Jagoan dan Bajingan

June 30, 2011 at 12:03 am | Posted in iseng, katarsis | 5 Comments
Tags: , , , ,

Kita dengar dulu lagu lawas the Beach Boys: Heroes and Villains.

Dipa Nusantara Aidit

SETIAP ORANG punya fase hidup: masa ingusan, sekolah, kuliah, kerja, kawin, beranak-pinak, mati. Manusia — orang besar atau orang kecil, Seokarno dan juga Anda — sama punya mimpi, sama punya ambisi. Bedanya orang besar bermimpi besar, berambisi besar, sementara orang kecil kerja dari pagi sampai sore buat ngurusin perut dan yang di bawah perut. Kita sebut saja Sjahrir. Dibuang ke Banda Neira, di mana dia jadi sedikit gila, karena politik. Seharian main di laut sama anak-anak di pulau eksotis entah di mana itu. Padahal, sebelumnya dia hidup senang, romantik dan bohemian di Negeri Kincir Angin. Kita bayangkan Aidit. Di kampung halaman, dia disebut pandai mengaji, tukang azan malahan — seperti saya dan juga Anda barangkali. Di Jakarta dia jadi aktivis politik yang lincah, lihai, sedikit licik mungkin, tapi yang jelas bukan seorang penipu. Aidit punya sebuah cita besar: Indonesia yang adil; tanpa jetsetter yang kita lihat di Plaza Indonesia, tanpa kuli panggul yang dekil dan berkeringat di Pelabuhan Tanjung Priok. Dia mati dibrondong peluru. Katanya itu karena orang besar di Partai Komunis Indonesia (PKI) itu masih saja pidato di depan sekumpulan serdadu yang diperintah oleh Jendral Soeharto untuk menangkapnya hidup atau mati.

Dulu, sebagai aktivis masjid, saya puja Natsir. Sekarang Aidit — dengan segala ambisinya. Kadang saya puja juga Tan Malaka. Ada takjub. Mereka semua orang besar yang punya nilai, punya cita-cita. Mereka bukannya tak egois, bukannya tak perduli sama keluarga, sama tetek-bengek kehidupan seperti berhutang dan bayar hutang buat makan. Mereka hanyalah orang yang menghidupi mimpi dan ambisinya; orang yang lebih besar dari kehidupan yang kita kenal lewat buku-buku biologi: manusia sebagai suatu organisme, yang secara umum sama saja hakikatnya dengan kecoa, kuda dan lebah madu.

Sjahrir, disebut bung kecil.

Tapi mereka semua mati menyedihkan. Kalo gak ditembak seperti Tan dan Aidit, mati di pengasingan sebagai orang terbuang, sebagai pecundang, seperti Sjahrir dan Sukarno. Tapi apalah bedanya pahlawan atau penjahat? Sebilanya Dewan Revolusi PKI menang, Aidit bakal jadi pahlawan, dibuat patungnya di mana-mana seperti Mao atau Lenin. Dan kita semua bakal mengutuki Soeharto. Dalam skenario ini, film g30sPKI adalah film wajib yang membosankan, bukan film horor! Ah, biar, lagipula, kalau sudah mati, kalau sudah tidak ada lagi, apa ada bedanya diagungkan atau dilupakan sejarah? Meskipun, ya, itu sama sekali bukan alasan menahan hasrat konyol untuk segera mengubah dunia yang sakit ini.

Advertisements

5 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. barangkali hidup yang membuat seseorang memilih jadi bajingan atau jagoan.. tidak ada yang bisa diyakinkan, kecuali satu hal; bagiku kamu bajingan yang jagoan gen.. *siul2*

  2. Konon, segala atribut, pemberian label dll, pada manusia masih dipengaruhi konteks dan kontens, sebuah perspektif. Hmm…keniscayaan.

  3. Jagoan dan Bajingan ternyata tidak jauh berbeda ya, cuma sejarah saja yang membedakan mereka : )

    *sayajadisemangatkembaliuntukmengubahdunia:D*

  4. @kenz: kau juga jagoan yang bajingan.
    @zeph: dlaam konteks ini bang zeph jagoan atau bajingan?
    @tuanadan: ayo kita selamatkan dunia. *makan kerupuk

  5. Saya? Hmm… jagoan lah *garuk-garuk kepala ala Wiro Sableng* 😎


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: