september

September 30, 2011 at 2:12 am | Posted in katarsis, prosa, Uncategorized | 4 Comments
Tags: , ,

buat adh,

aku tak bisa bilang aku masih bisa menulis kembali untukmu, adik, dengan perasaan yang sama ketika, pada saat itu, malam beranjak sepi dan sajak-sajak yang kita baca, juga puisi amatir yang kita tuliskan, menjadi sebuah rendezvous — di mana kita bersua. aku — pun — tak bisa bilang aku bisa yakin sepenuhnya bila kamu masih bisa membaca prosa yang kutulis ini dengan perasaan yang sama ketika, pada saat itu, siang begitu terik dan tanpa rasa malu aku ceramahi kamu soal Plato, Schopenhauer, Nietzsche dan sederet nama orang asing yang tidak penting dan sudah mati lainnya yang kamu sama sekali tidak perduli siapa — tapi, toh, kamu dengar juga aku bicara, bukan? aku tak bisa bilang aku bisa mengulang kembali semua perasaan itu, adik; degubjantung itu, ketakutan itu, larahati itu, gelaktawa dan segala pertanyaan yang pernah kita lontarkan kepada sunyi senyap di dalam kamar kita masing-masing, ketika, pada saat itu, malam berubah melankoli dan ditinggalkannya kita sendiri di dalam kamar kita masing-masing, bersama sepotong sajak Pablo Neruda yang begitu menyedihkan, lagu Adele yang judulnya Chasing Pavement dan satu tembang lawas John William: Sungai Bulan. lantas kenapa dengan hari ini, adik? hidup, mungkin, tak sedramatis dulu, ketika, pada saat itu, kita adalah suatu kemustahilan, ketika segalanya adalah kesalahan, dan satu-satunya alasan yang membuat kita bertahan adalah perasaan itu; perasaan yang sering membuat kita terjaga semalaman; yang kerap meninggalkan tanda-tanya di setiap sudut keberadaan kita: apakah semua ini bakal lewat begitu saja, seperti angin dan tahun-tahun? aku — pun — merindukan perasaan itu. dahulu sempat kupikir segalanya lebih baik dibiarkan tidak selesai saja, perasaan kita — biar kekal dalam kenangan, mengendap seterusnya di dalam dada, seperti fosil yang tegar menahan waktu selama jutaan, bahkan milyaran tahun. adik, aku tak bisa bilang aku mengerti sepenuhnya siapa kita sebenarnya dalam cerita ini; kita boleh jadi cuma boneka saja, dua bidak yang tak berarti di papan takdir. atau boleh jadi kita ini dalang dari segala kemalangan yang kita buat sendiri. tapi kita sudah di sini, di rumah kecil ini, siapapun dalangnya, siapapun bidaknya. dan tidak ada salahnya kita hadapi semua ini dengan rasa syukur, dengan hati yang menerima. siapa yang tahu, pada saatnya nanti, kita akan kenang kembali dengan kerinduan yang sama apa yang kita rasakan dalam keseharian kita kini; ketika fajar menyingsing di depan rumah kita, dan anak-anak tetangga bermain sepeda; atau ketika malam semakin letih dan aku lihat kamu tidur begitu dalam. pada saat itu aku merasa waktu seperti melambat, berjalan sedemikian perlahan dan meneduhkan bak melodi pada bagian pertama tembang klasik Cantique de Jean Racine dari Faure. kita akan rindukan banalitas kehidupan kita saat ini, adik. kita bakal mengingat Giant dan Carrefour, menertawakan kemalangan kita sebagai korban dari ‘mekanisme pasar’. kita bakal mengingat makan malam kita di meja makan, juga nugget gosong di pagi hari! pada saatnya nanti, dalam hidup kita yang senja, ketika semuanya sudah dilewati, kita tidak akan lagi bisa membedakan kerinduan dan rasasyukur, tapi kita bisa bilang perasaan yang kita rindukan itu abadi, selamanya ada di sini.

4 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Like this so much….

  2. :”>

  3. @zukko: so much?
    @ghedesafti: kenapa, mbak?

  4. ^ kura-kura dalam tronton, fura-fura nanya kayak di sinetron…

    *keplak.keplak*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: