Akhwat dan Bitches

December 3, 2011 at 5:35 am | Posted in gak jelas, iseng, katarsis, ngoceh | 2 Comments
Tags: , ,

Disklemer: Generalisasi itu tidak adil. Definisi arbitrer juga sama tidak adil. Semua orang punya persepsi sendiri akan sebuah kata yang tidak mesti selaras dengan realitas bahasa di masyarakat. Dalam hal ini, kata akhwat dan bitches digunakan menurut perasaan saya saja. Tapi Anda berhak mengutarakan pendapat Anda. Adil, kan?

It’s like Darwin’s survival of the fittest: If men keep choosing the bitches, the bitchiest women will live on.” Dari situs Askmen.com.

Akhwat dan bitches. Mereka sebelas dua belas. Akhwat sejati itu, setahu saya, bitchy. Dan semua bitches itu—boleh diuji—puritan; dalam kebebasan mereka, dalam rebelliousness mereka, dalam sikap yang melatari sebuah pernyataan sinis mahadahsyat: “if you can’t live without me, why aren’t you dead yet!?

Ini aja gambarnya. Yang lain vulgar. Tahu lah ya. Internet.

Rubah betina dengan jilbab panjang

Saya ingat dulu kenal satu akhwat; bitchy sangat! Sumpah. Saya ingat semua cowo amiyah [red: bukan ikhwan, cowo biasa-biasa aja yang biarpun rajin ke masjid dari subuh sampe isya, kadang masih suka main gaple di pos ronda] pada jatuh hati semuanya; dan mereka pun sadar, she’s way out of their league! Ini dilema perempuan, semakin menarik mereka, semakin dikit pasarnya. Saya ingat betul; dia manis tak terperi, tapi bitchy.😐 Anda tahu perempuan bithcy? Cirinya ada tiga. Pertama: sinis. Kedua: sinis. Ketiga: sinis. Mereka bisa sinis karena mereka percaya diri. Mereka bisa sinis bukan karena mereka pintar. Atau pandai. Atau cerdas. Cerdas, pandai, pintar. Itu biasa. Orang tidak perlu pintar buat bisa sinis. Yang diperlukan cuma rasa percaya diri, dan dosis sikap indifferent alias cuek yang cukup masif — kalo bisa ampe overdosis! Nah, si akhwat satu ini saya lihat super percaya diri; nguliahin hampir semua cowo caper yang berupaya mendapatkan sedikit perhatian dia dengan berbagai cara — dari yang paling murahan yang bisa Anda lakukan seperti percobaan melucu yang berakhir tragis atau melontarkan pernyataan pintar yang ternyata sangat bodoh sampai sikap sok menghindar ala anime, sok gak perduli fakta bahwa si akhwat ini luar biasa menarik, bak malaikat dari langit ketujuh! Saya ikut yang sok anime itu. Dan si akhwat itu tidak perduli atau sadar saya ada. What a bitch.😐 Hanya dalam hitungan menit, orang jadi sebel banget dari suka betul sama si akhwat ini. Karena dia itu bitchy: she always talked back and made you feel like an idiot! Tapi, karena dia akhwat, dia menyalak dengan cara yang lembut, tapi teteupdalem. Dan mereka yang gagal masuk liga seri A bersama perempuan ini hanya bisa melihat dari jauh, bak pungguk malang merindukan rembulan.  Saya ingat dia menikah dengan seorang cowo yang menurut kata orang tidak terlalu tampan atau kaya tapi sepertinya cerdas, dan punya semacam, itu loh, kesalihan dan kealiman yang otentik — sesuatu yang kita para pemuja citra ini tak punya.

Kira-kira si akhwat itu auranya seperti ini kisanak. Tapi lebih manis, dan pastinya bukan sekedar karakter anime dijilbabin!

Tapi ada akhwat yang saya tahu bitchy gak ketulungan. Dia tetangga saya. Saya ingat dia nyerocos tidak berhenti waktu saya dia lihat dia berargumen dengan pihak developer — perempuan juga, equally bitchy — tentang rumahnya yang konon pada retak rambut. Kadang argumentasinya konyol. Tapi dia mengeksekusinya seolah dia pengacara melancarkan argumen pamungkasnya, begitu percaya diri sehingga orang yang jadi target tajam lidahnya itu merasa diserang betul-betul; sebuah pemandangan yang mengerikan.😐

Para Rubah Betina Yang Mulia

Aktivisme para akhwat bukti bahwa mereka bukan korban patriarki. Jilbab yang panjangnya sepinggang, kaus kaki dan manset di kaki dan tangan mereka — yang entah kenapa malah jadi erotik alias menawarkan sebuah kebisajadian: itu yang ditutupi itu bisa jadi 1,000 lebih menarik dari jempol kaki ibu-ibu tukang sayur yang hendak pergi ke pasar basah di terminal Bogor! —adalah manifestasi kebebasan. Bisa dibilang bahwa menjadi akhwat itu juga sebuah pilihan sadar; baju kurung adalah sebuah pernyataan fesyen, seperti halnya hot pants atau celana legging. Fashion, kalau saya boleh belagak sedikit, adalah juga sebuah pernyataan politik; sebuah sikap moral; buat jilbabers, perempuan yang suka pamer dada itu slutty; di dunia lain, mereka yang mengenakan cadar berfikir jilbabers macam istrinya Ustad Solmed itu setali tiga uang dengan Syahrini atau artis Indonesia lainnya yang suka pamer belahan dada dan berfikir bahwa salah satu cara menarik perhatian pesepak bola yang sudah tidak relevan lagi adalah dengan berdandan seperti istrinya, kalau perlu dengan jambul yang sedemikian menggugat akal sehat! Waduh, saya ngawur! Saya mau bilang bahwa jilbab adalah sebuah pilihan sadar; apalagi buat sebagian besar akhwat dan ini mengingatkan saya pada the bitches yang saya tahu atau kebetulan kenal dekat.

Rubah betina adalah perempuan yang tidak bisa ditundukkan; mereka puritan dalam individualitas mereka. Mereka bisa manja. Atau bertingkah seolah mereka tidak bisa hidup tanpa lelaki; tapi itu sebuah muslihat, sodara. Dulu, perempuan jadi puan bagi para lelaki oleh-sebab pesona kedewian mereka. Sekarang, setelah Ibu Kita Kartini dinyanyikan, perempuan jadi puan lelaki karena pesona dan juga muslihat yang mereka lakukan secara sadar. Tapi, tentu saja, ini lebih dari soal mengejar laki-laki. Rubah betina adalah puncak dari upaya umat manusia untuk bebas dari belenggu mitos, belenggu budaya. Dengan menjadi rubah betina, perempuan menjadi manusia bebas a la Thomas Paine. Dan ini yang membuat mereka itu menarik, setidaknya secara eksistensial (apa coba?). Saya kenal dulu satu rubah betina di kantor. Dia bitchy setengah mati. Tapi dia jago sekali menulis. Ini salah satu kualitas rubah betina; mereka jago ngomong, jago menulis, jago nyela dengan cara yang tak-terpikirkan; nylekit! Dan itu, entah bagaimana, membuat mereka menjadi menarik. Di dunia sastra, kita kenal Nyai Ontosoroh. Apa ada yang lebih bitchy dari makhluk rekaan Mbah Pram itu? Nyai adalah perempuan yang comel; dia bukan hanya independen, tapi juga punya skill luar biasa untuk menyerang siapa saja yang hendak melemahkannya, yang hendak menjadikan dia seorang perempuan penurut dalam benak setiap lelaki paruh baya yang merasa tidak nyaman dengan kelelakiannya. Kita juga kenal Scarlet O’Hara dalam film kolosal Gone with the Wind. Saya kira banyak yang setuju kalo Scarlet lebih menarik dari nemesisnya, siapa tuh (tanya Google), Melanie Hamilton — tipe cewe “baik-baik” yang penurut, tipikal gadis Jawa yang bakal dicintai oleh semua mertua di bumi kita yang sudah tua ini.  Rubah betina bisa jadi bukan fenomena modern. Kali, dulu sudah ada rubah betina di zaman Babilonia, bahkan Hawa istrinya Adam bisa jadi bitchyGod hated her guts so fuckin much that he kicked us all out of heaven. Tapi saya kira aman lah untuk menduga-kira bahwasanya ke-bitchy-an perempuan semakin mantap di zaman media sosial ini. Dan ini entah bisa dianggap baik atau buruk. Di dunia maya ada lumayan banyak perempuan yang mengidentifikasikan dirinya sebagai “the bitch”. Ada satu yang paling terkenal di sini tapi saya tidak berani sebut di sini, kagak berani saya.  Hehe.🙂 Meskipun, sebenarnya ada satu blog di multiply jaman dulu yang begitu mengerikan; saya ingat bekgron yang dia pilih itu merah api neraka, postingannya sebagian besar adalah cacian kepada semua orang yang bikin dia kesal dan marah. Horor. Saya tidak bohong.  

Mereka Yang Bukan Akhwat dan Bitches

Ada tentu saja perempuan yang bukan akhwat dan tidak bisa disebut rubah betina pula. Mereka juga bisa sangat menarik, meskipun kemungkinan besar mereka biasa saja secara intelektual. Kepintaran dalam batas-batas tertentu meningkatkan kualitas “rubah betina” buat mereka yang tidak berjakun. Tapi jarang dalam hidup saya yang baru sekitar dua dekade ini bertemu mereka yang cerdas tapi tidak bitchy, kecuali mereka yang entah karena alasan apa lebih saya lihat sebagai seorang adik. Yah, tidak bisa dihindari, saya punya adik perempuan. Jadi, sodara, ini postingan apa intinya? Saya juga bingung. Mungkin karena saya sudah dua hari ngubek pameran buku di Jakarta dan melihat beberapa akhwat, yang jumlah mereka kayaknya entah bagaimana tidak sebanyak dulu. Dulu, akhwat itu bejubel di pameran buku; merusak mood nyari buku. Bukan apa-apa, pameran buku isinya jadi buku agama semua! Kan, enggak asik. Entah kenapa saya jadi ingat para akhwat yang bitchy yang pernah saya kenal, juga jadi sadar akan ke-bithcy-an perempuan yang buat saya menarik, bukan hanya sebagai kualitas cewek, tapi juga sebagai fenomena kemanusiaan kita dengan segala lekuk eksistensinya yang puitis. Begitulah, kira-kira.  

Akhirul postingan

Sekarang saya sudah kawin dan berhenti menganalisa istri saya, meskipun dia memang muse yang luar biasa.🙂 Saya juga tinggal di daerah sub-urban, commuting, jadi pelaju kereta Serpong-Jakarta. Saya akui tulisan soal perempuan semacam ini memang sangat aneh, tapi saya merasa ini harus dituliskan; ini semacam tribut buat para akhwat dan bitches yang sudah membuat saya merasa terintimidasi, yang sudah melecut kesombongan saya sebagai lelaki yang sok filosofis dan reflektif; saya kira di jagad para akhwat dan bitches, lelaki dipaksa untuk sadar bahwa ambisinya dan superioritasnya itu tidak ada artinya apa-apa; lelaki dipaksa untuk menjadi dirinya sendiri, dilarang jadi palsu, kecuali, mungkin, bagi akhwat dan bitches palsu. Lalu apa kata Anda soal ini? Ya, saya tahu tulisan ini ndak jelas. Sudahlah, tinggalkan, kisanak, baca blog lain saja sana gih.

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Dan saya jadi teringat buku “Why Men Marry Bitches” yang dulu saya beli tapi belum juga dibaca habis sampai sekarang…😛

  2. Aku membayangkan kalau tulisan ini menjadi sebuah buku. Lalu kau akan tenar. Lalu kau akan bikin twitter. Lalu akan memiliki 1.000.000 follower. Lalu akan ada perusahaan film akan mengajakmu bikin film: Akhwat Juga Bitches, serupa Poconggg Juga Pocong yang menyedihkan itu.

    Syukurlah itu belum menjadi. Masih bisa dibaca di sini saja. Kalau tidak, mungkin aku akan melihatmu di acara lain TV swasta, KeGen: Ketemu Gentole, dan lalu mem-bully para akhwat dan para bitches dengan kesadaran bahwa diri sendiri di-bully oleh perangai mereka. Perangai yang bisa memaksamu untuk tidak lagi memandang dunia ini seperti pandangan para filsuf yang seolah tak butuh makan, seks dan hiburan lainnya. Perangai yang bikin kita benar-benar jadi manusia, jadi laki-laki serupa Adam mau memetik apel dan diusir dari surga demi satu tempik pasangan hidupnya.

    Bukan main.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: