Galau 2.0.

May 17, 2011 at 9:23 am | Posted in iseng, kebudayaan, sekedar | 20 Comments
Tags: , , ,

Saya galau dengan ramainya istilah galau di Internet…

begitulah...

SATU dari sedikit istilah ngetrend anak ABG dan narsisis sosial media yang menurut saya keren dan layak diseriusi adalah: galau. Kata ini orijinal, asli Bahasa Indonesia. Ada di KBBI. Kata ini resmi. Ini bukan kata comberan Internet yang menyebalkan semacam unyu atau Maho atau wkwkwkwkwwkwkwkwkwkwk…(ad infinitum). Katanya, para ABG labil (disebut juga ababil) akhir-kahir ini lagi doyan majang istilah ini di status mereka. OK, saya kira Anda tidak perlu jadi Malcolm Gladwell untuk tahu bahwa fenomena aneh ini muncul setelah Fesbuk dan Twiter jadi bagian penting dari keseharian kita — seperti halnya makan siang atau pergi ke toilet. Pada tahun yang lampau, orang mungkin mesti baca catatan harian Soe Gok Gie dan Ahmad Wahib untuk menyoal galau, atau — kalo sekolahnya rada elit dan berasal dari kelas sosial yang lebih tinggi — baca novelnya Salinger. Sekarang semua orang galau. Galau rame-rame. Bahkan, saya sedikit kaget mendapatkan sebuah grup Fesbuk Galauoemjee, oh, mai joood, apa ini? Galau rame-rame beneran, literally? Galau sebegini gaulnya! Tetapi, tunggu dulu, apakah galau? Apakah ada bedanya galau dulu dan Galau 2.0? 

Galau adalah….

KBBI punya definisi yang menarik dan kontemporer buat perasaan yang lebih sering kita rasakan dalam kesendirian ini: galau, menurut KBBI, adalah “sibuk beramai-ramai”. 😀 Atau, masih menurut KBBI, “kacau tidak keruan”. JADI, galau adalah pikiran kacau? Saya kurang sepakat dengan definisi KBBI. 😐 Menurut seorang bloger yang sepertinya seorang mahasiswi yang tidak pernah galau (mungkin sekarang sudah lulus saya tidak tahu, bisa jadi dia ibu-ibu atau bapak-bapak atau bahkan Menteri Tifatul Sembiring yang pura-pura jadi mahasiswi? :P) kata galau diartikan secara berbeda oleh beberapa orang. Kata beberapa teman dia dan Fesbuker yang dia kutip di Internet, galau adalah:

  1. …suatu keadaan ketika suasana hati menginginkan kebebasan, namun ada yang mengikat, gak mau lepas (Rerey, usia jalan 22 tahun, alay dan ganteng)
  2. Pikiran kacauu, gara” [sic] cinta. (OMS, usia 21 tahun kayaknya, tidak alay seperti Rerey).
  3. Keadaan dimana seseorg [sic] bingung utk menentukan pilihan..Merasa susah apa yg [sic] akan terjadi nantinya…Apakah sesuai harapan atau tidak… Apakah ini benar atau salah…Apakah ini yg terbaik….bimbang… (Femmy, usia 17 *tapi bohong :p)
  4. Buat saya, galau adalah pilihan hidup. Galau adalah moment di antara pilihan, sebelum pilihan, atau setelah pilihan. Jadi itu adalah moment ketika kita berpikir bebas, sebelum menentukan sesuatu (Wiku, pendiri grupBandung Galau Selalu di Facebook)
  5. Galau itu ketika orang itu tengah kosong pikirannya dan asalnya itu dari hati (Rosiana Dinata, blogger)

Ada lagi bloger lain yang ikut memberi arti pada kata galau. Malah dia mengutip definisi KBBI yang tidak saya temukan di KBBI saya yang edisi keempat. Menurut dia, galau adalah “suatu perasaan gelisah, bimbang, hati yang sedang kacau tak menentu karena kita memikirkan sesuatu terlalu berlebihan.” OK, boleh dikata saya sedikit terkejut dengan berbagai macam definisi yang ditawarkan pengguna Internet; lumayan well-thought! Saya tidak sepenuhnya setuju. Tetapi setidaknya kata galau dipahami secara lebih serius ketimbang kata alay, misalnya, atau istilah lainnya yang lagi ngetrend di Internet.

Saya sendiri adalah bloger galau. Sudah galau sejak saya menulis buku harian beberapa tahun yang silam. Memang benar galau biasa berkaitan dengan cinta atau rasa cemas akan sesuatu yang akan terjadi atau yang tidak ketahui sebab-musababnya, seperti anak ABG labil, lah. Setiap orang, saya kira benar, bisa merasa galau: anak ABG atau bapak-bapak. Semua bisa galau. Toh, itu salah satu alasan manusia disebut manusia. Manusia — galau. Masalahnya adalah: galau di zaman Internet adalah galau yang rame-rame. Kegalauan ini dieksibisi sedemikian rupa, dibuat menjadi sesuatu yang begitu banal — yang tak layak diseriusi. Kita semua galau. Dan kita mungkin galau karena hal yang remeh: cinta, misalnya. Tak apa. Yang penting galaunya otentik. Kita galau bukan karena sekedar ingin punya alasan untuk menulis status galau agar bisa dikomentari, agar bisa menarik perhatian orang saja. Jadi, agak aneh kalo dibuat sebuah komunitas orang galau (komunitas galau di Bandung? Galau tuh di Jakarta dan pengangguran! Masih.) atau apapun itu di mana semua orang bisa galau bareng (halah). Hal semacam ini menurut saya mengecilkan arti pengalaman galau, karena galau ya bukan sekedar galau saja, kawan. Ini yang membedakan galau yang dulu dan galau 2.0. saya kira. Galau bagi saya saat yang paling mustajab untuk merefleksikan hidup; ketika kita menarik jarak aman dari segala kepastian hidup, dan melihat lagi kehidupan kita tanpa pra-kondisi dan pra-anggapan apa-apa: apakah itu berkaitan dengan cinta, pekerjaan, makna hidup, persahabatan, masa lalu, masa depan, alam semesta, nilai-nilai kemanusiaan, apa saja. Galau itu personal. Dan sebaiknya direfleksikan dalam kesunyian. Galau ini bisa saja dibagi dan didiskusikan dengan orang yang tepat, tapi bukan untuk dieksibisikan rame-rame! Galau itu filosofis, atau katakanlah eksistensialis. Galau, bagi saya, adalah sebuah pengalaman eksistensial. Galau adalah sebuah kesadaran bahwa hidup itu tak serba sempurna, bahwa kita memang tidak mengetahui segala-galanya, bahwa tidak ada yang pasti. 

The importance of being galau…

Saya ingin menegaskan proposisi saya bahwa galau itu penting. Karena manusia galau adalah manusia yang, seperti yang saya sebutkan di atas, sadar akan eksistensinya. Ini hampir mirip, kalau bukan sama, dengan konsep “kecemasan” dalam filsafat eksistensialisme. Manusia modern itu manusia galau. Di zaman yang serba tidak pasti ini. Di usia yang juga serba tidak pasti. Manusia galau. Tentu saja. Dan tidak ada, tidak ada alasan yang salah atau teralu remeh untuk menjadi galau. Meskipun, ada galau yang kemungkinan besar lebih otentik dari galau-galau yang lain. Misalnya galau tanpa sebab. Ini galau yang menurut saya otentik. Galau tanpa sebab hanya bisa dipahami sebagai sebuah kesadaran akan hidup yang fana dan nir-makna, hidup yang absurd — tanpa tuhan, tanpa tujuan. Kita ini, sodara-sodara, adalah debu di jagad raya yang mahaluas yang takperduli yang takberalasan dan yang pada suatu saat akan musnah ditelan masa! Galau karena cinta juga bukan galau yang remeh. Toh, betapapun gentingnya konflik Israel-Palestina, perasaan yang dalam pada seorang yang dikasihi, dalam berbagai problematikanya, dalam haru dan biru yang menjadikannya berarti dalam hidup kita, itu lebih penting daripada politik. Anak ABG boleh jadi galau karena Ujian Nasional. Ini mungkin saja, dalam perspektif saya, hal yang remeh. Tapi buat seorang anak ABG, ini penting! Ini soal hidup dan mati buat dia. Kegagalan dan keberhasilan dalam UN akan menentukan masa depan dia, mendefinisikan hidupnya; apakah dia seorang pecundang atau petualang hebat? Bisa jadi dia sengaja gagal saja. Menjadi seorang underachiever yang sadar akan pilihannya untuk tidak mengejar nilai A, rengking satu dan IPK 3.9 saja dalam hidup, dan kemudian berpetualang di jalanan seperti Ali Topan. Tidak ada alasan yang salah untuk menjadi galau; yang penting adalah bagaimana menyikapi kegalauan itu — apakah Anda menggunakannya untuk merefleksikan hidup atau Anda terlalu malas dan memilih mengeksibisikan kegalauan itu dengan menulis status banal “SAYA SEDANG GALAU!!!”

Coba filsafat dan puisi atau musik metal atau porn atau, well, solat?

Satu hal lagi yang hendak saya tegaskan. Galau itu bukan penyakit hati. Kayaknya semua orang menganggap galau seperti penyakit saja. Seperti yang dikatakan hampir semua bloger yang saya temui yang anti galau. Blog untuk akhwat ini misalnya. Malah blog ini memberi doa yang mesti dirapal sebagai tolak bala untuk rasa galau. Halah. Kalo anda percaya mantra, nih saya kasih kopasnya: “Allahumma innii as’aluka nafsan muth-ma-‘innatan, yu’minu biliqaa’ika, wa tardha bi qadhaa-‘ika, wa taqna-‘u bi’athaa’ik.” Tapi kalo Anda tak percaya mantra, Anda mungkin mau baca novel-novelnya Dostoyevsky dan aforisme-aforisme Nietzsche. Atau Anda juga bisa membaca puisi-puisi yang ditulis penyair semacam Chairil Anwar dan T.S. Eliot. Saya tahu banyak anak ABG galau yang menulis puisi, tapi yah mungkin…gimana, ya, puisi apapun yang di dalamnya ada kata “Ya Allah” saya pikir tidak akan membawa kita kemana-mana…tetapi mungkin tidak apa-apa, juga, sih. Sajak orang galau kalau dibuat secara apik bisa sangat indah dan membantu orang yang sedang galau lainnya menjadi tambah galau dan lebih reflektif akan hidupnya, tetapi puisi galau yang buruk yang isinya cuma kata klise hanya bikin orang tambah galau dan kemudian pingin bunuh diri. Which is good, mungkin. :mrgreen: Well, yang jelas, galau is not a disease. Ayo kita galau rame-rame! Hehe. Galau sendiri saja lah dan refleksikan hidup Anda. Anda tidak lulus Ujian Nasional? Anda kehilangan seseorang? Anda mau kawin? Anda malas mengerjakan skripsi atau TA? Anda akan segera diwisuda? Anda berencana berhenti kerja? Anda pecundang? Silahkan galau dan sekalipun saya membenci fakta ini: you will never galau alone.

Advertisements

20 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Satu hal lagi yang hendak saya tegaskan. Galau itu bukan penyakit hati. Kayaknya semua orang menganggap galau seperti penyakit saja.

    Um, saya rasa masbro ada baiknya coba baca-baca filsafat timur. Jangan terlalu fokus ke Kierkegaard/Sartre/dsb lah. Minimal buat alternatif; beda cara pandang dsb.
     
    Pan katanya Hans Kommer, “dunia ini seimbang”. Cobalah sesekali dari yang lebih positif. :mrgreen:
     
    *plak*

  2. @sora9n: sebenarnya kamu sudah merekomendasi filsafat timur sejak lama. malahan saya sudah lumayan intense diskusi dengan mbak illuminationis yang memang “praktisi” filsafat ketimuran. tapi yah mungkin memang measih belum cocok saja. belum ada alternatif dari eksistensialisme. menunggu pencapaian sains saja. 🙂

  3. saya lebih suka istilah galau 10.4. :p

  4. @ Gentole
     
    I know, right? Sekadar mengingatkan yang sudah pernah terucap. 😉 #eaaa

    tapi yah mungkin memang measih belum cocok saja. belum ada alternatif dari eksistensialisme. menunggu pencapaian sains saja. 🙂

    Soal itu, santai dan pelan-pelan aja sih IMHO. Sebab prinsipnya rada aneh: semakin dikejar justru intinya makin kabur. Bener-bener experiential (kalau boleh dibilang). :-/
     
    (BTW yang saya pelajari Zen & Tao; kurang tahu kalau kepercayaan Timur lain)

  5. Berhubung agak jauh dari komunitas yang suka bergalau, jujur saja saya kurang ngeh soal “galau” seperti yang sering dibicarakan. Malah rasanya maknanya kabur dan jadi semacam istilah payung untuk berbagai merk “kecemasan” yang Masbro bicarakan. Jangan-jangan galau itu semacam kumbangnya Wittgenstein, beda di masing-masing kepala tapi kita berpura-pura barangnya sama.
    .
    Sebulan-dua bulan terakhir saya agak galau. Tapi saya bersikeras galaunya yang ini galau betulan: saya merasa punya alasan-alasan yang valid untuk galau. Ini galau yang dalem dan gak sama dengan galau-galau ngambang yang saya lihat berseliweran. Jadi tak sudi saya disamakan kegalauannya! 😛
    .
    Saya dukung supaya istilah “galau 2.0” dimasyarakatkan lagi. Galau a la saya itu galau 1.0. Supaya mudah dibedakan.
    .
    *kipas-kipas*

  6. @HP: iya istilah i2.0. ini udah overused yah. 🙂
    @sora9n: lah, iya.tapi mungkin anda memang orangya serba positif.:P
    @pak guru: hahahaha…galau yang dalem dan tidak ngambang. 😛 semua galau sama aja ah, ged. iya tapi emang galau 2.0 yang terlalu populer ini menyebalkan. mestinya galau itu terus menjadi indie dan gak pernah masuk major label. :mrgreen:

  7. Gen, galau adalah fitur. Memang dari sononya sudah terinstall.

  8. Saya galau risetnya belum selesai-selesai. Masa depan ndak jelas, pacar ndak punya, keluarga jauh, mau dibawa ke mana hidup ini. 😆

  9. Sayang ndak ada tombol jempol di sini, padahal mau nge-like komennya mas Lambrtz…

  10. galau itu indah jika kau mengerti apa harus ditonton. sekian.

    *penikmatbioskop*

  11. ralat:

    galau itu indah jika kau mengerti apa yang harus ditonton. sekian.

    *pecintafilm*

  12. ‘ galau’ si bos marah2 mulu.
    Ini salah,itu salah.
    Istri di rumah nuntut uang jajan di tambah.
    Galauuuah…

  13. @ Kenz

    galau itu indah jika kau mengerti apa yang harus ditonton. sekian

    Termasuk menonton film yang bisa menyebabkan galau? :mrgreen:

  14. Galau apa pulak? Daun pepaya emang pahit, Bung. 😀

  15. […] Galau bukanlah bahasa nyeleneh yang baru saja muncul seperti unyu dan sebagainya. Kata galau ini telah lama ada, bahkan tercatat di KBBI. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ga·lau a, ber·ga·lau a sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran). […]

  16. Assalamualaikum..
    saya mau tanya gimana caranya kita bisa menghilangkan kegalauan tentang pikiran negatif terhadap ikhwan,sya sudah berusaha dengan mengikuti kegiatan sosial diluar bahkan kegiatan kerohanian tpi tetep pikiran negatif itu tdak mau hilang,bgi sya ini suatu pnyakit yg sdh sangat kronis. .
    tlong ukhtiy/akhiy sekiranya berkenan membantu karna sya sdh lelaah dgn keadaan ini,,
    bgaimana menghilangkan prasaan yg kuat itu terhadap ikhwan ini,sya sdh mrasakan skitnya selama kurung waktu 4 tahun,,,,
    tlg akhiy atau ukhtiy , ,

  17. wah isinya berat banget…
    ane jadi galau nih :v

    btw ane ngambil beberapa ulasan buat artikel ane dari sini boleh ya 😉

  18. […] dan, dari mas gentole […]

  19. […] saya biasa memetik hikmah dari bahasa gaul dan perikehidupan anak ABG nan gaul di Internet. Dulu, saya menulis tentang bagaimana anak-anak remaja kita doyan menulis kata ‘galau’, sebuah kata yang menurut saya sangat manusiawi, sesuatu yang hanya bisa dituliskan oleh manusia […]

  20. […] Galau bukanlah bahasa nyeleneh yang baru saja muncul seperti unyu dan sebagainya. Kata galau ini telah lama ada, bahkan tercatat di KBBI. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ga·lau a, ber·ga·lau a sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran). […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: