Hidup Galat

November 3, 2011 at 11:49 am | Posted in katarsis, refleksi | 4 Comments
Tags: ,

Tidak ada dugaan—secuilpun, kawan—dingin bisa begini menusuk di wilayah Timur Tengah. Di sini. Di Doha. Qatar. Pada bulan November, 2011. Seorang pariah muda dari Filipina bilang: bulan ini dian matahari sepertinya lebih bersahaja dari yang biasanya. Udaranya juga lebih sejuk, lebih lembut, katanya. Kali benar, kawan, dari jendela Qatar National Convention Center (QNCC) yang mewah, ber-AC dan baru saja dibangun dengan dollar dan minyak yang berlimpah-limpah, dunia-kehidupan persis seperti kota dalam dongeng; dengan langit biru dan awan-awan, juga segelintir kubah putih di antara hijau pepohonan. Tapi ini hanya sebuah pencitraan yang konyol. Saya tahu itu! Ah, saya ingat penyair kesukaan saya, Bertolt Brecht. Dia bilang, di balik semua kejayaan istana pararaja yang agung, ada keringat dan darah para pekerja; amil yang harus bekerja siang dan malam agar tidak mati dan tidak lapar. Saya mengerti betul betapa munafiknya hidup; kepalsuan adalah sesuatu yang dianggap wajar, bagian penting dari kehidupan yang mesti dilestarikan.

Qatar memang negara kaya, dengan minyak berlimpah, sejahtera dan sentosa selalu adanya. Rasanya beda sekali dengan Jakarta. Meski begitu, kemunafikan ada di mana saja. Bedanya mungkin di Jakarta kegalatan tidak bisa ditutup-tutupi. Di situ, dunia-kehidupan terasa 100 kali lebih nyata; segalanya serba keliru, serba galat; dan kegalatan, buat saya, kawan, adalah ciri ‘kenyataan’. Yang sempurna itu utopia; seperti surga, Kerajaan Allah dan masyarakat tanpa-kelas yang pernah diimpikan Karl Marx, Aidit dan, mungkin, anda semuanya. Tidak salah bila kitab suci berkata asal-mula dunia kehidupan adalah galat; kealpaan. Adam yang bukan dewa itu, menciptakan ‘kenyataan’ dari buah terlarang yang disantapnya.

4 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. dan kita pun pada akhirnya harus menanggung dosa untuk kesalahan yang tidak kita lakukan.

  2. ^ kalo adam tidak melakukan dosa itu (makan buah terlarang itu, bersetubuh dengan hawa yang jelita itu) kita tidak akan pernah ada, toh? dengan kata lain, kita adalah kesalahan yang mesti ditanggung adam, kita berhutang kepadanya, bapak kita yang paling mula. *keder

  3. hikhiks.. bkn itu mksudku. dlm piramida pembangunan yg menumpuk penderitaan orang2 miskin dan terpinggirkan di bagian bawahnya itu, bukankah kita secara tdk lgsung ikut ambil bagian? mski tdk disadari.. itu dosa utk kesalahan yg tdk kita lakukan.. ngabur.ngacir.com

  4. Hmmm ya… hidup memang penuh dengan cita rasa dunia yang kadang membuat kita merasa…. entah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: