Rabu Abu

August 11, 2010 at 5:39 am | Posted in katarsis, refleksi | 3 Comments
Tags: ,

Setelah membaca sajak Eliot yang berjudul Ash Wednesday:

Saya jadi berfikir bahwa detik-detik yang lewat sejatinya membelah dunia menjadi trilyunan semesta yang bertebaran seperti pecahan kaca dalam ruang hampa yang tiada bertapal. Setiap detik dan peristiwa adalah alam semesta yang tunggal dan mandiri. Apa yang terjadi pada detik kemudian adalah dunia yang sama sekali lain; yang tiada berkait secuilpun kecuali bahwa ia datang kemudian. Karena saya percaya segalanya terjadi sekali saja; pada satu waktu saja, pada satu tempat saja. Karena itu saya bahagia. Bahagia karena apa yang sudah saya lewati selama ini taklesap menjadi ingatan agar bisa dilupakan; karena haru dan gelaktawa kita masih menggema pada satu kepingan realitas  entah di mana di dalam ruang hampa yang tiada bertapal itu.

3 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. bagus…

    minta ijin dulu, mgkn suatu hari nanti mau gw plagia… eh, quote 🙂

  2. you’re a paradox.

  3. @alia: silahkan diplagiat.
    @ghe: terserah lo deh, ghe 😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: