Twitter-Souterrain

May 7, 2010 at 3:29 am | Posted in gak jelas, katarsis | 8 Comments
Tags: , , ,

Oh, tuhan, berisik sekali! Di situ Mereka menertawakan Yang Lain. Di sana Yang Lain menertawakan Mereka. Dan Kau seperti hendak mengatakan sesuatu tapi ada yang bilang jangan — lidahmu kelu. Tapi mereka bilang politisi itu bodoh, mereka bilang polisi itu bangsat! Dan Kau seperti hendak menuliskan sesuatu tapi ada lagi yang bilang jangan — jari-jarimu cekang. Tapi mereka tidak pernah bilang mereka mahapintar, mereka itu KUDUS tiada bercela barang setitik, bukan!? Ah, persetan, persetan! Itu wartawan yang twitteran di sana itu bodoh itu, bangsat semua itu!

8 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Wah kalau katarsis selalu berkelas.:mrgreen:

  2. I loph yu pul, Gen😆
    .
    Ini zaman edan, kata Ranggawarsita (itu… seniman Jawa yang dijadikan cecunguk klenik oleh majalah Misteri), mau ikutan edan, tidak tahan. Tak ikutan edan, tidak kebagian. Tak twitter-an dianggap tak eksis. Twitter-an, dipenjara 140 huruf. Memang susah utk blogger banyak bacrit macam aku atau (mungkin?) juga kau😆
    .
    Jadi ya twitteran, anggap saja neks generesyen dari mIRC😆
    .
    TTD
    Yang Angin-anginan pada semua angin perubahan zaman.

  3. wartawan, berarti cowok yach…
    klo cewek kan wartawati….

  4. @geddoe: dah gak tau mo komentar apa ya? hahaha
    @alex: yang bikin bete itu kedangkalannya, banalitasnya, dan yang lebih buruk lagi komen-komen ngeledek orang. memuakkan.
    @etikush: dalam dunia yang patriarkis ini sodari kata ganti laki-laki itu merujuk pada kemanusiaan secara keseluruhan, baik cewe atau cowo.

  5. Kalau aku sendiri paling jengkel dengan 140 karakter itu. Tak cukup untuk membacrit banyak-banyak di situ😆
    Soal dangkal, banalitas dan komen-komen itu, di FB pun sebenarnya sama. Malah FB lebih baik, karena masih ada sisi personal dan nggak monoton. Blog bisa lebih parah: Tak berbatas jumlah huruf untuk meledek siapa saja, dimana saja, se-always Coca-cola😆
    Tapi ya itulah… era Web 2.0 ini sepertinya ada trend minimalis. Minimalisasi jumlah aksara dan minimalisasi ejekan pada siapa saja dengan ringkas, efektif dan efisien yang bisa dibaca publik. Seperti kembali ke jaman SMS susah-nya simpati nusantara dahulu kala😆
    .
    Akun twittermu apa, Gen? Follow ya?😳
    .
    *ditendang*

  6. untunglah bukan saya; sebab saya jurnalis. hihihihi. eh mari tak follow😉

  7. @alex: hahaha kagak punya, lex. aku cuma ngintip aja. kan twitter ada yang terbuka gitu kan.
    @atta: hehehehe sama dong mbae.😛

  8. hahaha kagak punya, lex.

    🙂 <— senyum curiga:mrgreen:

    aku cuma ngintip aja. kan twitter ada yang terbuka gitu kan.

    Lebih bagus bikin saja satu, ujicoba. Lagipula mengintip bisa menyebabkan bintilan😆


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: