keabadian itu fana, dan kefanaan ini begitu abadi

November 4, 2010 at 2:08 am | Posted in katarsis | 1 Comment
Tags:

dan semua akan menjalani hidupnya masing-masing; dengan hati yang luka, rasa bersalah atau rasa takut yang belebihan pada hari esok yang selalu entah. pada hari ini semua orang akan mengatakan apa yang ingin dikatakan mereka; memikirkan apa yang ingin dipikirkan mereka. bisa jadi besok mereka masih mengatakan hal yang sama, memikirkan hal yang sama, dan segalanya bakal berlangsung seperti yang sudah-sudah; apakah hari ini engkau bajingan atau santo, pendosa atau abid, yang tidak bisa dielakkan pasti akan datang memaksa. mungkin kuncinya menerima. menerima kekalahan, menerima keputusan untuk melakukan sesuatu yang tidak bisa dielakkan, sesuatu yang harus dilakukan. apakah ini yang terbaik, atau terburuk, siapa yang tahu; semua pada akhirnya akan menjalani hidupnya sendiri-sendiri. tidak ada yang perlu disalahkan; tidak juga diri sendiri, yang memang tidak mampu mengelakkan yang tidak bisa dielakkan. keabadian memang elusif. semakin dicari, semakin fana saja rasanya. keabadian itu fana, dan kefanaan ini begitu abadi. siapa yang paling patut dikasihani dalam hidup ini? tidak ada, bunda. ada mereka yang menggilai kesunyian, ada mereka yang bernafas dalam gelaktawa sahabat. apapun, hidup akan demikian adanya: kertas putih yang siap dituliskan apa saja: tragedi, roman atau komedi, apasajalah. tidak ada yang patut dikasihani atau disalahkan. keabadian itu fana, dan kefanaan ini begitu abadi. semua hidup bersama rasasakitnya masing-masing, semua hidup bersama hariesoknya masing-masing. semuanya patut dihargai, tidak layak disesali. meskipun, selalu ada ruang untuk kata maaf, karena konon hati selalu bisa memaafkan, sejelek apapun dosa-dosa. apapun yang dikatakan mereka, apapun yang dipikirkan mereka, tidak akan merubah kenyataan bahwa semua merasakan deritanya masing-masing, memupuk harapannya masing-masing. kadang rasasakit taktertahankan, kadang luka tidak bisa diobati, dan perasaan bersalah yang pekat bakal selamanya membekas di dalam dirimu. tetapi tidak ada alasan untuk berhenti hidup; berhenti memaafkan; apapun yang mereka dan engkau katakan, tangerine, segalanya bakal tetap sama: doa ini, permintaanmaaf ini.

god blesses you, tangerine.

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. welkambek… #eh


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: