Mauvaise Foi!

May 13, 2010 at 4:23 am | Posted in curhat, filsafat, refleksi | 9 Comments
Tags: , ,

Sartre, masih pantaran Geddoe atau Aris.

Bapak Sartre menyebutnya mauvaise foi atau, dalam bahasa Inggris, bad faith. Kata ini hampir tidak ada padanan resminya dalam bahasa Indonesia. Ada yang bilang “itikad buruk”. Tapi ini saya rasa kurang enak didengar, dan juga kurang tepat. Keyakinan buruk? Itu juga jelek. Tadinya saya pikir “nasib jelek” itu pas. Tapi kata faith di sini merujuk pada keyakinan, bukan fate – nasib. Halah, apapun istilahnya, maksud dari gagasan filsuf Perancis satu itu lumayan jelas; yakni satu kondisi dalam mana seseorang secara sadar dan secara sengaja menegasikan kekebebasannya sendiri.

Mereka yang kedapatan mauvaise foi tidak mau menjalani hidupnya secara otentik. Hidup laiknya aktor yang hanya bisa disebut aktor apabila ia bisa tidak menjadi dirinya sendiri, melainkan orang lain, karakter yang digariskan sebuah naskah. Hanya saja, dalam dunia nyata, dalam kehidupan yang cuma sekali ini, mereka menjadi yang bukan dirinya selama hidupnya. Nah, menurut saya, dalam konteks ini kondisi itu bisa saja disebut “nasib jelek” atau, dalam bahasa Inggris, bad fate. Bagaimana tidak. Hidup cuma sekali. Hanya sekali sodara-sodara! Nah, pertanyaannya adalah, apakah Anda kedapatan hidup dalam mauvaise foi atau tidak? Di sini ada persoalan memang.

Begini. Ada paradoks dalam gagasan Sartre. Kata dia, inti gagasan bad faith adalah berbohong kepada diri sendiri. Dan ini absurd. Apa bisa kita berbohong kepada diri sendiri? Apabila saya secara sadar memutuskan untuk tidak menjadi diri saya sendiri bukankah itu artinya saya menggunakan kebebasan saya untuk tidak memilih menjadi diri saya sendiri? Dan karenanya, pilihan hidup saya itu menjadi otentik? Atau, sebaliknya, saya malah berbohong kepada diri sendiri? Harusnya tidak. Karena saya tahu apa yang disembunyikan. Karena saya tahu bahwa apa yang dimaksud sebagai kesalahan yang disebut kebenaran itu bukanlah kebenaran sejati karena saya adalah sekaligus orang yang berbohong dan yang dibohongi [I’m the keeper of the truth, so I can’t fool myself]. Nah, konon psikoanalisa Freud bisa menyelesaikan persoalan ini. Katanya ada yang disebut “alam bawah sadar”, sesuatu yang Anda tidak pernah sadari bahwa Anda sesungguhnya selalu menyadarinya, semacam diri yang lain.  Jadi, bisa saja, ego saya dibohongi/membohongi id dan superego saya.

Tapi Sartre, a card-carrying existentialist, sepertinya tak percaya “alam bawah sadar” ada. Kesadaran itu mutlak. Dan, tanpa banyak basa-basi dan alasan lagi, saya kira betul bahwa ada banyak orang di dunia ini yang doyan mendustai diri sendiri; menegasikan kebebasannya yang berharga untuk menjadi bukan dirinya; menjadi orang lain. Saya, misalnya, tidak suka jadi wartawan, pada saat tertentu menganggap newsroom setara neraka. Tapi saya tidak bisa meninggalkan profesi ini. Karena saya dihadapkan pada keharusan-keharusan yang takbisa dielakkan. Hanya ketika saya duduk di depan laptop dan menulis segalanya terang-benderang: selebihnya saya tak lebih dari aktor yang ketawa-ketiwi, meringis sendirian dalam hati, memendam segala keinginan untuk menjadi orang lain, menjadi orang yang selama ini selalu saya inginkan. Anda begitu? Pernah terbersit berhenti kerja atau kuliah dan menjadi petani di Malang? Ah, saya teringat pelayan yang dijadikan contoh Sartre. Mungkin benar suatu hari pelayan itu sadar bahwa sebenarnya ia membenci para pelanggannya yang sombong yang selalu ia beri senyum gratis. Kali benar suatu hari dia bakal datang ke meja makan seorang pelanggan yang dibencinya setengah mati dan meludahi makanan yang baru saja disajikan. Cuih! Cuih! Hahaha! Hahaha!

9 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Kali benar suatu hari dia bakal datang ke meja makan seorang pelanggan yang dibencinya setengah mati dan meludahi makanan yang baru saja disajikan. Cuih! Cuih! Hahaha! Hahaha!

    Ini yang menyebabkan aku lebih suka di gudang daripada di toko. Tak tahan memberi senyum manis pada pelanggan, 3x muncung memaki, degradasi ke bisnis angkutan 😆
    .
    Terkadang begini lho, Gen. Kebebasan kita itu tidak absolut. Ada pagar-pagar semu dalam kehidupan, terutama dalam berkeluarga, bermasyarakat, yang membentengi itu semua. Ini mungkin alasan yang sama kenapa kawan-kawanku, segeram apapun pada dosen pembimbing dulu tetap saja “Ya, Pak… Baik, Pak…” Meski di belakang menganjing-anjingkan dosen yang congkak itu. Kenapa? Karena kebebasan mereka utk melawan dosen demikian, akan menyebabkan ijazah akan terbang dan tali kebo di segi empat peci wisuda itu akan melawan takdir utk dipindahkan rektorat di atas kepala.
    Opsi tetap saja ada, tapi lalu apa yang mau dibawa dengan kebebasan itu? Dulu aku memilih kebebasan untuk blak-blakan menyumpahi dosen yang sudah mengerjai di kampus, lalu apa? Tak ada. Cuma dapat status drop-out secara cuma-cuma-cum-laugh. Kebalikan dari opsi ada di kemudian hari, yang berijazah kebingungan karena hasil ketertundukan mesti antri di CPNS atau lowongan pekerjaan, dan yang drop-out krn otodidak dan tentu -kata agamawan- ada takdir lain utk dapat keberuntungan. Itu saja.
    .
    Kebebasan itu susah, Gen. Kecuali siap menghadapi konsekuensi yang mengerikan. Sering aku pikir: Dulu itu, konon di satu hari dalam surga, apakah kebebasan yang membuat Adam dan Hawa mesra kencan makan buah khuldi, ataukah takdir, dorongan bawah sadar, atau dorongan kelamin di bawah yang sering bikin tak sadar itu? Dimana kebebasannya, ketika mereka berlutut minta ampun terus diusir ke dunia fana ini?
    .
    Adakah kebebasan untuk Yesus memilih jadi tukang kayu saja, daripada disalib dengan sakit di puncak bukit Golgota? Adakah kebebasan untuk Muhammad bersuka-ria jadi calon saudagar serupa Jusuf Kalla, jika tidak kemudian Jibril datang menggertaknya dengan kata “Iqra” di gua Hira?
    .
    Kebebasan adalah penipuan terbesar dalam sejarah…. 😥

  2. *bacabaca*
    .
    .
    .
    Wah… apa saya juga musti me-redefinisi istilah Amor Fati ya? 😕

  3. Ya, sebenarnya sy juga ndak suka berkecimpung dgn uang, data2, akuntansi lah. Membosankan! Tp ga bs sy tinggalkan krn kebutuhan. Jadi daripada mati berdiri krn depresi, dinikmati saja 🙂

  4. @alex: persis, lex, persis!
    @frozen:haha terserah aris.
    @emina:bisa gitu dinikmati?

  5. Yah, lagi2 saya dapet tambahan wawasan. 😀

  6. *baca tulisan mas Gentole*
    *baca komen mas Alex*
    Wah, ini penjelasan yang bahkan lebih jelas daripada Dunia Sophie *woot*

  7. sejujurnya, saya juga merasa kebebasan itu kutukan buat saya. Ketika saya memilih untuk mempercayai dan berpegang pada satu hal misalnya, karena saya bebas berpikir dan belajar — tapi pada akhirnya pemikiran ini selalu bentrok dengan keharusan saya menjadi sesuatu di hadapan orang-orang terdekat, dan akhirnya ya…yang disebut membohongi diri sendiri itu. 😦

  8. @asop: wawasan apa nih?
    @grace: yah itulah nasib. menyebalkan. buat apa kebebasan kalo tidak bisa digunakan juga. 😐

  9. The simulacrum is never that which conceals the truth–it is the truth which conceals that there is none (Ecclesiastes)
    .
    Lagipula, delusi itu bawaan orok alias sepaket jadi manusia. Kalo mo keluar dari delusi, 1) kerja keras, 2) resiko jadi orang aneh, 3) pergi ke konser pianis no 1 dunia malah bengong ga jadi menikmati – gara-gara delusi ilang. Yang masih delusi? Heboh bilang, “Luar biasa, luar biasa…”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: