Dari Batagor, Ketoprak dan Mbak-Mbak DVD

July 30, 2010 at 5:41 am | Posted in katarsis, ngoceh, refleksi | 2 Comments
Tags: , , , ,

Hidup takbisa diperikan. Hanya bisa dirasakan. Itu sebabnya orang menulis puisi. Karena apa yang bisa dikatakan dari hidup sejatinya taklebih dari sebuah abstraksi saja dari kehidupan yang dirasakan; takada yang bisa menjelaskan secara tuntas mengapa perempuan demen lelaki bajingan. Atau mengapa lelaki yang baik dan bukan bajingan tidakbisa berkelahi dan selalu dipecundangi all the bastards in the world. Ilmu tentang manusia itu mitos. The Science of Man itu ilusi; sebuah utopia. Newton bisa saja menjelaskan segala hal tentang apel yang jatuh dari pohon; tetapi saya kira beliau taktahu mengapa seorang gadis belia, yang buta sekalipun, bisa mencintai bunga-bunga.

Karena itu, seperti halnya Newton, saya benar-benar takmengerti mengapa pagi ini saya ngidam makan batagor di pasar Palmerah. Kenapa batagor, bukan somay atau martabak manis; ketoprak atau bubur ayam dikecapin? Kenapa batagor? Ketoprak ‘kan lezat. Sepekan lebih saya rutin makan ketoprak setiap pagi; manisnya, pedasnya, gurihnya, nagih. Tetapi kenapa hari ini saya mendamba batagor? Apakah keinginan saya makan batagor bisa dijelaskan seperti Newton menjelaskan apel yang jatuh dari pohon? Ini misteri; sama halnya dengan Mbak-Mbak DVD di Plaza Semanggi; mereka asalnya darimana? Kok perawakannya sama semua? Kadang saya bertanya; adakah di antara mereka yang menulis puisi dan menganggap hidup ini absurd? Adakah di antara mereka yang bertanya-tanya siapakah saya yang selalu membeli DVD semacam “History of the Avant-Garde” yang harganya 10 kalilipat DVD bajakan biasa? Saya sama tak mengertinya dengan mereka soal film dan seni: dan itu bukan pokok soal: yang saya persoalkan adalah apakah mereka pernah mempersoalkan eksistensi saya sebagai pelanggan yang takpernah mereka sapa seperti saya tiba-tiba mempersoalkan keberadaan mereka yang takmasuk diakal itu?

Mbak-Mbak DVD, kenapa mereka harus ‘Ada’?

Ah, Anda mungkin hendak bicara soal globalisasi, urbanisasi, proliferasi teknologi dan lain-lain, dan saya taktertarik untuk mendengarkan argumen itu. Saya hanya ingin tahu kenapa saya bertanya kenapa mereka ada? Kenapa saya ingin tahu? Kenapa saya ingin menulis tentang mereka? Dan batagor, ya, kenapa batagor!? Kenapa hidup ini hadir begitu saja; untuk dirasakan kehadirannya tanpa bisa dimengerti? Manusia selamanya takkan pernah sanggup memberi alasan mengapa ia mengasihi satu orang dan bukan orang lain; atau mengapa bersahabat dengan satu orang dan bukan orang lain; atau mengapa memikirkan satu orang dan bukan orang lain; seperti batagor yang gurih itu, ketoprak yang bikin kenyang itu, es campur pake tape dan rumput laut itu, Mbak-Mbak DVD yang misterius dan takpernah kita sapa dan buat profil itu, kita memang dipaksa untuk menghidupi sekaligus melupakan apa yang takkan pernah dapat kita mengerti.

Dan bagi saya, ketidaktahuan ini, this unknowing, sungguh puitis.

*paskanaskah

Gang sempit menuju kosan saya dihiasi oleh berbagai tanaman hijau. Daun segar menjalar sepanjang tembok sebelum belokan pertama. Di situ biasanya pertanyaan semacam di atas mendadak hilang. Diganti oleh pertanyaan lain yang lebih praktis: inikah hidup dan kenyataan yang sesungguhnya: tanaman dalam pot yang berjejeran di depan rumah; yang di dalamnya ada manusia, seorang ibu, seorang ayah, seorang anak: sebuah keluarga? Saya takingin tahu mengapa jalan ini terasa sejuk. Ah, sepuluh detik efifani yang kemudian sirna: Di ujung gang buntu saya tinggal; di lantai dua pas sebelah musola kecil yang selalu bikin gaduh. Di dalam kamar ini saya kembali membayangkan sesuatu yang jauh, sesuatu yang takpernah saya jamah: kedunialainan yang takpernah ada dan karenanya bakal saya rindukan sampai mati dan untuk selamanya.

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. pertama gue baca … penasaran dan bingung.
    setelah beberapa saat semakin bingung.
    habis baca semua … asli bingung.

    Ngapain bikin tulisan kayaq gini??
    lagi berfilsafat kah? seperti perenungan tentang eksistensi diri.
    lagi curhat kah? akibat ngga pernah disapa mbak-mba DVD saat belanja.
    ataukah dia (penulis) lagi bete dan stress? hmmm… kayaqnya ini deh.

    wakwakwak..:)

    salam kenal ya..

  2. @mbak/mas kucing

    Ngapain bikin tulisan kayaq gini??

    Sebenarnya saya juga menanyakan hal yang sama. Dan analisa Anda sepertinya lumayan menakjubkan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: