Puisi Kromatik

September 9, 2010 at 8:13 am | Posted in ngoceh, sastra | 2 Comments
Tags: , ,

Ddim7

yang paling minor dari komposisi nokturnal kita adalah dua matakecilmu yang takjua berkedip, puanku; sebuah overtur dari sejarah rasasakit yang takbisa diperikan: takterkecuali olehmu, katamu suatu kali.

rasasakit ini melengking-lengking, puanku, membentang pada setiap ruang dan garisbirama, pada setiap ketukan dan lembar-lembar partitur di tubuhmu, pada deretan fusa yang berlarian meninggalkan kita sendiri dalam sejarah panjang evolusi, sebelum padaakhirnya tandaberhenti itu dibunyikan: satu, dua, tiga! pada ketukan ketiga, kau menjeda-tanya: “mengerti kau apa yang paling harmonik dari semua ini?”

tuturkatamu sayup, puanku, memudar dalam akord-akord kita yang semakin ganjil; oh, bagaimana ini, selalu ada kata yang belum diucapkan dalam percakapan kita, yang rahasia; selalu ada pesan yang belum disampaikan pada pertemuan kita, yang lebih rahasia; selalu ada hasrat yang belum sampai pada malam-malam kita, yang paling rahasia.

berdiri di sini di antara tebing terjal dan samudra mahaluas

yang kuingat hanya sepasang matakecil di wajahmu.

Advertisements

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. kalimat2 yg dicoret itu mengganggu suasana. jd ga serius mbacanya deh 😀

  2. lho, pacarane masih back street to, kok rahasia-rahsiaan?
    .
    oya, ngaturaken sugeng riyadhi, mohon maap lahir batin 🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: