Bunuh Diri Masal

May 12, 2010 at 2:19 am | Posted in Catatan | 22 Comments
Tags: ,

“…I can remember the moments when I returned home – no matter how late – after having been out with a girl on a Saturday night. Before going to bed, I’d sit on the fire escape for a while and enjoy a smoke. I’d turn around so that I could see all the smoke going up. At the same time, the windows would be bright with lights on the other side of the courtyard. I would watch what the people were doing. I would sit, and watch, and think about what my girl and I had talked about and what a nice time we had had together. Then I’d throw the cigarette away and go to bed. I feel these were really the most contented moments in my life….” seseorang enam dekade lalu.

Rokok itu seperti Iblis. Dimusuhi, tapi tidak pernah dijauhi; selalu hadir di mana ada gelisah, penat, letih dan sebuah jeda. Sebatang rokok paham betul beban eksistensial yang mesti ditanggung anak-anak Adam. Kefanaan ini. Perulangan yang abadi ini. Pagi ketemu pagi. Dari Senin ke Senin. Lalu Desember, kata seorang penyair. Dan sebelum Anda menoleh kalender, tahun baru sudah empat bulan yang lalu. Setelah itu terdengar suara dari dalam kepala Anda sendiri, begitu parau: Hey, Anda sudah tua, kenapa masih berada di sini? Sulutlah Marlboro Light itu. Itu HAM yang tak boleh dilanggar! Rokok itu seperti Iblis. Merusak. Tapi belagak seperti kawan yang paling baik sedunia. Di mana ada jiwa yang meringis, di situ ada tembakau yang terbakar. Saya ingat beberapa tahun lalu. Pada satu dari ribuan malam di Jakarta. Saya duduk di pinggir pintu masuk lobi kantor. Bersama seorang rekan kerja perempuan. Merokok. Begitu hening. Rokok kawan saya itu Sampoerna A-Mild, yang hijau menthol. Dari bibirnya asap berhembus. Elegan. Malam itu, satu dari sekian ribu malam di Jakarta, waktu seperti berhenti, seperti tiada, lesap di tepian terang lampu malam. Tidak ada di antara kami berdua yang perduli hidup itu fana, tidak ada di antara kami berdua yang perduli segalanya berulang. Chairil tidak pernah ingin hidup seribu tahun lagi.

Bukan begitu, bang?

22 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Chairil tidak pernah ingin hidup seribu lagi.

    Seribu tahun lagi, maksudmu? Secara fisik, secara nama, dia sepertinya pengen abadi😀

    Ah well… aku merasa ini postingan terbaik bulan ini…

    *isap rokok*

    Bukan begitu, bang?

    Ya, begitulah, Dik…

    *klepas-klepus*😆

  2. @alex: hoh iya thanks koreksinya. padahal di kepala sudah diketik, hehehe. eh sudah tau kalo chairil, itu fotonya yang lagi ngerokok itu, jadi kampanye anti-rokok. aku lupa sih linknya. dia mau abadi, tapi bukan tubuhnya yang abadi. si AKU-nya yang mau abadi.

  3. Hehehe… itu kan salah satu kalimat paling familiar dari sajak AKU, sampai anak TK pun hapal seperti hapalnya mereka dengan lagu Cinta Laura.
    .
    Aku baru tahu ada orang yg cukup naif utk meletakkan potret itu sebagai kampanye anti-rokok. Kenapa? Karena modar dalam usia di bawah 30? Apa yang mau dicari dari hidup ini, eh? Hidup sehat? Melihat inflasi naik-turun? Mendengar FPI ngamuk? Membaca debatan soal apakah Tuhan masih hidup sehat wal afiat atau sudah isdet keselek cungkil gigi? Atau melihat kampanye anti-rokok dari orang2 yang lupa bahwa kematian di aspal jauh lebih banyak dari itu? What? Rokok tak beda dengan minuman soda dan makanan sampah yang dikonsumsi saat istirahat anak sekolah. Kenapa mesti serius sekali peduli pada kematian akibat rokok?😆
    .
    Oh ya, kau menulis ini sebagai perokok atau bukan?😛

    *tarik asbak*

  4. 20 tahun 9 bulan 12 hari, alhamdulillah, bibir saya belum pernah bersenggama dengan rokok😀

  5. Saya mau mengeluh dulu pakai generalisasi.
    .
    Kalau pengamat yang terlalu serius, dan tidak merokok, maka boleh jadi rokok itu dipandang sebagai folk devil (apa toh padanan Endonesanya?), sebagai parameter cerah/tidak cerah (mirip-mirip pemanasan global atau veganisme). Ada sekali-kali saya lihat keangkuhan.
    .
    Kalau pengamat yang terlalu serius, dan merokok, maka berbeda pula congkaknya. Ini agak mirip machismo, melihat yang anti sebagai lembek dan Orwellian. Ada sekali-kali saya lihat keangkuhan.
    .
    Nah saya itu merokok sedikit dan sekali-kali sahaja. Jadilah saya penduduk pagar™ (apa toh padanan Endonesanya?) yang bingung.

  6. @alex: saya itu menulis sebagai orang yang pernah merokok dan kemudian seperti geddoe, sekali-sekali merokok, tapi jarang sekali, kalo lagi stres berat aja. kalo lagi mau “bunuh diri”. hahaha ya saya selalu menganggap rokok itu sebuah tindakan yang paradoks; menegasikan sekaligus mengiyakan hidup. rokok itu buat saya seperti memberikan penegasan bahwa saya bakal mati juga suatu saat; semacam ilusi bunuh diri, padahal bukan bunuh diri.
    .
    @frozen: bagus, bagus.
    .
    @geddoe:Wah iya itu sih gak bisa dihindari. Toh ini kan ada polarisasi; yang merokok dan yang tidak. Loh, kenapa bingung, selama kamu bukan pengamat yang terlalu serius mestinya tak bingung toh? Kecuali kamu kampanye untuk keduanya sekaligus: pro-life dan pro-choice. hehehe isu rokok ini mirip isu aborsi. Ada persoalan etika dan filsafat hidup yang belum seleai. Jadi jumping to salah satu wagon yang ada yah agak kurang wise aja.

  7. @ Aris Susanto

    Kalau kau tak berminat untuk kecanduan merokok, mending tidak usah. Sekali sudah candu, bisa denjeres kalau kau tidak mampu memutar roda rupiah agar memenuhi hasrat brengsek utk membakar uang itu. Kecuali kau ada uang sampingan. Yang merokok itu mestinya orang cukup, cukup keuangan dan cukup sadar pada ketidakwarasan utk membakar uang yang semestinya bisa dipakai utk hal yang lain (meski kadang kupikir, ini sama saja macam kau membeli cemilan yg tidak ada sehat2nya di pinggir jalan).
    .
    .
    .
    @ Geddoe
    Pengamat dalam hal apa dulu itu? Merokok?
    Dua-duanya sama-sama serius dan dua-duanya sama-sama brengsek, meski yang kedua itu macam bayangan wajah sendiri di depan monitor ini😆
    Merokok tidak merokok mestinya tidak jadi takaran lembek apa tidak. Perokok kalau dada sudah begeng, macam preman kampung juga. Diberi sekali, tumbang juga. Rokok berbatang, tato cacing, sekali ditendang, eh kebanting. Nggak ngefek mah sama lembek apa nggak😆
    .
    Tapi kalau soal angkuh tidak angkuh merokok itu, terkadang begini lho: Orang perokok itu pada dasarnya seperti orang yang menikmati hobi, sesuatu yang disenangi, disukai. Seperti orang main game 24jam/7hari. Rasa angkuh itu akan muncul, akan terusik, bersama ego ketika ada yang menyinyir “Rokok itu akan bikin mati… statistik sekian-sekian, efeknya ini dan itu…. bla-bla-bla…” seolah-olah itu saja sumber petaka di muka bumi. Aku sendiri terletak dalam posisi yang begini ini:mrgreen:
    Namun ada perokok yang kelewat angkuh, ya seperti yang kau bilang itu. Kalau perlu diracuninya satu terminal atau minimal satu angkutan sekalian dengan asap bau naganya itu. Perokok macam ini, tak beda dengan puntung rokok yang dihisapnya, boleh dipijak-pijak jika sudah berulah:mrgreen:
    .
    .
    @ Gentole

    Nah, aku membaca ini sebagai perokok sejak SD. Bukan, ini bukan soal gengsi dan merasa jadi jantan karena merokok. Lebih pada kebutuhan yg enggan diusik-usik dengan beratus spanduk yang -kadang-kadang menjijikkan dengan soktahu pada ajal- berkibaran di jalan atau pada celoteh para blogger.
    Yang lebih brengsek adalah yang menyampahkan para perokok. Ini aneh: hidup, hidup sendiri, yang dibakar juga dari dompet sendiri. Kecuali rokok boleh nyuri, lain soal. Atau jika emang ada perokok yang mengira cuma dia sendiri tak peduli pada paru-paru produk alam di dadanya. Tapi tipe yang rewel itu kadang2 yang bikin orang macamku geram. Lha, rokok itu sama mudharatnya dengan banyak hal di internet ini sendiri, kenapa begitu getol melarang rokok atau menghina para perokok, emang rokok dari warisan bapak moyangnya apa?! Kita punya jatah liang lahat masing-masing, urusi batu nisan masing-masing saja.
    *curhat*😆

  8. Mas gen yg baik, apakah merokok merupakan salah satu bagian dr seni kehidupan?
    Merokok pun hrs profesional ya?
    Anw, sy ga merokok aja udh kerempeng sakit2an, gmn kalo merokok ya? Bs membwt kluarga besar sakit jiwa =D
    *nyiapin kuburan u bunuh diri masal*

  9. @alex: yah masalahnya mungkin orang merasa perlu mencegah orang membunuh dirinya sendiri.
    @emina: jangan merokok mbak! plis don’t.:mrgreen:

  10. rokok itu neraka bagi yang bukan perokok, rokok cocoknya bagi orang yang suka menyendiri.. ekstrimnya cocok bagi orang yg terasing..

  11. @ zlatan

    rokok itu neraka bagi yang bukan perokok

    😆
    Mungkin juga.

    rokok cocoknya bagi orang yang suka menyendiri..

    Tidak juga. Seperti komunitas2 semu di dunia semu maya ini, rokok itu orang2nya juga ada komunitas tersendiri:mrgreen:

    ekstrimnya cocok bagi orang yg terasing..

    😆
    Mungkin juga. Atau sekawanan orang terasing lah. Merokok ramai-ramai dalam keterasingan itu enak lho, seperti netter kecanduan ngenet yang merasa ramai di internet juga😀

  12. Ikutan bunuh diri.
    Heagts…ah…gubrak…?

  13. Jadi teringat sebuah film, thank you for smoking. Ketika tradisi menjadi industri😀

  14. @ibeng: opo sih bung ibeng.
    @oddworld: wah belum nonton itu saya.

  15. Saya kan perokok berat.

  16. Kebodohan yang di banggakan..
    PEROKOK…
    Awalnya gitu deh,wktu coba2 rokok.

  17. Itu film parodi garapan tahun 2007-2008 yang menarik tentang dunia industri rokok bung. Bagaimana politik lobi industri rokok AS tidak kalah dengan Jewish Lobby yang terkenal itu🙂

  18. @oddworld: wah sepertinya harus nonton. btw, mas oddie kan dokter kan yah?

  19. Sekarang belum layak menyandang gelaran itu mas.🙂

  20. Interupsi dulu. Menurut Sdr. Mansup novel dari film tersebut lebih pedas dari filmnya yang diperhalus.
    .
    Interupsi diakhiri.

  21. Interupsi kedua, Katie Holmes menyejukkan mata di situ.
    .
    Interupsi diakhiri.

  22. *Interupsi juga*
    1) Wah saya malah belum sempat baca novelnya, rasanya jadi agak malas karena sudah ngliat filmnya ,saya kira ceritanya mirip. Baik saya masukkan ke daftar tunggu deh ^^

    2) Ah ya kenangan masa remaja saya di Dawson Creek memang muncul juga disitu😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: