gitapuja eklesia

July 28, 2010 at 5:02 pm | Posted in gak jelas, sastra | 1 Comment
Tags: ,

gereja ini seperti abadi manakala hujan larut dalam gitapuja paramisdinar; takpeduli panditaraja kusuk mendaras sabda Kristus Yang Diraja; taksadar bila di luar fajar beranjak sirna: jalan takberujung, pejalankaki tanpanama. ah, bibir-Mu asing dan berjarak di dalam gereja, Mei; beritahu siapa yang lebih dulu mereguk kedua bibir-Mu, Mei; jangan hukum aku dengan sinarmata-Mu yang serbataksa, Mei; takingat Kau pada Roh yang telah melumasi bibir-Mu yang basah dan merahjambu itu, Mei?

Advertisements

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. pertamaaaaxx..
    the only word i understand is “bibir”
    hahahahahah…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: