Menalar (Polemik) Sinetron

February 15, 2011 at 2:04 am | Posted in gak jelas, katarsis, kebudayaan | 90 Comments
Tags: , , ,

“I agreed that what really matters is what you like, not what you are like.”

Nick Hornby dalam High Fidelity

Sinetron takbisa dinalar. Tidak. Masuk. Akal. Kata mereka, parapundit sosial media di negeri ini, yakni kaum intelektual yang berfikir selera seninya dan akalbudinya lebih tinggi dari selera ibu-ibu rumah tangga di lingkungan Anda. Tidak ada yang salah dengan menyatakan preference atau kesukaaan: kalau Anda terobsesi dengan band Armada, tidak apa, jangan minder, Anda mungkin disebut payah, lame, tapi berdasarkan UUD 45 dan juga Konvensi PBB tentang Hak-Hak Sipil dan Politik, Anda berhak mengoleksi lagu Armada, dan bahkan Anda juga berhak berpendapat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu penulis lagu medioker, kalau bukan inkompeten, dan sebaiknya mengikuti jejak Pak Harto dan Bung Karno saja: ingat Lilis Suryani dan Titiek Puspa? Syahrini, yang sepertinya sudah mulai renggang dengan Anang, mungkin pilihan yang baik buat Pak SBY. Mengkritik sinetron, seperti mengkritik SBY dan industri musik lokal yang semakin ter-alay-kan, sah-sah saja. Namanya juga kritik. Apapun, diperbolehkan. Tetapi memobilisasi masa (meskipun secara online) untuk membenci sebuah karya, seni pop atau seni serius, dan bahkan meminta para seniman untuk berhenti berkarya bagi saya sudah keterlaluan. Itu sudah termasuk kategori hate speech. Setali-tiga-uang dengan Fatwa MUI dan retorika FPI soal Ahmadiyah. Artis sinetron, meski dianggap amatir, adalah juga seorang aktor, seorang seniman. Memberi mereka duit cepean agar bisa mencari uang di tempat lain, dan berhenti bekersenian, adalah sebuah penghinaan yang sakitnya kimak takterkatakan. Melanggar hukum kali bukan, tetapi tidak bijaksana tentu saja iya. Artis, seperti rocker, juga manusia. Mungkin saja ada di antara mereka yang berusaha mati-matian jadi aktor? Tapi boleh jadi, Anda berfikir, itu resiko jadi artis. Saya juga tidak perduli, sih. Screw those celebrities. Yang lebih saya perdulikan adalah jutaan ibu-ibu rumah tangga yang dianggap kurang terdidik karena menyukai sinetron, termasuk serial yang tidak ada habisnya dari Cinta Fitri (CF) dan Putri Yang Ditukar (PYD). Yang saya lihat, gerakan anti-PYD ini boleh jadi puncak dari arogansi aktifis sosial media: adalah saat ketika masa online berpikir mereka lebih cerdas dari Orang Lain di Dunia Offline, siapa saja dari Roy Suryo, Fauzi Bowo sampai Ram Punjabi.

Mentalitas Rob dalam Novel High Fidelity

“It’s not what you are like,” kata Rob, “but what you like that‘s important.” Kita semua adalah Rob dalam High Fidelity. Kita berfikir ini kita keren karena kita menyukai yang keren, bukan karena kita sendiri keren (dalam hidup ini hanya segelintir saja orang berbakat, sisanya adalah medioker yang merasa berbakat karena mengakui bakat orang lain). Ini elitisme, yang agak ngawur. Kita semua — saya termasuk — dalam batas-batas tertentu memang demikian tabiatnya. Dan ini sah-sah saja. Asalkan soal selera ini dijadikan urusan pribadi saja, urusan celana dalam. Kalo Anda taksuka sinetron, ya sudah, katakan saja, takusah lah menghina jutaan orang yang kebetulan lebih menyukai sinetron macam PYD dan CF ketimbang serial How I Met Your Mother atau House atau “semua-semua yang bagus dari masa lalu”. Kalau Anda berfikir pohon jambu di depan rumah Anda adalah Tuhan YME, Anda sebaiknya tidak bikin petisi mencela mereka yang pergi ke masjid atau gereja, karena selain itu tindakan bodoh, Anda bisa digebuki masa. Selera dan iman. Itu personal.

emang enggak menjanjikan sih ini sinetron kayaknya

Kritik Atas Kritik Atas Sinetron

Herman Saksono bilang di blognya kalau “Putri Yang Ditukar dan Cinta Fitri adalah contoh sinetron yang kualitas cerita, akting, dan penggarapannya sangat rendah.” Sampai situ masih wajar kalimatnya. Sesekali bolehlah seorang bloger menyatakan superioritas selera mereka di blog sendiri. Apalagi, ini cuma sinetron, bukan filmnya Francis Copolla atau sutradara gila dari Italia, Fellini. Sayangnya, kritiknya rada ngawur. Dia bilang,

Sinetron-sinetron itu menunjukkan kemalasan sineas televisi untuk membuat karya yang bagus. Kemalasan ini terlihat dari skenario kehidupan sehari-hari yang tidak masuk akal, konsep cerita jiplakan luar, hingga akting yang alakadarnya.

Pertama, soal tidak masuk akal. Cerpen Oscar Wilde yang berjudul The Happy Prince adalah cerita yang luar biasa bagus. Tapi tidak masuk akal. Atau The King of the Dark Chamber karya Rabidranath Tagore, itu juga rada-rada absurd, tapi enak dibaca dan bagus. Masuk akal atau tidak masuk akal sama sekali tidak bisa dijadikan parameter buat menilai sebuah karya seni, yang serius maupun populer. Kecuali bila Anda seorang realis, seorang realis fanatik yang anti-imajinasi, anti-realitas yang dibengkokkan. Kedua, soal jiplakan. Ini tahun 2011, sodara-sodara, ini zamannya reproduksi. Orijinalitas barang langka. Bahkan Hollywood lebih sering mendaurulang cerita lama, film lama. Masalahnya mungkin pada etika menjiplak. Tapi, ya ampun, di zaman Internet kayak begini, mau gimana lagi, bung? Ketiga, soal akting alakadarnya itu. Ini bolehlah. Debatable sih. Tapi bolehlah. Seperti saya bilang, namanya juga pendapat. Tetapi saya terkejut waktu Bung Herman bilang:

Ini sungguh-sungguh tidak bisa dimengerti, bagaimana mungkin ada orang yang bisa terhibur menonton cerita yang tidak masuk nalar dengan penggarapan yang serba ngawur.

Errrr…..ini sebaiknya saya lewatkan saja. Dan kemudian beliau menambahkan,

Bagi saya, ini menggambarkan betapa parahnya kondisi kepala orang Indonesia. Dan masalah ini tidak bisa selesai dengan mematikan televisi atau pindah ke saluran televisi asing. Puluhan juta kepala akan tetap terhibur oleh pertunjukan yang serampangan. Baik cerita maupun penggarapannya.

Ini sama saja dengan Anda tidak suka band ST12 dan kemudian meminta pemerintah dan stasiun TV untuk memboikot pertunjukkan mereka. Karena Anda berfikir, “masalah ini tidak bisa selesai dengan mematikan televisi atau pindah ke saluran televisi asing.” WTF. Ini fasis, ini jelas-jelas setali tiga uang dengan pandangan Hitler. Ini negara bebas. Kalau tidak suka, ya, dimatikan saja atuh TV-nya. Dan lagian kenapa dengan jutaan orang yang terhibur dengan pertunjukkan yang menurut Anda buruk dan asal-asalan? Saya mengamini sosial media. Saya suka ngeblog. Tapi saya prihatin, gerah dengan semua gerakan-gerakan patronistik parabloger yang hendak mencerahkan bangsa.

Memaklumi Budaya Masa

Di Amerika sana, orang juga bosan dan gerah dengan berbagai macam reality show, berbagai macam reality show, sampai ada orang yang benar-benar bingung kenapa ada reality show tentang midgets bikin bolu kukus — dan siaran ini mengambil jatah waktu berita malam. Tapi mau gimana lagi. Namanya juga masa. Kalau Anda percaya demokrasi, percaya kapitalisme, itu yang Anda dapatkan. Kalau Anda hendak mencerahkan bangsa dengan selera Anda dan apa yang Anda pikir benar secara instan, sebaiknya tinggal di negara komunis. Perilaku masa dari zaman dahulu memang begitu. Kelas pekerja dan ibu-ibu rumah tangga takbutuh itu debat bermutu dan berapi-api soal nasib Mesir paskarevolusi, mereka butuh hiburan yang bisa melepas penat mereka sambil dan setelah nyuci-gosok seharian: sinetron, seburuk apapun penggarapannya, memberikan apa yang mereka butuhkan. Dan mereka yang merasa keren (gak mesti intelektual, sih) akan selalu membencinya. Ini sudah hukum alam. Suatu saat trend akan mengalami saturasi, dan masa akan beralih pada hiburan lain. Film-film jorok awal 1990-an, misalnya. Toh, akhirnya ditinggalkan juga, untuk kemudian, sayangnya, bangkit kembali akhir-akhir ini. Orang Indonesia boleh jadi payah. Tapi, yah, tak usahlah menghina-dina begitu. Kali nanti seleranya berubah. Sabar saja. Matikan saja TV-nya. Atau pergi ke TIM saja. Jutaan orang Indonesia saat ini baik-baik saja, kok.

NB: In My Humble Opinion

Saya mengamini perjuangan Aris dan menyesali duduk-pagarnya Pak Guru. Semoga amal dan ibadah mereka diterima di sisi Allah. Stance saya jelas. Asal bukan soal bikin jembatan, atau reformasi kantor pajak, tidak soal apakah sebuah karya seni atau hiburan itu digarap serius atau tidak. Kalo kata Gladwell dan juga Taleb, masa memang sudah tabiatnya begitu, tidak bisa ditebak. Tapi kalau memang mau berbuat sesuatu. Kali bisa dimulai dengan memperbanyak jumlah penulis kita, dan melakukan kritik sebaik-baiknya, tanpa harus memaksa orang untuk suka atau tidak suka. Biar kualitas penulis naskah sinetron menjadi lebih baik. Kali, itu bisa berguna. Tapi, entahlah. Who cares, anyway. :mrgreen:

Advertisements

90 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. kopas ah…
    =============
    jadi gini…
    akal sehat, masuk akal, ataupun logis di sini – kalo menurut saya – bukan berarti harus sejalan dengan dunia nyata atau tunduk pada konsensus ilmiah yang masih berlaku.

    tidak. tidak begitu.

    kalo saya, yang saya maksud dengan “masuk akal” adalah terpenuhinya kecocokan antara premis-premis dan kesimpulan yang disajikan pada sebuah cerita dalam tayangan sinetron. terminator dan robocop tentu seperti tidak masuk akal jika dibandingkan dengan parameter dunia nyata pada saat ini, tapi sayangnya mereka bisa memenuhi kecocokan antara premis-premis dan kesimpulan yang ada dalam ceritanya. inilah yang nggak ada di sinetron kita. seringnya mereka malah bertindak tidak konsisten sendiri terhadap apa yang mereka tampilkan sebelumnya 🙂

    selera memang nggak bisa dipaksakan. begitu pula dengan ibu saya, beliau paham sekali kalo sinetron itu isinya kibul-kibulan. tapi toh tidak semua orang “sewaras” ibu saya. kadang, ada yang tipe manusia yang alam bawah sadarnya cepat sekali menelan visualisasi dan afirmasi negatif yang direpetisikan di hadapannya (psycho cybernetics-nya maxwell maltz. cmiiw).

    inilah yang saya – pribadi – maksudkan sebagai pembodohan. dan untuk kasus sinetron ini, saya tidak meminta adanya sinetron pemintaran sebagai tandingannya. ide ceritanya “tetaplah-boleh-murahan” (kata “murahan” di sini tentunya dari sudut pandang elitisme yang tidak jelas itu tadi) kok. tapi mbok ya tayangkanlah cerita yang logis dengan durasi yang tidak terlalu berlebihan. ah ya, sekali lagi, logis di sini saya maksudkan sebagai terpenuhinya premis-premis dan kesimpulan pada cerita di sinetron itu sendiri.

    dan, perkara serius dan tidak serius, sama seperti novel, lagi-lagi selera tidak bisa dipaksakan. kadang ada yang menganggap novel butut yang dibacanya tidak perlu diteruskan kecewanya ke dunia maya, tapi ada juga yang langsung misuh-misuh lewat review di blognya. cara orang bereaksi atas emosi yang dirasakannya beda-beda. sama bedanya dengan reaksi orang-orang atas mutu dunia persinetronan di endonesa, misalnya aja reaksi saya sama reaksinya mas aris.

    yeah, kebetulan pihak yang kontra dengan mutu sinetron kita sedang dipandang sebagai sebentuk elitisme yang tidak jelas saja. padahal, menurut saya, ini tentang subyektifitas selera saja. ada yang berselera “memaksakan” mutu sinetron harus ditingkatkan kepada penggemar sinetron saat ini, dan ada yang juga berselera “memaksakan” mutu sinetron tidak usah ditanggapi dengan serius kepada para “pemaksa” peningkatan mutu sinetron itu tadi.

    kalo begini ya jadi tinggal banyak-banyakan massa, sepertinya 😈

    mbulet?

    memang. tapi ya begini ini apa yang saya rasakan terhadap kondisi persinetronan di endonesa :mrgreen:

  2. Ah, tulisanmu ini membuat akhirnya saya bisa bersikap. Ya, saya tidak suka kebanyakan sinetron-sinetron Indonesia itu tapi saya tidak berani (tega?) mebilang bodoh pada yang menyukai sinetron-sinentron tersebut.

    Toh, saya sendiri agak suka pada F-TV atau lagu-lagunya ST 12 yang bagi sebagian orang sudah layak menyebut saya juga termasuk yang suka dibodohi.

  3. Manthaap! 😆
    4 hari terakhir ini benar-benar elasi tak berkesudahan 😆
     
    Tak ada yang perlu saya komentari, saatnya saling bersulang di warung-kopi™. Cheers! :mrgreen:

  4. Haha!
    Sepakat!
    Socmed belakangan memang macam melahirkan messiah-messiah yang apa-apa hendak dicerahkan, dibikin gera’an pembaptisan. “Mau keren? Ikuti logika dan kecerdasan kami!”

    Dan itu sungguh kimak ketika sudah menyentuh ranah seni. Apa susahnya memandang sinetron itu seperti wayang kulit yang absurd, seperti kisah Durna yang ngent0t dengan Kuda Sembrani jelmaan Dewi Wilutama di angkasa, atau Destarata yang buta bisa punya anak 100 orang dan disebut bangsa Kurawa?

    Seni, cerita, tak mesti masuk akal. Sinetron, kalau tak suka, lihat saja macam teater sekolahan dengan dinding gabus dan kelebayan merajalela.

    Kalau cuma dikritik jam tayang selama 3 jam, okelah. Penghinaan ini sukar awak terima. Seolah-olah semua ibu-ibu rumah tangga dan kaum perempuan di pelosok itu cacat moral dan cacat kewarasan cuma karena mereka dengan ikhlas menonton apa yang mereka sukai.

  5. @joe
    .

    terminator dan robocop tentu seperti tidak masuk akal jika dibandingkan dengan parameter dunia nyata pada saat ini, tapi sayangnya mereka bisa memenuhi kecocokan antara premis-premis dan kesimpulan yang ada dalam ceritanya.

    Soal terminator. Lebih masuk akal mana robot yang melakukan perjlanan waktu atau cairan kimia yang bisa jadi robot? 😛 Dalam sinetron itu lebay menjadi semacam premis begitu loh. Diandaikan dunia seperti itu. Didramatisir. Dan somehow itu masih bisa diterima oeh mereka yang tinggal di rumah seharian.

    dan, perkara serius dan tidak serius, sama seperti novel, lagi-lagi selera tidak bisa dipaksakan. kadang ada yang menganggap novel butut yang dibacanya tidak perlu diteruskan kecewanya ke dunia maya, tapi ada juga yang langsung misuh-misuh lewat review di blognya. cara orang bereaksi atas emosi yang dirasakannya beda-beda. sama bedanya dengan reaksi orang-orang atas mutu dunia persinetronan di endonesa, misalnya aja reaksi saya sama reaksinya mas aris.

    Saya tidak suka Ayat-Ayat Cinta tapi saya seganlah ngajak orang untuk ikut gak suka, apalagi mengajak orang memberi koin sama Kang Abik biar nyari pekerjaan lain selain menulis. 🙂
    .
    @dana
    .
    Ya begitulah maksudnya.
    .
    @forzen
    .
    🙂

  6. @alex
    .

    Penghinaan ini sukar awak terima. Seolah-olah semua ibu-ibu rumah tangga dan kaum perempuan di pelosok itu cacat moral dan cacat kewarasan cuma karena mereka dengan ikhlas menonton apa yang mereka sukai.

    They’re worried as if every housewife here has become a porn star. Soal pembodohan itu. Haduh. Soal mutu. Kalo saya liat sinetron kita ini campur-aduk telenovela sama drama korea dan jepang dan film india. Emang sih aneh. Hahaha. Tapi ini kan hiburan. Toh yang India, yang Jepang, dan yang Korea gak kedap pengaruh, dan mungkin menerima hujatan yang sama di negeri mereka masing-masing.

  7. @ Gentole

    Soal pengaruh, apa sih yang tidak dipengaruhi zaman internet begini? Sejak J-Rocks yang mengaku dipengaruhi Laruku sampai sinetron yang mengadopsi kata “season” untuk sejajar dengan serial seperti Smallville atau Prison Break.

    Aku melihat kesombongan yang membebek pada selera luar di sini, yang malah ironis. Sinetron dan pengeritiknya sama-sama aneh: sama-sama menjiplak selera asing, sama-sama mengagungkan, lalu sama-sama gontok-gontokan.

    Nggak usahlah minder mengaku kalau selera mayoritas kita adalah babu, seperti negara kita mengekspor babu. Anggap pertukaran: kita ekspor babu, kita impor budaya babu. Memangnya dari luar itu selera “aristokrat” semua? Heh. 😆

  8. […] Menalar (Polemik) Sinetron – Gentole […]

  9. Setelah Aris memajang beberapa cuplikan layar dari sinetron tersebut saya sedikit bisa mengapresiasi. #eh

  10. […] Catatan Gentole: Menalar (Polemik) Sinetron The Seventh Seal » […]

  11. @ Pak Guru

    Setelah Aris memajang beberapa cuplikan layar dari sinetron tersebut […]

    Oalah! 😆

  12. Sekarang (sok) serius dulu. (Sebagai fence-sitter tentunya di rumah kubu A kita berupaya membela kubu B dan sebaliknya. :D)
    .
    Saya melihatnya, kesan congkak dan sok ngaturnya itu cuma ekses dari perkara awalnya, yaitu itu program sampai ditayang tiga jam lebih di prime time, dan secara reguler, bukan ada acara spesial. Boleh jadi ‘kan jadi kayak positive feedback loop, karena prime time ya pasti rating tinggi dan gak ada habis-habisnyalah. Bung Alex pun nampaknya setuju-setuju saja kalau tiga jam sinetron itu berlebihan porsinya (cewek-di-cuplikan-layar notwithstanding).
    .
    Jadi kalau seandainya porsinya dikurangi jadi satu jam saja, kayaknya rata-rata akan puas semuanya. Oleh sebab itu, yang dipermasalahkan sekarang itu hanya sebagian aspek dari apa yang sedang dibahas, yaitu yang mendiskusikan kualitas/selera, terlepas dari porsi.
    .
    Di satu sisi memang betul, saya cenderung berpikir begini:
    .
    1) Kalau tak diganti kualitasnya, ya mau apa lagi, itu kebebasan, tapi mbok jangan 3 jamlah.
    2) Kalau diganti kualitasnya lebih “bagus” (dalam artian lebih sesuailah dengan kaedah teknik-teknik perfilman, lebih diamini oleh kritikus-kritikus yang paham), kemudian disukai oleh pemirsa, itu ya suatu kemajuan.
    3) Kalau diganti kualitas yang lebih “bagus” tapi tak disukai pemirsa agak terlalu elitislah. Pandering to the viewers sedikit lagi dong.
    .
    Yang agak lucu itu ‘kan misalnya pengakuan dosa pekerja-pekerja sinetron yang mengaku mesti “membodoh-bodohkan” naskah mereka sesuai tuntunan produser. Jadi yang saya takutkan, kita juga agak meremehkan pembantu-pembantu imajiner yang kita bela itu. Congkak bawah sadarnya ya itu. Di satu kubu, “Ah bodoh ini seleranya, mari kami perbaiki!” dan di satu kubu lebih subtil “Mau bodoh diapakan? Biarin ajalah!”
    .
    Maksudnya, mereka nonton sinetron itu ‘kan karena memang itu yang ada di televisi kala “waktunya menonton televisi”. Siapa tahu kalau produsernya gak terlalu meremehkan dan ngasih yang “berkualitas” (gak perlu level Kubrick, level biasa aja) mereka juga bisa menikmati dengan intensitas yang sama.
    .
    Ya siapa tahu. Soalnya ini ‘kan boleh jadi penonton sukanya cuma sedikit, tapi PH mengeruk keuntungan sebukit.

  13. Hedoooop Jersey Shore!!!!!!!

    Budaya kayak ginian di setiap negara pasti adalah. Kayak Katie Price yg sampai saya bingung kok bisa terkenal di UK atau Snooki dari Jersey Shore.

    Dan makin banyaknya so called serial drama bermutu, membuat makin malas nonton berita.

  14. […] This post was mentioned on Twitter by Anandita Puspitasari, bapakguru. bapakguru said: Menalar (Polemik) Sinetron, oleh Gentole http://bit.ly/fBKmyd #sinetron […]

  15. @ Bapak Guru

    Benul, benar dan betul demikian asumsiku. 3 jam memang shungghuh therlhalhu. Tapi itu juga cuma masalah “perebutan TV dalam famili” saja, terutama jika TV cuma satu. Masalah kesukaan menonton, ya samalah macam anak-anak bertengkar apakah mau nonton atau mau pakai TV untuk main Pe-eS.

    Shungghuh therlhalhu pula rasanya jika ada yg bikin Gera’an Koin Untuk Playstation karena kehadiran PS yang dimainkan berjam-jam sudah mengakibatkan perang saudara dalam keluarga.

  16. […] (cewek-di-cuplikan-layar notwithstanding)

    *pidip* *pidip* dusta detected *pidip* *pidip*

  17. @ Alex©

    […] betul demikian asumsiku. 3 jam memang shungghuh therlhalhu.

    Buat saya sih kurang, soale masih keamputasi sama durasi iklan :-”
     
    *penghayat sinetron*

  18. @ frozen

    Kalau kau jadi anggota keluargaku dan 3 jam nonton begitu, meteran listrik kucabut sajalah 😈

  19. Jakarta unik !
    Kampung tidung biar bang gentole sedikit rilex.

  20. […] Dan omong-omong soal tanggung jawab mencerdaskan ummat bangsa, kok ya saya teringat dengan pembahasan para narablog dulu, ketika membahas siapa yang paling berkepentingan memberikan kontribusi yang mencerahkan kepada masyarakat umum. Dulu, saya menangkap kesan ‘dorong-dorongan’, bahwa netter belum merasa mampu sepenuhnya untuk diberi mandat menjadi Sang Pencerah. Sekarang, kebalikannya, ketika sebagian netter menyuarakan uneg-uneg mereka (yang, hey, bukan kali pertama ini!), reaksinya justru terdengar semacam “Siape lo? Emang lo udah bikin apa?” di kuping saya. Dan sejujurnya, kesan inilah yang membuat saya merasa kurang sreg dengan tulisan Mas Frozensi dan Mas Ahgentole. […]

  21. alex,

    lupa ya, dalam proses menonton, yg tjd jauh lbh rumit drpd yg terlihat. ga sekadar terhibur, tp ada nilai2 yg tertanam dlm bawah sadar thus bs terinternalisasi.

    jd aku melarang ibuku, ponakanku, keluargaku nonton sinetron. krn br sekadar nonton aja, udah berhamburan komen yg menghakimi, stereotyping, mimpi pengin hidup sekaya itu, dll.
    dan ktk nonton udah kelar, ga brenti disitu. ktk ngobrol ama tetangga, entah gimana, sedikit2 sikap perilaku dan cara berpikir jg mirip2 dg alur sinetron.

  22. Aku setuju dengan memeth, masalah selera itu masing – masing lah.

    Tapi yang kita tonton itu dikit demi sedikit akan masuk dan bersarang di otak. Kasus yang mungkin mirip adalah Stereotip yang disebabkan iklan – iklan produk kecantikan, di iklan dibuat seolah olah yang putih itu cantik, yang langsing itu cantik, dan lain sebagainya. Kalau iklan yang cuma kurang dari 1 menit saja bisa mempengaruhi sedemikian rupa, bagaimana dengan sinetron yang tayang 1 jam lebih ?

    Kita juga masih ingat dengan film Garuda di Dadaku dan film apa itu yang tentang badminton, setelah nonton film bioskop banyak yang suka main bola dan bermain badminton. Saya rasa anak – anak itu masih gampang dipengaruhi. Dipengaruhi oleh sportifitas oke banget, tapi gimana klo dipengaruhi oleh balas dendam ?

  23. @ Memeth

    Bukannya justru di situ letak anjuran agama “kuanfusakum wa ahlikum narran”? Moral keluarga dulu diberesi, baru moral tetangga. Ini dunia bebas. Kita tak bisa menakar moralitas orang karena parno dengan moralitas keluarga sendiri akibat tayangan televisi. Remote TV di tangan masing-masing, di rumah masing-masing.

    Lagipula soal hiburan, kalau ada yang menganggap itu hiburan, menurutku itu urusan penikmatnya. Bukan hak siapa-siapa untuk memvonis. Jika kita mau kebebasan, maka mesti terima bahwa orang bebas memilih hiburan untuk diri mereka sendiri.

    Yang aku persoalkan adalah pendegradasian moral seolah-olah semua penonton sinetron itu seleranya rendahan, moralnya rentan rusak. Aku melihat messiah-messiah baru yang hendak menyelamatkan para pirsawan dari acara yang mereka nikmati sendiri. Di sini, aku membela hak sesiapa yang mau menikmati apa yang mereka mau nikmati. Di luar segala common sense dan yang konon begitu agung. Sinetron adalah mimpi, baik-buruk, pemimpi sendiri yang menikmati.

  24. Aku terpikir kita mesti bikin larangan untuk cerita Sangkuriang dan Pewayangan dengan alasan moralitas juga. Sangkuring berunsurkan incest (bercinta dengan ibunya, Dayang Sumbi) dan beastiality (ibunya beranak dari anjing bernama Tumang). Pewayangan? Banyak intrik dan moralitas bobrok di dalamnya. Poliandri terang-benderang, satu perempuan bersuami lima anggota Pandawa. Yudhistira melego kerajaan karena berjudi.

    Bisakah? Tidak.
    Di sini moralitas absurd. Kita sendiri menarik kesimpulan lalu “mencerahkan” keluarga sendiri.

  25. […] sinetron sebagai hiburan rakyat, hingga yang mengetengahkan tema demokrasi. Bahwasanya sinetron itu bentuk kebebasan berekspresi dan didorong semangat pasar bebas. Pokoknya rame […]

  26. wah jadi anget begini ya, sepertinya para sesepuh blog sudah turun tangan meramaikan perbincangan. Yah kalau soal sinetron kan memang kritiknya juga dari dulu itu-itu saja tetapi memang terkadang cara menyampaikan kritik itu bisa jadi bermasalah. Soal koin saya sependapat itu gak etis dan yah secara real itu gak akan menyelesaikan masalah. Saya melihat itu sebagai salah satu tempat penyaluran kekesalan atau kekecewaan saja.

  27. alex,

    aku kok bingung, ga nangkep, hubungannya jawaban alex ama pernyataanku.
    kok sampe moral sih?

    kl soal hiburan, aku sih merasa berhak mengingatkan & urun pendapat bahwa ada hiburan lain yg lbh byk manfaat drpd mudharat. spt kl liat ponakan nonton film kartun yg lbh byk adegan kekerasan ato sinetron baim yg dikit2 ngandelin peri, lbh baik nonton bolang dkk yg berisi nilai2 persahabatann, cinta alam, wirausaha, menghargai perbedaan sesama nusantara.

    kl soal selera sih, emg bukan utk diperdebatkan.

  28. @pak guru
    .
    Masalahnya pasar. Aku pikir kapitalisme punya mekanisme tersendiri untuk menentukan mana yang laku dan tidak laku. Agak susah memang dinalar. Menurut AC Nielsen sinetron ratingnya tinggi. Dan stasiun TV percaya itu. Masalah mutu, haduh. Drama Korea juga begitu-begitu aja, tapia ada orang rela nonton berjam-jam. Lagian apa hak kita sih mengubah selera orang lain? Selera ibu-ibu? Saya bilang biarkan saja, karena toh selera gak bisa dipaksakan.
    .
    @calupict
    .
    Iya, di Amerika juga sama. RI dan US kan mirip. 😛
    .
    @alex, pak guru
    .
    Soal durasi 3 jam. Biar sajalah! Pasar yang menentukan! Kalo eneg dan gak ada yang nonton juga dirubah durasinya. Jam tayang harganya mahal di televisi itu.
    .
    @meong
    .
    Saya tak mau merendahkan ibu dan adik-adik saya seperti itu. Meraka tidak bodoh. Mereka semua baik-baik dan bisa menertawakan sinetron. Ndak sekalipun saya lihat mereka “kepingin kaya” karena nonton sinetron. Ini sama aja dengan bilang video Ariel menyebabkan tingginya kasus perkosaan terhadap anak. Susah nyambunginnya.
    .
    @suprie
    .
    Hadoh. Edutainment di televisi itu oxymoron.
    .
    @alex
    .
    Nah, lex, ya begitu? Patronistik sekali bloger itu. 😐
    .
    @sp
    .
    Apa kata ulama salaf tentang sinetron. 😛 Hehehe lama tak jumpa dikau. Sinetron lah yang membawamu ke sini.

  29. @mbak meong
    .
    Bisa dielaborasi bagaimana caranya sinetron mempengaruhi perilaku masa? Dan kemudian bagaimana dengan film-film lain seperti film kartun Naruto dan lain-lain? Sebenarnya kan menonton bisa didampingi. Dan lagian kalo Mbak khawatir dan orang lain enggak khawatir apa perlu bikin petisi untuk menghentikan sinetron? Kesannya absurd sekali. Bayangkan ibu-ibu yang suka sinetron tiba-tiba gak bisa nonton sinetron karena kata para bloger it’s bad for them. 😐

  30. Supaya jelas, mungkin saatnya dilakukan penelitian serius antara hubungan perilaku penonton sinetron dalam kehidupan sehari-hari dengan menonton sinetron. Biar kita tidak memperdebatkan klaim.

  31. Lah, komenku kemana?

  32. Yup, setuju. Jangan menilai ibu-ibu rumah tangga yang demen sinetron itu bodoh2. Contoh konkrit, Mamahku kalo nonton PYD sambil ngomel-ngomel, “Bego banget siy, gitu doang!” geregetan sama ceritanya yang menurut beliau ga rasional :lol:. Tapi teteuuup aja ditonton tiap hari :P. Demikian juga ibu-ibu tetangga, kalo lagi ngegosip di depan gank, suka ngobrolin sinetron, dan mereka mengkritik ceritanya. Tapi ya itu… teteuuup ditonton 😆

  33. Btw, saya agak jengah soal elitisme ini. Mengenai waktu penayangan 3 jam, yang dianggap merugikan karena membuang2 waktu penonton. Apa bedanya dengan otaku yang begadang berhari2 buat menamatkan nonton anime? Mamahku pun ga pernah habis pikir kenapa saya bisa begadang berhari-hari nonton di depan komputer cuma buat nonton film kartun doang, padahal kalo begadang buat belajar ga pernah bisa 😆

    Yah, sama lah.. 😛

  34. @ Sweet Martabak

    Mengenai waktu penayangan 3 jam, yang dianggap merugikan karena membuang2 waktu penonton. Apa bedanya dengan otaku yang begadang berhari2 buat menamatkan nonton anime? Mamahku pun ga pernah habis pikir kenapa saya bisa begadang berhari-hari nonton di depan komputer cuma buat nonton film kartun doang, padahal kalo begadang buat belajar ga pernah bisa 😆

    Ini langka; ada kritik valid yang sekaligus menertawakan diri sendiri dan orang lain yang baca. 😆
     
    *ikut kena jlebb*

  35. monggo:

    restlessangel.wordpress.com/2011/02/16/pilih-sinetron-atau-si-bolang/

  36. @ sora9n:
    Nganuu.. dan ibu-ibu itu notabene dicekoki tontonan 3 jam. Sementara si otaku mencekoki diri dengan berjam-jam yang seakan-akan tak terbatas.. lagi..lagi..dan lagi U_U #ouch #curcol

    *kabur ke forum anime*

  37. […] Menalar (Polemik) Sinetron – Gentole […]

  38. […] Menalar (Polemik) Sinetron – Gentole […]

  39. saya si berharap bisa ada sinetron yang lebih bagus dari ini. Tidak melulu cinta-cintaan dan balas dendam 😀

  40. Nah. Walau setuju bahawa ada patronisasi yang elitis dan gak perlu, saya masih belum teryakinkan oleh argumentasi yang sekadar membiarkan. Seperti yang saya tuliskan sebelumnya, dugaan saya sama saja elitisnya. Yang satu merendahkan selera penonton dan ingin mengatur-atur: hayoh nonton ini, jangan nonton itu. Yang satu menganggap bahwa selera penonton memang bakal mentok sampai ke situ dan kalau “diberatkan” sedikit lagi mereka bakal langsung tersesat.
    .
    Logika saya, sinetron-sinetron jadul yang diagung-agungkan oleh “aktivis socmed” itu ratingnya juga tinggi dan populer di masa lalu. So-called pembodohan sekarang itu tidak sesederhana “rakyat mau ini, maka disediakanlah.” Yang ada “produser merasa rakyat mau ini, maka disediakanlah, dan karena tak ada yang lain, maka rakyat nonton itu dan ternyata lumayan.”

  41. saya akan membuatnya lbh simpel. saya sbg penonton, tdk akan ngepush pekerja sinetron utk memaksa membuat sinetron yang sekelas hollywood, palagi realitanya spt yang diceritakan, tergantung kpd pemegang uang. yah, masih jauh deh kearah sana. Tapi sbg pemegang remot, kita masih bs milih. Ada kok alternatif selain sinetron. Mereka yg taunya cuma sinetron, bs dikasih tahu. Kl masih ngeyel, ya itu mungkin selera. Selera ga bs diperdebatkan. Tapi kl anak2 masih bs ditegasin utk ga boleh nonton sinetron.

    Haaaaa lupa nulis dipostinganku, men-salut-I produser trans7 yang menayangkan acara2 non sinetron & kaya muatan lokal. sgt edutainment *jd mas gentole, bisa kok edutainment di tipi. kl channel tv berbayar mah ga usah ditanya ya, mcm natgeo dll. tp di trans7, whoaaa…aku ini malah srg belajar dr nonton acr-nya trans7* Dan itu udah berlangsung setahun lbh lho.

  42. @dana
    .
    Wah, susah. 😐
    .
    @martabak manis
    .
    Setuju sama kamu.
    .
    @geddoe
    .

    Yang ada “produser merasa rakyat mau ini, maka disediakanlah, dan karena tak ada yang lain, maka rakyat nonton itu dan ternyata lumayan.”

    .
    Soal jelek atau buruk. Itu bukan urusan saya. Saya juga bisa ngasih pendapat pribadi betapa jeleknya sinetron Indoesia. Tetapi meminta orang memperbaiki kualitas sinetron karena meresahkan menurut saya absurd. Kalo produser senang dan ibu-ibu senang. Tak ada yang rugi toh. Kalo gak kebagian nonton TV, itu isu domestik. Kalo orang yang nonton sinetron jadi lebay, pendendam dan selalu pingin kaya, ini klaim yang belum bisa dibuktikan secara empiris. Karena ibu saya masih sangat normal, meski suka sinetron. Jadi sebenernya motif gerakan memperbaiki kualitas sinetron apaan??? Menunjukkan superioritas selera? Sekalian aja bikin gerakan meminta produser musik gak jualan band alay. Kan gak bisa. Market rules. Don’t be naive lah. 😛 Pertanyaannya Ged, kalo kamu mau “bergerak” biar sinetron jadi bagus, motifnya apa? Menyelamatkan selera dan otak ibu-ibu dari selera rendahan dan kebodohan? Is that the case?
    .
    @moeng
    .

    Tapi sbg pemegang remot, kita masih bs milih.

    .
    Lah itu maksud saya persis. Kan ada remot, tinggal ganti canel. Kalo beneran jelek sinetronya, orang bosan dan gak suka, ya mati sendiri toh. Apa perlu ngejelek2in sutradaranya dan bilang kepala orang Indonesia yang suka sinetron bermasalah? Ini patronistik. Elitis. Elitis yang gak jelas gitu loh. 😐

  43. @ gentole
    .
    Nah, saya justru masih di tengah karena saya belum tahu selera ibu-ibu yang “dibela” itu seperti apa.
    .
    Ada saya tulis di blog Mbak Memeth, kalau memang itu selera ibu-ibu yang suka sinetron, ya berarti itu harga mati, gak usah mau dituker-tuker atau dihentikan produksinya. Elitis itu. Perkaranya ‘kan, seperti yang dibocorkan Mas Alexander Thian itu, orang PH memang merendah-rendahkan “kualitas” sinetronnya. Jadi, yang ditayangin sekarang itu gak serta-merta selera ibu-ibu.

  44. @ Pak Guru

    Yang satu menganggap bahwa selera penonton memang bakal mentok sampai ke situ dan kalau “diberatkan” sedikit lagi mereka bakal langsung tersesat.

    Buat saya pribadi sih, sebenarnya lebih ke arah begini: “Well, I’ll see if you get better. But if you don’t, whatever.” Jika diberi sampel lalu mereka seleranya agak “meninggi”*, bagus — jika tidak, ya tidak apa-apa. Yang penting tidak digurui harus suka ini atau itu. 😛
     
    Mirip dengan kalau ngobrol sama orang religius tapi kurang paham teologi/filsafat yang njelimet. Kalau di kemudian hari mereka tambah ngerti, saya senang. Tapi kalau tidak, ya apa mau dikata? 😉
     

     
    *) “meninggi” dalam tanda kutip karena saya tidak percaya kelas selera, dst.

  45. Addendum:
     
    Walaupun harus diakui, terkait sinetron, sepertinya sampel yang bagus itu agak susah (konspirasi PH, rating dsb). Maksud saya di atas lebih ke arah seni yang bersifat umum — e.g. musik, sastra, dsb. 😛

  46. @sora9n, pak guru
    .
    Aku juga bingung kenapa Difo jadi bawa-bawa konspirasi PH? 😐

  47. @ sora9n
    .
    Nah itu. Di satu sisi sok ngatur-ngatur selera orang memang elitis kesannya, tapi di sisi lain kok cenderung gak ngasih kesempatan buat pemirsa. Ini juga agak merendahkan secara tidak langsung menurut saya. Siapa tahu sinetron yang kualitasnya “kurang” itu cuma mainannya PH? Kembali kita lihat kalau Si Doel itu ratingnya juga tinggi, misalnya.
    .
    Catatan saya tentu, kalau memang pemirsa maunya itu, ya saya turun dari pagar ke arah Masbro Aris.

  48. @ Gentole
    .
    Karena konspirasi PH bisa berarti apa yang disajikan di TV belum tentu sesuai dengan selera sejati masyarakat, melainkan sudah masuk metode “cari aman” PH, walau itu gak salah juga.

  49. @geddoe
    .
    Seriously? Konspirasi PH? Seperti konspirasi pabrik tisu? Atau konspirasi tukang tambal ban? Atau konspirasi tukang fotokopi? Come on, Ged. Like that really matters?

  50. It doesn’t? Why not?

  51. Saya gak terlalu percaya teori konspirasi. Dan kalau pun benar ada saya jarang jadiin itu semacam premis dari kesimpulan yang saya ambil. Masak sih produser sengaja ngejelek2in sinetron biar laku? 🙂

  52. nganu…konspirasi itu mungkin bahasa hiperbolanya. saya sih nangkepnya adalah kemungkinan tidak adanya kemauan dari ph untuk memberikan kesempatan kepada penggemar sinetron utk menikmati tayangan yang lebih – apa itu namanya, ah ya – “berkelas”, karena secara teknis tayangan kejar tayang tidaklah seribet tidak kejar tayang, apalagi kalo harus pake longshot-longshotan macam si tarantino.

    memang blm pasti bener, sih. tapi bocoran dari bung penulis skenario yg kemarin itu bisa jadi indikasi kebenaran juga.

    gerakan yg ada skrg ini masih saya pandang sbg tidak memaksakan tapi juga tidak melakukan pembiaran. semacam kritikus, gitu. walopun saya juga sadar kritik yg kmrn-kmrn ini memang sarkas. kalopun ada kata-kata yg kelepasan, saya huznudzon saja kalo itu gara-gara saking jengkelnya sama “mutu” sinetron saat ini 🙂

  53. Saya sudah diwakili Mas Joe. 🙂 Di mana letak salahnya konsumen televisi komplen ke stasiunnya? Karena mayoritas yang diidealisasikan itu adem ayem saja jadi semua musti diam? Ya sejauh gak maksain gak apa-apa dong? 😛
    .
    (Walau kenyataannya mungkin komplen yang dimaksud tidak sepolos itu. For the sake of the argument lah.)

  54. ….errrr, tapi itu pilem emang keterlaluan. tiga jam. TIGA.JAM! dan TIAP HARI, sekali lagi tiap.hari. Mending kalau dirumah itu satu selera, lah kalau beda selera, bisa bikin ‘konflik’ keluarga.

    Gara-gara bunda-ku ke cantol sama actingnya Rizki, jadwal nonton malamku terganggu. Butuh perjuangan keras untuk bisa mengalihkan siaran ke LBS 😆 *curhat*

    BTW,

    It takes a thought to make a word
    And it takes some words to make an action
    It takes some work to make it work
    It takes some good to make it hurt
    It takes some bad for satisfaction…..

    Life is Wonderful 🙂

  55. @joe, pak guru
    .
    komentar terakhir udah sibuk dedlen. 😛
    .
    ya mungkin masalahnya kalo ternyata penonton sukanya yang “bodoh dan murahan” dan kemudian tiba-tiba sinetron berubah jadi bermutu, tapi penonton malah gak suka dan PH rugi bandar. Yang senang cuma bloger-bloger yang terpuaskan egonya toh, di atas kerugian orang lain? 🙂

  56. @ Gentole
    .
    Lah selama ini yang saya tulis dibaca ndak sih? 😕
    .
    ‘Kan intinya saya bilang, memang tak baik sok mengatur selera orang. Itu hitungannya sudah elitis. Okelah, “elitis gak jelas.” Tidak setuju saya bahwa sinetron harus mendidik, atau harus ada gerakan untuk memperbaikinya. Sinetron ya hiburan. Kalau orang mau nonton tidak boleh dilarang atau dicemooh. Oke?
    .
    Tapi saya pikir, kalau orang-orang sosmed mau protes, asal santun dan tidak condescending, apa juga salahnya? Ada kemungkinan, masyarakat itu tidak se-“bodoh dan murahan” yang Mas Gentole kira. ‘Kan sayang juga kalau seandainya demikian. Pekerja sinetron ‘kan pengen juga bikin yang bisa bikin mereka bangga, tapi dihalau-halau oleh PH karena takut masyarakat gak suka. Nah, obstruksi di sini siapa yang “terpuaskan”? ‘Kan cuma bapak-bapak berduit, “di atas kerugian orang lain,” yaitu pekerja sinetron yang diopresi, dan masyarakat yang gak ada kesempatan memilih?
    .
    Saya netral karena kemungkinan ini. Kalau bisa kasih tunjuk secara mutlak kalau memang ini yang orang mau ya konsekuensinya kita semua musti diam. Biarkan saja sinetron jalan terus, sebab tidak ada alasan untuk mengusiknya. Kalau “penonton malah gak suka dan PH rugi bandar” ya berarti bloger-bloger terbukti salah, eksperimen selesai, dan lanjutkan formula sebelumnya.

  57. @pak guru

    Lah selama ini yang saya tulis dibaca ndak sih?

    Dibacalah. Iya tau.

    Tapi saya pikir, kalau orang-orang sosmed mau protes, asal santun dan tidak condescending, apa juga salahnya?

    Masalahnya protesnya menurut saya jelas tidak santun dan condenscending. Protes saya dan alex ditujukan buat yang condenscending itu. Menyatakan gak suka ya gak apa-apa. Saya toh juga gak suka sinetron. Btw, kalo orang suka musik dangdut apa iya perlu kita perbaiki biar suka jazz, toh mungkin pada dasarnya penggemar dangdut juga suka musik jazz, misalnya?
    .

    Ada kemungkinan, masyarakat itu tidak se-”bodoh dan murahan” yang Mas Gentole kira.

    .
    Saya ndak bilang mereka bodoh dan murahan. Kalimat saya kan pake tanda kutip. “Bodoh dan murahan” ini kan keberatannya aktifis-aktifis sos-med sebenarnya. Lagian ini kan baru kemungkinan penonton itu “ternyata pintar dan seleranya tinggi”? Kalau belum pasti, kenapa sudah ribut-ribut dan bilang “ada yang salah dengan kepala orang Indonesia” yang suka sinetron? Kalo cuma protes-protes kan aku juga protes Ged, sering banget. :mrgreen: Tapi masak saya mau kirim surat ke koran Pos Kota tuk bilang kalo berita mereka gak mutu. 😕

  58. ha…

    jadi masalahnya cuma di pilihan bahasa ketika protesnya saja, kan? :mrgreen:

  59. Semangatnya saya kira memang bercorak elitis, dan nadanya salah banget, tapi tindakannya sendiri sih sebetulnya gak se-indefensible itu. Gitulah kira-kira. 🙂

  60. […] Menalar (Polemik) Sinetron – Gentole […]

  61. @ Joe @ Geddoe

    Aku percaya kalian sudah main-main ke FP PYD itu. Barusan aku juga komen di blog Amed. Capek ngetik ulang. Tapi jelas ada narablog/aktifis socmed yang kelewat tinggi menakar diri soal sinetron. Bung Jaka Prawira pun juga ada coret-coret di sana menyentil “banalnya” gerakan itu (tapi tema dia lain, kukira).

    Elitisme dan kesombongan diksi itu kentara sekali.

    Sekarang begini deh:

    Cari dengan keyword “PYD” di FB, lalu bandingkan saja jumlah yang suka dengan FP-FP terkait. Ini soal selera massa, meski tak bisa jadi tolok ukur, meski kegelisahan “perindu sinetron bagus dengan tolok ukur kekerenan seleranya” adalah sah-sah saja, tapi: ini soal selera massa. Soal pilihan. Yang kasih jempol suka di FP-FP PYD itu tidak ngeklik “like” dengan remote control. Ikhlas. Sadar.

    Kalau sudah begitu, main massa sajalah. Keoklah itu gera’an, lepas dari se-reasonable apapun argumen di sana.

  62. saya setuju penurunan durasi ke satu jam, mungkin kalau putri yang ditukar punya durasi “masuk akal” tidak akan diributkan 😀

    masalah otaku tadi, *scroll ke atas* saya juga otaku, dan saya kangen ketika dulu ada stasiun tivi yang menayangkan banyak anime di hari biasa *bukan weekend* dan di primetime.

    bukankah, berkurangnya sinetron akan membuat stasiun tv *mau tidak mau* memberikan alternatif film lain seperti dulu, entah family movies, kartun, anime, telenovela.

    itu sih tujuan saya mau menghentikan tayangan semacam ini 🙂

    kalo ikut tivi, bisa gila loh, dari jam 6 sore sampe jam 11 malem itu sinetron ga abis abis.. ngeri banget..

  63. Omong-omong, setelah melalui hari-hari “hangat” di 6 hari terakhir di blogsphere ini, saya jadi penasaran, ini perdebatan “kita” sampai tidak ya, di telinga orang-orang PH, sutradara, artis, dan pihak-pihak terkait?

  64. ^ Tidak.

  65. ^ Iya.

    Kalau tidak, si penulis skenario yang curhat itu tak akan curhat. Ini cerita klasik. Rotasi polemik. Tapi wadehel lah.

    Yang garap TA *uhuk* silakan garap TA. Yang mau bikin puisi kura-kura di kolam renang, silakan berpuisi sambil mengaji Amir Hamzah. :mrgreen:

    Semoga kita dilindungi kembali dari godaan Esensi nan mudharat…

  66. ^

    Semoga kita dilindungi kembali dari godaan Esensi nan mudharat…

    Ini black-campaign, pencemaran-nama-baik. Saya tidak terima. Saya akan somasi sodd~dara! Dan 1 milyar facebooker bakal berdiri di belakang saya! 😡

  67. Okalau sampai setingkat itu iyalah mungkin, ini masuk berita pun, ‘kan sampai orang PH-nya bilang “cuma iri” itu.
    .
    Tapi “sampai” agak terlalu tinggilah. “Mampir” lebih tepat. 😆
    .
    #kembalikeTA

  68. Ah, senang melihat teman-teman dalam api perdebatan.

  69. @ Pak Presiden Tanpa Kabinet

    Ente mau bikin gera’an setrilyun pun nggak ngaruh di negara ini. Kecuali ente niru aktifis socmed di negara-negara seperti Tunisia, Maisir, Bahrain, Persia, Babylonia, Mesopotamia, Aztec, Timbuktu, Disneyland atau Tiongkok era Dinasti Ming yang turun ke parit untuk memekikkan “revolt!” (yang merupakan kata serapan salah kaprah dari bahasa Indonesia, “repot!”).

    😛

  70. yupz… ini bru opini yg adil, arif N bijaksana banget…..
    Keep Spirit to make the best opinion…

  71. Yang kita butuhkan adalah gerakan satu orang-(minimal) satu teve. Jadi kalopun PyD mau tayang 24/7 ya bisa ditonton sendiri2 oleh penggemarnya. Yang gak suka bisa ganti channel di tevenya masing2. Kalo satu rumah-satu teve ya repotlah kalo prime-time cuma didominasi satu acara saja. Sudah ngantuk saat PyD berakhir. 😐

    @ Alex
    Padahal kalo tuk maen PS 3 jam itu terlalu sedikit *plak* 😆

    @ sweet martabak
    Kita sih nonton anime di laptop pribadi. Gak ada yang dirugikan mau berapa lamapun durasinya. Paling2 laper karena lupa makan :mrgreen:

  72. Ah, kampret. Lupa titik tuk spasi pula. Gini nih kalo kelamaan gak blogwalking 👿

  73. @ Jensen

    Aku berpikiran, mungkin sekali diantara yang sok-sok-an eneg pada sinetron ini malah jarang sekali nonton TV di rumah kalau malam. Apalagi yang online hampir 24 jam. Terlibat dalam protes anti-sinetron karena pengalaman (okelah pernah pengalaman, aku juga sama) menonton dan tidak suka. Titik. Tidak suka.

    Lantas terlibat dan menuntut prime time itu mesti bermanfaat? Ini subyektif sih. Waktu piala dunia, kita juga berjam-jam nonton itu 22 pengangguran yang menyebut diri mereka atlit berebut sebutir bola di lapangan hijau. Manfaat? Badan masuk angin. Ngantuk di jam kerja. Oh tentu bisa ditarik nilai positif, mulai dari berapologi “kan kita pengen sepakbola indonesia masuk World Cup kelak” misalnya. But well… who cares? Tetap saja kita gak jadi timnas PSSI utk pra-kualifikasi piala dunia. Hidup berjalan seperti sebelum World Cup.

    Benar-benar absurd ini alasannya. Kalau mau dikritik PH, prosuder, ya silakan. Tapi penikmatnya ini lho… hehehe.. beta juga marah kali kalau dibilang nonton bola itu sampah, pembodohan. Di pesantren dulu malah dibilang sama beberapa orang keblinger sepak bola itu kayak sepak kepala cucu nabi. Gak logis. Absurd banget 😆

  74. kalo saya cuman mau mengkritik untuk kemajuan bukan untuk benci, kalo tidak dikritik maka sinetron akan jalan ditempat dan film indonesia yang maju malah mundur lagi kejamannya dimana film indonesia mati suri gara2 banyak sekali film2 akhirnya membuat film horor porno. jadi kalo tidak dikritik para seniman akan mengulangi kesalahan sama.

    lihat masa2 sekarang dimana film indonesia mundur lagi kejaman itu. sinetron cerdas malah ga ada sama sekali. bajai bajuri itu entah sinetron atau bukan tapi itu cerdas menurut saya.

  75. ingat mas bahwa media khalayak ramai seperti Televisi punya tanggung jawab moral mendidik bangsa. tayangan indonesia sudah keterlaluan dalam mendidik bangsa. mereka memikirkan rating bukan effect pada khalayak.
    prilaku hedonisme dimasyarakat misalnya itu gara2 memang dididik seperti itu oleh media, ga ada sinetron dengan tema perjuangan kaum buruh, sinetron tentang kewirausahaan, yang banyak adalah orang kaya ambil orang miskin dan orang miskin tetap terlihat kaya.

  76. ^
    @ rick
     

    […] ga ada sinetron dengan tema perjuangan kaum buruh, sinetron tentang kewirausahaan […]

    Aaa! Ya ya ya ya… nggak ada pula sinetron dengan tema simulasi komunikasi efektif antar pemain sepak bola dalam tim yang sama namun saling datang dari kultur yang diferen seperti dikupas dalam Fantasista-nya Michiteru Kusaba. Tidak ada sinetron yang mengangkat tema improvisasi nada tausikh timur-tengah yang dikolaborasikan dengan melodi tarannum ala afrika utara yang dipadu dengan irama Warsh-Turki kontemporer. Tidak ada sinetron yang mengangkat tema mutasi gen SCN9A dan mengupas misteri probabilitasnya apakah ia given atau memang bisa dimanipulasi genetik dengan sengaja. Tidak ada sinetron…
     
    *ikut-ikutan gila mengidealkan sinetron-sinetron utopia* 😆

  77. tayangan indonesia sudah keterlaluan dalam mendidik bangsa. mereka memikirkan rating bukan effect pada khalayak.
    prilaku hedonisme dimasyarakat misalnya itu gara2 memang dididik seperti itu oleh media

    garis bawahnya disitu aja kalo sinetron berkualitas tetap ada ko misalnya, yang jam tayang nya bareng macem “islam ktp”

    anggap aja kaum kritikus itu kontrol dalam masyarakat, bukan berarti kita harus bikin sinetron yang mirip national geography

  78. ^
    @ rick

    […] mereka memikirkan rating bukan effect pada khalayak.

    Lha, bukannya rating itu akumulasi dari keinginan mayoritas khalayak juga? 😆

    garis bawahnya disitu aja kalo sinetron berkualitas tetap ada ko misalnya, yang jam tayang nya bareng macem “islam ktp”

    Oh, maaf, saya pribadi malah tidak suka dengan film macam “Islam KTP” itu. Kesannya masyarakat kita justru dididik hipokrit 😆

    anggap aja kaum kritikus itu kontrol dalam masyarakat, bukan berarti kita harus bikin sinetron yang mirip national geography

    Lho, gimana sih? Kalau mau perubahan radikal ya jangan setengah-setengah dong 😆

  79. kalo mendidik hedonis gimana???

    ya gw suka sama PYD ga munafik ngikutin dari prabu keculik,..
    dah gitu makin kesini makin 1/2-1/2 nontonnya akhirnya cuman nonton kalo lagi iklan acara di stasiun laen. justru kritikan gw itu membangun.
    gw ga suka sama blopers2 dan kebodohan konyol dalam sinetron PYD liat berapa kali bi surti kelepasan omong tapi bisa ngeles terus, dah gitu tema masih sekitar kecelakaan, masuk penjara, culik, ilang ingatan, kena sakit parah dan lain2 tanpa diselesaikan dengan ciamik.

    memang nya ga pengen kita punya kualitas sinetron macem bety la vea???

    atau mas tipikal ga peduli dengan kemajuan???

    liat adegan amira yang dibelakangnya ada drum2 mau meledak malah pacaran -.-! , kenapa ga bikin rezky setengah mampus mecahin kaca dan akhirnya merelakan tangan yang patah demi kaca ancur dan menyelamatkan amira didetik bom meledak macem rambo dan di tutup cantik dengan dialog manis amira dan rezky, lalu bilang gini:
    amira cinta itu bukan untuk mati bersama tapi ingat cinta adalah dimana kita bisa hidup bersama. (dari city hunter) itu kan mendidik bahwa cinta itu perjuangan bukan hal2 seperti kamu aja yang hidup aku lebih baik mati (bikin orang2 indonesia mudah menyrah)

  80. walau hipokrit tapi gw sangat suka adegan si mamat yang sayang sama ibunya. liat dalam PYD
    erlanda : kamu keluar tirta dasar anak durhaka
    tirta : ok kalo itu mau bapak selamat tinggal

    besoknya adegan dimana ada feli

    feli : siapa ini tir? bokap lo
    tirta : bukan sapa2 fel gw ga kenal
    erlanda : heh mana mungkin saya punya anak jongosnya prabu

    -.-! kenapa ga bikin gini:

    feli : siapa ini tir? bokap lo?
    tirta : … aku .. aku… anu…
    erlanda : heh mana mungkin saya punya anak jongosnya prabu
    tirta : permisi (pergi) sambil mata sedikit berkaca.

    liat adegan sama tapi pointnya bahwa tidak semudah itu mengatakan dia bukan bokap gw, apalagi erlanda adalah ayah dari tirta.
    dari segi effect pun lebih dramatis kan?

    lahan untuk kehal positif sebenernya banyak tapi larinya ko ke hal2 yang absurd terus ya???

    misalnya bangkitnya prabu dari keterpurukan sehabis diculik, coba dibuat lebih serius ini ko sepertinya tiba2 kaya gitu??
    atau stock shot tim sar yang menyusuri jejak hilangnya aini buat ke stock serius jadi kita bisa tau tim sar itu kaya gimana kalo dah kerja. Yang ada malah tim sar dikatain ga becus disini.
    amira dipenjara gara2 dituntut, emang iya kalo pengajuan kasus atau baru pengajuan tuntutan maka pelaku langsung dipenjara tanpa ada proses persidangan???
    ayolah gw penggemar citra kirana nih puasin penonton ngapa sih dengan menaikan kualitas, ga usah ribet2 deh tapi cukup singkirkan semua blopers, ga usah juga masuk akal sekali tapi satu aja pinter dalam memainkan grafik cerita dan permainan emosi pemain. kalo satu hari amira ketabrak besoknya zahira kanker besoknya aini ilang, besoknya amira masuk penjara. aduhhh ga masuk akallllllll….. ga usah dibikin masuk akal emang tapi liat.
    kanker, ilang, masuk penjara, culik, ilang ingatan, kecelakaan… bosen gw.

    kenapa ga kanker, cinta arman, ihsan yang berusaha jadi bapak walau anaknya ga tau, amira yang bantu bapaknya cari duit buat kanker, pengorbanan utari 24 jam, ditutup apik dengan setidaknya ihsan bisa cari duit untuk bayar zahira kemo.

    nyambung ke prabu yang bingung ko ihsan begitu, dll, dll, dll

    jadi ga tiba2 si aini ilang lah amira masuk penjara lah puyeng kan. bereskan masalah satu, baru sambung masalah lain, penumpukan masalah ga apa2 tapi inget tentang permainan psikologis pemirsa.

    ada salah kaprah tentang permainan psikologis pemirsa, di tayangan luar membuat orang berdebar itu cukup dalam kisaran waktu yang sebentar. tapi Indonesia mengira bahwa permainan hati yang berdebar-debar itu adalah yang ditunggu pemirsa.

    contoh: masalah kecil dalam sinetron tidak diselesaikan dengan cepat, dilama-lamakan produser berpikir bahwa itu seru padahal secara psikologis itu adalah kriminal. paling simple aja coba liat beda pengumuman pemenang american idol sama indonesian idol.

    inget walau sebentar akan berkesan dari pada mau berkesan tapi lama selesai sehingga momentum dimana psikologis manusia itu siap menerima keputusan keburu drop lagi dan akhirnya tidak peduli hasilnya.

    Itu yang saya alami dalam menonton PYD, saya akhirnya ga mau tau akhir cerita karena momentum saya untuk menunggu hasil sudah habis alias ilang kesabaran.

  81. […] mereka memikirkan rating bukan effect pada khalayak.

    Lha, bukannya rating itu akumulasi dari keinginan mayoritas khalayak juga?

    masalahnya adalah media adalah pendidikan masyarakat. bisa dikatakan masyarakat seharusnya diluruskan dengan tayangan2 yang membangkitkan semangat, bukan karena sukanya orang2 kaya cantik dan ganteng disuguhkan lah itu, dan masalah cerita no 1000. Ketika seorang anak sangat suka maen playstation apakah sebagai orang tua malah menyajikan berbagai macam kaset PS nya sampe puluhan??? bukan nya membatasi permainannya dan hanya boleh beli kaset baru setiap ada nilai 10.

  82. anggap aja kaum kritikus itu kontrol dalam masyarakat, bukan berarti kita harus bikin sinetron yang mirip national geography

    Lho, gimana sih? Kalau mau perubahan radikal ya jangan setengah-setengah dong

    Dari sudut pandang saya media sediakan apa yang dimaukan masyarakat seperti artis2 cantik dan ganteng tapi suguhkan sesuatu yang membangkitkan nilai positif tanpa tayangan jadi seperti national geography.
    contoh:
    Rezky: amira cium dong (sambil nyodorin pipi)
    Amira : apa sih cium2 aja kamu tuh bener ya kata pa prabu otak mesum
    rezky : apa sih aku kan pacar kamu wajar dong minta cium
    Amira : ya udah tutup matanya
    Rezky : (nutup mata)
    amira membuat kertas dengan tulisan “tunggu nikah” dah gitu sambil ketawa menempelkan keras2 kepipi rezky
    rezky: (sound effect:PLOK) awwww,… (cabut kertas dan baca isinya)
    ya kena dehhh
    amira ketawa-tawa.
    dibanding kebanyakan cerita yang bisa ditebak pasti siprabu muncul pas amira dah mau cium dan ngatain rezky otak mesum.

  83. […] dari edukasi dan bisa memberi dampak psikologi yang negatif, semuanya benar! Saya yang keliru. Mas Gentole juga keliru! Saya benar-benar harus tobat! Lihat sajalah bung, mu-dha-rat-nya! Sinetron kita itu […]

  84. @ rick
     
    EEHH!!! Situ penggemar Citra Kirana juga?! Really bro?!
    Ah, lupakan dulu soal debat sinetron. Yang penting kita buat aliansi dulu sebagai sesama fans Citra Kirana! 😈
     
    Sebagai perayaan, mari kita sama-sama “mempelajari” sosok ultimate kita berdua. —> [ THIS ] & [ THIS ] :mrgreen:

  85. ha ha ha… awalnya nikhita willy bro tapi citra kirana is the best.
    kualitas akting aku rasa bagus dia bisa jadi orang baik ketika dituntut itu dan seketika jadi jahat lagi. matanya langsung beda sorotnya. luar biasa. tapi ya itu mohon banget jadikan sinetron berkualitas mau tar jadinya PYD tiba2 wisnu kesetanan gara2 strategi nuker anaknya gagal dan belajar kanuragan ma mpu gunung kidul dan mendapat kapak sakti naga kembar, sehingga prabu akhirnya kedatangan kyai dan mendapat pedang pemusnah naga kembar gw ga peduli. Yang penting satu cerdas lah dalam mendidik dan kalo mang cerita jadi ngaco kaya diatas gw yakin para pengkritisi film juga paling diem kalo hasilnya malah kaya film hero. ha ha ha
    inget ga film baywatch yang akhirnya ada baywatch night mungkin mirip kaya gitu dimana baywatch adalah kisah penyelamat pantai dan baywatch nigt adalah baywatch model x-files. tapi cerdas mengejutkan dan ceritanya juga ga asal macam cerita anak2 hary potret yang memasukan semua tokoh yang lagi laku secara asal. intinya satu hiburan kelas dunia.
    sebenernya ada satu yang mau gw kritisi dari para pelaku sineas yang karyanya mau ga mau ditonton. bisakah cerita macem PYD dan Cinta fitri, ataw apalah membuat kita bangga indonesia dalam artian begini, gara2 salah satu episode dimana citra kirana ❤ pake batik maka, batik jadi sebuah trend mode.
    saya hidup dikampus seni pernah saya melihat idealisme teman dengan setiap hari memakai kebaya ke kampus tapi dia bisa mix and match nya mungkin sekali dua kali aneh tapi lalu malah saya melihatnya tu anak keren. Sehingga terjadi sebuah trend baru di lingkungan kampus, mungkin ga sampai ikut2 pake kebaya tapi sendalnya laku ha ha, bayangakan dia hanyalah seorang wanita biasa teman kampus bayangkan kalo ini adalah seorang citra kirana. kenapa coba orang jepang mempunyai tradisi kuat?? karena semua nilai ada dalam kebudayaan mereka dan mereka menjadikan nya dengan keren sehingga nilai budaya tidak tampak jadul dimata anak muda.

  86. ^
    @ rick
    Wah, mantep! Seluruhnya saya sepakat, mulai dari performa karakter Citra Kirana sampai ke promosi implisit budaya batik, brilian! *secara saya juga ke mana-mana wira-wiri pakai batik* :mrgreen:
     
    Sip bro lah. Cuma situ yang mengkritik secara pragmatis tanpa ribet tapi juga sekaligus menawarkan alternatif progres yang bisa dilakukan PH, dalam hal ini orang-orang di belakang SinemArt PyD.
     
    Ah, ya, lupa, salam kenal. Salam perdamaian. Hidup Citra Kirana! \m/!!

  87. […] saya teringat kisruh-kisruh tentang sinetron ini (sumber 1, 2, 3, 4, 5 dan lain-lain) . Bukan.. bukan.. bermaksud ingin memperpanjang kisruh-kisruh seperti […]

  88. izin quotes satu kalimatnya buat di twitter 🙂

  89. Bukan masalah kebebasan berkarya atau gimana. Masalahnya sinetron itu bukannya film bioskop yang baru bisa ditonton ketika kita beli tiket atau novel yang baru bisa dibaca ketika kita beli di toko buku atau minjem temen. Dan sinetron televisi itu bisa diakses semua org yg punya tv, trmasuk anak-anak kecil. Contohnya sepupu saya, dia dari dulu punya kebiasaan nonton sinetron, dan sinetron favoritnya itu putri yang ditukar sama arti sahabat. Taulah disana banyak adegan yang kurang pas buat anak kelas 6 sd. Karena kebiasaannya nonton sinetron itu, dia jadi dewasa sebelum umurnya, punya pcr dan pacaran di fb pula, sering dia meniru adegan2 di sinetron ketika sedang sama teman-temannya. Ibunya memang salah karena membiarkan dia nonton, tapi kalau dari awal sinetron tersebut sudah menarik minatnya(entah lewat judulnya, pemain-pemainnya yg stylish atau soundtracknya), akan susah sekali untuk melarang dia untuk menonton. Disinilah mengapa sinetron haruslah bermutu, jangan ngajarin yang nggk2 ke penontonnya.

  90. kalau gua mending diam aja bro gak mau comment yang aneh-aneh,nanti malah dikatakan hater lah,terlalu fanatik lah,malah pusing sendiri jadinya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: