What To Write About When You Have Nothing To Write About — Especially If You Are Indeed an Obsessive-Compulsive Blogger

December 24, 2011 at 2:34 pm | Posted in iseng, katarsis | 21 Comments
Tags: , ,

WRITE — write about how you hate the fact that you simply have nothing to say about the world and everything in it, no matter how horrible — or beautiful, depending on how much money you have in your bank account — it has become to you after years of living as nobody, not even a petty celebrity blogger. SAY — say I couldn’t care less about a group of punkers who got arrested in Aceh. I mean, come on, man, what difference does it make if I, Gentole, say that what the sharia police did there was wrong or reprehensible or unacceptable or sickening or whatever? This is not science. When it comes to morality, right or wrong is whatever you think is right or wrong.  That’s just it. So the Acehnese hate punks. So what? Some people in Europe hate women in burqa. I like Indomie. You want to kill anyone who is a fan of SMASH. So what? We human beings, unlike monkeys, happen to like and hate different things. Yes we can always argue for and against anything, including ourselves, but after all the sleepless nights trying to right all the wrongs in the world wide web, what do we get but headaches and that sense of irony; that fear that somewhere on the other part of the web another you is trying to do the same thing as you do, but with you as his or, Allah forbid, her object of ridicule? If you think that’s too far-off, look at those comments you made a few years ago. Unless you’re a fucking narcissist, chances are you will end up covering your face with your sweaty palm, painfully trying to cope with the utter embarrassment of making a big fat ass of yourself, acting like a pretentious douche-bag. I know. There’s probably no point in doing or saying anything. But we say things anyway, especially on the Internet. We love banality. We do. I did this all the time; saying out loud what I have in mind in my blog, this blog, regardless of it having no great value or importance to anyone but me. It’s cathartic. It’s okay. The point of a cathartic writing is not to persuade (read: trick) others to feel you or at least nod in agreement and think you’re a literary genius, a gem, but to say what you want to say because you really, really want to say it. It doesn’t matter if nobody reads or cares about your covert fascination with Cherry Belle. This is what we do when we have nothing to write about but feel the urge to write. It’s like wanting to pee but unable to urinate. Anyang-anyangan. It’s excruciating! That’s why we always end up cursing the world, cursing SMASH and Syahrini and Fauzi Bowo and shitty sinetrons like Putri Yang Ditukar. Most of what we say on our blogs is bullshit, or of no importance. And it’s okay. For all I know, all the things we value the most in life — money, God, heaven, true love, justice, Ipod Touch, Blackberry, a pack of cigarettes — are nonsense made sensible.

21 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. I really enjoyed reading your post today. You have a wonderful blog here. Thanks for sharing.

    I found this resource link very useful. You can change your life today. Believe me this system works.

    ~ Enjoy ~

    SEO – Online Marketing Blueprint

  2. Benar-benar luar biasa, posting muntab macam ini komen pertamanya malah spam. 😆 😆 😆
     
    saya anggap keindahan di hari natal

  3. @sora9n: anehnya dengan spam satu ini adalah: satu, dia lolos akismet. dua, linknya gak kemana-mana (cuma link gravatar). dan ketiga dia kenanj ngelike dan subscribe to this post. mungkin spam amatir kalih. aneh emang. hahaha

  4. Kayaknya itu spam baru. Dan emang amatir sih. Hehe. Baru kali ini kutengok ada spam mau mengeklik tombol LIKE di sebuah postingan. Biasanya cuma ngasih link saja :))
    Tapi cerdik juga dia. Haha. Dengan pakai akun gravatar bisa lolos, dan link utk dagang ditaro di gravatar itu sendiri 😆

  5. Owalah ada Bung Sora. Betul-betul Natal membawa berkah. 🙂

    Perkara tulisannya, ini sebetulnya agak senada dengan apa yang biasa saya tulis, tapi kok agak kurang sepakat, ya? Ini seperti paradoks timbunan pasir, masuk akal memang kalau secara perorangan, tapi kalau semuanya berpikir seperti itu, ada yang hilang.

    Atau memang saya/kita cenderung “melawan” kalau ada ide yang diajukan. Skeptis? Contrarian? Ngéyél?

  6. @alex: emang link di gravatarnya ke mana? kayaknya ga ada. 😐
    @pak guru: sebenernya gapapa juga kan cuma blog. kecuali saya ngomong dalam kapasitas saya sebagai wartawan. nah, itu, bisa rusak tatanan. *halah

  7. Linknya memang gak kemana-mana. Keketik kata dagang juga tadi itu. Tapi caranya memang cerdik. WordPress nggak akan ngeblokir gravatar yang notabene punya mereka sendiri. 😆

  8. @ Pak Guru

    Hehe, saya lagi cuti internet. Ini iseng aja main ke kantor; ngecek gosip pengumuman dsb. ^^b
     
    *halah*

    Ini seperti paradoks timbunan pasir, masuk akal memang kalau secara perorangan, tapi kalau semuanya berpikir seperti itu, ada yang hilang.

    Tragedy of the commons?

  9. @ sora9n

    Beh. Ada laconic-nya gak? 😛

  10. @ SoraSembilanN

    Kau ramai yang cari itu di fesbuk. Jadi seleb yang tanggung-jawab dikit dong! 😈
    *mancing-mancing*

  11. @all: wah judul tulisan ini mestinya what to comment about when you have nothing to comment about this post. hahahaha

  12. Apa yang mau kau komenkan dari sebuah postingan nihilis? Akhirnya diskusi memang lebih hidup macam kata Lyotard, bahwa filsafat dan segal soal hidup cuma ada pada obrolan harian saja. Obrolan ala orang minum teh atau coca-cola di kios pinggir jalan. Gagasan-gagasan metanaratfi sudah mati (suri), Gen. Haha.

  13. @ Pak Guru
     
    Intinya kira-kira, “memaksimalkan kepuasan individu mengakibatkan keruntuhan kolektif”. 😛
     
    (contoh: jika semua orang mabok maka ga ada yang bekerja; jika semua orang fapping ga ada yang bikin film xxx)
    (sorry for the last example)
     
    @ Alex
     
    Saya udah gak pernah login fesbuk sejak kasus mereka dgn mas Nazieb. Udah kebanyakan ‘dosa’ mereka. 😐
     
    Dari dulu pun Facebook banyak masalah PR & privasi, tapi ya, yang satu itu boleh dibilang the last straw.

  14. @ Gentole
     

    wah judul tulisan ini mestinya what to comment about when you have nothing to comment about this post. hahahaha

    I don’t know. Kadang lebih fun ngomongin yang sampingan daripada inti. Kalau semua orang terpaku bahasan eksistensial, di dunia ini bakal jarang yang tertawa. 😛
     
    Walaupun mungkin nggak juga; saya suka baca itu tapi masih tetap ceria. Jangan-jangan saya yang aneh

  15. Kenapa Mas Nazieb?

  16. Oh nvm.

  17. @ Sora

    Dari dulu memang fesbuk itu agak menyebalkan sih. Tidak boleh menghapus akun itu salah satunya, ya sedikit mirip-mirip wordpress.com juga, cuma karena fesbuk ini kan nyimpan semua data kita. Meski pun tidak jaminan layanan lain, bahkan wordpress ini sendiri, tidak begitu. Cuma ya itu. Dia sendiri ngelanggar privasi. Fitur timeline barunya itu saja bukti kalau mereka nyimpan data sejak kita pertama login.

    Dalam kasus Nazib, itu susah juga sih ya. Secara resmi Nazieb kan memang tidak pernah meminta izin pada fesbuk soal memakai tampilan fesbuk. Tapi sebagai “copet data” juga, fesbuk terlalu berlebihan lah dalam menyikap Nazieb. Ada banyak theme lahir tiap hari, dan kayaknya bukan Nazieb juga sendiri yang bikin sekedar untuk hobi, tanpa mengambil keuntungan.

    Tahu deh ah. Kami masih di sana untuk sementara ini. Kali aja ntar kalau dunia ke-go-blog-an sudah ramai lagi, bosan sama mikro blogging, pada balik ke blog juga. Fufufufufu.

    *belajar komen ala jaman blog lagi* 😆

  18. @ Alex
    Barangkali kalo judul theme-nya Nazieb “Smells like bukumuka” gak bakal disomasi. Walaupun akhirnya hepi ending secara kekeluargaan, tapi tetep kasus seperti ini terasa abu2. Ini seperti saya memodifikasi body Volkswagen Safari jadi Ferrari, lalu disomasi Ferrari. 😛
     
    @ Sora
    Eh, turun kau. Jangan mentang2 sudah ganti tagline blog lalu seenaknya mengeram di menara gading. :mrgreen:

  19. @ Jensen

    😆

    Atau malah kayak kasus warung kopi di Jerman yang digugat Apple karena mirip logo. Mirip ndasnya!. Susah memang perusahaan gede yang ngaku-ngaku inovator itu, ya apple, ya facebook. Lha facebook sendiri menjiplak dari kampusnya itu. 😈

    Suruh balik si Sora itu! Tak ada cara lebih baik dari memperolok facebook selain dengan menggunakan facebook juga kan?! 😈

  20. @ Alex

    Mending cuma logo yang mirip. Lha kalo kasus kek gini gimana? 👿
    Kalau macam blogku dituntut Mossad sih gampang cari nama lain. :mrgreen:

  21. @ Jensen

    Oimak! Kasusnya apes banget. Emaknya udah bagus-bagus kasih nama, dituntut pula dari pabrikan asal Sakura. 😆
    Itu sebab aku tak suka dengan banyak pabrikan. Apalagi pasca abad 20. Paten kemana-mana. Coba kalau orang macam Goodyear dulu mematenkan ban yang bulat, apa hari ini kita mesti pakai ban segitiga? 😈


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: