Sepuluh Tahun Bumi Manusia

July 1, 2010 at 7:42 pm | Posted in Catatan, katarsis, refleksi | 20 Comments
Tags: , , , , , , ,

Sekedar Pembuka

Cetakan Lama

Ketika saya membaca novel ini lebih sepuluh tahun lalu, saya berusia 18; masih senaif Minke, masih philogynik seperti dia, masih bermimpi bisa berkasihan dengan gadis paling jelita sejagadraya, merasa diri ini layak dikagumi bidadari langit pujaan paradewa. Satu dekade memang bukan waktu yang terlalu lama. Rasanya baru kemarin saya pergi ke rumah Om dan melihat Bumi Manusia terbitan Hasta Mitra (terbitan tahun berapa saya lupa) terselip di lemari beliau. Kata Om, itu bukunya Pramoedya Ananta Toer, dulu sempat dilarang karena bau komunis. Padahal, tambahnya, dalam buku itu tidak disebut barang sekalipun kata sosialisme, apalagi komunisme. Maksud beliau apa saya tidak terlalu mengerti waktu itu, sepuluh tahun lalu. Jebolan STM yang suka mengaji, tahu apa saya soal sosialisme? Boleh jadi, itu novel pertama yang saya pinjam, saya baca dan saya suka. Dan tentu bukan karena novel itu ‘bau komunis’. Semuanya, seperti yang terjadi pada Minke, disebabkan oleh Annelies Mellema. Maklum, saya ini orangnya sentimentil. Dan kisah cinta Annelies yang tragis — betapa dia yang begitu rapuh sudah begitu kuat mencintai Minke sampai harus sakit-sakitan karena rindu seperti anak kampung yang kena guna-guna — membuat saya seolah demam sastra; tidak bisa lepas dari buku putih yang ditulis Pram. Hah, ada bakhil sedikit dalam dada; kiranya saya naik derajatnya karena sudah baca sebuah roman sejarah karya perngarang besar dengan nama yang begitu agung: Pramoedya! Nyatanya, novel itu saya baca seperti gadis belasan baca ciklit; atau mbak-mbak kantoran kelahiran 1970-an yang gila Mira W!  Ann, kau memang dahsyat.

Sanikem (Happy Salma) dan Annelies (Madina Wowor, siapakah!?) dalam sebuah pertunjukan teater di Taman Ismail Marzuki 2007 lalu.

Kembali pada 2010. Di toko buku Gramedia pekan kemarin saya mendapati kembali novel Pram yang pernah saya baca itu. Kali ini sampulnya hijau. Penerbitnya pun berubah. Sudah bukan Hasta Mitra lagi, tetapi Lentera Dipantara. Buku ini tak lagi seksi, kata saya belagak kritikus, justru karena sudah tidak dilarang lagi; karena sudah dibaca banyak orang, termasuk anak ABG dan ibu rumah tangga! Ya, lama sudah saya tahu tetralogi Pram dicetak baru, dicetak banyak-banyak. Dan itu jelas membuat saya memandangnya dengan remeh; setidaknya sampai pekan lalu ketika saya mendapati buku itu di Gramed. Dan terpesona pada hampir setiap kata yang digunakan si pengarang! Gila! Gila! Sepuluh tahun sudah liwat, saya sudah lulus kuliah sejarah lama sekali, sekarang bekerja sebagai wartawan (seperti Minke!) pada surat kabar nasional, mencintai puisi dan ditahbiskan pintar dan terpelajar setidaknya oleh pacar saya, Annelies masih saja mempesona! Betapa, betapa, betapa! Karena baru gajian, saya kalap beli tratralogi Pulau Buru. Empat-empatnya. Dan berikut ini adalah hasil pembacaan kembali saya atas Bumi Manusia.

Tragedi Sanikem dan Annelies

Anak Semua Bangsa adalah novel politik; bukan novel yang baik. Di situ Pram, dalam istilah Kommer dan Nijmaan, sedang ‘berpidato’, bukan bercerita. Sementara Bumi Manusia, seperti diisyaratkan oleh judulnya, adalah novel yang berkisah soal hakikat manusia di bumi ini; nasibnya, ketidakberdayaannya, kegelisahannya, pergulatan batinnya. Melalui Annelies dan Sanikem, Pram menyingkap tirai kehidupan, laiknya Flaubert melalui Madam Bovary atau Tolstoy melalui Anna Karenina. Kita lupakan sejenak sejarah kolonialisme/nasionalisme di Tanah Jawa seabad lalu. Novel Pram menurut pembacaan saya bukan soal itu. Novel ini bermula dari hari naas ketika Sanikem diseret ayahnya ke rumah Herman Mellema, dan berakhir ketika Annelies pasrah diseret maresose meninggalkan Wonokromo, meninggalkan Minke dan Mama yang begitu dicintainya. Dengan kata lain, novel ini diawali dan diakhiri oleh ketidakberdayaan, kemarahan dan kebencian. Dan itulah hakikat hidup (tidak ada ‘keceriaan’ seperti yang dikhutbahi Kommer dalam satu bagian Anak Semua Bangsa). Dan Pram secara apik menjadikan keduanya, Annelies dan Mama, model manusia yang berselisihan, sekalipun keduanya dihadapkan pada persoalan eksistensial yang sama, persoalan eksistensial yang dialami siapa saja saya kira.

Bunuh ‘Diri’

Anda ingat karakter Surati ponakan Sanikem? Dia dijual ayahnya kepada seorang Belanda (Plikemboh) dan kemudian memutuskan bunuh diri: menantang wabah cacar agar bisa membawa mati bule botak yang hendak menggundiknya. Nah, Sanikem dan Annelies melakukan hal yang sama ketika mereka angkat kaki dari Tulangan dan Wonokromo: bunuh diri. Ya, bunuh diri. Sanikem membenci ayah dan ibunya yang pribumi; yang hanya bisa diinjak-injak bangsa Eropa. Dan Sanikem adalah pribumi juga. Karena itu Sanikem membunuh dirinya sendiri ketika sehabis mandi ia digendong dan dilempar-lempar seperti boneka oleh Tuan Mellema. Dibiarkannya arus nasib yang tidak perduli membawanya pergi kemana dia mau, karena Sanikem sudah tidak ada, secara intelektuil, secara psikologis. Karena yang kemudian hidup dalam tubuh Sanikem bukan lagi Sanikem, tetapi Nyai Ontosoroh, seorang wanita Belanda dalam tubuh pribumi. Ada paradoks memang. Pram bercerita seakan Nyai membenci Eropa dan pribumi sekaligus. Sebagai Sanikem ia ludahi Mellema, sebagai Nyai ia ludahi Sastrotomo, ayahnya. Tetapi kalau Anda ikuti jalan pikiran Nyai: dia Eropa totok! Seorang wanita tercerahkan yang jauh dari nilai-nilai Jawa, dari pandangan dunia Sanikem. Ah, Sanikem kau sudah mati dilumat dendam Nyai. Ada pergulatan batin antara Sanikem dan Nyai, dan yang belakangan yang berdiri terakhir, dengan gemilang. Nyai membunuh ’diri’-nya yang lain: Sanikem.

Lain halnya dengan Annelies. Kulitnya Eropa, wajahnya Eropa. Tapi isi kepalanya pribumi, pribumi asli. Karena didikan keras Nyai, juga segala tempaan traumanya digundik dan kemudian dicampakkan Tuan Mellema, Annelies menjadi lebih dari sekedar seorang pribumi yang terjebak dalam tubuh seorang Belanda. Di dalam tubuh Annelies adalah Sanikem dengan ketakutannya pada si kulit putih! Pram secara eksplisit mengatakan, melalui Dr. Martinet, bahwa Annelies fobia kulit putih: dan itu karena Nyai; karena di dalam tubuhnya adalah si Sanikem itu, gadis pribumi tak berdaya yang dijual ayahnya sama kompeni, yang ”dibunuh” Nyai Ontosoroh. Bayangkan selama hidupnya Annelies bercermin melihat kulitnya yang putih, bukan kuning langsat laiknya pribumi, ‘diri’-nya yang sesungguhnya. Karena itu, ketika ia dipaksa angkat koper untuk berlayar ke negeri kincir angin oleh abang dan ibu tirinya; Sanikem yang hidup dalam tubuh Annelis terguncang; dibencinya Nyai dan Minke yang gagal menjaganya, seperti halnya Sastromo dan istrinya yang hanya bisa menangis, meraung tanpa bisa menyelamatkannya dari jamahan raksasa Mellema. Karena itu ia bunuh diri. Tidak mau makan. Tidak mau berobat. Membiarkan sakitnya berlarut. Membiarkan dunia yang kejam menggerogoti tubuh yang tidak pernah dicintainya, tubuh Eropa yang dibencinya. Annelies mati, bersama Sanikem. Ann, aku mengerti sekarang mengapa kau harus mati. Aku tak lagi mengutuki Pramoedya karena menulis kau mati; dan mengasingkan kau dari jalan cerita Anak Semua Bangsa yang serba politik itu. Oh, Ann…

‘Diri’ Yang Mana Yang Bakal Hidup?

Selain Annelies dan Sanikem, tidak ada tokoh lain yang layak diteladani dalam novel Bumi Manusia. Minke tidak lebih dari bocah naif: Jean Marais, dengan epigramnya yang terkenal ‘seorang terpelajar harus adil sejak dalam pikiran’, hanyalah seorang pecundang, seorang dalam pelarian. Yang lainnya kalau bukan oportunis macam Nijmaan, ya, pengecut yang tidak bisa berbuat banyak: seperti Dr. Martinet, Panji Darman dan Kommer.

Dari Ann dan Sanikem saya belajar bahwa kadang orang tidak hanya harus bergelut dengan nasib; dalam hidupnya ia harus juga bergelut dengan ‘diri’-nya sendiri. Kalau perlu bergelut sampai mati. Entah mati yang bagaimana: kematian Sanikem oleh Nyai Ontosoroh atau kematian Annelies oleh Sanikem. Bukankah ada saat ketika Anda membenci diri Anda sendiri? Bukankah ada saat ketika Anda melihat diri Anda sebagai orang kedua dan ketiga? Bukankan Anda tahu bahwa Anda sebagai orang pertama (si Aku) adalah sebuah konsep abstrak belaka? Ketika hidup sudah begitu menyesakkan, karena kehilangan pekerjaan, kemalingan, tidak diterima beasiswa, kehilangan cita-cita dan semangat hidup, kemalangan apasajalah, Anda mesti membuat pilihan: mengambil jalan orang naif seperti Minke, jalan pecundang seperti Jean Marais, jalan pengecut Dr. Martinet, jalan pembebasan Nyai Ontosoroh atau jalan kehancuran Annelies?

20 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Ah, sial, yang satu ini susah sekali e-book-nya.😡 FUK™!

  2. @aris
    .
    buku saya di kosan aman semua; buku saya di laptop: eliot, raine, sopokles, heidegger, russel, rumi, blake, semuanya ikut raib.

  3. Anak Semua Bangsa adalah novel politik; bukan novel yang baik. Di situ Pram, dalam istilah Kommer dan Nijmaan, sedang ‘berpidato’, bukan bercerita.

    Wah sangat konsisten pada prinsip itu ternyata.:mrgreen:
    Walau memang saya merasa diceramahi di situ.

  4. @geddoe: Ya ASB itu novel Marxist abis; intinya kritik atas kapital yang menggerakan industri gula, sekolahan kolonial, kebudayaan dll. Pram memang tidak pernah menyebut sosialisme, tapi kritik Pram atas kapitalisme telanjang sekali. Di situ ASB berhenti menjadi novel.

  5. @ Pak Guru
    Anyway, Pak Guru pernah baca novel-novel Pram-kah?😕

  6. Hei, kebetulan. Baru tempo hari saya baca ulang Anak Semua Bangsa (loncat-loncat saja; tidak baca serius).🙂 Kesannya kok mbah Pram menggurui lewat dialog. Wejangannya Kommer masih mending, tapi obrolan sama Ter Haar itu benar-benar…😄
     
    BTW saya paling ingat nasihat Kommer tentang “jangan seberat satu ton” dan “jangan terlalu mengkamar”. Benar-benar mengena.:mrgreen:

  7. @sora9n
    .
    Iya Ter Haar itu terlalu rekaan, terlalu dibuat-buat untuk menyampaikan gagasan Pram. Kenapa dia tiba-tiba ada di kapal itu. Awalnya saya rada segan ngritik Pram. Tapi ah yah begitu. Sebal juga. Masalahnya untuk novel, jarang sih pengarang Indonesia yang handal seperti Pram. Kalo cerpen dan puisi kan lumayan banyak.

  8. Welcome back Pram ;D
    Senang membaca yang punya blog sudah kembali normal dan tetap memposting tulisan soal Pramoedya, Sanikem, dan Annelies pasca espisode disatronin maling.

    Ternyata benar, yang dicuri hanya laptopnya bukan isi kepalanya ;D

  9. lapor mas gentole: saya ko g pernah kuat baca novel pram ya..? dulu sempat baca arus balik dan revolusi subuh, tapi cuma kuat 20 halaman.. g berjodoh sama novel realis kayanya..

  10. lupa.. laporan selesai..!

  11. @ kenz

    […] g berjodoh sama novel realis kayanya..

    Lah, novel situ sendiri apa ndak realis, kok tahan bikinnya

  12. @ sora9n
    .
    Ya Ter Haar itu memang raisonneur, seorang AuthorAvatar dan konteksnya Anvilicious sangat, tapi ‘kan di-Lampshade itu. Minke ‘kan seingat saya agak tidak ikhlas dan menggerutu dalam batinnya ketika menerima pidato. Jadi ini LampshadedTrope-lah minimal.
    .
    *vocabulary ruined*

  13. Kenz: gak suka novel realis? wah sayang sekali. ini mungkin karena pram terlalu serius; kurang humornya. gak suka nobvel rusia berarti ya? sukanya amerika latin?

  14. @butterfly: mau beliin yang baru neng?

  15. @ Frozen

    itu bukan realis, tapi lieuris..

    @mas gentole:

    kalo amerika latin, suka goyangannya aja..😀 sebenarnya g punya genre tertentu sukanya apa, sekenanya aja, kalo kebetulan ada novel nganggur ya itu yg dibaca.. tapi Pram, aku selalu menyerah duluan..😦

  16. Pram, semoga kau sekarang di surga
    Pram, semoga namamu akan selalu kembali
    .
    ‘Pidato’ Pram telah berhasil, setidaknya mempengaruhi aku, mencuci otakku, atau mungkin membunuh diriku, seperti halnya dia membunuh Sanikem. Atau mungkin dia juga telah membunuh banyak perempuan lainya, yang boleh hidup hanya perempuan yang kuat, Ann boneka yang cantik namun rapuh
    .
    Novel Pram bukan novel yang baik, setuju, itu bukan novel dakwah yang jelas, jadi gak akan mengajarkan kita tentang benar dan salah atau hitam atau putih. Di Bumi Manusia misalnya, ada adegan porno Ann dan Minke, itu juga bukan hal baik tapi Pram menghalalkannya kala itu.
    .
    gak lihat ada tag katarsis
    Pram, semoga namamu akan selalu kembali(nyontek GM)

  17. @mengejaperistiwa: offended yah pram dikritik? nabimu itu.

  18. novel yang bikin saya sawanen eh😐
    .

    Bukankah ada saat ketika Anda membenci diri Anda sendiri? Bukankah ada saat ketika Anda melihat diri Anda sebagai orang kedua dan ketiga? Bukankan Anda tahu bahwa Anda sebagai orang pertama (si Aku) adalah sebuah konsep abstrak belaka?

    🙂
    .
    *mahfum knp dimasukkan dlm “katarsis”

  19. Saya juga baru membeli tetralogi Buru bkn juni kmrn meski sudah membaca bumu manusia jaman SMU dulu…roman sejarah yang sangat menggugah, inspiratif dan idealis (setidaknya karakter Minke). Tokoh yang sangat saya kagumi adalah Sanikem alias Nyai Ontosoroh, karakternya sangat kuat, perempuan pribumi yang tidak pernah sekolah, hanya belajar dari Tuan Mallema (Tuan yang membelinya dari Ayahnya), punya insting bisnis yang tajam, sangat cerdas dan berani berpendapat berbeda dari kaumnya kebanyakan. Tadi pagi baru saya selesaikan Jejak Langkah-buku ketiga, saya butuh jeda beberapa hari sebelum meneruskan dengan Rumah Kaca karena novel ketiga agak berat menurut saya🙂

  20. anda mesti membuat pilihan:
    saya memilih jd minke,santiago,musashi,taiko sekaligus….hehehh


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: