Kita Yang ‘Tidak Pernah Ada’ Ini Sebenarnya Berasal Dari Luar Ember Semesta Yang Dihasilkan Dentuman Purba Itu

June 9, 2010 at 4:55 am | Posted in filsafat, iseng, katarsis, Uncategorized | 15 Comments
Tags: , , , ,

Oleh Abu Hamid al-Gentole

Disklemer: Asal ngoceh.

This is the way the world ends
Not with a bang but a whimper.

Fragmen sajak T.S. Eliot, The Hollow Man

“This is an interesting time to be a cosmologist. We are both blessed and cursed. It’s a golden age, but the problem is that the model we have of the universe makes no sense.”

Seorang fisikawan bernama Sean Carroll

A signifier is emptied when it is disengaged from a particular signified and comes to symbolize a long chain of equivalent signifieds.

Dari sebuah situs di Internet yang tidak jelas identitasnya.

What happened before the big bang?

Saya dan banyak orang lain di dunia yang tidak masuk akal ini.

***

Mereka Bilang Kita Hanyalah Sesuatu Yang Benar-Benar Ada

Konon kata para ilmuwan Alam Semesta berawal dari sebuah dentuman besar. Kejadiannya sekitar 14 milyar tahun sebelum Anda bangun pagi hari ini, Rabu, 9 Juni, 2010. Ya, sebuah ledakan yang terjadi begitu saja, BOOM!!! Dan kemudian jadilah Anda, kecoa, tukang nasi uduk, supir angkot, mbak-mbak kosan, KUCING!, DVD bajakan, video Ariel-LM-CT, udang mayonaise, gantungan kunci, lukisan Monalisa, dan kaos kaki busuk Anda. Apa yang Anda lalukan pagi ini dan apa yang akan Anda kerjakan esok hari adalah bagian dari sejarah mahapanjang Alam Semesta yang hanya bisa dipahami sebagai ‘akibat’ dari ledakan yang purba itu. Kalau Anda malas berangkat kuliah/kerja, atau berfikir masa depan Anda suram, ingatlah dentuman itu; dentuman yang bertanggungjawab atas Perang Dunia II, konflik Timur Tengah dan tsunami 2004; dentuman yang bertanggungjawab atas segala kesialan yang sudah, sedang dan akan Anda alami.

Saya tidak  begitu suka percaya teori ini.

Saya beranggapan metode ilmiah itu inkompeten dalam menjelaskan bagaimana alam raya ini bermula, apalagi menjelaskan bagaimana caranya kita — yang secara teoretis adalah produk semesta itu sendiri — malah bertanya-tanya kenapa dan bagaimana segalanya menjadi ‘ada’. Pertanyaan saya sederhana, “What happened before the big bang?” Google Sang Orakel mengantarkan saya pada beberapa artikel yang bilang pertanyaan itu bersifat ‘relijius’; atau jawaban dari pertanyaan itu tidak ada alias ‘error’ atau paling tidak adalah ketidakberhinggaan yang tidak bisa dijelaskan kecuali dengan sebuah tautologi: yakni dengan mengatakan ketidakberhinggaan itu sendiri tanpa menjelaskan apa-apa. Ketidakberhingaan. Titik. Ada juga yang menawarkan teori bahwa dulu ada ‘semesta bayangan’ sebelum semesta yang ‘sekarang’; semesta yang kemudian ‘memantul’ atau apapun itu yang menjadi katalis dari semesta dalam mana kita ‘ada’. Bapak Paul Davies dalam sebuah artikel yang saya temukan di Internet tidak memberikan jawaban yang memuaskan.  Kata dia, nothing happened! Dan saya pusing. Dan berfikir apa yang dikatakan para ilmuwan itu ‘makes no sense’. Coba kita lihat:

Alam Raya adalah Ember.

Kalau disederhanakan, alam semesta ini mirip ember sebenarnya. Nah, pertanyaannya adalah: di luar ember itu apa!? Yang gelap itu apa!? Kekosongan yang tidak ada dalam ‘ruang dan waktu’? Apakah itu placeless place dan timeless time yang selalu muncul dalam sajak-sajak mistik Jalaludin Rumi? Pertanyaan klasik yang dilontarkan filsuf pagan dan apikorsim dulu masih belum bisa dijawab: apakah ruang dan waktu selalu ‘ada’ dalam keabadian, ataukah dia bisa bermula? Apakah waktu bermula? Apakah ruang berbatas? Seperti dikatakan filsuf Aljazair Mohammed Arkoun, akal budi selalu meminta yang ‘masuk akal’ dan rasional. Masalahnya, seperti diakui Sean Carrol yang saya kutip di atas, alam semesta ini — yah — ‘makes no sense’. Teologi dan fisika dihadapkan pada persoalan yang sama: infinite regress. Keberatan saya tidak serta-merta menginvalidasikan teori big-bang (well, TENTU SAJA!). Tapi yang jelas teori ini tidak bisa mengisi lubang penasaran orang yang senantiasa berfikir bahwa hidupnya itu tak-berakar — rootless.

Karena Kita (Mungkin) Adalah Sesuatu Yang Sebenarnya Tidak Pernah Ada

Kalau kita lupakan sejenak ilmu fisika dan mendapati diri kita sendiri di depan layar komputer; ada sesuatu yang tidak bisa dielakkan: yakni solipsisme. Tidak ada yang dapat diketahui atau diyakini ke’ada’-annya kecuali diri kita sendiri. Kita terisolasi dalam penjara kesadaran personal; hanya bisa memandang dunia sekitar; membayangkan segala apa yang ada di balik tembok kamar, di luar kantor, di luar kelas, sebuah dunia yang luas yang mencakup pangkalan ojek di Jalan Sudirman, banjir di tol Bintaro, bandara Soekarno Hatta, Kuala Lumpur, kota Madrid, negara pecahan/bekas Uni Soviet dan juga desa-desa kecil di Asia Tengah yang tidak pernah kita sadari ‘ada’-nya. Dan solipsisme ini, menurut beberapa kalangan, adalah filosofi bodoh. Tentu saja, kata mereka, dunia luar itu ADA! Monas itu sungguhan ada. Tembok Cina juga. Malah, kalau mau jujur, yang perlu dipertanyakan adalah the self atau diri anda sendiri itu; si ‘aku’ yang merasa bahwa dialah satu-satunya being yang ‘benar-benar ada’. Karena di manakah ‘aku’ sebenarnya? Di ‘hati’? Dalam bahasa Inggris, ‘hati’ itu jantung. Dalam bahasa Indonesia, ‘hati’ itu liver! Di otak? Di syaraf yang adalah sungai listrik yang mengalir terus selama Anda terjaga? Kebalikan dari solipsisme, dalam pandangan sains manusia yang terbangun di malam hari dan kemudian menangis meratapi dosa-dosanya yang sudah lewat itu tidak pernah ada, yang ada adalah ‘segala apa yang ada di balik tembok kamar, di luar kantor, di luar kelas, sebuah dunia yang luas yang mencakup pangkalan ojek di Jalan Sudirman, banjir di Bintaro, bandara Soekarno Hatta, Kuala Lumpur, kota Madrid, negara pecahan/bekas Uni Soviet dan juga desa-desa kecil di Asia Tengah yang tidak pernah kita sadari ada-nya.’ Di sini kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan filosofis yang menurut saya layak direnungkan berulang-ulang: bagaimana dan dalam arti apa sebenarnya manusia disebut ‘ada’ dan apa kaitannya dengan dentuman besar milyaran tahun lalu, yang disebut sebagai mula dari segala sesuatu yang ‘ada’ dalam ruang dan waktu?

Penanda Kosong: Subyek, Allah, Kebaikan Universal, Cinta Sejati

Saya pribadi cenderung pada gagasan/motoda filsafat solipsisme; setidaknya meyakini bahwa saya ‘ada’, meskipun, memang betul, tidak ada pondasi espitemologis yang kokoh untuk menjustifikasi adanya saya ini kecuali klaim sepihak saya bahwa kesadaran subyektif saya itu benar-benar ‘ada’; bahwa apa yang saya tulis di sini adalah refleksi otentik dari gerak pikiran saya yang sepenuhnya sadar akan keedanan dan keadaannya. Karena itu, saya ingin sekali menduga bahwa manusia, yakni SAYA SEBAGAI SAYA, sebenarnya tidak terbuat dari materi yang sama dengan alam semesta yang dilahirkan big bang; kita terbuat dari sesuatu yang tidak bisa disebut ‘materi’ karena hanya bisa dimengerti sebagai sebuah ide; ide yang tidak bisa ditemukan ‘ada’-nya dalam dunia eksternal. Kita berada di dalam ruang gelap, di luar ember semesta itu; kita ini seperti berasal dari sebuah tempat yang nirtempat, dari sebuah waktu yang nirwaktu. Saya yang sadar akan kesayaan ini adalah sesuatu yang tidak bisa didefinisikan dan dirujuk pada sebuah benda yang bisa diukur; dan karenanya ‘tidak ada’ menurut sains; seperti Allah, Kebaikan Universal dan Cinta Sejati, yang menjadi alasan kenapa orang rela berkorban, kenapa ‘orang menangis di malam hari meratapi dosa-dosanya yang telah lewat’, kenapa orang merindukan tanah airnya ketika ia berjalan sendirian di kota-kota besar di Eropa. Allah, Kebaikan Universal, Cinta Sejati dan Bangsa adalah ‘penanda kosong’ yang tidak bisa disebut ‘ada’ laiknya Anda mengatakan buah apel yang Anda simpan di lemari es itu ‘ada’. Kita, seperti Allah dan Bangsa dan Kebaikan Universal dan Cinta Sejati, adalah sebuah ‘penanda yang dikosongkan’; sebuah KATA yang tidak merujuk pada sebuah definisi yang tetap; KEAKUAN kita adalah sebuah KATA yang artinya selalu berubah-berubah dalam satu diskursus/percakapan yang senantiasa mengabur dan tak tentu arah setiap kali kita berupaya untuk melihat/berfikir dengan lebih jelas. Kita adalah ‘kata kosong’ yang habitatnya adalah ‘wacana yang kabur’. Kita, sebagai subyek yang mempertanyakan semesta, sebenarnya tidak pernah ada; dalam sejarah panjang alam raya, tidak pernah ada subyek, yang ada jasad. Dan jasad yang saya kenakan ini pada saatnya nanti bakal kadaluwarsa; dan bila waktunya tiba, alam raya yang sebenarnya tidak pernah ada kecuali dalam percakapan itu pun bermula, not with a bang but a whimper.

15 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Berasa kembali ke jaman WordPress 2008😕

  2. baru saja dikasi tau guru di kelas bahwa suara kita yang didengar orang lain berbeda dengan apa yang kita dengar sendiri…
    yang lebih mendekati apa yang didengar orang lain, adalah suara kita yang kita dengar sambil menutup kuping…
    jadi maksud saya, apakah mungkin yang diterima setiap orang, baik melalui indera penglihatan, pendengaran, pengecap dll., adalah berbeda satu dengan lainnya…
    dan seandainya itu benar terjadi, berarti bentuk dunia eksternal yang sebenarnya seperti apa…:-/
    .
    .
    .
    *ga mau nerusin ah, pusing😕
    *mending nonton The Big Bang Theory :mrgreen:
    *kabuuurrr

  3. Fyuuuh… berat.. berat sekali buat saya…😐
    Ijinkan saya membacanya berkali-kali.😐

  4. Ya,ya,yaah..!
    yang bikin kita ketawa cekikikan,menangis sesenggukan,marah jelalatan,senyum-senyum sendirian,angan-angan gak kesampean,cinta bertepuk sebelah tangan.
    Dentuman keparat,tidak bertanggung jawab kepada orang-orang yang kelaparan.

  5. @aris: hehe blast from the past ini.
    @felicia: lebih indah atau lebih jelek dari yang kita indra?
    @asop: ah jangan dianggap terlalu serius bung asop.
    @ibeng: angan-angan gak kesampean mu apa bung ibeng?

  6. Ye,, yang namanya manusia pasti ada atuh.Kalo percaya tuhan tentunya surga.
    yang jelas,bukan sekedar bualan para ilmuwan atw omong kosong para fil–sup…..!

  7. Kun faya kun.. tak ada penanda kosong, sebuah kata bisa merubah dunia.

  8. sebentar mas.. tak baca emanasi al-Farabi ato iluminasionism dl.. siapa tau ada teori yg keselip di tengah akal mustafad, bulan, dan “kaos kaki busuk” itu..

  9. waduh mas, keren idenya…entar aku baca teori peripatetik dech…sekaligus ngobrol-ngobrol ma kenz,…sugan di asbak kumpulan puntung rokok bersama ini dapat ditemukan jawabannya…

  10. Euhm..seperti biasa, judul yg panjang. Hehe..kita ada berasal dari tiada, diadakan oleh yg Maha Ada…
    Mumet ah.

  11. @buzzart: haha semua penanda ada isinya.
    @kenz: waduh lebih berat lagi itu.
    @metz: diskusinya ama si ken? wah abis berapa batang itu.
    @emina: mumet emang.

  12. nietzsche bersabda,
    “there is no other world, there is only this world and everyting else is an illution”.
    .
    “science, it is supposed to be based on facts, but there are no ‘facts’, only interpretation. And we do not nees science to tell us that heaven is emty and God is not there”.
    .
    Tapi bagiku Tuhan adalah teman yang tetap baik, di masa kanak-kanak maupun sekarang. Bagaimana dengan Luna Maya ya?

  13. @tris: hey sejak kapan jaid suka filsafat dan Kundera???

  14. sejak i kenal u:mrgreen: , sejak u katakan bahwa kita bisa berhubungan dengan Tuhan tanpa harus beragama, u bilang jalan itu adalah filsafat ini jelas-jelas fitnah

  15. […] seperti pergulatan saya dengan pikiran saya sendiri ini. Maksud saya disini, semenjak saya membaca post laknat  memikat ini, (yang intinya yakni solipsisme. Tidak ada yang dapat diketahui atau diyakini ke’ada’-annya […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: