Bapak

March 29, 2010 at 10:16 am | Posted in berbagi cerita, curhat, katarsis | 16 Comments
Tags: , ,

Tanggal lahir Bapak adalah misteri. Konon kata Mbah Putri, Bapak dilahirkan ketika Belanda hendak merebut kembali Hindia Molek, negeri elok yang diperah kongsi dagang Eropa selama lebih dua abad, yang ditinggalkan pada Perang Dunia Kedua, untuk diperkosa tentara Nippon tiga, empat tahun sebelum Nagasaki dan Hiroshima hangus jadi abu. Bapak bilang, “itu mungkin agresi militer Belanda yang kedua. Tahun 1948.” Tanggal berapa? Bulan berapa? Bapak tidak tahu. Keterangan Mbah Putri, yang sudah berpulang, juga tidak bisa dikonfirmasi. Apa betul Bapak dilahirkan pada 1948? Wallahu a’lam. Yang jelas, Bapak anak kolong, dilahirkan pada situasi perang, dan tidak ditakdirkan menjadi tentara.

Bapak memang tidak layak jadi tentara. Orangnya pendek. Giginya berantakan. Ada yang bolong, ada yang patah. Beliau juga tidak suka marah, selalu ramah pada setiap orang. Mungkin itu alasan ia tidak pernah ‘dianggap’ oleh Mbah Kakung, yang katanya tegas dan rupawan. Hanya sekali Mbah Kakung menjenguk Bapak di sekolah. Bawa mobil dinas beserta atribut militer lainnya. Satu sekolah langsung heboh. Tapi tak ada yang betul-betul istimewa dari peristiwa itu. Kecuali mungkin bahwa satu sekolah mengerti bapaknya Bapak punya pistol. Meski begitu, Bapak lebih dikenal sebagai pemimpi. Dari muda sudah dikenal ‘nyentrik’. Pernah Bapak di sawah bikin seekor katak kembung sampai kemudian meledak. “Bapak kasih [cairan kimia entah apa],” katanya, seolah bangga dengan eksperimen konyolnya. Beliau  juga membuat kawannya tertawa karena bilang  suatu saat dia bisa buat sepeda terbang. Atau menemukan teknologi yang bisa membuat manusia terbang seperti burung! Pada tahun 1960an, tanpa Internet, mimpi-mimpi semacam itu tentu saja dianggap ‘nyleneh’. Padahal, sekali klik di Wikipedia, pemikiran Bapak biasa saja saat ini. Katanya sih beliau terinspirasi satu ayat dalam al-Qur’an yang bilang, “apakah tidak engkau perhatikan burung yang terbang di langit?” Karena ayat itu juga beliau mengamati lebah. “Kamu tahu,” beliau biasa bertanya kepada hampir siapa saja yang dianggapnya kenan mendengar, “berapa kali lebah mengepakkan sayapnya dalam satu detik agar tetap melayang di udara?”

Bapak dulu bekerja sebagai tukang pelitur. Itu hasil mengadu nasib di Ibu Kota. Kala itu usianya tidak jauh beda dari usia bloger yang menulis prosa ini. Meski demikian, Bapak tidak pernah bercerita soal betapa sulitnya hidup. Beliau mencintai apa yang dikerjakannya; selalu ingin berbuat yang terbaik — kualitas yang sepertinya tidak diwariskan pada anaknya yang cungkring, nihilis dan defeatis ini. Beliau suka matematika dan fisika. Gila komik dan tidak begitu suka sastra. Tipikal generasi bloger yang gila anime dan kuliah teknik [tidak seperti anaknya yang sok seniman bohemian]. Beliau bahkan mengklaim bahwa dalam banyak peristiwa genting dan penting dalam hidupnya, setelah Gusti Allah, adalah matematika yang menjadi juru selamatnya. Termasuk kisah penting yang membawanya pergi ke Jepang untuk dilatih menjadi seorang teknisi beberapa alat musik produksi Yamaha seperti reed organ dan piano. Tidak lama setelah pulang dari Negeri Nobita, Bapak hengkang dari perusahaan musik itu, dan menghabiskan hidupnya sebagai seorang teknisi piano frilens. Keputusan yang diambil sama sekali tidak rasional, dan sudah pasti ditentang Bunda. Masalahnya, Bapak itu 100 persen fatalis. Meski ultra-rasional dalam ilmu hitung dan fisika, beliau itu ultra-nrimo kalo sudah menyangkut rejeki, jodoh, kesialan, dll. Paradoks? Mungkin. Tapi apa itu penting? Sampai detik ini, beliau masih bisa hidup dengan filosofi semacam itu. Yang penting adalah: beliau tidak pernah membiarkan mimpinya padam. Dan mungkin kerna cahaya mimpinya itu beliau terus begerak dan tidak mau cerewet betapa hidup itu begini atau begitu (tak seperti anaknya jelas). Seperti tampak pada hari ini, dari binar di matanya, dari optimisme di wajahnya, dari keyakinan yang membuatnya berfikir masih berusia 27, seperti ada sesuatu yang menggampar-gampar ketololan saya, yang selalu ingin menyudahi pertandingan karena takut kalah, yang kerap berfikir menang tidak penting dan tak layak diperjuangkan.

Mendengar Cerita Bapak

Jadi intinya pagi tadi saya pergi ke bengkel tempat Bapak bekerja bersama Abang. Akhirnya beliau punya satu karya yang bisa dibanggakan: sebuah piano merek Indonesia, yang pada saatnya nanti akan sepenuhnya menggunakan bahan lokal. Belum sempurna memang, Tetapi sebuah karya adalah sebuah karya, dengan atau tanpa cela. Dan karya ini adalah satu dari ocehan Bapak yang tidak dianggap serius orang, seperti ketika beliau bilang mau buat sepeda terbang, atau menjelaskan dengan penuh semangat kenapa lebah obes bisa terbang. Dari tukang pelitur sampai piano maker. Perjalanan Bapak tidak pendek, dan pastinya tidak mudah. Apa rahasia keberhasilan beliau? Tidak tahu. Yang jelas, beliau tidak menyerah. Karena itu pagi tadi saya sempat mengutuki tahun-tahun yang lewat tanpa latihan sehingga jemari saya semakin kaku dan komposisi klasik yang dulu tersimpan di kepala hilang. Dan kini saya semakin kesal karena saya tidak juga mau/bisa belajar dari filosofi hidup Bapak.😦

16 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Eh, bagaimana dengan mimpi Anda? Sudah padam?

  2. Mimpi? masih berusaha dipertahankan😎 seperti kata Coelho di Alchemist : Never Abandons your dream, just follow the signs.

    yang jelas… Ayah Gentole keren.🙂😉

  3. @zephyr
    .
    Ya, kalo soal mimpi tidak bisa tidak mesti mengutip Coelho. Saya dulu juga terpengaruh sekali sama si Santiago itu.

  4. Jadi inget sama almarhum ayah gw… T_T

    Nyesel gw baca tulisan ini!

  5. bapak yg gue kenal, yg penasaran sekali dg wind tunnel..🙂

  6. @ary
    .
    Wah sori men.
    .
    @arie
    .
    Oh, ya, wind tunnel. I never get that.😛

  7. tulisan ini sepertinya cukup menjelaskan kenapa orangtua tampak selalu benar.. dan patut dikagumi, (paling tidak sama anaknya..🙂 )

  8. @Gentole
    .
    Hehe gpp kok bro, it’s been a couple years. Ancient history.🙂
    .
    It’s just that this particular post reminds me of the little things my father used to do… y’know? Things I took for granted.
    .
    Dammit, I really miss that guy.

  9. Dari tukang pelitur sampai piano maker.

    Hoo, hebat! Dari lulus SMA bapak saya sudah kerja di agen kargo, sampai sekarang pun masih nguli jadi agen kargo… di perusahaan yang sama.🙂

  10. Sikonnya beda, mungkin, Gen.
    .
    Militansi orang dahulu untuk bertarung demi hidup itu konon sih lebih keras dari hari ini. Subjektif memang, tapi kadang kupikir ada benarnya.
    .
    Tarohlah misal orang tua laki-lakiku sendiri. Dari jualan kacang 5 rupiah, naik ke jualan rokok ketengan, sekarang – ya, bersyukurlah pada Tuhan Si Lebah itu – punya deretan ruko, punya usaha dagang sendiri. Dan, terkadang ada kesombongan generasi mereka, “Kami dulu sekolah berkilo-kilo jalan kaki. Sandal setahun sekali….” de-es-te yang melambangkan keprihatinan dengan buku tulis ala three musketeers: All for one, one for all😆
    .
    Maka…. mimpi-mimpi dulu itu bikin kerja keras setengah mampus untuk dipenuhi. Hari ini? Kau bisa kencing di kota Mekah dalam satu hari, bukan soal uang, tapi soal kemudahan fasilitas yang dulu cuma mimpi (uang tetap saja jadi masalah segala zaman). Kau bisa mempublikasikan prosa brengsekmu ini sesuka hati, tidak seperti dulu, saat dimonopoli Balai Pustaka.
    .
    Sok seniman bohemian? You are tidak sendiri, Gen😆

  11. Wah, bapak hebat, sangat🙂

    Saya suka piano🙂

  12. @kenz
    .
    Yah, mungkin seperti kata Alex, ukurannya berbeda. Atau memang kita cenderung mengagumi orang di masa lalu?
    .
    @Ary
    .
    Hey, bro, do you have a blog? You should have one!
    .
    @jensen
    .
    Tapi dia suka pekerjaannnya, kan? Dan bagaimanapun dia survive. Atau mungkin masbro perlu lebih sering ngobrol sama beliau?
    .
    @alex
    .
    Nah, itu! Aku juga selalu berfikir begitu, Lex. Sikonnya beda. Lagian, ngapain juga kita hidup untuk mengulangi jalan hidup pendahulu? Adakalanya sikap ini positif, adakalanya negatif. Jadi malas belajar. Tapi, yah, bisa dimengerti sih. Ego.
    .
    @atta
    .
    Suka main juga, Mbak? Dan kenapa itu blognya? Diminta banyak orang untuk menulis lagi kok malah hilang.

  13. note yang berkabar tentang bapak yang harus dimengerti oleh anaknya…luar biasa.

    saya selalu senang baca catatat mas…

  14. @metz
    .
    Thanks bung. Anda juga, terus menulis.

  15. @ Gentole
    .

    Tapi dia suka pekerjaannnya, kan?

    Cuma itu yang ada. Well, beliau gak pernah terang2an mengeluh sih. Bisnis ketat sekarang…

    Atau mungkin masbro perlu lebih sering ngobrol sama beliau?

    Selama belum punya kerjaan tetap, saya tiap pagi nguli bantu2 beliau. Plus masih tinggal serumah, walopun gak pake ngobrol, saya taulah apa isi pikiran & hati beliau.:mrgreen:

  16. Rasanya mengingatkan saya saat mendengar lagu Bimbo yang ‘ada anak bertanya pada bapaknya’, mungkin tidak tepat benar. Nice post mas gentole ^^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: