Renungan Ngacak Setelah Berbincang Bersama Gadis Semangka dan Gadis Abad Tengah Yang Lupa Kenapa Dia Berjilbab di Starbucks

February 12, 2011 at 3:08 am | Posted in gak jelas, katarsis | 11 Comments
Tags: , , , , ,

Karena saya bukan Alex Cobain dan puji syukur kepada Allah SWT tidak tinggal di bawah kemuliaan Syariat Islam di Nangroe Aceh Darusalam (NAD), tempo hari saya menghabiskan sepertiga malam saya dengan salat tahajud bersama kolega dan pacar di warung kopi londo Starbucks, menghabiskan keluangan waktu selepas kerja, di daerah Sarinah Thamrin, membicarakan apa saja soal hidup, dari mengapa kata afwan dalam bahasa Arab benar-benar bisa bikin para akhwat mengesani orang seperti saya ini bukan saja alim-nan-soleh tapi juga cerdas-nan-bijaksana, sampai dengan mengapa semua orang sepertinya enggan percaya bahwa pacar saya dalam kehidupan sebelumnya adalah buah semangka, yang hijau bundar, tergeletak khusuk di kebun belakang. Kita berbincang, di sekeliling kita orang-orang juga berbincang, tentang mengapa kolega saya — yang hingga pada malam itu masih percaya dirinya seorang perempuan Abad Pertengahan dan beragama Kristen — masih mengenakan jilbab (dia bilang dia sudah lupa mengapa ia pasang itu kain di kepalanya, atau apakah ia pernah merasa ingin mempertunjukkan yang molek dari tubuhnya sedikit). Tidak ada yang istimewa dari malam itu, tidak ada kelip bintang di langit Jakarta, lampu jalan masih menyala, seperti pada malam-malam sebelumnya, datar dan hambar. Karena itu, mungkin, obrolan pada malam itu terasa begitu jujur dan pekat, membuat saya berfikir lagi soal hidup, mengulang kembali pertanyaan perenial yang pernah saya anggap sebagai alasan terbaik untuk segera bunuh-diri (karena jawabannya takada) atau tetap hidup terus sampai ketemu jawaban, kalau memang ada, yang memuaskan: hidup itu apakah?

Kali ada yang belum tahu Starbucks. Kata Alex warung kopi ini tak pantas disebut warung kopi.

Hidup Itu Adalah (Tulis Kata Klise Di Sini)

Saya benci klise. Tapi esai blog soal hidup tidak bisa tidak pasti mengutip berbagai macam klise. Dan itu menyebalkan. Baiklah. Mereka yang baru sekali dua kali saja merenungi hidupnya — yang menurutnya menarik dan layak dibuat novel — berkesimpulan hidup itu sebuah perjalanan, sebuah pilihan (oh, betapa romantik!) Mereka payah. Hidup itu buat lain-orang adalah terjebak dalam antrian yang salah di supermarket, yang meskipun antriannya kurang dari sepuluh orang atau meskipun Anda sebenarnya cuma kesela satu orang dari kasir, tetap saja terasa begitu panjang dan menyakitkan! Perjalanan dan pilihan? Yeah, right. Mana saya tahu orang yang ngantri di depan saya ternyata kartu kreditnya rusak dan ngeyel! Saya ketipu. Kalo kata Woody Allen dalam film Annie Hall, saya parafrase, hidup itu seperti makan di restoran mahal yang makanannya tidak enak, ketika Anda menggerutu di hati, “Ini makanan udah kagak enak, porsinya dikit banget lagi!” Ah, ya, tapi siapa toh yang bisa kleim paling sahih dan paling dalem filosofi hidupnya? Soal begini-ini memang bukan soal benar atau salah, karena hidup orang takada sama dan perasaan takada tentu. Orang ada positif, ada negatif. Pasti beda perasaan orang yang salat tahajud di mesjid tiap malam dengan mereka yang kudu memilah-milah makna di antarasela asap rokok dan alunan lagu sedih pada malam sunyi di satu kamar kecil di tengah kota yang begitu mengasingkan, hidup sebagai manusia kota yang tercerabut dari semua janji-janji kesurgaan, dari gagasan keagamaan yang menggenapi segala-gala yang ganjil dari kehidupan.

Makanya, waktu di Starbucks malam itu, ketika kami berbicara tentang segala-galanya itu, saya merasa ingin berjarak dari perasaan saya sendiri terhadap hidup, ingin melihat bukan hidup an sich tetapi bagaimana sebenarnya cara saya memandang hidup. Orang, menurut saya, harus bisa mengambil jarak dari perasaannya sendiri agar bisa memahami bagaimana ia memahami hidup agar kemudian bisa memahami hidup seutuhnya (ini kalimat aneh, tapi memang begitu). Ini mungkin tidak bisa diakal. Karena bagaimana mungkin kita bisa melepas diri dari diri-sendiri dan tetap menjadi diri-sendiri agar bisa melihat bagaimana hidup terus-menerus dikontruksikan oleh perasaan kita sendiri? Baiklah. Ini benar tidak mudah. Tapi masalahnya, perasaaan atau emosi lebih berperan daripada pikiran dalam membentuk persepsi akan hidup. Kau coba tanya orang jatuh cinta dan patah hati. Adakah hidupnya sama? Bahkan mereka yang bersukacinta dan berdukacinta bisa jadi punya persepsi yang sama sekali lain dari apa yang kita bayangkan pada umumnya. Ada orang yang ingin segera mati karena jatuh cinta, karena sudah cukup merasa bahagia. Ada orang yang ingin hidup lebih lama karena patah hati, karena taksudi dikalahkan oleh rasa-sakit, oleh perih rasa-kehilangan. Dan saya, sebagai orang yang divonis mengidap bipolar disorder, befikir hidup itu adalah….!@#$R&Y*(%(()%%#$#$%#^*&*&%*$^*(*&!!!!!

Hidup Itu Apa Saja Kau Bilang Tentangnya

Dan hidup pada akhirnya adalah apa saja yang Anda telah dan sedang alami. Tidak ada yang filosofis mungkin. Tapi demikian adanya. Hidup itu seperti apa yang ditulis dalam buku konyol 14,000 things to be happy about (yang menginspirasi pacar saya untuk segera menulis 14,000 things to complain about), yakni segala-galanya yang Anda alami. Hidup itu adalah malam ketika Anda menunggu tukang baso yang biasa lewat depan rumah, dan kemudian ketiduran di depan TV, atau beberapa menit sebelum bel sekolah berdenting, dan meninggalkan makanan Anda di kantin. Tanpa perasaan dan pikiran yang menghentakkan kesadaran, hidup adalah serangkaian peristiwa yang datang silih berganti, yang pada dirinya sendiri adalah serangkaian puisi, dalam suka maupun duka.

Advertisements

11 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. *ngakak baca kalimat pembuka*

    Syariat di sini tidak semulia dikira. Kehidupan di sini memang masih religius, tapi lebih karena sudah berjalin-berpilin dgn adat-budaya, tak perlu qanun-qanun-an 😆

    Di sini Starbucks -yang bagi kami bukan kopi tapi cuma minuman ringan macam jajanan cepek anak SD yang akan merasa paling bergengsi diantara temannya jika meminumnya- memang belum ada. Tapi kehidupan sepertiga malam begitu sudah ada. Kata orang-orang yang merancang qanun (melulu) untuk perempuan: khalwat-menjurus-maksiat. 😆
    .
    Ah, soal hidup… relatif sekali… mungkin seekor anjing dalam kumpulan cerpen Don Juan Of Karaj-nya Sadeeq Hedayat lebih faham arti hidup daripada blogger macam kau dan aku. Yang membedakan cuma kemampuan menulis atau menggonggongkannnya :mrgreen:

  2. Tambahan: menyebut Starbucks sebagai (warung) kopi adalah penghinaan terhadap warkop-warkop dan kopi itu sendiri. Yang namanya minum kopi itu ada tatakan, ada gelas/cangkir, ada sendok, ada gula tanpa tulisan “non-kalori” dan kerak kopinya bisa dioleskan di sebatang dji sam soe.
    Meminum sejenis cairan yang cuma sedikit rasa kopi, dengan pakai sedotan di cangkir lembek macam mainan anak-anak adalah ide paling goblok dari orang-orang kota yang merasa modern. Dan itu mereka sebut minum kopi? 😆
    *halahdibahas*

  3. Sesekali hetrik lah…
    Toh hidup cuma permainan macam sepak bola kan ya? :mrgreen:

    *diusir*

  4. ^

    Meminum sejenis cairan yang cuma sedikit rasa kopi, dengan pakai sedotan di cangkir lembek macam mainan anak-anak adalah ide paling goblok dari orang-orang kota yang merasa modern.

    Nooo, itu gagasan orang Amerika! Orang kota cuma ngikut! Itulah makanya kalau menyerap budaya luar tanpa menimbang kearifan lokal. (=3=)/

    *malah ikut membahas*

    *diusir*

  5. Mereka yang baru sekali dua kali saja merenungi hidupnya — yang menurutnya menarik dan layak dibuat novel — berkesimpulan hidup itu sebuah perjalanan, sebuah pilihan (oh, betapa romantik!)<

    .
    Ouch… :mrgreen: *jlebb*
    When you don't have any other options to choose from, it's still the result of your previous choice. Your waiting in a very long queue follows your decision of standing on that line. You can still have many options anyway. You can wait and grumble, or you can move to another line, which you hope will advance faster. Life is therefore (still) a choice. :mrgreen:
    Anyway, I can second your last paragraph. My Indian friend who dwells from Dubai also said that life was, actually, like everything. We can metaphorise it in infinitely many ways. 😛
     
    BTW, kopi-o from a nearby kopitiam still tastes much better and is much cheaper (about 20%) than a papercup of Starbucks coffee.

  6. Yaelah lupa nutup tag blockquote. 🙄

  7. @alex
    .
    Alex, saya mau ngaku. Saya gak bisa ngopi. Kalo saya ke Aceh, kamu harus ajarin saya ngopi! Di Starbucks saya biasanya beli teh anget aja, atau es kapucino aja. Dulu sempat kopdaran sama Mbak Illuminationis juga saya gak ngopi sementara dia ngoceh soal kopi bak kritikus seni ngoceh soal entah soal apa. Eh, serius nih, aku niat pergi ke Aceh tuk jalan-jalan saja, bukan liputan. Berapa tiket pesawat kira-kira?
    .
    Sadeeq Hidayat saya belum baca? Ada hubungan darah dengan Alex Hidayat? :mrgreen:
    .
    @sora9n
    .
    Mau lokal atau global. Saya ndak ngerti kopi!
    .
    @lambrtz
    .
    Hei, I wasn’t talking about you lah. :)) Tapi, haha, itu kan di tulisan aku, aku ndak menyalahkan filosofi hidup adalah pilihan. Hanya saja, orang lain tak memandangnya begitu. Ada yang merasa jadi kapas ditiup angin, ikut aja kemana angin pergi. Kalo saya sendiri, hidup ya apa sajalah. Jadi, ya, apa saja. 🙂

  8. @Alex

    Tambahan: menyebut Starbucks sebagai (warung) kopi adalah penghinaan terhadap warkop-warkop dan kopi itu sendiri. Yang namanya minum kopi itu ada tatakan, ada gelas/cangkir, ada sendok, ada gula tanpa tulisan “non-kalori” dan kerak kopinya bisa dioleskan di sebatang dji sam soe.

    mengaminkan dengan sepenuh hati 😀

  9. @ Gentole

    Aceh-Medan 150rb naik bus. Medan-Jakarta antara 500-700 naik pesawat. Ke Banda Aceh setahuku lebih mahal. Kau ke Medan saja. Nanti kujemput kalau mau kemari. Akomodasi gampanglah itu. :mrgreen:

    Sadeeq Heedayat itu tak ada hubungan apa-apa denganku. Itu orang terpengaruh Kafka, Poe dan Dostoyevsky. Gara-gara Rainer Maria Rilke pernah coba bunuh diri di tahun 1927. Sebuah tindakan tercela kata ulama.
    Coba baca novelnya saja, The Blind Owl. Masterpiece-nya itu. Tahun 1951 dia coba bunuh diri lagi. Dan alhamdulillah sukses. Jadi sudah mati. Begitu.

  10. *Males login*
    .
    Emang betul, Gentole ini kagak ngopi, yang ada mesen es krim…
    .
    Cowo apaan ga doyan kopi ?!?

  11. ^
    E—, es krim?!
    So sweet… Bah! Apa itu! Mana ada filsuf nongkrong di warung Starbuck tapi mesen es krim! 😡
     
    😆


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: