Di Satu Sisi, Allah Itu Ateis

April 17, 2010 at 3:01 pm | Posted in filsafat, katarsis, refleksi, teologi, tuhan | 22 Comments
Tags: , , , ,

Kepada Orang Gila Yang Tinggal Di Kepala Saya

Ateisme dan Monoteisme
Disebut dalam Kitab Suci bahwa Allah itu mono; tunggal; satu; ahad. Tidak ada tuhan selain Tuhan. Tidak ada elah selain Allah. Kalau datang kepadamu Allah selain Allah yang mahasatu itu; berdoalah, akhi, karena itu berhala. Dalam dunia Allah, atau dunia di dalam Allah Yang Maha Luas, tuhan tidak boleh Ada. Karena ADANYA Allah secara teologis menegasikan allah-allah yang lain. Dengan kata lain, Allah itu ateis. Tidak percaya: Musyrik. Dogma kemanunggalan Allah tidak boleh diterabas. Karena itu, jangan pernah berkata Allah itu satu dari Yang Tiga, atau beranak-pinak. Dari dulu, dan untuk selama-lamanya, Allah sebatang kara; tidak pernah dilahirkan, tiada bisa tidur, apalagi mati; Zat-Nya sudah ada jauh sebelum Jibril menjelma dan bersimpuh di Langit Ketujuh. Kesadaran ilahi begitu panjang, begitu sunyi. Bila saja pada saat penghabisan Israfil tersungkur dan sirna ditelan waktu, Allah bakal terus bercahaya, di atas Arsy-Nya yang Agung.

Sebuah Ilustrasi

Nestapa Keabadian Ilahi
Dan Allah juga, menurut Kitab Suci, adalah persona. Allah punya wajah, juga tangan. Kadang Allah berhati riang, kadang geram. Ada pernah satu kaum hancur karena Allah tidak suka mereka jadi homo semua dan menolak beriman kepada-Nya. Dalam tradisi Barat, Allah adalah seorang Bapak gemuk berjanggut yang tinggal di angkasa; seperti Zeus. Dan ini problematis. Seperti dijabarkan Bapak Milan Kundera dalam novel Unbearable Lightness of Being, apabila Tuhan berfirman, Dia pasti punya mulut, yang bisa digunakan untuk makan pisang. Dan setelah makan ke toilet. Lalu? Pertanyaan ini valid. Banyak orang percaya, tak perduli mereka pendeta atau pendosa, Allah selalu mendengar dan, kalau mau, menjawab doa-doa yang dipanjatkan. Allah, dalam benak masa kanak saya, adalah seorang raja, yang tinggal di angkasa dengan kuasa yang begitu luar biasa. Dan ini melahirkan sebuah pertanyaan: bagaimana rasanya menjadi Allah, tinggal di Langit Ketujuh, mengawasi pikiran milyaran manusia dan gerak trilyunan sel? Di sini, setelah sekian lama, saya bertanya lagi: bagaimana rasanya hidup dalam keabadian, tanpa Tuhan, tanpa peluang mati, tanpa bisa menggandakan-diri? Kehadiran Allah adalah model kenestapaan hidup ateistik yang begitu menyesakkan untuk direnungkan. Tidak ada yang lebih tragis dari kesendirian yang dialami Allah, yang karena Hakikatnya, karena esensinya, tidak bisa dibandingkan dengan sesuatu apapun: Kesendirian Yang Ilahi; yang tidak berhingga dalamnya, tidak berhingga panjangnya, tidak berhingga sesaknya!

Manusia Dan Citra Allah
Dan Tuhan tak hendak depresi sendiri. Dia menciptakan manusia, lalu bersembunyi. Dalam citra Allah, manusia tak berakar; di semesta yang tak perduli ini, manusia mencari Allah yang terus absen. Hidup itu fana: tapi sepi itu dalam, sunyi itu panjang, dan ilahi.

22 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Aduh… berat sekali… 😐

  2. Bahkan membayangkan saja sudah berat iya …

  3. Tidak ada yang lebih tragis dari kesendirian yang dialami Allah, yang karena Hakikatnya, karena esensinya, tidak bisa dibandingkan dengan sesuatu apapun: Kesendirian Yang Ilahi; yang tidak berhingga dalamnya, tidak berhingga panjangnya, tidak berhingga sesaknya!

    saya jadi ikut sesak mbayanginnya 😦

  4. Jadi Allah itu seperti Cthulhu. Tidak comprehensible. Kalau melihatnya jadi gila. Sufisme modern mestinya mendalami lore Lovecraftian. 🙂

  5. Dan Allah juga, menurut Kitab Suci, adalah persona. Allah punya wajah, juga tangan. Kadang Allah berhati riang, kadang geram

    tapi sepertinya belum pernah ada yang menjelaskan secara exact bagimana bentuk wajah, tangan, atau mulut Allah, ada berapa jumlahnya, apa saja bagian-bagiannya, apa saja fungsinya, dst.
    .
    Allah itu tunggal, satu, ahad dalam jangkauan penalaran kita.
    .

    Tidak ada yang lebih tragis dari kesendirian yang dialami Allah, yang karena Hakikatnya, karena esensinya, tidak bisa dibandingkan dengan sesuatu apapun: Kesendirian Yang Ilahi;

    dst …

    kalau dalam bayangan nakal saya,
    mungkin Allah menyesal menciptakan manusia, sesuatu yang diberinya data cipta dan karsa, sesuatu yang diberinya kemampuan berkembang (hampir) tak terbatas, yang dengannya malah membuat Dia sendiri harus (seolah-olah) harus bersembunyi dari jangkauan (eksplorasi) makhluknya sendiri. malaikat, ciptannya yang selalu setia jelas bukan tandingan manusia, kemana lagi Dia bisa bersembunyi selain kedalam jubah gelap keghaibannya yang sunyi.

  6. Tuhan, konon mempunyai Sifat yang berbeda dengan makhluk dan dalam penafsiran yang sederhana, berbeda di sini termasuk berbeda dalam cara berpikir dan cara kerja.

  7. Wah klo’ gw si..! lebih suka ada Tuhan,hidup gak jelas di bumi. mau jadi penjahat terlalu pengecut,
    apa gue nya terlalu baik kalìye…!

  8. @asof: yah begitulah.
    @lumiere:senang bisa berbagi.
    @geddoe: wah thanks Ged. baru denger tuh.
    @watonist: kalo dibaca literal aja yah tangan yah tangan. 😛
    @zeph: wah itu saya tak bsia mencerna.
    @ibeng: iya bung ibeng, jadi gimana?

  9. Wahaha…. Gen, kayanya hidup loe berat dan kelam yah. Kenapa ya buat kita Tuhan (atau setidaknya ide tentang Tuhan) pengaruhnya beda banget? Buat gw mah membuat hati tenang sedangkan buat loe kok kayanya nyusahin banget yak.

  10. Tuhan itu seperti inilah kira-kira cara berpikirnya.

    *halah nyampah*

    *ini cuma katarsis toh tidak butuh diskusi? 😕 *

  11. @ary: iya yah, betul juga. kok kayaknya Tuhan malah nyusahin buat saya yah? 😐
    @geddoe: inti postingan ini pun sebenernya sampah. ya katarsis lah; diskusi sudah habis. 😀

  12. Bung Gentole masih sibuk ngeblog soal Gusti. Padahal Sang Gusti ga sibuk ngeblog soal Gentole 😆
    .
    Sebenarnya mengatakan bahwa Allah itu satu pun bisa dikatakan menegasi jumlah tunggal tersebut. Dengan adanya satuan “satu”, secara implisit mengindikasi bahwa ada “lebih dari satu.” Jadi contradictio in terminis.

  13. ^

    Bung Gentole masih sibuk ngeblog soal Gusti. Padahal Sang Gusti ga sibuk ngeblog soal Gentole 😆

    Padahal saya mau bilang gitu loh, e… keduluwan :mrgreen:
    .
    .
    .
    *kembali sibuk mencari lembaran-lembaran rupiah, biar dapur tetap ngebul*

  14. @mbak illu dan dik projen: siapa bilang ini post tentang Tuhan? ini tentang saya kok, bukan Tuhan. soal kritik monoteisme ala buddhism saya sudah sering mendengar, but if you read this post carefully, saya ndak bicara tentang Tuhan, but…myself.

  15. mikir kenapa gunung di islandia meletus dan dampaknya, kita ndak nyampe, ngapain mikirin tuhan yang menciptakan kita, terlalu, hamba yang ndak tahu diri n dak ngukur kemampuan, tuhan punya ini, tuhan punya itu seperti manusia bukan berarti manusia, ndak usah disamakan, ndak ada kerjaan

  16. @cobalah: iya, betul, terlalu!

  17. @gentole

    kalo dibaca literal aja yah tangan yah tangan.

    hahaha … betul betul …
    jadi tolong bilang juga sama temen sampeyan, pak Milan itu, berfirman ya berfirman aja, ndak usah diasosiasikan dengan punya mulut ataupun harus makan. 😀
    .
    *rada nggak nyambung dikit*
    saya sih ndak bermasalah orang mau memilih jalan yang bagaimana, mau jadi “islam” silakan atau mau “kafir” monggo, toh baik kafir maupun islam itu sendiri sekarang sudah menjadi kata kepemilikan, tapi kalau kita hanya percaya hanya pada “apa yang ingin kita percayai” yaa … bisa dibilang kemungkinan untuk kita bakal tersesat terbuka (sangat) lebih lebar.

    @illuminationis

    Sebenarnya mengatakan bahwa Allah itu satu pun bisa dikatakan menegasi jumlah tunggal tersebut. Dengan adanya satuan “satu”, secara implisit mengindikasi bahwa ada “lebih dari satu.” Jadi contradictio in terminis.

    sebenarnya saya mengharap mas gentole yang akan menjawab begini terhadap komentar saya sebelumnya, :mrgreen: terutama pada bagian ini “Allah itu tunggal, satu, ahad dalam jangkauan penalaran kita“, hanya saja mungkin beliaunya sedang ingin “hidup dengan tenang”. :p :mrgreen:

    @cobalah
    kalau berpikir tentang Tuhan saja tidak mau, maka kesempatan untuk mengenal-Nya pun bakal hilang, tapi … lagi-lagi itu sebuah pilihan, ada sebagian orang yang merasa sangat perlu, ada yang kurang perlu, ada juga yang merasa tidak perlu samasekali.

  18. @watonist: wah mas tahu aja. 😀

  19. Busyet.., beraaaaat…!!!

    Seperti dijabarkan Bapak Milan Kundera dalam novel Unbearable Lightness of Being, apabila Tuhan berfirman, Dia pasti punya mulut, yang bisa digunakan untuk makan pisang. Dan setelah makan ke toilet. Lalu? Pertanyaan ini valid. Banyak orang percaya, tak perduli mereka pendeta atau pendosa, Allah selalu mendengar dan, kalau mau, menjawab doa-doa yang dipanjatkan

    Yg saya tahu, Allah tidak bisa disamakan dengan makhluknya dalam hal apa pun..

  20. BUKU BERTAJUK KRITIK TERHADAP KONSEP TUHAN MONOTEISME

    TUHAN versi agama yang berasal dari Timur Tengah (yudaisme-kristen-islam) dikatakan sebagai mahabaik, mahasabar, maha pengasih-penyayang, mahapengampun. Dan banyak orang yang sepakat dengan konsep TUHAN MONOTEIS tersebut. Tetapi bagaimana jika terbukti secara tekstual dan faktual (kitab suci) bahwa ternyata TUHAN (versi monoteisme) itu juga bisa disebut sebagai sadis, jahat, brutal, otoriter, pilihkasih, pendendam, pencipta malapetaka, pembinasa kejam, bengis, maha penyiksa, dsbnya?

    Ah.. itu tabu untuk dibicarakan!, begitu kata banyak orang. Namun, buku Visnu Vardana “KELUAR DARI PENJARA DOGMA: Tamasya Melihat TUHAN yang Dualistik” justru memaparkannya tanpa basa-basi, menerobos batas-batas ketabuan!

    Dengan argumentasi yang kuat, didasarkan ayat-ayat skriptural yang faktual, dengan penyampaian bahasa yang lugas dan membumi, karya ini layak dan perlu dibaca oleh siapa saja yang meminati ranah kajian kritis agama dan ketuhanan.

    KELUAR DARI PENJARA DOGMA: Tamasya Melihat TUHAN Yang Dualistik (Visnu Vardana)
    ISBN: 979252708-7
    Tebal: 191 halaman.
    Harga: Rp.35.000,-

    Back cover:
    Sejak halaman awal buku ini akan sontak menyengat nalar pikir pembacanya, Menggetarkan keyakinan yang telah berabad-abad lamanya.
    Berbicara apa adanya, tanpa ditutup-tutupi.
    Penjara dogma dibobol, jerujinya dihempaskan …
    Dogma monoteistik dikuak tanpa basa-basi, melalui teks-teks kitab suci yang dilihat dengan jujur apa adanya.
    Hanya bagi yang berdaya nalar!

    DAFTAR ISI:

    Ucapan Terimakasih

    Sambutan (Leonardo Rimba)
    Pengantar (Frans Donald)

    Penutup
    Pengantar Penulis
    Pendahuluan

    Bab 1, Mengeluarkan TUHAN dari Penjara Dogma
    Bab 2, TUHAN Yudaisme, Baik dan Sadis, Dualistik
    Bab 3, Bagaimana dengan Islam?
    Bab 4, Maha Pencipta
    Bab 5, Memandang Sifat Pencipta dari Karya Ciptaan-Nya
    Bab 6, Suka Mengutuk dan Akibatnya
    Bab 7, Kasih Tuhan Adalah Kasih Yang Bersyarat
    Bab 8, Hukuman Neraka
    Bab 9, Maha Kuasa dan Pengasih?
    Bab 10, TUHAN Yang Haus Darah
    Bab 11, Takdir atau Melawan Takdir?
    Bab 12, Bebas dari Penjara Dogma

    Pembuka

    Daftar Bacaan Inspirasi

    Beberapa Komentar Pembaca:

    “Waaah, … kalau jatuh ke tangan MUI, pasti buku ini akan dibilang sesat!” – Idham

    “Bukunya Bagus, Apa yg Visnu, gugat & pertanyakan adalah sama dgn gugatan & pertanyaan semua org yg pemikir. Jadi wajar akan diamini banyak orang! Hanya saja sejauh ini belum ada yg membukukan suara hati mereka, seperti Visnu ini! Selamat untuk penerbit dan Penulis Visnu Vardana, semoga sukses dan peredaran buku ini bisa mulus. Sehingga mencerdaskan putera-puteri Indonesia dalam berwawasan dan beragama. Thanks.” – R.B.S.

    “…aku kira misi buku Keluar dari Penjara Dogma ini sudah jelas, mengkritisi konsep Tuhan versi agama monoteisme yang memang problematis, titik.” – Iyan.

    “Dalam dunia perbukuan, yang saya ketahui, salah satu ciri buku bisa disebut menarik adalah ketika suatu buku dibuka secara acak pada halaman manapun akan terjumpai hal yang menarik, dan buku ini punya ciri tersebut. Tapi memang isinya cukup menyeramkan.” – H. I.

    “SUDAH SAYA BACA BUKU VISNU VARDANA. LUAR BIASA BAGI SAYA!! …TERIMAKASIH BANYAK SAYA SAMPAIKAN KEPADA PENULIS. HARUS ADA ORANG YANG RELA MENULIS BUKU SEPERTI INI AGAR KEBOHONGAN TIDAK MERAJALELA. SALAM.” – S.W

    ***********

    PEMBELIAN:
    Sejauh ini belum ada toko buku yang berani menjual buku ini.
    Pemesanan langsung sudah dapat dilayani dengan menghubungi langsung / SMS ke no.HP. 08179719991, dan selanjutnya pembayaran (via Rek. BCA atau BRI) dan pengiriman (via kilat khusus) akan diatur.
    (pembelian lebih dari 1 mendapat diskon khusus)

  21. @yanto
    .
    apa yang ditulis dalam buku itu sudah dibahas ribuan tahun yang lalu. segala tentang tuhan sudah dikatakan.

  22. Bung ali, main2 donk ke pulau tidung.. ini minggu terakhir untuk kunjungan wisata.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: