Hidup Lawan Mati

December 18, 2011 at 3:25 pm | Posted in Catatan, katarsis, refleksi | 4 Comments
Tags: , , , , ,

Apa ada yang lebih besar dari hidup kita rela mati karenanya?

Tanda Tanya Di Tubuh Sondang    
Ada anak muda, mahasiswa, dia mati bunuh diri. Saya tidak berduka. Ada simpati, tentu, tapi bukan duka. Bukan semata karena saya tidak kenal dia orang, tapi lebih karena saya tidak tahu pasti alasan dia memutuskan mati; dengan menyulut tubuhnya yang berminyak di muka penguasa. Saya pikir dia gila. Tapi, yah, apa artinya, gila? Boleh jadi Sondang Hutagalung adalah orang paling waras di negara sakit ini. Dan kita semua, yang berpikir Sondang mati konyol, adalah sebenarnya orang-orang sinting yang merasa waras.

that symbolic question mark

Kematian Sondang itu—apa, kenapa, untuk apa? Saya tulis draf esai ini di kantor saya; tepatnya di tengah kubikal klaustrofobik; cluttered; di situ ada koran-koran bekas, saya lihat sederet berita Sondang. Katanya dia akan dikenang—oleh mereka yang melihat kematiannya sebagai simbol dari protes; protes pada segala apa yang tidak betul dari pemerintah. Saya percaya dia punya kesadaran politik. Dia aktifis, seorang pejuang. Tapi saya masih ragu bila kematiannya itu pada hakikatnya politis; maksudnya didasari oleh kesadaran politiknya, atau aktifismenya. Aksi bakar diri itu boleh jadi sebentuk protes, tapi mungkin Sondang tidak berniat mati? Bilakah aksi itu semacam pertunjukan yang berakhir tragis? Dalam benak saya, kematian Sondang agak mirip dengan kematian Neda Agha Soltan, gadis yang menyulut semengat revolusi gagal di Iran. Kematian Neda itu politis, tapi Neda sendiri hanyalah korban dari situasi. Dia tidak berada di tengah para demonstran untuk menjadi martir dan membakar revolusi. Kematian Neda, seperti juga Sondang, dipolitisir, dijadikan bahan jualan politisi oposisi; Mousavi di sana, Mega di sini. Bedanya dengan Neda, Sondang adalah pelaku bunuh diri. Meksi begitu, saya respect mereka yang tulus melihat kematian Sondang sebagai tonggak dari protes yang tidak berkesudahan terhadap ketidakadilan. Karena, sekali lagi, saya tidak tahu persis alasan Sondang memutuskan mati.

untuk hidup yang sebenarnya

Tidak seperti Mohamed Bouazizi, tukang buah yang menyulut dirinya dan revolusi di negara-negara berbahasa Arab, tidak ada narasi yang membuat aksi Sondang jadi masuk akal. Kata mereka yang kenal dengan Sondang, yang saya baca dalam berita, semuanya seperti baik-baik saja dengan pemuda itu sebelum imolasi diri yang dilakukannya. Tidak ada yang sangka dia bakal senekad itu; karena mungkin, entahlah, saya pikir dia tidak cukup marah? Bouazizi adalah tukang buah yang menghidupi delapan anggota keluarganya, seorang breadwinner, tulang punggug keluarga. Dan dia ini setiap hari jadi korban korupsi dan kebobrokan dan arogansi pemerintah (coba bayangkan Anda setiap hari harus berhutang agar bisa berjualan dan kemudian uang hutang itu dipalak aparat dan kemudian Anda protes tapi malah digampar, diludahi, dihina — aksi Bouazizi yang membakar dirinya menjadi sangat masuk akal dan logis, bukan? We’d probably do the same!). Masalahnya dengan Sondang, kita tidak punya narasi itu; apa pretext yang melatari aksi nekad Sondang?

Hidup Lawan Mati
Sondang mengingatkan saya pada Anna Karenina dalam novel Tolstoy. Kita tidak tahu pasti apa yang melatari aksi bunuh diri Anna (dia melompat ke rel, lalu dilibas kereta) — apakah itu juga sebuah protes, sebuah penolakan terhadap kemunafikan dan kegalatan dalam hidup? Kadang sebuah aksi memang sama sekali tidak bisa dirasionalisasikan; dilogiskan, begitu. Kadang, apa yang kita putuskan memang ditakdirkan untuk selamanya jadi tanda-tanya, jadi sesal yang tidak berkesudahan, yang kita perikan dalam pertanyaan retorik: duh, kenapa gue melakukan itu!!? Bagaimana keputusan itu dibuat? Apakah aksi Sondang hanya bisa dimengerti dalam dua narasi sederhana: Kalau bukan tindakan konyol orang yang frustasi, ya tindakan heroik seorang yang syahid? Sondang, menurut saya, bisa terus beraksi, jadi aktifis HAM, atau jadi politisi dan mewujudkan idealismenya. Atau, bila dia betul depresi, lari ke narkotika, seks bebas, dll; kenapa dia memutuskan mati? Tanda tanya ini mengusik! Saya pikir — saya tahu ini hampir tautologis — ini soal hidup dan mati. Segala soal dalam hidup ini bisa dikerucutkan pada pertanyaan itu: pilih mana, hidup atau mati? Kematian Sondang itu prosa dari rapuhnya segala sendi keseharian kita; bahwa kita sebenarnya selalu berada di perbatasan antara kehidupan dan kematian, wujud dan ketiadaan.     

Kehidupan Yang Hina, Kematian Yang Mulia
Kalo hidup diartikan sebagai berfungsi secara biologis saja, bisa bernafas, makan dan buang air kecil, misalnya, maka hidup saja tidak cukup. Kita ingin lebih dari itu. Kita ciptakan agama, kasih sayang, kebaikan dan cinta sejati (atau budaya pop, Ipod Touch, Facebook, emas dan lain-lain) agar hidup lebih hidup. Bagi seorang abid yang dimabuk rindu pada yang ilahi, hidup (nafasnya, makannya) tidak berarti tanpa Allah. Bagi Qays dan Romeo, hidup (menghabiskan waktu luang di Sabtu malam) tidak ada artinya tanpa kekasih mereka: Layla dan Juliet. Di sini ada paradoks: banyak orang yang tidak puas dengan hidup yang sebatas makan dan minum saja; lalu mereka buat hal-hal baru untuk merasa lebih hidup, tetapi malah menegasikan hidup itu sendiri. Bagi Kurt Cobain, atau bahkan Yesus Kristus, degub jantung bukan segalanya. Dengan kata lain, kematian adalah kehidupan yang sesungguhnya buat sebagian orang. Kematian Sondang mengantar saya pada pertanyaan itu: apakah ada hal yang lebih besar dari hidup kita rela tidak hidup agar bisa menghidupinya, bahkan setelah kita tiada, jadi legenda yang hidup selamanya?

Sajak-sajak Yang Tidak Pernah Letih Mencari Makna
Pada akhirnya, kita bertanya untuk kesekian kalinya, apa arti dari semua ini? Kematian Sondang jadi tanda tanya; perasaan kita yang bercabang (antara kasihan, kagum dan sinis) atas aksi anak muda itu; apakah artinya semua ini? Saya pikir kita tidak bisa mengharapkan kepastian dari pertanyaan rumit yang saya lontarkan pada awal tulisan ini. Saya pun tidak tahu. Yang jelas, saya tidak atau belum ingin mati, dan sama sekali tidak berminat mengikuti jejak Sondang. Kita semua ada punya akal-sehat, Ego (bukan Id atau Superego), yang mewaraskan kita, membuat kita hidup lebih panjang, setidaknya hidup dalam arti bernafas dan makan. Tapi selalu ada yang tidak berjawab, yang tidak bisa dimengerti, dari segala apa yang kita pikirkan dan lakukan, sebuah misteri besar, api yang membakar tubuh Sondang!, yang karenanya sajak-sajak dituliskan.

4 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Ketidakbermaknaan ataupun kebermaknaan suatu hal selalu membuat kita (manusia) berupaya menafsirkan, memakna-maknai… lalu menjadikannya sebagai hal yang bermakna atau tidak bermakna.
    Konon…itu karena hidup memang penuh dengan penafsiran…. Hmm…entahlah.

  2. Hal yang sama yang juga bisa dipertanyakan kepada biksu yang dulu bakar diri di Vietnam, atau seperti yang kejadian di Myanmar. Memang ada nilai-nilai sakral bagi mereka, yang di mata kita yang “merasa” waras, adalah sebuah nilai yang tidak waras, tindakan tak waras.
    Aku merinding dengan tindakan Sondang itu, meski pun tak tahu alasannya apa, namun lebih merinding ketika mendengar Megawati dan para politisi angkat bicara. Bagi mereka, bangkai pun akan mereka makan selama itu bisa menunjang kehidupannya.

  3. @zukko: entahlah juga.
    @alex: ya politisi akan melakukan apa sajalah. menjijikkan memang.

  4. Cari perhatiankah ?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: