Oh, Garance! Garance!

July 19, 2010 at 1:46 am | Posted in apresiasi, refleksi | 1 Comment
Tags: , , ,

Disklemer: Bukan kritikus film, tak mengerti film juga.


Pada menit pertama Anda melihat Garance dalam film The Children of Paradise Anda bakal bertanya-tanya takpercaya: apa betul ini Garance? Karakter penggodapria ini takseperti Scarlet O’Hara dalam Gone with the Wind yang manisnya begitu belia; begitu gilang-gemilang. Wajah Garance lebih mirip Ratna Riantiarno dalam Petualangan Sherina ketimbang, misalnya, Aura Kasih dalam filmbodoh Asmara Dua Diana. Ya, sekilas Anda pasti ingin protes: “Kok, yang jadi Garance ibu-ibu sih!?” Arletty, pemeran Garance, takpunya pesona yang dimiliki Grace Kelly dan Vivian Leigh; takpunya fitur kecantikan yang dikonstruksikan majalah gayahidup model Kosmopolitan. Dan justru karena itu, justru karena itu Arletty adalah aktris yang paling pas buat Garance!

Baptiste yang terpanah asmara

Garance dan hampir semua adegan dalam COP bukan hanya indah dalam pengertian estetik yang abstrak, arbitrer dan takbisa dijelaskan itu, tetapi juga sangat menginsyafi; bahwa realitas juga bisa puitis, bahwa komedi dan tragedi takhanya ada dalam pertunjukan teater dan berita karkhas Kompas, dan bahwa setiap orang hidup dalam obsesi dan fantasinya, seolah-olah realitas adalah sebuah panggung yang bisa seenaknya diganti dengan apa maunya hati saja. Seperti empat karakter yang jatuh hati pada Garance: semuanya melihat dan mencintai perempuan itu dengan cara yang berbeda. Dan, jujur saja, bahkan saya juga terpesona pada Garance dengan cara saya sendiri; dengan maunya saya. Karena Garance tak peduli hidup kayak apa; segalanya dihadapi dengan ekspresi yang sama; wajahnya seperti kanvas yang bisa ditafsirkan/ditebak-tebak semaunya oleh mereka yang memujanya. Lemaitre mencintai Garance seperti Othello menggilai Desdemona, Lacenaire mencintai keliaran Garance, ketidakpedulian Garance akan tragedi kehidupan dan juga fakta bahwa dia adalah seorang perampok dan pembunuh berdarah dingin, Comte de Montray mencintai Garance laiknya boneka yang bisa dibeli di pasar malam dengan uang dan pengaruhnya sebagai bangsawan; dan Baptiste, seorang mime yang romantik, menyayangi Garance seperti orang gila yang baru saja tertancap anak panah Eros: begitu posesif dan bersyarat! Dan keempat pria itu mati dalam kecewa yang disebabkan oleh ekspektasi mereka sendiri, bukan Garance. Buat Garance, “cinta itu sangat sederhana.” Dan karena itu Garance menjauh ketika Baptiste meminta: “I want you to love me the way I love you.” Meski hatinya condong pada Baptiste, Garance akhirnya pergi dan membiarkan Baptiste tersesat dalam keramaian karnaval. Dan tidak ada yang bisa menebak apa yang ada di dalam hati Garance; wajahnya masih tanpa ekspresi, seolah segala apa yang terjadi pada dirinya (kematian Montray, kehancuran Baptiste) tak lebih dari pertunjukan teater murahan saja: tanpa kesan, tanpa ekspresi. Berlalu begtu saja sampai tirai yang mengakhiri film itu diturunkan.

Dalam hati saya ikut berteriak: Garance! Garance!

Advertisements

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. film ini, annie hall sama 8 1/2
    mau ngopi dong ry


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: