Sastra Gaya Duren dan Lagu Keroncong Dengan Nada Minor: Sebuah Prosa Epistolarik Untuk Pramoedya Ananta Toer

August 28, 2010 at 2:12 pm | Posted in katarsis, refleksi | 3 Comments
Tags: , , ,

Kepada Pramoedya,

Tidak bisa lupa saya apa nenenda bilang dulu: keindahan hanya bisa dilihat pada “perjuangan untuk kemanusiaan” dan “pembebasan terhadap penindasan”, bukan dalam “mengutak-atik bahasa”, seperti yang dilakukan penyair kita semenjak Chairil hingga Afrizal. Lama sudah saya diracuni satu pandangan dunia yang nenenda samakan dengan “lagu keroncong dengan nada minor” — seni yang melenakan seperti lirik lagu pop itu: Oh, kasihanilah akan daku, wahai sayang. Nenenda pasti tidak suka Oscar Wilde. Dia bilang seni itu tidak ada gunanya. Tidak ada karya sastra yang bermoral dan tidak bermoral; beramal dan tidak beramal. Yang ada hanyalah mereka yang berbakat dan mereka yang disebut medioker pun takpatut. Iya, nenenda, saya mengerti bahwa nenenda tidak hendak mengecilkan arti keindahan. Meski semua seniman Lekra berpikir bahwa karya sastra yang keliru secara politis itu lebih nista dari yang keliru secara artistik, saya yakin nenenda mencintai keindahan prosa lebih dari penulis lain di negeri ini. Yang hendak kau lawan adalah lagu keroncong itu, yakni kesenian yang membuat orang lupa akan takdir sejarahnya: bergerak untuk membebaskan petani dari hisapan paratuan tanah; kelompok buruh dari parapemilik modal.

Saya tersinggung, nenenda. Saya ini memang terlalu egois untuk berpusing akan derita orang lain. Atau saya ini memang lemah batin dan fikirnya sehingga saya benar-benar tidak tahu apakah saya punya keinginan kuat dan tahu bagaimana caranya mengakhiri penghisapan manusia atas manusia. Ada banyak anak jalanan di Jakarta yang saya anggap sebagai hologram saja karena saya tidak sanggup memandangnya sebagai kenyataan; mereka menghantam akalsehat. Sungguh tidak masuk akal bila anak balita dibiarkan bermandi keringat pada jam satu siang yang terik di perempatan Palmerah – kurang dari seratus meter dari kompleks wakil rakyat dan kantor redaksi koran Kompas si pembawa “amanat hati nurani rakyat” — menghampiri setiap pengendara dan mengeksploitasi belas kasihan kita semua menjadi Rp 1000 atau Rp 500! Tapi jangan salah mengerti. Saya perduli. Saya bukan mereka yang nenenda bilang suka berkata “kasihan mereka, tapi jangan ganggu kesenangan saya!” Hanya saja saya pikir apapun yang saya lakukan tidak akan membawa banyak perubahan; saya tidak habis pikir bagaimana caranya sajak yang saya tulis pada malam yang tak berangin bisa ikut membebaskan anak-anak jalanan itu dari derita mereka; dan membantu mengakhiri derita kaum buruh.

Dan maafkan saya bila harus lancang, nenenda, menurut saya rasa kemanusiaan tidak bisa direduksi menjadi perjuangan politik membela petani dan kelompok buruh. Sastra gaya durenan itu. Sastra realisme sosialis yang kau kampanyekan itu adalah produk cara berfikir Lenin yang menurut saya keliru. Masalahnya bukan apakah sosialisme itu benar atau salah; tetapi apakah jalan menuju masyarakat yang berkeadilan dan manusiawi sebagai cita-cita utama sosialisme dan komunisme mesti dicapai melalui jalan yang pernah digunakan oleh Lenin dan kemudian dilanjutkan Stalin dan para pemimpin negara-negara komunis lainnya di dunia? Saya tidak bisa membayangkan bagaimana sastra ditulis di bawah ancaman Kim Jong Il di Korea Utara. Jadi nenenda, saya masih belajar memahami segala kontradiksi dalam kapitalisme dan sosialisme. Kalau dialektika sejarah mengharuskan kapitalisme hancur, mengapa ia bertahan hingga kini, bahkan setelah krisis keuangan global yang terjadi sesudah kau wafat? Bila sosialisme adalah obat mujarab kemiskinan kenapa hampir semua Negara komunis hidup dalam kemiskinan, kecuali China, dan negara ini pun dianggap sudah mengkhianati prinsip-prinsip sosialisme? Sastra duren adalah sastra yang bau sosialis; yang berduri namun mengandung buah yang indah dan lezat. Kalau boleh jujur, nenenda, saya tidak suka duren. Tetapi itu hanya sebuah analogi. Saya mengerti. Saya masih terpesona pada karya nenenda, termasuk eksposisi dan argumentasi nenenda tentang realisme sosialis dalam buku 200 halaman terbitan Lentera Dipantara pada 2003. Kepada Tirto Adhi Soerjo saya melihat teladan dan kepada nenenda saya harus berterimakasih karena telah mengangkat TAS alias Minke dari lumpur sejarah yang pekat. Pada akhirnya saya harus bilang bahwa saya memihak “humanisme universal” — dalam berkesenian kemanusiaan tidak bisa dipolitisir. Karena sosialisme bukan tanpa masalah, karena komunisme bukan tanpa masalah, karena ideologi sesuci apapun tidak ada artinya bila pelakunya tak bisa membedakan mana yang manusia dan mana yang bukan. Boleh jadi saya ini seorang manikebuis dan gemar menulis “lagu keroncong dengan nada minor”. Dan kritik nenenda, yang menusuk itu, bakal terus menghantui.

3 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. iya,kau boleh berbeda. tapi entah kenapa, sepertinya kau menghianati kekagumanmu pada buku 200 halaman itu, tak seperti saat pertama kali kau menemukannya. kita memandang dan menulis dari latar yang berbeda. kau dari teori, dan aku dari reality. :mrgreen:
    .
    dan idemu tentang perbedaan itu, menarik sekali.

  2. @peristiwa: aku masih suka buku itu kok. tapi yah itu benar hahaha aku memang mengkhianati kekagumanku pada realisme sosialis.

  3. Bersastra demi memaksa diri utk berjuang “demi kemanusiaan dan pembebasan” tak ubah menipu diri sebagai Gie-wannabe yg berlagak jadi Fretilin dalam kacamata BAKIN. Cuma utk kemudian menjadi neo-Makhnovist yg melukis realisme sosialis di atas kanvas Dada.

    #komenngelantur


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: