Jawa Atau Bukan Jawa: Sebuah Pergulatan Batin

July 14, 2010 at 8:48 am | Posted in gak jelas, iseng | 4 Comments
Tags: ,

Diri yang satu: Kaubertanya lagi apabetul kau Jawa padahal sudah kubilang kau Jawa, darahmu Jawa, kulitmu Jawa, wajahmu Jawa, tabiatmu Jawa, tulang dan jiwamu juga seratuspersen Jawa. Kau diri, seumur hidup menafikan diri Jawa; lidahmu mengibu Melayu, bahasa keduamu Inggris, Arab dan sedikit Belanda, jalanpikiranmu condong ke Barat, kepercayaanmu mentok Semitik, sudah lepas dari pembendaharaan falsafah Jawa yang bernafaskan Hindu. Di mana ada kebudayaan Jawa kau melengos: budaya feodal!, budaya borjuis!, kau selalu bilang begitu. Tapi kau, kau Jawa!

Diri yang lain: Apakah Jawa? Dilahirkan diri yang asing ini di Jakarta, moyang bermuasal Cirebon dan Tegal; medannya para pemberontak, pedagang, pelaut, petualang! Dalam diri boleh jadi ada darah mengalir dari negeri-negeri asing: Birma, Gujarat, Cina atau Arab. Tidak ada dalam diri yang tersisa dari budaya pedalaman-agraris yang alampikirannya serba konsentris itu, yang  kadung percaya segalanya melingkar, ya matari, ya bulan, ya nasib, ya hidup.Ya jodoh, ya segalanya!

Diri yang satu lagi: Jawa atau bukan kau tinggali Pulau Jawa. Dan jelas kau bukan Sunda, Aceh atau apalagi Maluku. Kau Jawa karena takbisa kau memilih yang lain: Melayu kau bukan. Arab apalagi. Cina mungkin, tapi Cina hitam, Cina keling. Kau, kau Jawa.

Diri yang lain lagi: Apalah artinya menjadi Jawa? Kau bertanya mengapa tidak pernah barang sekalipun kau jatuhhati pada gadis Jawa, yang konon katanya penurut dan serbamemuja. Gadis Makasar, gadis Kalimantan, gadis mana saja kau tiadapeduli. Kecuali gadis Bali, dan gadis Cina. Ya, gadis Cina! Diam-diam kau puja gadis Cina, seperti seorang kolega dari Beijing yang kau curi wajahnya pada suatu pagi yang sejuk di kota Madrid tempoari. “How old are you?” katanya dalam aksen britania yang begitu mengesani. Kau bilang, “I’m officially 28 today.” Dan dia tertawa, malu bertanya umur pada hari jadimu yang rahasia. Kau lihat wajahnya berseri. Takpunya malu kau curi lagi wajahnya saat matanya sipitterpejam. Kau diri kini menaruh hati sekaligus bertaruh nasib pada perempuan Batak yang tabiatnya keayuutamian; kau masih bertanya lagi apakah diri benar Jawa. Kau jawab dulu. Apa artinya menjadi Jawa?

Diri yang lain entah dari mana: Kau takingin menjadi Jawa, kau hanya ingin tahu apa benar kau Jawa. Dan pertanyaan itu takbisa dijawab olehmu. Lalu apa?

Diri yang lain lagi entah dari mana pula: Kau sudah sebegini tua baru ribut soal asal-usul. Gwoblok! Gwoblok!

Diri yang lain yang bukan di atas: Kalau benar kau Jawa kau mau apa? Menjadi menusia saja kau takbecus. Kau cemburu sama mereka yang Aceh, yang Padang, yang Cina, yang totok Jawa. Kau segan jadi anak semua bangsa; dan kau juga segan menjadi bukan siapa-siapa. Kepalamu hanya tempat singgah saja dari berbagai pikiran: mashup, salad alias gado-gado kebudayaan. Di sela kegelisahanmu sebagai manusia asing, kau merindukan akar, merindukan kebudayaan milimu sendiri. Dalam hati kecilmu kau mau menjadi Mas Tirto yang menanggalkan keJawaannya agar cita Revolusi Perancis membumi di Hindia, agar bisa ikut andil menjatuhkan kapitalisme, melahirkan komunisme: keadilan bagi semua, yang Jawa dan yang bukan Jawa! Dan kini kau merindukan sesuatu untuk kau lawan; hah, kau seperti jagoan yang kehilangan panggung. Zaman kian mengabur; siapa lawan siapa kawan. Ada seribu jagoan siap melawan korupsi, ada jutaan koruptor yang juga siap melawan korupsi. Ini Jakarta 2010, bukan Batavia 1910. Raden Mas Tirto pun bakal hilang ditelan anonimitas; seperti kau, yang bukan siapa-siapa ini, yang hingga saat ini masih melaju tanpa arah. Katanya mau menepi, tapi gas kau injak terus. Di negeri asing, kau malah bertanya-tanya kau Jawa apa bukan. Gwoblok! Kau pikir AJI itu puritanisme yang takdiakal. Kau sebut PWI lembaga oranggagal. Tanpa ideologi kau hilang dalam pencarian yang takkunjung usai; takingat kau pada wejangan Murtaza Mutahhari dalam Manusia dan Alam Semesta; bahkan orang kafirpun takbisa hidup tanpa ideologi, tanpa akidah yang mengikat. Now you’re wondering aimlessly; nowhere to go, no where to return.

Diri yang sepertinya sensitif: Kau diri yang lain yang bukan di atas siapa kau?!

Diri yang paling kecil suaranya: Tapi kau benar ingin tahu apa benar kau Jawa. Bukan?

Diri saya: Sebaiknya saya sudahi pergulatan batin ini.

Advertisements

4 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Kata saya habis fast reading: does it matter? 😀

  2. It kinda does. For now.

  3. Apa yang diharapkan atau disyaratkan dari (menjadi) orang Jawa?

  4. belum tahu; berdarah jawa dan ngerti falsafah Jawa?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: