidak mengapa dengan ketidak-tahuan ini. Konon kata Milan Kundera, kesadaran akan ketidaktahuan (kebodohan yang disadari) adalah satu hal yang membuat orang jadi individu sejati, jadi manusia alias orang otentik begitu. Dia ada ambil contoh tokoh dalam novel Gargantua and Pantagruel yang tidak bisa jawab pertanyaan apakah dia harus kawin. Dia orang tanya dokter, profesor, filsuf, penyair, yang semuanya merujuk pada Aristoteles, Homer dan bahkan Plato, tapi si tokoh ini masih gak dapet jawabannya juga. Dan kita juga gak tau. Ini orang mesti kawin apa enggak? Tapi setidaknya, kata Kundera, “we have explored from every possible angle the situation, as comical as it is elemental, of the person who does not know whether he should marry or not.”

kenapa cewe yang terlalu manis itu berbahaya.

Kata Kundera begitu, pada saat kita menunda kepastian, menunda pilihan untuk percaya sains atau agama, misalnya, kita jadi manusia, yang cukup rendah hati untuk tidak merasa sudah tahu semuanya. “Man,” kata Kundera, “is never the who he thinks he is.” Pada akhirnya, hidup itu bukan pilihan, tetapi saat atau momen ketika kita membuat pilihan itu, atau lebih tepatnya, saat ketika kita tidak bisa membuat pilihan yang pasti, yang haqul yakin begitu. Ini saya pikir ada benarnya. Karena apa yang terjadi setelah kita memilih adalah takdir, sesuatu yang tidak bisa kita undo selamanya — sesuatu yang berjarak dan lepas dari kita. OK, Anda kali bingung atau menganggap apa yang saya katakan ini bullshit. Tapi coba pikir apa yang Anda lakukan setiap hari: Anda makan dan kerja itu kan seuatu yang sudah Anda putuskan, sudah Anda pilih, sesuatu yang rutin, dalam mana Anda larut/terasing secara eksistensial. Tapi pada saat Anda mendadak bertanya pada diri sendiri kenapa Anda harus berkerja dan tidak bisa memutuskan mau makan apa malam ini, segalanya jadi berbeda, bukan? Kita tidak tahu tetapi sadar akan kebingungan itu, sadar akan keterasingan kita sendiri: dus, jadi manusia otentik. Ini, kata Kundera, adalah temuan para sastrawan. Terberkatilah Rabelais yang menemukan Kebodohan modern. Dan Hegel, juga Newton dan Voltaire boleh berbangga dengan segala ide besar mereka tentang semesta dan nalar kritis dan filsafat sejarah yang njlmet dan segala gagasan yang setahu saya sering kali tidak bisa menjawab apakah Anda harus kawin atau tidak.

Ini saya aja atau desain lama Teh Botol tampak lebih futiristik?

Kira-kira begitulah. Selesai tulisannya.

PS: Anda bertanya apa hubungannya Kundera dengan Indomie, Teh Botol, Rokok, Gorengan, Pecel Lele dan Semua Dagangan Kaki Lima Yang Kita Semua Suka Tapi Katanya Bikin Orang Sakit dan Cepat Mati? Well, tidak ada kaitannya langsung sih. Tapi mungkin karena di zaman modern ini, di zaman yang serba terang benderang ini, kita disuguhi kebenaran-kebenaran yang tidak kita suka (ternyata Tuhan itu tidak ada, surga apalagi) seperti, misalnya, asap rokok itu berbahaya, juga MSG dalam Indomie, dan juga gula Teh Botol. Masalahnya, saya suka Indomie, Teh Botol dan A-Mild. Jadi, setiap kali saya bertemu muka dengan Indomie saya berada persis pada momen yang disebut oleh Kundera itu; momen ketika saya menunda keputusan, karena bingung betul: kenapa ya kok jajanan sebegini enak gak boleh sering-sering dikonsumsi? Dan kemudian kita harus menghadapi dilema itu: makan enak dengan resiko maut lebih cepat menjemput atau hidup sehat dengan menu brokoli dan bukan Indomie? Tapi saya mungkin maksa aja ini. Gak apalah. Yang penting apdet. :mrgreen: Boong ding. Saya sebenarnya sedang melakukan ekeperimen sosial: apakah kata Indomie dan Teh Botol punya efek yang sama dengan kata paha atau perawan.

Advertisements

5 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. apakah kata Indomie dan Teh Botol punya efek yang sama dengan kata paha atau perawan.

    Kinda…
    Sama-sama ga ada efeknya, di saya yang sedang ingin tidur tapi tak bisa tidur ini 😐

  2. Brokoli itu enak kok. Seperti juga tembakau. I meant to say that I sometimes smoke out of spite—mengganggu betul kealiman anti-tembakau sekarang ini!—tapi ternyata isi tulisan kok lain dengan judul… 😛

  3. @lambrtz: udah tidur belum?
    @pakguru: iya hahaha. emang asal nulis aja. pengaruh SOC kali. males nulis yang sedemikian direncanakan. meskipun sebenarnya saya masih belum mengatakan apa yang ingin saya katakan tentang indomie dan kawan-kawannya itu. lain kali mungkin, tergantung mood menulis aja.

  4. mengganggu betul kealiman anti-tembakau sekarang ini!

    😆
    Dari dulu juga sudah begitu, Ged. Hehe. Para anti-tembakau itu memang macam fanatikus agama juga. Cuma mereka yang pintar dan terpilih dalam hal memilih. Dan bagi mereka, perokok adalah pendosa. Pantek kali memang. 😆

  5. Saya dalam sehari,bisa menghabiskan rokok sebanyak 24 batang,terkadang bisa lebih.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: