Mendakwa Kata

August 4, 2010 at 3:48 am | Posted in katarsis, refleksi | 6 Comments
Tags:

Dahulu kala sebelum aksara ditemukan, Tuhan adalah Dia yang tidak bisa dikatakan. Tuhan adalah Matahari, Laut dan Hutan. Batu disembah. Gunung juga disembah. Tidak ada bedanya. Tidak ada yang bisa membedakan Tuhan dan apa-yang-bukan-Tuhan. Dahulu kala sebelum sastra ditemukan, cinta adalah hasrat purba yang tidak bisa dikatakan. Cinta adalah Matahari, Laut dan Hutan. Batu dicintai. Gunung juga dicintai. Tidak ada bedanya.Tidak ada yang dicintai lebih dari yang lain. Dahulu kala sebelum filsafat ditemukan, kebenaran adalah pengetahuan yang tidak bisa dikatakan. Kebenaran adalah Matahari, Laut dan Hutan. Batu adalah kebenaran. Gunung adalah juga kebenaran. Tidak ada bedanya. Tidak ada yang lebih benar dari yang lain. Ah, dunia jauh lebih indah tanpa Kata, bukan?

Tugas kata adalah membedakan yang satu dengan yang lain. Kata ada untuk membedakan bebek dari ayam; meja dari kursi; sepeda dari mobil. Hutan bukan Tuhan karena Kata bilang begitu. Nafsu bukan Cinta karena Kata bilang begitu. Kata bilang Yesus adalah Kristus adalah Putera Allah; Kata juga bilang Palestina adalah tanah yang dijanjikan kepada bani Israil; Kata bilang tidak ada yang masuk surga kecuali Muslim. Tugas Kata adalah memisahkan. Kata ada untuk memisahkan yang miskin dan yang kaya; yang bodoh dan yang pintar; yang berdosa dan yang suci. Meski begitu, Kata tidak bisa dipercaya.

Apatah gunanya Kata, sahabat? Apa artinya teriak “Allahu Akbar” atau bilang “Aku Sayang Kamu” atau berargumen sampai berbusa untuk bilang “Saya Ini Paling Benar!”? Ada masanya ketika seseorang mesti berhenti percaya dan senantiasa curiga kepada Kata; agar bisa mengagungkan Tuhan tanpa “Haleluya”, mencintai dengan sungguh-sungguh tanpa “I Love You”; dan memahami dengan baik tanpa harus bilang “I Know”.

Advertisements

6 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Karena begitu masuk ke ranah kontekstual, kata sebanyak apapun kerap tak berdaya?

  2. @amd: kata is overrated. 😀

  3. This post has the word “Zen” written all over it. But it doesn’t make sense — how can I see the word when the author didn’t even type it? Can you see the word “Zen” up there? 😕
     
    *ditimpuk*

  4. Buat manusia, kata itu lebih jelas dan banyak perbendaharaannya,sekalìgus boongnya. ketimbang anggukan and gelengan kepala.
    atau tunjuk sana tunjuk sini.

  5. @sora9n: yes zen banget yah. tapi gak kepikiran loh saya.
    @ibeng: itu betul bung.

  6. kata bukan sekedar kata, dia adalah pembeda, dia adalah penanda

    dia pula yang digadang-gadang bisa menjelaskan makna
    walaupun … seperti yang kau bilang, dia tidak selalu bisa dipercaya
    karena dalam banyak hal justru malah menyempitkannya

    tapi jangan pula dilupa,
    dalam peperangan besar manusia dengan para dewa
    kata itu pulalah senjata pamungkas yang bisa menakhlukannya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: