Antirealitas!

August 2, 2010 at 2:52 am | Posted in refleksi | 12 Comments
Tags: , , ,

Bad dreams

One day you will look back and laugh at yourself.
You’ll say, “ I can’t believe I was so asleep!
How did I ever forget the truth?
How ridiculous to believe that sadness and sickness
Are anything other than bad dreams

Jalaludin Rumi

MENURUT SAYA BEGINI:

Persoalan Pertama

Kita dibuat kadung percaya bahwa realitas hanya satu; bahwa realitas yang tidak sesuai dengan realitas yang satu itu adalah mimpi; bukan realitas. Persoalannya bukan apakah mimpi itu nyata atau tidak; tetapi apakah keyakinan kita bahwa realitas itu singular dan bahwa selain itu hanya ketiadaan saja bisa dianggap benar atau tidak. Celakanya, kita tidak akan pernah bisa menjawab itu karena ketiadaan takbisa dibuktikan atau diverifikasi. Kalau Anda tidak menemukan angsa berwarna hitam, jangan berasumsi semua angsa berwarna putih; jangan meledek mereka yang mengaku pernah melihat angsa hitam sebagai tidak waras. Karena bisa jadi mereka benar. Hanya saja mereka tidak bisa membuktikan apa yang mereka klaim sebagai benar secara demonstratif karena, misalnya, angsa hitam yang hanya satu-satunya itu diculik alien buat kelinci percobaan.

Persoalan Kedua

Kita hanya bisa berada dalam satu ruang dan waktu. Kita tak bisa berada dalam dua ruang atau dua waktu dalam waktu yang bersamaan. Anda tak bisa hidup dalam tahun 1990 dan 2010 sekaligus. Masalahnya bukan karena tubuh kita tak bisa dibelah dua; tetapi karena kesadaran tak bisa dibelah dua. Kesadaran itu singular. Bayangkan Anda menikah dengan seorang wanita dan kemudian menjadi tua bersama; Anda akan melihat ke belakang segala hal yang indah bersamanya. Nah, masalahnya memori hanyalah memori. Tidak ada bedanya dengan mimpi atau imajinasi belaka. Tidak ada yang bisa memastikan bahwa memori yang Anda miliki bukan halusinasi; bukan wahm. Masa lalu adalah halusinasi atas apa yang kita anggap telah kita lewati. Halusinasi adalah memori dari apa yang kita sangka takpernah kita lewati. Karena kita hanya bisa mengakses satu realitas saja, yakni kesekarangan dan kedisinian, kita sebenarnya takbisa membedakan mana realitas mana mimpi. Karena kita tidak pernah bisa membandingkannya: realitas atau mimpi sama-sama bisa jadi masa lalu; jadi memori; jadi sesuatu yang tidakdisini dan tidaksekarang: jadi bukan realitas.

Persoalan Ketiga

Kita mengalami semacam kebingunan semantik; apakah realitas kalau bukan mimpi buruk; apakah mimpi kalau bukan kenyataan surgawi. Tidak ada orang yang bermimpi menjadi miskin; bercita-cita menjadi miskin. Kalo Anda seorang raja dengan seratus harem dan bermimpi menjadi seorang petani yang tidur di gudang bersama tikus Anda bakal berfikir bahwa Anda baru saja mengalami mimpi buruk; mengalami realitas. Kenyataan yang Anda alami adalah kenyataan surgawi; kenyataan yang diimpikan. Dalam dunia yang dianggap nyata, mimpi mewakili angan yang positif tentang masa depan. Anak SD bermimpi menjadi presiden; tukang ojek bermimpi jadi juragan motor; tukang ojek bermimpi jadi pacarnya Dian Sastrowardoyo. Mimpi bukan sekedar apa yang tidak nyata atau apa yang bukan realitas. Mimpi adalah apa yang kita inginkan. Kalau saat ini Anda hidup dalam kehidupan yang Anda inginkan maka Anda hidup dalam mimpi. Kalau anda menganggap hidup Anda itu menyedihkan maka Anda akan menganggap hidup Anda mimpi buruk. Realitas yang menggigit; realitas yang burukrupa!

Persoalan Keempat

Kita membenci realitas. Bahkan seorang materialis seperti Karl Marx pun membenci realitas borjuasi; alienasi kaum buruh oleh para pemilik modal. Bahkan Marx dan Engels pun bermimpi bahwa suatu hari nanti masyarakat komunis bakal tercipta; di mana tidak ada lagi eksploitasi manusia atas manusia. Persoalannya bukan apakah kita percaya bahwa dunia ini hanya materi saja atau tidak; bukan persoalan apakah kita hendak meyakini bahwa apa yang kita pikirkan di kepala hanya pantulan saja dari kenyataan eksternal; dari realitas tunggal yang dirumuskan oleh Newton dan para fisikawan. Persoalannya ada pada kehendak manusia untuk merubah realitasnya; pada kehendak manusia untuk menjadikan segalanya lebih baik; pada kehendak manusia untuk bermimpi! Kita bermimpi karena kita membenci realitas. Tak semua dari kita anti-realis, tetapi kita semua jelas anti-realitas. Bahkan mereka yang defeatis dan pesimis pun masih berharap segalanya bakal lebih baik meskipun mereka tidak berfikir bahwa mimpi itu bisa menjadi nyata.

Persoalan kelima

Mal benar. Satu-satunya jalan keluar dari realitas dan mimpi adalah bunuh diri.

12 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. and they come here to be awoken…

  2. seperti mimpi,membaca tulisan.

  3. Yay, pengen nonton lg inception. walau berdebat mulu ttg akhr ceritanya.
    cerita2 smacam inception, the matrix, atw the cell (wlw dlm tahap lbh ringan) sama2: merekayasa pikiran.
    lieur ah. hidup dan waktu kita adl saat ini, jd nikmati aja tiap momennya.

  4. Mimpi ditabrak motor dengan ditabrak beneran, sepertinya beda jauh rasanya dan mudah dibedakan.🙂

  5. ^
    Jangankan ditabrak motor. Saya aja pernah mimpi nampar pipi sendiri, ndak sakit tuh. Jadinya tahu kalau itu mimpi dan langsung bangun.:mrgreen:

  6. @ibeng: apa toh?
    @isma: nonton dong!
    @lambang dan lambrtz: kalian tidak imajinatif!👿 Tapi jadi penasaran, kalo mimpi basah juga ndak kerasa begitu??? Apa ada pengecualian?

  7. eh bukannya mal bunuh diri karena menginginkan realitas?
    cmmiw :p

  8. @ghe: kan ceritanya yang disebut realitas dalam tulisan gue diartikan sebagai realitas yang dialami sekarang; jadi Mal mau realitas yang lain, yang menurutnya lebih nyata. sama aja jadinya.

    /keder

  9. dilematis dan paradoksal.

  10. Masa lalu adalah kenangan.
    hari esok adalah harapan
    sekarang adalah kenyataan.

    * ABG *

  11. pertama, tentu saja angsa hitam itu tdk diculik alien, tapi di australi.. *hbis baca laporan Nassim dlm Black Swan*
    kedua, realitas buruk = mimpi buruk; realitas yg jauh dari keinginan = mimpi buruk lg.. yah.. saatnya bangun tidur.
    ketiga, jgn2 realitas ataupun mimpi hanya ada di pikiran.. dan smuanya adalah ilusi.. sperti kata Nasrudin: “jika aku trtidur d tengah keramaian org, gmn caranya mngenali diriku yg asli ktika bangun nanti?”
    keempat, tutup halaman ini, *menikmati realitas pahitnya kopi*

  12. Jadi ingat nasehat Eames pada Saito.

    this is not the place for the tourist


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: