Bulan Madu 300 Juta Meter Per Detik

June 19, 2011 at 4:16 pm | Posted in katarsis, refleksi | 13 Comments
Tags: , , , ,

mari kita pergi melancong ke saat-saat paling indah dalam hidup kita. foto: discovery channel

Kali bukan ide bagus bawa Einstein bulan madu. Di Bali, di kawasan Nusa Dua, di mana hanya ada putih terang cahaya bulan yang bundar sempurna, bersembunyi di sebalik dan di antara-sela dedaunan dan reranting pepohonan, pada satu restoran mahal yang hanya menjual penganan orang barat, ditambah dengan bunyi gitar akustik yang begitu apik, begitu bening di telinga, tidak mudah buat orang macam saya untuk tidak berfikir keras soal hakekat ruang dan waktu; atau — meminjam istilah kawannya Einstein, Hermann Minkowsky — wakturuang dalam mana kita ada, hidup dan bertanya, “Apakah momen seindah ini mesti berlalu?” Ada sebuah dilema: hidup hanya bisa dihidupi kalau ia berlalu, dalam arti hidup hanya ada dalam durasi, persis kata para ilmuwan — waktu adalah dimensi keempat yang tidak bisa dipisahkan dari realitas tiga dimensi kita — tetapi, sering kali kita jatuh hati pada sebuah momen yang luar biasa indah, luar biasa romantik, dan kita ingin agar waktu itu berhenti saja: tak ingin semuanya berlalu, biar begini aja selamanya! Tapi tak bisa. Akal sehat bilang segalanya mesti berlalu. Tanpa disadari oleh kita. Oh, Tuhan, segalanya lewat sudah; angin bali yang surprisingly dingin sudah berganti jadi asap knalpot yang menyebalkan di Jakarta. Dan kemudian saya berada di sini lagi; di sini-sekarang, di satu masa kekal antara yang-silam dan yang-akan. Tapi, sungguh, sebenarnya “momen yang luar biasa indah” itu hilang kemana? Angin liwat; boleh jadi lari ia ke utara atau ke selatan. Air laut memuai, jadi hujan di suatu sore. Daun melapuk, daun baru tumbuh. Kita dilahirkan, lalu hidup, wafat, jadi bumi, jadi pupuk! Tapi masa silam, jadi apa ia? Jadi hujan ia? Lari ia ke utara atau ke selatan? Kita dengar kata sains. Sains adalah filsafat di masa kini, dan sains adalah filsafat yang sangat mengerikan, filsafat yang jungkir balik!

Dari Satu Momen Ke Momen Lain

KITA hidup dalam keseharian dalam mana segalanya ditentukan oleh akal sehat, dan akal sehat, kawan, takselalu berkata benar, takselalu selaras dengan dunia sejati, dunia sebagaimana adanya ia. Akal sehat hanya tampak seolah-olah benar, tapi kenyataan sejak dulu takbekerja seperti yang disangkakan oleh akal yang sehat, oleh akal yang bisa diterima orang banyak, oleh common sense. Kita dulu pikir bumi itu mirip sebuah nampan: salah! Kita pikir matahari mengitari bumi: salah! Kita senantiasa melaju dari satu momen ke momen lainnya dalam satu kecepatan khusus yang disebut oleh para ulama sains sebagai “kecepatan kosmik”. Dalam fisika Einsteinian, kalo saya tidak salah tangkap, tidak ada jelas siapa yang berdiam siapa bergerak dalam perspektif dunia tiga dimensi: dunia sehari-hari. SEMUANYA relatif pada yang lainnya: kapal pada bumi, bumi pada matahari, matahari pada galaksi bimasakti. Yang absolut hanya satu: gerak waktu-ruang dalam kecepatan kosmik. Momen kini dimengerti sebagai sebuah titik pada sebuah jagad yang dibayangkan yang di dalamnya waktu-ruang yang tunggal melaju/bergerak. Dan, sekali lagi ini kalo saya tidak salah tangkap, seandainya bisa kita melaju secepat kecepatan kosmik itu, segalanya bisa jadi berulang, bisa abadi — jadi momen itu tak pernah benar-benar hilang; ia ada pada sebuah titik tertentu dalam jagad terbayang dalam mana waktu-ruang melaju. Masa lalu tidak hilang begitu saja; ada ia seperti benda-benda kenangan masa kecil yang Anda simpan baik-baik. Hanya saja, kita tidak bisa menggapainya lagi karena alasan-alasan alamiah yang belum bisa kita pecahkan secara teknologis: apakah mungkin kita bisa buat mesin pelintas waktu atau, katakanlah, mesin pelintas dimensi? Fiksi? Entahlah.

The Lord of the Worlds

Al-Qur’an bilang Allah Yang Maha Esa adalah Tuhan semua semesta, the lord of the worlds. Dan alam semesta yang kita kenal — dalam perspektif sains modern yang belum teruji betul tidaknya — memang boleh jadi bukan alam semesta satu-satunya. Kali, dunia ada banyak, sebanyak berbagai kemungkinan yang terjadi sebilanya saya dulu tidak melewati gapura tujuhbelasan itu dan melintasi dunia dalam sebuah dimensi yang sama sekali lain. Di bawah bulan purnama, ketika saya kecup bibirnya, segala yang ada seperti ilusi yang saya sadari betul bakal segera lenyap; dan lenyaplah ia kini dalam kenang empat hari yang tidak akan pernah saya lupakan. Kali suatu saat ada mesin pelintas dimensi yang melaju secepat cahaya; kali Tuhan benar adanya dan DIA adalah laju-cahaya yang ditemui Faraday dan Maxwell. Segalanya mesti berlalu agar bisa aktual, seperti energi yang berubah massa dan sebaliknya. Tetapi masih ada kemungkinan segalanya bisa berulang, abadi. SEBILANYA Tuhan Ada saya hendak mengirim doa malam ini agar segalanya tak sekedar berlalu; dan semoga doa ini juga melesat dalam kecepatan 300 juta meter per detik menuju ALLAH Yang Maha Kuasa, the lord of the worlds. Demikian, Alex, hasil renungan paska-nikah. Kapan ke Jawa?

Disklemer: Yang nulis sudah pasti bukan fisikawan dan kebetulan berani ngoceh soal beginian setelah membaca Why does E=mc2? karangan Brian Cox dan Jeff Forshaw. Gugel saja buku ini bukan tanpa kritik. Tapi ini buku paling menyenangkan yang pernah saya baca yang menjelaskan persamaan Einstein yang tenar itu. Tidak ada matematika dalam artikel ini. Artikel ini tidak ilmiah. Prosa ini baiknya dibaca laiknya puisi. Atau orat-oret. Atau apalah. Terserah. Jangan kutip blog ini buat tugas fisika Anda.😛

13 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. …mas gentole tahu Minkowski…😯
     
    *bangga campur haru, meneteskan air mata*😥
     
    *salah fokus*

  2. ^
    heh zamannya beda ini; zaman internet ini!
    .
    btw, apa pendapatmu soal brian cox? hawking aku lihat dicela2 karena belagak taliban alias terlalu pd dengan teorinya dia yang konon belum diuji secara empiris.

  3. @sora9n
    Exactly what I was thinking.😆

  4. @ gentole

    btw, apa pendapatmu soal brian cox?

    Saya belum pernah baca buku dan/atau blognya (kalau ada), jadi ga bisa ngasih pendapat.😛 Sekilas cek wikipedia, sepertinya fisikawan yang lebih concern ke area publik. Sebelas-duabelaslah sama Lawrence Krauss atau Sean Carroll.😕
     
    *kesimpulan sementara*
     

    hawking aku lihat dicela2 karena belagak taliban alias terlalu pd dengan teorinya dia yang konon belum diuji secara empiris.

    Kalau maksudnya di buku terbaru (Grand Design), memang iya. Dia pakai landasan dari Teori String yang masih kontroversial. Matematikanya sih solid, tapi ga ada bukti eksperimen — jadi kesannya seperti mengawang-awang. Begitu. (o_0)”\
     
    *AFAIK, CMIIW*

  5. Lho, komen saya kok hilang. Apa ketelan akismet ya?:-/

    *ada tiga link sih di situ*

  6. Mungkin kesalahan utama pembelajaran filsafat di negeri ini adalah tidak memasukkan matematika dan logika modern kedalam kurikulum. Jadi, saat mengetahui pencapaian-pencapaian sains modern, para mahasiswa filsafat menjadi gagap. Nyatanya, di luar sana, setidaknya dalam ranah filsafat analitik, bukan kontinental, filsafat berjalan beriringan dengan sains. Maka tidak ada lagi pernyataan ambigu, sains adalah filsafat masa kini. Karena, bahkan bidang sains yg paling maju sekalipun, fisika quantum dan Neurologi, berhutang banyak pada filsafat. Tentu saja argumen yg digunakan adalah argumen para filsuf abad 20, yg selain menguasai filsafat juga menguasai disiplin ilmu lain seperti fisika dan biologi. Dan filsafat pun menempati posisi semestinya, sebagai ujung pengetahuan (frontier), bukan awal. Itulah mengapa, gelar yg diperoleh setelah menempuh jenjang S3 adalah Ph.D, doctor of philosophy, bukan doctor of physics atau sains.🙂

  7. @lambrtz: opo sih mar.😛
    .
    @sora9n: ya saintis emang kudu bisa public speaking. aku beneran menyarankan dikau menulis lebih banyak di media-media tradisional. karena kita defisit science writer.
    .
    @himawan: tunggu dulu; pembelajaran filsafat di mana dulu nih? stf driyarkara, UGM atau yang mana? saya gak sekolah di sana, ga sekolah filsafat juga. memang anda sekolah filsafat di mana?

    Jadi, saat mengetahui pencapaian-pencapaian sains modern, para mahasiswa filsafat menjadi gagap.

    oh begitu kah? gagap gimana bisa dielaborasi lagi? apakah anda jago matematika jadi tak gagap memahami pencapaian-pencapaian sains? paham kalkulus, aljabar, geometri, dll?

    Nyatanya, di luar sana, setidaknya dalam ranah filsafat analitik, bukan kontinental, filsafat berjalan beriringan dengan sains.

    jadi kenapa toh? mahasiswa filsafat yang mendalami psikoanalisa saya kira tak perlu repot-repot ngurusin matematika. dan saya kira sudah jadi pengetahuan umum kalo sains dari jaman yunani memang dibangun beriringan dengan filsafat.

    Maka tidak ada lagi pernyataan ambigu, sains adalah filsafat masa kini.

    haha ya ini memang ambigu tapi toh ini prosa saya tulis buat iseng-iseng saja. dan yang saya maksud filsafat di sini mungkin sebenernya merujuk ke eksistensialisme, psikoanalisa lacan/zizek, barthes, kontinental ala perancis lah. bukan filsafat anglosaxon yang rigor.

  8. @ gentole

    Euh, japri aja deh. Saya kirim message di fesbuk.😉

  9. ah, sudah dijawab oleh syarh ala syarh paling akhir. :p

  10. selamat ya mas Gen atas pernikahannya. barakallaah.. *telat*

  11. Semua tak berlalu. Semua akan jadi perulangan abadi sampai semesta berhenti. Tapi sayang, bukan kau atau aku akan mengulanginya, tapi sosok lain, jiwa lain, yang hakikatnya kita juga. Kita: bagian dari Tuhan. Seperti energi jadi materi atau materi jadi energi. Sama saja. Satu asal, satu awal, satu perulangan, satu perhentian.

  12. bayangkan.. semesta berulang: jangan2 10rb tahun yg akan datang dirimu kembali tercipta dalam bentuk sepotong tempe, bukan manusia…
    bayangkan.. semesta jamak: jangan2 di semesta lain, dirimu bukan yg kemaren kutemui, tapi seorang penambang batu di timbuktu..😀

    *dilemparsendal*

  13. […] Untuk Gentole: aku tak memiliki renungan cukup banyak atau cukup rapi untuk dituliskan sebagai renungan bulan madu seperti kau bikin. Cuma keridhaan hati untuk menikmati sejumput bahagia yang mungkin semu dan boleh jadi kelak akan […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: