What’s Wrong With Love Songs?

May 14, 2010 at 3:44 pm | Posted in gak jelas, ngoceh, Uncategorized | 12 Comments
Tags: , ,

Jadi, emangnya sappy love songs itu salahnya di mana toh? Kok kesannya hina-dina sekali. Iwan Fals juga bikin lagu cinta, bukan? Jadi ini Efek Rumah Kaca maunya apa sih ini? Ya, ya, saya tahu ini lagu lama saya (ngomel ndak jelas soal  elitisme  lagi). Emangnya lagu There Is a Light That Never Goes Out kagak menye gituh? Atau The Cure, menyekah — Picture of You? Emangnya lagu Creep-nya Radiohead kagak mawkish juga? Jadi Padi dan Dewa salah gitu, bikin lagu cinta buat nyari duit? Jadi lagu semacam Kangen, Sobat dan Cinta Kan Membawamu itu merusak peradaban begitu? Atau merusak selera seni? Or what? What’s wrong with lagu cinta? Apa salahnya, toh? Apa lirik lagu itu kudu puitis, ngawur dan kriptik? Kudu ngutip Pablo Neruda atau sekalian Julio Cortazar? Atau mesti berasa sajak Afrizal Malna sekalian. Atau T. S. Eliot? Jadi kalo ngutip Sitor Situmorang keren, begitu? Dalem, begitu? Sublim, begitu? Nyeni, begitu? Takmurahan, begitu? Classy? Kenapa gak ngikutin lirik Jokpin, Soetardji, Sitok Srengenge dan Mbak Dorothea Rosa aja sekalian? Iya emang sih lagu cinta yang kebangetan sentimentil itu kadang bikin mual, tapi yah gimana yah…

*pasangearphone*

*dengerinVierrarasainirasaini*

But, oke, really, kenapa ngerasa perlu ngritik pasar kalo ndak mau musiknya pasaran?

Advertisements

12 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. kenapa ya saya selalu gondok setiap kali habis baca ulasan musik?

  2. Alay! 😈 *ditendang*

  3. ya ya ya, mas gen. there’s nothing wrong with love songs..jadi mau nyanyi ya nyanyi saja, mau dengerin ya dengerin aja..piye to?

  4. Lah, saya setuju ama Efek RUmah Kaca, lagunya yang “Cinta Melulu”. Memang (waktu lagu ini nongol) saya juga bosen dengan lagu2 band indonesia yang tentang cintaaaaaaaaaaa terus. Boseeeeen! Tiadakah tema lain???
    Kalo Iwan Fals emang bikin lagu cinta, tapi kan gak terus-terusan. Banyakan lagu yang mengkritik ‘kan? Yang dipermasalahkan ama ERK di sini ya “melulu”nya itu. Supaya musisi indonesia ga terus2an bikin lagu cinta doang. 😆

    Jadi, jangan bawa2 musisi asal luar negeri, ya… :mrgreen:

    Btw,

  5. http://sadpanda.us/images/133199-A0TMP9P.jpg

    Emangnya lagu There Is a Light That Never Goes Out kagak menye gituh?

    Barangkali ini karena liriknya konyol, tidak serius, jadi ditoleransi oleh snob. :mrgreen: ‘Kan trik tua itu, apa segala yang dianggap selera rendahan, boleh dilakukan dan dinikmati, asal bertingkah tidak serius. Oooh ini bukan bad taste, ini camp. Oooh ini bukan fiksi ilmiah, ini dekonstruksi.

    Tapi the Smiths setahu saya banyak yang meng-alay-kan kok, di era sebelum 80-an jadi hip lagi. Coba misalnya lirik lagu “How Soon Is Now?”

    * * *

    Tapi bisa jadi begini. Musik pop itu ‘kan disiplin yang masih muda, jadi terjebak dalam “cara main” abang-abangnya; lukisan, musik klasik, sastra, dan kawan-kawan. Jadi supaya dianggap otentik mesti agak jahat sedikit, sok serious businesslah. Seniman kayak the Beatles atau Dylan semuanya sudah diperlakukan secara hagiografis. Padahal waktu Beatles ke Amerika pertama kali, lengkingan cewek-cewek remaja tanggungnya, sama persis seperti acara jumpa Jonas Brothers di MTV dan VH1.

    Editor di Gamasutra pernah nulis, suatu medium itu perlu komunitas elit sebagai komoditas, bling-bling, supaya eksis sebagai medium. Buku ada Nobel, Pulitzer, Booker; perfilman ada Oscar, festival macam Cannes, Sundance, lalu Merchant Ivory; buku buat bocah ingusan aja ada Newbery! Kalau tidak ada, perlu dibikin. Lalu lahirnya Lester Bangs, Christgau, Pitchfork Media.

    Nah sasaran empuk buat dijadikan contoh jelek ya yang substansinya ringan seperti itu…

    *sok tau*

  6. @lambrtz: biar.
    .
    @emina: ya emang gak apa.
    .
    @asop: kan ndak melulu lagu cinta. Lagian, kalo niat Indie, mestinya gak usah misuh mainstream atau selera pasar toh?
    .
    @geddoe: hehe udah lama taunya baru ngomel sekarang aja. Mungkin karena saya lagi membuka diri dengan segala musik yang didewakan sama kritikus musik dalam majalah model rolling stones. Saya penasaran aja apa emang seni dalam budaya pop itu “setara” dan seserius seni serius yang diulas sama esais model edward said [yang gak pernah menyebut siapapun seorang dewa, nomer satu, paling nyeni or whatever]; apa tema-tema besar seperti alienasi, absurditas, kemarahan, ketidakberakaran hidup dll itu digarap dengan serius dalam budaya pop; maksudnya secara apik tanpa pretensi “sok nyeni”. soalnya, maaf kata, tidak semua pegiat budaya pop berdarah seni, dan mengerti apa yang mereka katakan, apalagi untuk scene lokal. Lirik band indie lokal yah masih gitu-gitu aja, masih kayak puisi anak SMA yang sok puitis, sok kritis, sok satir, sok intelektual. Lagu cinta melulu atau hujan jangan marah; apakah????? Jadi aneh aja kalo ada yang negarasa gak mainstream dan nyeni while in fact mereka ya begitu-begitu aja, ndak ada virtuositasnya, ndak ada novelty, cuma orang gonjrang-gonjreng; how could they think they’re better than Ungu?
    .
    The smiths memang bagus sih; gak panteslah dibandingin sama band lokal skrg. hehehe liriknya emang bagus bener, kayak baca puisi beneran yang saya suka, yang gak “sok puitis” [kalo ini baru deh kemana aja saya!!!!?]. Tapi The Trial-nya pink floyd halah apa itu? kagak ngerti saya. Kalo ada referensi ke Kafka kok ndak nyambung. taulah, saya juga nggak ngerti, dan gak niat sok ngerti.

  7. Pernah mau bikin postingan/status senada utk “menghina” ERK juga, sehabis seorang betina memberi itu lagu. Merasa kesal saja saat itu, karena memberi lagu itu seakan sudah dewasa, logis, rasional, sementara…. yaa… 15-20 lah dengan apa yang kau tulis ini. Tapi ndak jadi… malas… karena ujung-ujungnya juga nempatin diri sebagai elitis di atas elitis. Ini cuma soal rotasi saja, seperti roda pedati. Tidak ada yang pernah merasa di bawah, semua pengen di atas untuk melihat yang lain ada di bawah kakinya. :mrgreen:

    Meski… tetap saja eneg dengan lagu yang satu ini. Lagu sampah kok nyampahin lagu orang. Sesama sampah saling memaafkan sajalah… 😛

    *ngeluyur*

  8. @alex: iya dulu juga udah gondok. aneh emang anak-anak band itu. eh sebenernya saya ndka mau elitis ini tapi berjuang untuk kesetaraaan! hehehe kecuali soal prosa dan puisi aja selera saya masih sok ningrat. hahahahaa…meskipun yah gitulah

  9. Band yang mengaku indie -sependek kutahu- emang jualannya nggak jauh-jauh dari mengelitkan diri sendiri sembari mengesankan dirinya terdholimi dengan arus mainstream. Sebenarnya nggak jadi masalah, kalau itu utk dikonsumi dalam benak mereka sendiri. Tapi, spesial buat lagu ini, aku juga mikirnya sama: Emang kenapa kalo lagu cinta? Karena lokal? Apa mungkin karena bahasa Indonesia?
    .
    Ada gejala lain: Aku pernah nge-jam di kampus dulu, mainin lagu I Will Survive versi Cake. Woohh… keren katanya (tahu deh, apa telinga anak2 yg konon indie itu lagi ada masalah THT). Tapi barisan cecunguk yg sama ini malah mencibir saat iseng-iseng mutar lagu Sway-nya Julie London dan Never Can Say Goodbye dan Please, Be There-nya Gloria Gaynor. Tanggapannya?
    .
    Norak. Lawas. Jadul. “Halaah… disko cinta? Cinta lagi… Bah!”
    .
    Jadinya ya ngakak dgn birama 4/4 menghina crescendol. Jelas-jelas I Will Survive itu sendiri lagunya Gloria Gaynor, dan Please, Be There itu dari album Love Tracks-nya beliau, album yang sama dengan I Will Sruvive yang didaur-ulang oleh Cake.
    .
    Jadi apa yang membedakan? Gaya? Keren-kerenan? Ini lho yang menyebalkan. Apalagi anggapan “mellow, loph melulu” itu. Padahal kalau dialih-bahasakan ke Bahasa Indonesia, itu lagu-lagu bahasa British juga sama cengengnya dengan lagu-lagu era Hati Yang Luka-nya Betharia Sonata. Cas-cis-cusnya saja beda 😆
    .
    Sialnya, trend kekerenan yang kere (tanpa n) ini berlanjut. Jika kau perhatikan album Indiefest yang keluaran LA Lights itu, kau akan menemukan polah yang sama. Mungkin cuma beberapa band yang benaran indie, benaran bermusik untuk bermusik, seperti misalnya (Curse Of) The Downtown Dogz-nya Cigarettes Nation dan Rules And Policy-nya Monkey To Millionaire di album kompilasi Indiefest volume 4. Sisanya? Tak lebih dari bandit-bandit bermusik yg memaksa diri asal keren dgn bahasa Inggris yang ngawur di pengucapan atau band yang bernama luar negeri (sebut saja Heinrich Manuever dan Air Hostess For Vacation). Apa yang dicari? Krisis identitas dgn menjadi band lokal bernuansa Indonesia yg konon lebay dan alay? 😆
    .
    Terakhir jadi lebih menikmati genre rap/hip-hip lokal yg lebih ke politik dan filsafat saja, macam Homicide atau Karbala Bukan Fatamorgana. Setidaknya mereka paham apa yang mereka lirikkan, dan benar bisa hidup dalam arusnya sendiri tanpa perlu meremehkan arus musik lainnya.
    .

    kecuali soal prosa dan puisi aja selera saya masih sok ningrat

    😆
    *tersikut*
    😆

  10. Ataaau barangkali mereka itu cuma bosan saja. Mirip sarapan, kalau selalu roti bakar oles mentega ‘kan lama-lama mual dan ndak selera jadinya. :mrgreen: Jadi bukan karena pretensi pengen nyeni atau mau membahas tema-tema besar. Kebetulan aja temanya lagi roman picisan.
    .
    Tapi gak tau jugalah. Gak ngerti musik saya, belum pernah dengar itu ERK dan kawan-kawan (yang kayaknya jadi inti tulisan) kecuali 1-2 kali di YouTube. Gak tahu tingkah-tingkahnya, congkak apa gimana.
    .
    Atau tunggu album debut Konspirasi Pabrik Tisu. Akan mengangkat tema sosial™ dan politik™ itu! 😆

  11. @ Kopral Anumerta Bambang Sugeddoe

    Kebetulan aja temanya lagi roman picisan.

    Mungkin juga sih. Gerombolan punk dan grunge era SMA-ku belakangan malah jadi artis keyboard a la Indonesian Idol (laris manis tanjung kimpul, lagu habis di kendurian pada ngumpul), padahal dulu meludah-ludahi lagu genre almarhum Broery 😆
    .

    Atau tunggu album debut Konspirasi Pabrik Tisu. Akan mengangkat tema sosial™ dan politik™ itu! 😆

    Kalau akan diaplod, harap cantumkan Parental Advisory utk beli tutup kuping :lol:.
    .
    *disambit tetris*

  12. @alex: wah bung dikau referensi musiknya banyak bener.
    @geddoe: banyaklah ulasannya di Internet.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: