Bandung Kenapa

May 10, 2011 at 2:43 am | Posted in gak jelas | 16 Comments
Tags: , ,

Why do you hate a city? Or anything?

Saya benci Bandung. Oh, bukan, kata benci masih terlalu sopan, saya ralat, sodara: Saya menista Bandung! Kali pertama saya berkunjung ke kota ini — kota yang dinobatkan sebagai Paris di Pulau Jawa ini! — saya muntah-muntah. Kala itu saya masih kecil, kelas 5 SD, bersama kawan sekelas piknik ke Gunung Tangkuban Perahu (Don’t screw your mothers, kids. Or you’ll end up building a mountain). Sepanjang perjalanan ke sana saya mabuk berat: mabuk Antimo! Mabuk stoberi! Mabuk arbei! Dan tidak cuma mabuk, sodara-sodara, entah karena suhu entah karena ketinggian, kuping saya sakit bukan kepalang — berdengung seolah ada serangga ribut di dalamnya! Oh, kawan, segala derita perjalanan tidak memberi ampun waktu itu, entah kenapa di Bandung saya selalu kepingin kencing. Coba bayangkan. Mendaki gunung. Melintasi bukit. Tapi kepingin kencing — constantly! Terjebak di dalam bis yang setiap kali belok badannya miring seperti benar-benar hendak terjungkal, sementara Anda duduk di sebelah jendela, di kursi belakang, sendirian (I think I was then freakishly short and ugly that nobody wanted to befriend me. And who wanted to sit next to a boy who gave you the “I want vomit now” look, anyway?). Kepingin pipis, tanpa tahu di mana toilet berada! Singkat kata, kesan pertama saya sudah jelek sekali soal Bandung.

Tapi bukan itu alasan kenapa saya menista Bandung.

Beberapa tahun kemudian, di masa ABG saya yang serba gelisah, serba insecure, abang saya kuliah di Bandung. Kala itu saya sedang gila ngeband (Yes, I was in a band. Cool, huh? 🙂 ). Dan abang saya selalu bikin saya kesal setiap kali dia balik ke Jakarta. Tiga hal yang selalu dia bual: ada banyak festival musik di Bandung, anak mudanya modis-modis, dan cewe-cewe di sana, entah kenapa, cakep-cakep. Katanya, di Bandung banyak orang jago main gitar, dan mereka yang jago gitar, ini sudah hukum alam, disukai perempuan. Abang saya, kebetulan, ganteng. Dan jago gitar! He was happy there, absolutely. Dan karena saya gitaris abal-abal yang medioker pun tidak, sama sekali indifferent soal “mode berpakaian”, dan karena perempuan cakep yang saya kenal cuma Bibi Lung-nya Yoko, Dina Mariana, Okta anak Padang teman mengaji ba’da Maghrib dan satu orang perempuan (seorang dewi!) dari SMUN 6 yang cuma bisa saya kagumi dari jendela angkot R11 waktu STM dulu, apa saja yang diceritakan abang saya membuat saya merasa terintimidasi! Sejak saat itu, saya anggap Bandung kota yang pretensius! Kota yang sok! Saya tidak tahu bagaimana logikanya, tapi sejak abang saya bercerita soal Bandung, saya sudah sebal! Bandung. Cih!

Tapi, bukan karena itu, bukan karena kota itu pretensius, saya menista Bandung.

Sebenarnya, saya ini iri sama Bandung. Oh, kata iri sepertinya kurang pas, kurang personal, katakan saja: Saya cemburu sama Bandung! Ya, cemburu, cemburu yang buta, cemburu yang bikin panas, cemburu yang hendak memangsa! Pacar saya dulu kuliah di Bandung, selama hampir delapan tahun! (Sorry, hunny) Dua mantan saya juga kuliah di Bandung. Dan mereka semua mencintai Bandung, mereka menghidupi Bandung. Di Bandung mereka menemukan jatidiri, di Bandung mereka jatuh cinta, di Bandung mereka bertemu sahabat sejati; jauh dari orang tua, di Bandung mereka menemukan kebebasan yang mereka inginkan, menjadi diri sendiri: Bandung adalah kota yang membentuk kepribadian mereka, yang mungkin adalah satu dari beberapa alasan mereka menarik buat saya. Jadi di kala mereka bahagia jadi mahasiswa Unpad dan ITB, dibuai segala hedonisme dan romantisme Bandung yang bikin kuliah mereka gak kelar-kelar, saya mungkin sedang duduk sendirian di pojok perpustakaan IAIN, membaca literatur berbahasa Arab tentang tata cara solat yang benar. Tidak, saya tidak menyesali jalan hidup saya yang berliku ini, saya tidak keberatan terlambat menggilai film-film Woody Allen, hanya saja, saya cemburu. Ada satu lagi kawan perempuan, yang pernah dekat sekali sama saya, yang mengidentifikasi dirinya dengan Bandung dan pernah suatu kali di awal persahabatan kita tidak pernah berhenti membandingkan Bandung dan Jakarta: Jakarta begini, Bandung begitu. (GOD, please, stop it! Jakarta is real! Bandung is not real! Only romantic fools who don’t give a damn about thousands of people who are dying because of war and hunger live there! Well, I don’t care about war and hunger either, but that doesn’t make me hate Bandung less!)

Tapi, sodara-sodara, bukan itu alasan saya menista Bandung.

Bandung sudah ada sebelum abang dan pacar saya dilahirkan. So, what's the fuss?

Saya menista Bandung karena kota ini membuat saya mengerti betapa saya tidak mampu melihat sesuatu pada dirinya sendiri. Pikiran saya selalu berjarak dari realitas. Kota Bandung mungkin indah. Bisa jadi saya lebih suka tinggal di Yogyakarta, atau Padang dan Makassar. Tapi Bandung mungkin kota yang menyenangkan. Tidak sedikit orang terdekat saya yang pernah hidup di Bandung dan menyukainya. Tapi entah kenapa sejarah hidup saya, juga sejarah orang terdekat saya, perasaan saya buat mereka, dan segala hal yang sebenarnya tidak berkaitan dengan Bandung sama sekali membuat saya membenci Bandung, secara membabi-buta, blindly! Saya juga memihak Jakarta secara membabi-buta, karena bagaimana bisa suka: saya pernah dirampok dan kecopetan di sini! HP pertama saya dirampok di Tanjung Priok, MacBook pertama saya dirampok di kosan di Setiabudi!!! Kenapa saya suka Jakarta??? Kunjungan saya ke Bandung selalu menyenangkan, tidak pernah kecopetan! Galeri Sunaryo tempat yang lumayan menyenangkan buat membaca buku. Kenapa saya tak suka Bandung? Jakarta panas, Bandung…panas juga. 😛 Mungkin ini yang disebut prasangka, dan saya membenci prasangka, apapun itu. Dan ini berlaku tidak hanya untuk Bandung, tetapi untuk banyak hal lainnya dalam hidup. Soal kerjaan, soal apa saja. Semuanya tidak pernah saya lihat apa adanya, selalu ada hal lain yang tidak ada hubungannya dengan apa yang saya lihat itu yang menentukan bagaimana saya menyikapi sesuatu. Kali saya harus belajar untuk melihat Bandung pada dirinya sendiri, tanpa praduga, tanpa pra-konsepsi apa-apa, tanpa “wawasan sejarah” apa-apa, tanpa segala apa yang dibilang abang saya dulu, tanpa segala hal yang pernah dialami mantan dan juga pacar saya; Bandung sebagai ibukota Jawa Barat, sebagai kota bersejarah yang dinamis. Mungkin nanti Arkenz dan Aris bisa membantu saya menyukai Bandung, atau setidaknya tidak lagi membencinya.

Advertisements

16 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. “Don’t screw your mothers, kids. Or you’ll end up building a mountain”

    😆

    “Abang saya, kebetulan, ganteng. Dan jago gitar! He was happy there, absolutely”

    situ sirik? kok yang disalahin Bandung-nya? itu kan semacam buruk rupa cermin dibelah bang :mrgreen:

    “Mungkin nanti Arkenz dan Aris bisa membantu saya menyukai Bandung, atau setidaknya tidak lagi membencinya”

    Amin 🙂

    tapi sayang, pas saya di Bandung situ nggak dateng, yah.. apa boleh buat ^^a toh akhirnya saya lega krn ketemu danalingga.

  2. Reaksi saya setelah membaca 2 kalimat pertama (yang tidak miring): “whaaaaatttt???”

    😆
    Sebagai orang Bandung asli yang hampir tiap weekend selalu pulang ke Bandung setelah lelah bekerja di Jakarta… saya hampir tidak mengerti postingan di atas…
    Tapi kalau dipikir-pikir Bandung itu memang tempat pelarian yang paling oke…
    Mungkin karena saya sudah familiar dengan Bandung, mungkin juga karena kotanya cenderung kecil, jadi saya selalu merasa nyaman dan aman di sana…
    Ngga kayak kalau di Jakarta yang selalu bikin saya pusing dan nyasar =.=

  3. @lumiere
    .
    Iya kagak sempat. Kapan-kapan lah ya. 🙂
    .
    @felicia
    .
    Hehehe…hampir tidak mengerti? Jadi mengerti?
    .
    Eh, tapi Bandung bukan tanpa kejahatan, kan? Situ merasa aman karena memang sudah kadung suka Bandung aja. Dan diam-diam membenci Jakarta. 😛

  4. Saya agak mengerti pada kalimat

    Jakarta is real! Bandung is not real!

    Makanya pada setiap weekend Bandung selalu dipenuhi warga Jakarta yang melarikan diri dari realitas.. :-”
    .
    Bandung juga penuh kejahatan kok…
    Saya pernah hampir kecopetan waktu SMP, rumah saya hampir kemasukan maling, anjing saya pernah diculik orang tapi untung ketemu (sialnya, orangnya ngga ngaku dan malah minta dibayar), dekat rumah saya pernah ada pembunuhan…
    Iya mungkin karena saya udah cinta aja sama Bandung, sama seperti perasaan Mas terhadap Jakarta 😛

  5. sini.. sini bro.. mari menikmati segenap ketidaknyataan yg ada di paris van java ini.. mungkin nambah keki, atau barangkali mas dpt bini.. ditunggguuuuu..!!

  6. @felicia
    .
    Iya bandung dianggap sebagai pelarian dari Jakarta memang. Hampir semua orang yang saya kenal selalu mengingat Bandung setiap kali mereka benci Jakarta. Masalahnya mungkin romantisme Bandung, buat banyak orang hanya berlaku selama kuliah, setelah itu mereka harus terjun ke dunia nyata: kerja. Dan kerjaan “hanya ada” di Jakarta. Kenyataan yang pahit dan kejam itu ada di Jakarta.
    .
    @kenz
    .
    Hahahaha…gimana kalo kamu ke Jakarta aja toh? 😛

  7. Keknya teringat Avril Lavigne yang (waktu ke RI) tidak mau nginep di Hotel Hilton karena pacar dia adalah mantan pacar Paris Hilton.. 🙄
     
    Saya pengen ke Bandung, karena saya punya teman2 di Bandung. Yang membuat suatu kota di Indonesia punya nilai penting buatku adalah kalau ada teman2 disana. Cewek2nya cakep atau nggak sih gak penting.
     
    dan kamu, gen, tidak pengen jalan2 1-2 minggu bareng pacar ke Bandung? Membuat kenangan baru kadang2 efektif tuk overwrite yang suram2 itu lho. 😉

  8. Asli, kalau saya ketemu Anda, Mas Gen, saya ingin mengorek seluruh, baca: SELURUH, fragmen kehidupan Anda. Mau saya buat novel biografi. Asli, segala duka-nestapa-dan-derita yang Anda alami serta penyikapan Anda terhadap segala nasib yang Anda rasai (yang tidak hanya bertubi-tubi tapi juga berlapis-lapis), sangat cocok dijadikan semacam diorama.

    Serius, saya tidak sanggup kalau harus bercermin pada tragedi Hasan dan Husain, atau meresapi segala derita ulama-ulama brilian terdahulu (seperti Ibn Taymiyyah an-Nasa’i, Abu Bakr as-Sarakhsi, al-‘Ulays, Ibn Qayyim, Tajaluddin as-Subki, al-Amidi, atau as-Syiradzi——yang kesemuanya hamba yang saleh tapi sejarah hidupnya penuh dengan segudang penderitaan, kemelaratan dan penyiksaan) atau kepedihan yang dialami Ayman al-Zawahiri. Saya belum berani menengok sejarah hidup mereka, seperti tidak beraninya saya membaca surah al-Ankabut ayat 2 dan 3.

    Tapi melihat Anda, Bung Sisifus(nya Indonesia), saya betul-betul bisa mengambil banyak sekali ibrah di sana-sini. Anda tahan banting. Cocoklah kalau suatu saat kelak, sebelum Anda mangkat ke alam baka, kita ketemu, dan saya tulis semmmmua duka-lara batin Anda.

    Saya tunggu di Bandung 🙂

  9. @jensen: wah avril, sentimentil. 🙂 ke bandung sih sering, jen.
    @aris: apa kamu, hah? :mrgreen:

  10. @ Aris

    Bung Sisifus(nya Indonesia)

    *ngakak*
    .
    .
    @ Gentole
    Tak heran kalau kuagak-agak kenapa sampai ada orang keliru kau itu aku. Persis. Memandang Bandung (dan satu lagi bagiku: Jogja), seperti sebentuk cemburu berdarah dingin. Pura tak mau tahu tapi diam2 kepingin. Jelek-jelek pulau buru, cuek mengejek tapi rindu.
    Kita dikompori oleh sebuah planet yang seakan ditakdirkan di luar jangkauan tangan. Cuma ada di mimpi tentang sebuah kebebasan nan damai, yang begitu mengganggu hingga jika umpama email, kita mark-as-spam buru2, tapi sesekali mengintip mau tahu. Mendengar kebohemianan hidup, kebebasan meng-“Teu boga era! Lebok tah siah!”polisi pungli sambil miris krn mesti tiarap sembunyi di parit dari rotan PHH.
    Dan kita pelan2 mencintai kehidupan sendiri, ketika semua cerita hebat di luar cuma jadi mimpi masa lalu. Bandung. Jogja. Moskow. Paris. Atau Bavaria. Sama saja. Takdir lahir tanpa negosiasi. Tanpa peduli.

  11. Bandung? Tempat saya menghabiskan masa muda saya. Jadi pasti akan terkenang terus. 😀

  12. Bandung itu kalau di sini plesetan untuk Banda Aceh Ujung #abaikan #nyamber #gakpenting #tagarinilebihgakpenting

  13. Mungkin agak ga nyambung ama postingan loe Gen, tapi sebagai orang Bandung gw dukung lah orang2 yang benci Bandung, kalo bisa ga usah lagi lah mampir-mampir kesini. Gw udah bener bener muak ama para pelancong dari luar kota (terutama Jakarta) yang dateng kesini dan bikin macet kota gw setiap akhir pekan (panjang maupun pendek).
    .
    If it was up to me, setiap mobil yang masuk ke Bandung dikenakan biaya masuk Rp 500 rb biar pada mikir dua kali sebelum dateng dan menuh menuhin kota Bandung tercinta.

  14. Saya… merasa isi benak saya terekspresikan lewat komen Bung Aris di atas…

    Asli, segala duka-nestapa-dan-derita yang Anda alami serta penyikapan Anda terhadap segala nasib yang Anda rasai (yang tidak hanya bertubi-tubi tapi juga berlapis-lapis), sangat cocok dijadikan semacam diorama.

    […]

    Tapi melihat Anda, Bung Sisifus(nya Indonesia), saya betul-betul bisa mengambil banyak sekali ibrah di sana-sini. Anda tahan banting. Cocoklah kalau suatu saat kelak, sebelum Anda mangkat ke alam baka, kita ketemu, dan saya tulis semmmmua duka-lara batin Anda.

    Saya tunggu di Bandung 🙂

    *ngakak* 😆 😆 😆

  15. @alex: oya menyebalkan bukan sih. kita cuma bisa cemburu. toh selamanya saya bakalan benci bandung. dan saya pun gagal ke sana dua hari ini karena saya capek dan mengutip si Ary saya juga benci orang Jakarta yang bikin macet Bandung. hahahaha…
    .
    @dana: Senangnya. Baguslah kalo begitu.
    .
    Ary: Saya dukung. Saya males ke Bandung juga karena rame. Dan benci Bandung karena banyak orang Jakarta ke sana. Norak.
    .
    @soragn: Apa kamu, hah!?

  16. yah jangan ke bandung lagilah.. gitu aja repot..
    cobalah jauhi bandung layaknya saya ga suka jakarta,,, sangat tidak suka tapi itu bukan salah jakartanya.. bukan salah tempatnya tapi salah diri sayanya karena tidak bisa beradaptasi dgn lingkungan.. so maybe that happen to you juga bro..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: