(Sur)Realisme Makan Sahur

August 13, 2010 at 1:46 am | Posted in gak jelas | 16 Comments
Tags: , ,

PALMERAH, 13 Agustus, 2010, Pukul 03:25

Sayur labunya basi. Mbak wartegnya belum mandi. Dan ini jam setengah empat pagi. Saya benar-benar tidak bisa mengatakan yang mana di antara ketiganya yang paling merusak selera makan.  Ah, SETAN, wajah-wajah kemarin lusa, wajah-wajah tanpa gairah! Mendadak diri merasa berada dalam sebuah pertunjukan drama avant-garde yang kebangetan absurd. Lima belas abad yang lalu seorang pedagang Arab bilang: “Kita berpuasa seperti leluhur kita berpuasa!” Dan di sini kita berada. Duduk bersebelahan di atas bangku panjang yang sama. Di sebuah warteg sekian abad kemudian, ribuan mil kemudian. Tidak ada di antara kita yang kenan bercakap-cakap. Tidak ada suara-suara kecuali piring yang berdenting. Dan juga pertanyaan wajib itu: “Nasinya satu, setengah, Mas?” Hadeh, ini daging alot banget! Asin banget! Mbak, mbak belum mandi!! Iya, betul, saya juga belum mandi. Bau iler. Kita semua yang berada dalam warung ini bau iler. Dan kita tidak boleh perduli. Tidak boleh mengeluh. Kita hanya boleh makan. Kita hanya ingin makan. Tanpa selera. Tanpa gairah. Ah, SETAN, saya mau kita semua terlibat dalam sebuah percakapan intelektual; percakapan mendalam! Adakah di antara kita semua yang berada di dalam warteg ini perduli apa yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer tentang hakikat kemanusiaan dalam mahakarya sastra “realisme sosialis”? Adakah di antara kita yang merindukan makanan yang disediakan bunda? Adakah di antara kita yang sedang meratapi hidup? Adakah di antara kita yang hatinya patah dan lara? Adakah di antara kita yang hendak menitikkan air mata karena bait sajak Neruda? Tonight I can write the saddest line/To think that I do not have her/To feel that I have lost her/To hear the immense night, still more immense without her/And the verse falls to the soul like dew to the pasture. Apakah saya harus menghabiskan sayur labu yang basi ini, Mbak? “Makannya gak selera, ya, Mas? Kenapa, ya, kalo makan sahur enggak selera?” Ah, pertanyaan Mbak seperti sayur labu yang enggan saya santap. Tapi apa saya ada pilihan? Toh, saya jawab pertanyaan Si Mbak dengan senyuman yang tidak kalah basinya. Kedua pihak tidak ada yang tersinggung. Hidup memang begitu mestinya. Jujur itu pahit. Terus-terang itu kasar. Bohong sedikit itu manis. Belagak pilon itu sopan. Kita semua sepertinya berfikir begitu. Dan saya yang terakhir pulang dari warteg. Di jalan angin membelai pohon kelapa. Di langit satu bintang bersinar lebih gemilang dari ribuan lainnya. Dan saya pun berbagi kesunyian dengan mobil yang sengaja ditinggal pemiliknya di pinggir jalan tadi. Saya sudah lupa sayur labu itu. Yang tinggal hanya melankoli.

16 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. semalam saya sahur jam 1.20 am, makan orange, sekarang kok rasanya gimana gitu ya?!
    .
    realisme sosialis, buku 200 an halaman itu saya baca setahun yang lalu, namun beberapa minggu ini saya ulangulang kembali. buku itu saya beli bersamaan dengan novel pram yang berjudul larasati. curhatnya kumat
    .
    mbaknya belum mandi, yang makan juga belum mandi :mrgreen:
    oya, pak gentole apa orang yang berfoto di disney land itu? kalau gak salah itu di hong kong.

  2. @peristiwa: walah kok makan jeruk saurnya? hadoh, mbae. soal pram, aku lagi telusuri buku2 non fiksi beliau. seneng banget dapet buku realisme sosialis itu. kenapa bagian keduanya dihilangkan ya? kau tau sesuatu soal itu? bukunya bagusssssss! soal foto disney land? foto apaan?

  3. @peristiwa: aku mungkin bakal menulis soal realisme sosialis ini. rada tertohok juga sih. tapi butuh baca buku lain kayaknya.

  4. soale di sini panash, bawaanya haus, makan jeruk deh!
    .
    saya tidak tau bagian kedua kenapa tidak disertakan dalam naskah tersebut, terlarang kali ya? oya, ada buku lain non fiksi, judulnya perempuan remaja dalam cengkraman militer. tpi susah dicari kayaknya, saya aja hanya terima dengan kopiannya saja. sudah pasti semua bukunya pram baguss.. itu kan yang nulis nabi saya.. hehe..
    .
    itu foto yang di pesbuk, tapi sekarang dah dihapus pesbuknya.
    .
    saya telah menulis tentang itu, masih nunggu dimuat media, berkaitan dengan manusia terakhir, pembantu, babu, kaum proletar juga kan. soale di hk banyak pembantu sih. sebetulnya tulisan itu terispirasi dari post sampean tempo hari itu.

  5. panggil aku kartini saja, itu kan juga bagus dan non fiksi, seperti yang kau cari.

  6. @mbak peristiwa: memangnya dirimu menulis di mana toh? apa saya bisa baca tulisannya?

  7. saya menulis di koran ikan teri, pak gentole. hanya sebagai kontributor dan kadang nulis esai.. hehe
    .
    koran bersegmen bmi (buruh migran indonesia) di hk. tapi ndak ada webnya, tapi tetap keren.. hehe
    lha saya juga gak bisa baca tulisan sampean di media, gimana sih nyarinya…?

  8. @peristiwa: aku kirim imel ya.

  9. @peristiwa: jah imelmu rahasia@yahoo.com 😐

  10. bukan, rahasia_indahmu1@yahoo.com

  11. okay, sudah aku kirim.

  12. Mas Gentole puasa? :-O

  13. ^ terus?

  14. Ke-keren sekali…!

  15. Ah-ah masa? 😛

  16. Iya mas, tapi bacanya harus pas sahur, dengan mata yang separo terbuka…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: