Mesin Waktu, Obat Segala Penyakit, Obat Abadi, Mesin Pengubah Takdir dan Satu Juta Alasan Mengapa Hidup Masih Layak Dicerca dan Digerutui Sekalipun Para Ilmuwan Berhasil Membuktikan Bahwa Allah Itu Ternyata Benar-Benar Ada dan Pada Akhirnya Mereka Masuk Islam dan Masuk Surga Semuanya

July 10, 2011 at 1:44 am | Posted in katarsis | 20 Comments
Tags: , , ,

Broery Pesulima. Kayu Norwegia. A-B-C-D-E-F-G-H-I-J, ka, el, em, en. OOOO, pe, qi, er, es, te, u, V-W-X-Y-Z. Heidegger. Itu, kawan, bahan dasar kehidupan: sederet kata yang tidak ada artinya, yang dijejer-jejer secara acak, yang seolah-olah saja bermakna, padahal kosong, kecuali bahwa penulisnya gendeng.

Oskar si Penggerutu

Kenapa sulit bagi sebagian orang, bagi saya apalagi, untuk mengerti bahwasanya segala rupa pertanyaan tentang makna hidup itu sama saja bobotnya dengan bertanya apakah Broery Pesolima pernah menyontek waktu SD dulu (apakah dia bakal lulus UAN)? Kalau dipikir-pikir, pertanyaan eksistensial “untuk apa hidup ini?” gak nyambung dengan hakikat hidup itu sendiri; kurang lebih sama dengan bertanya mengapa burung onta gak bisa nyanyi, padahal kambing makannya rumput, bukan dendeng. Kagak nyambung. Itu sebabnya saya merasa seperti orang bodoh ketika Jumat kemarin saya ngider di toko buku Kinokuniya mencari semacam pencerahan dari buku filsafat, buku sains, antologi puisi dan naskah drama, buku sosiologi, buku teologi, khasanah sastra dunia, pokoknya buku apa saja yang bisa mengisi lubang pertanyaan dalam hati saya: hidup itu apa, untuk apa? Saya merasa luar biasa merana [hiperbolik ini tentu saja] karena letih dan tidak mendapatkan apa-apa hari itu. Saya lihat sekumpulan buku dari filsuf beken A.C. Grayling soal seks, gagasan, hidup, bunuh diri, semuanya, semuanya dibahas sama dia, dan saya tidak lebih dekat pada apa yang saya cari. Kemudian, entah bagaimana, saya menjadi sadar akan eksistensi kasir dan satpam: mereka setiap hari di Kinokuniya, apa mereka menemukan apa yang saya cari-cari di sini? Saya kira tidak. Dan kemudian saya bertanya, dalam hati tentunya, kenapa mereka tidak mencari apa yang saya cari juga? Apakah mereka berfikir bahwa apa yang saya cari tidak penting? Apakah Sokrates salah — bahwa ternyata adalah hidup yang direfleksikan yang tidak layak dihidupi: hidup yang tidak ada artinya, hidup yang kosong makna. Sementara buat kasir dan satpam di Kinokuniya, hidupnya adalah gaji bulanan dan gelak tawa di waktu senggang, ketika saya, yang sama sekali gak punya duit dan tampang buat doyan buku bahasa londo, bingung sendiri di tengah rak-rak buku yang saya pikir bakal bikin saya lebih mengerti hakikat hidup, tapi malah bikin kaki saya pegel-pegel, kepala pusing dan…Orang IPA benar. Manusia lama sudah memikirkan yang tidak ada, dan tidak akan pernah ada. Mungkin, kita harus puas dengan hidup sedari lahir sampai mati saja. Setelah itu, tak ada lagi, kecuali bunyi jangkrik di TPU yang gelap dan sunyi. Yang penting kita mesti berupaya mencari cara agar bisa hidup enak: bisa hidup terus-terusan tak-pernah mati, makan enak kagak bayar, lulus UMPTN, dapet beasiswa Erasmus Mundus biar bisa jalan-jalan ke Eropa, bisa bebas dan disembuhkan dari segala penyakit ganas, kanker, AIDS, flu burung, semuanya, lalu bisa buat jam tangan yang bisa jadi helikopter, atau bikin ponsel bijaksana (ponsel cerdas gak zaman) yang bisa dijadiin teman curhat setiap saat. Kali itu jawaban dari pertanyaan: hidup itu apa, dan untuk apa? Entahlah. Saya pernah tinggal di kosan yang temboknya terbuat dari triplek persis kandang burung dengan harga sewa 300 ribu per bulan. Sekarang saya tinggal di apartemen lantai 32 dengan harga sewa 3.5 juta dengan kulkas, TV kabel dan AC — tapi saya masih saja merasa hidup itu absurd: kosong dan bisu. Kosan rombeng atau apartemen mewah, sama saja. Eh, saya bohong. Yang terakhir tentu lebih nyaman. Tapi, ya, bukan itu masalahnya. Saya tidak tahu apakah Elora mengerti apa yang saya tulis di sini. Tapi, saya pikir, nanti bilamana semuanya sudah ditemukan agar hidup jadi lebih baik sesuai dengan keinginan kita, hidup mungkin tak akan menjadi lebih berarti juga: bukan karena mesin waktu akan menghapus rasa syukur, kehidupan abadi bikin orang malas menghargai hidup, tapi karena kehendak akan sesuatu yang lebih besar dari segala yang ada dalam hidup itu sendiri, mesin waktu dan surga sekalipun, tidak akan pernah habis, satu kehendak yang tak-hingga. Saya tidak tahu itu apa. Saya akan kembali ngider di Kinokuniya dan menggurutu, kenapa bukunya kok ini mahal-mahal ya dan budget buat buku semakin menipis ini. Damn.

damn i need more money!

20 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Squidwaaaaaaaaardddd….😆 😆 😆

    *ngakak baca caption curhat di bawahnya*

    Saya pernah tinggal di kosan yang temboknya terbuat dari triplek persis kandang burung dengan harga sewa 300 ribu per bulan. Sekarang saya tinggal di apartemen lantai 32 dengan harga sewa 3.5 juta dengan kulkas

    Tentu saja solusinya mudah. Apartemennya ditinggal dulu; masbro balik ke kos. Duitnya bisa dipakai buat beli buku.😛

    (bonus: dan ente dapat bragging right sebagai eksistensialis super edgy. sudah perenung, melankolis, nyastra, rumahnya jelek pula) :ngacir:

  2. Beberapa hari yang lalu, aku mendapatkan sms dari adikku yang bungsu, yang belum tahu benar pahit-manis di dunia, di Aceh sana. Minta dicarikan buku Surat Kecil Untuk Tuhan, karena sadar abangnya sedang berada di sebuah kota di pulau Jawa, dimana Gramedia dan toko-toko buku serupa gampang ditemukan. Aku mencarinya dengan istri, dan sialnya, buku itu sedang habis. Sampai hari ini belum sempat kucari lagi.

    Namun, di salah satu Gramedia di salah satu mall (sebuah tempat yang selalu membuatku mencengir dengan ragam manusia konyol berkeliaran dan sepertinya merasa mereka itu sudah nyaman dengan AC dan gemerlap etalase), saat aku mencari buku pesanan itu, berkeliling diantara rak-rak, sebelum akhirnya bertanya pada salah satu karyawan yang dengan senyum sedih (seakan nelangsa hatinya laksana nabi tidak bisa memberi jawaban pertanyaan umat) menjawab bahwa buku itu sudah habis; aku sempat berpikir sama seperti kau.

    Diantara rak-rak bertulis “Budaya, Sastra, Novel Indonesia, Teknologi Informasi, Hukum, etc-dsb-dll” di sana; apa yang kucari? Apa jawaban yang kumau dari buku-buku itu? Dan yang lebih penting, apa pertanyaan hidup yang lebih penting diantara sederet kata 5W-1H para wartawan selain kata “how”? Ada Mario Teguh mencengir di sana, entah karena buku soal Golden Ways-nya merasa menemukan petunjuk bagaimana menjalani hidup, atau karena buku itu cukup laris. Tak ada satu pun buku di sana memberikan pertanyaan apalagi jawaban, “Hei, Bung… selepas kau minggat dari kota ini, seperti apa hidupmu nanti?”

    Tak ada. Hampa. Cuma tumpukan kertas-kertas yang tak lebih dari manga. Seperti makanan yang hari ini kita makan karena lidah berkata itu lezat, tapi sedikit jadi asupan gizi, selebihnya keluar dari saluran pembuangan di bagian pantat.

    Lama juga termangu di depan rak dengan tetralogi terkenal si Pram itu. Bumi Manusia. Anak Segala Bangsa. Dan aku menertawakan pahit wajah Pram di sana, karena meski pun mungkin banyak yang tercerahkan dengan tetraloginya, tapi perulangan sejarah hidup di bumi yang dihuni manusia, dihuni anak dari segala bangsa ini, menjadi sesuatu yang tetap tak bisa dilawannya, atau dilawan oleh para fansnya. Tak ada itu humanisme universal. Tak ada itu perlawanan kali terakhir. Tak ada rumah kaca untuk dipecahkan. Cuma ada Efek Rumah Kaca yang merasa sudah bikin ozon berlubang di ranah musik. Dewi Yasin Limpo tetap saja hampir nangis di layar TV. Norman Kamaru masih ber-chaiya-chaiya cuma untuk berurusan dengan Mabes Polri. Dan aku sendiri masih akan kembali ke Aceh untuk melakoni hidup di sana yang sama sekali bukan hal baru di kolong langit ini.

    Akhirnya kutinggalkan Gramedia keparat itu tanpa buku-buku berat. Kupikir, daripada kubaca celoteh filsafat dan segala teori biadab soal tuhan-setan dan segala pencerahan soal hidup, mending kubaca saja novel teka-teki yang berisi pertanyaan plus jawaban sekali jadi. Dalam satu buku tersaji. Maka kucomot dua buku Sherlock Holmes: Sherlock Holmes & Lima Kasus Paling Misterius dan The Memoirs of Sherlock Holmes, dan minggat dari toko buku itu dengan menggerutu:
    Kampret!

  3. Karena hidup itu sendiri ada karena masih tersisa residu yang tidak ada nilai gunanya, maka selayaknya hidup ini dipakai sebaik-baiknya untuk berusaha supaya tidak hidup lagi.

  4. @sora9n: itu ide yang sangat bagus. dan saya emang pindah dari apartemen.😛
    @alex: komentarnya panjaaang. tapi aku ngerti sih kamu ngerasa gimana. tapi kamu masih beli buku, kan. baguslah.🙂
    @illuminationis: saran yang mengerikan.😐

  5. sepertinya mrk yg trus bertanya itu, dlm sjarahnya tdk pernah menemukan jawabannya.. kalaupun menemukan, ia sudah pasti gila.. atau mati muda..

  6. @kenz: jadi pilihannya gila atau mati muda?

  7. deskripsi soal kos-kosan itu… Arghghgh!?! *lirik kos sendiri yang bahkan 50rb lebih murah*

  8. @amd: loh jogja dan jakarta tak sama

  9. Ini sudah menikah kok gerutuannya sama seperti waktu masih bujang…👿
     
    Mungkin sudah saatnya berdoa ged? Ke mesjid/gereja/sinagoge/kuil terdekat? Siapa tau ada pencerahan dari dunia roh🙂

  10. Ade rahasie di balik rahasie
    ….
    roflmao.

    No, really. Seriously.
    Life is on a need-to-know basis. Don’t get greedy. You may not like what you’d find when you dig too deep.

  11. I hate seeing new comments coming to my Google reader and noticing that each of these comments, except one, including this one, is shorter than the title😐

  12. @lambrtz, i understand. in my blog’s blogroll, the title alone is 12 lines. 12 lines!
    ..
    @gentole, jadi inti postingan ini caption yg trakhir itu ya?😀

  13. Tiga hal yang saya setuju, selain barangkali bergalau tentang hidup:

    1) Buku itu mahal.
    2) AC Grayling never answers anything, but he’s such a great writer. Juru bikin intisari?
    3) damn i need more money!™

  14. Saya pikir saya harus komen. Menghargai para karakter judul. Hehe…

    Soal harga buku dan kemampuan beli buku, saya no comment. Kebetulan dapat fasilitas perpustakaan dekat rumah yang ajaib (kalau saya pesen, asal sudah terbit dalam bahasa yang dipesan, seminggu kemudian bukunya datang). Sorry.

    Soal harga rumah kontrakan dan absurdnya hidup. Percayalah Anda tidak sendiri, Saudaraku😀
    Ikutan curhat ahh. Hihi. Saat ini saya harus bayar 10 kali lipat dibanding empat tahun lalu atau 33 kali lipat lebih besar daripada ruang yang saya tempati delapan tahun lalu. Kesimpulan yang bisa saya ambil sementara hingga saat ini, ternyata adalah grafik berbanding lurus. Makin tinggi harga rumah kontrakan… makin absurd hidup.

    Lebih parah lagi adalah grafik selanjutnya; yaitu makin absurd hidup… makin susah beli buku.

  15. Saat bisa beli dikit-dikit buku, susah payah punya waktu baca.
    Saat maksain baca, nyatanya ga ngerti karena otaknya udah keok.
    Lagipula sekarang inginnya bukan cuma 1-2 buku tapi perpustakaan *gubrak*
    .
    btw, buku-buku aneh ga dibuat e-books sih, tetap tradisional bentuk kertas.
    Jadi jangan salahkan saya kasih kado temen bukunya Michel Foucault,tebelnya nyaingin Anna Karenina.
    .
    Komentar saya sudah lebih panjang dari judul?

  16. @jensen: ada bedanya tapi kamu ndak notice.🙂
    @fritz: setuju kisanak.
    @lambrtz: apa itu mar komen ndak mutu:mrgreen:
    @aldiaz: saya belum beli bukunya satu pun. kebanyakan, bingung.
    @bangaip: betul banget, makin absurd hidup. untung udah kawin. tapi itu cerita lain.😛
    @illuminationis: bukunya yang mana? aku males eh baca si botak itu.

  17. re: Grayling: Mungkin gak usah. Gak mengajarkan sesuatu yang baru dan bias ke analitik. Tapi enak dibaca sih.😛

  18. History of Madness. Males karena ga mudeng?😀

  19. coba saja berhenti bertanya, nah siapa tahu langsung terasa yang namanya “hidup itu apa”. itu kutukan “terlalu banyak bertanya maka bingung waktu berjalan” *peace*

  20. Sayangnya ya….
    hidup itu selalu seperti sekarang ini,tidak untuk masa yang lalu, dimungkinkan untuk yang akan datang.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: