Jangan Pernah Dewasa, Elis!

March 14, 2010 at 4:54 pm | Posted in filsafat, gak jelas, iseng | 31 Comments
Tags: , , ,

Pesta Teh Yang Gila

Take some more tea,’ the March Hare said to Alice, very earnestly.
‘I’ve had nothing yet,’ Alice replied in an offended tone, ‘so I can’t take more.’
‘You mean you can’t take LESS,’ said the Hatter: ‘it’s very easy to take MORE than nothing.’

Alice in Wonderland karangan Bapak Lewis Carrols adalah traktat filsafat par-excellence yang wajib dibaca siapa saja yang berfikir bahwa falsafah belumlah usai, bahwa masih ada pertanyaan yang belum terjawab, dan layak untuk dipikirkan lagi, dan lagi. Elis, meski masih bocah, adalah heroine bagi mereka yang tidak hendak taslim pada kenyataan yang terlalu waras, terlalu masuk akal, terlalu serius, terlalu konformis, terlalu banyak aturan! Oleh sebab itu, terkutuklah Tim Burton dan antek-antek Hollywood yang menghadirkan kembali gadis kecil Elis, hanya untuk menjadikannya  salah satu remaja Amerika yang banyak maunya, egois, penakut dan, ah, sial, sok waras!

Mimpi Elis dan Yang Tidak Ada
Karya bapak Lewis adalah sebuah mahakarya. Rasa sastranya tidak biasa. Muatan filsafatnya juga tidak bisa dianggap enteng. Elis adalah seorang filsuf, sama seperti Sophie dalam Dunia Sophienya Bapak Jostein Gaarder. Anda saya kira mafhum, filsuf itu sejatinya seperti bocah: bebas dari pra-anggapan, bebas dari konvensi sosial, bebas dari opini publik. Karena itu, hanya Elis yang bisa meladeni pertanyaan dan pernyataan ganjil dari binatang, tanaman dan semua makhluk tak waras di Negeri Ajaib. Dan bapak Lewis Carrol, melalui Elis, hendak mengulas persoalan Non-Being atau Yang Tidak Ada.

Kelinci Yang Selalu Terlambat

Kalau dibaca sekilas, Negeri Ajaib ini memang tidak lebih dari permainan bahasa saja. Contoh, selama ini kita tahu kelinci tidak bisa ngomong. Tapi dalam dunianya Elis, kelinci bisa ngomong dan malah berpakaian. Mengapa? Karena ngomong itu sebuah konsep, bukan fitur manusia semata, yang cuma bisa dipahami bila diatribusikan kepada manusia, meskipun pada kenyataannya, kita semua tahu, hanya manusia yang bisa ngomong. Dalam fabel, meja bisa bicara. Kursi. Sperma. Bulan. Apa saja. Sama seperti seringai Kucing Chesire di Negeri Ajaib. Tidak penting apakah kucing itu ada atau tidak ada, seringai yang mengambang di udara itu ada sebagai sebuah gagasan, yakni seringai kucing Chesire. Dulu Plato pernah bilang, bentuk atau ide atau gagasan adalah juga ‘Ada”, meskipun ide itu imaterial dan tidak menempati ruang. Menurut Plato, apa yang ‘Tidak Ada’ juga ‘Ada’, tetapi kata ‘Ada’ ini tidak dipahami sebagai ‘Ada’ material yang terdiri dari kumpulan atom/materi terkecil. Nah, dalam dunia Elis, Yang Tidak Ada menjadi Ada. Prajurit Kartu Remi itu ‘Ada’!

Ini, tentu saja, bukan soal percaya atau tidak percaya. Ini konsekuensi logis dari bahasa yang kita ciptakan. Secara empiris dunia ini bisa jadi punya batas dan fana adanya, tetapi secara linguistik tidak, karena selalu ada ruang di balik batas dunia yang terbayangkan, selalu ada jeda setelah dan sebelum waktu bermula. Dan lalu, kenapa Elis dalam film Burton itu malah menyoal apakah mimpinya nyata atau tidak? Sederhana sekali. Tim Burton dan antek-antek Hollywood tidak bersikap adil terhadap Lewis dalam filem Elis di Negeri Ajaib. Dialognya tidak menggelitik. Tidak lebih dari film biasa saja; seperti Charlie and the Chocolate Factory atau The Golden Compas. Dan, ah, tolong jangan biarkan saya untuk yang kesekian kalinya menghujat masturbasi visual yang dijajakan Hollywood. Sastra tulis selamanya lebih superior dari sastra visual. Meski begitu, yang paling menyebalkan dari film Burton adalah kenyataan bahwa Elis, dalam film itu, tidak lagi inquisitive, tidak lagi mau mematahkan asumsinya, sampai akhir film percaya bahwa dirinya tinggal di dalam mimpi, dan menganggap semua yang dialaminya itu tidak pernah terjadi, hanya mimpi saja. Dan itu, sungguh, merusak segalanya, ya filsafatnya, ya sastranya.

Dulu, waktu saya kecil, saya seperti Elis, suka melamun. Di atas pohon belimbing. Di bawah pohon jambu. Melihat semut yang berbaris. Atau capung yang hinggap di ujung ranting. Yang hijau loreng bagus. Yang kuning emas juga. Kala itu saya tidak percaya dunia itu sebatas SD Bencongan III, Ibu Nia wali kelas saya dan jam duabelas siang yang terik di gerbang SD saya. Ada dunia kecil di pekarangan depan rumah. Di sana, seperti Elis, saya berkelana dalam pikiran saya. Sekarang saya tidak punya pekarangan lagi. Pohon belimbing sudah ditebang. Juga pohon jambu. Di kosan juga hanya ada tetangga sebelah dan lagu Beyonce yang distel berulang-ulang. Oh, Elis, semua orang yang menjadi dewasa dan waras tidak akan pernah bisa menyelami kedalaman hidup, untuk memahami segala kontradiksi yang ada di dalamnya, segala paradoks dan keganjilan yang kerap disembunyikannya.

Jangan pernah dewasa, Elis!

NB:

Pertama, saya harus membayar 200 ribu untuk menulis review ngasal (eh bukan review ding) ini setelah menghabiskan akhir pekan saya di Blitz Megaplex bersama pacar saya. Dan itu SANGAT MAHAL! *duitlagicekak*

Kedua, sumber bacaan Elis dan filsafat.

31 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Saya sebal bayar tiket mahal aja kali ya?

  2. Hihihi…iya Alice-nya jadi fashionista gituh…dan ngebosenin…Kali ini setuju dah…nonton yang murah aja kali ya ;p

  3. ^
    iya sue bener.
    .
    btw ini review bagus: http://theeveningclass.blogspot.com/2010/03/tim-burtons-alice-in-wonderland.html

  4. Wah gw blon nonton film in euy. Antriannya panjang banget, males. 🙂
    .
    The world’s a playground. You know that when you are a kid, but somewhere along the way everyone forgets it.

  5. hummm tapi saya suka Mad Hatter-nya Johnny Deep…
    dan ya, kostumnya Alice juga lucu2… 😀
    Me, as commoner, like Alice very much :mrgreen:

  6. Ah kampret, spoiler ini! 👿
     
    :mrgreen:

    Dulu, waktu saya kecil, saya seperti Elis

    Narsis. :mrgreen:

  7. Sialan! Kau sudah nonton, sudah bisa memaki film tersebut… Mengacaukan draft hujatanku saja… Buyar rasa penasaran menunggu DVD bajakan dikirim.
    Jangan pernah mereview film Alice dewasa sebelum yang lain nonton, kau, jurnalis-filsuf-romantis!! 😈
    .
    .
    .
    *digampar* 😆

  8. @ary: lah antrian alice emang panjang?
    @felicia: yah emang lucu sih elisnya. namanya juga film remaja.
    @lambrtz: BIARIN!
    @alex: hehehe yah abis gimana dipaksa nonton juga. yah sebenarnya hujatan saya masih banyak lagi. tapi ndak saya tulis karena mau sok filsuf highlight sisi filosofisnya saja. dan kayaknya ada yang kurang beres. tapi mau beresin udah muales. :mrgreen:

  9. gue setuju. elis harusnya tidak usah jadi dewasa, yg membuat film ini aneh.. dan boring.. little alice used to be fun.

  10. @ Gentole

    hehehe yah abis gimana dipaksa nonton juga.

    Mawuuu donk dipaksa nonton :mrgreen:
    *halaah*

    yah sebenarnya hujatan saya masih banyak lagi.

    Percaya :mrgreen:
    Aku belum nonton pun sudah punya daftar hujatan dari baca-bacanya. Sepertinya memang dajjal-dajjal perfilman Kayusuci itu merusak semua hikmah-hikmah sastra-filsafati *apapulaini?* dengan menjadikan buku si penulis-tersangka-pedofil itu sebagai korban dan mengedepankan permainan CGI saja 😕
    .
    Untuk remaja dengan bumbu filsafat? Bukan pangsa pasar yang umum untuk perfilman. Atau ditujukan untuk hiburan kanak-kanak? Rasanya juga nggak tepat 😕
    .
    Karena kau sebut, jadi ingat itu Charlie and the Chocolate Factory. Itu contoh film yang gagal mengadaptasi dari buku, menurutku. Buruk sekali filmnya, dengan nyanyian teatrikal makhluk-makhluk cebol Oompa Loompa yang norak itu, dan dialog yang entah kemana-mana mengilustrasikan karakter si Charlie itu. Lebih enak baca bukunya. Apa ndak belajar dari situ Si Tim Burton itu? :mrgreen:
    .
    *halaah… jadi menghujat film lain* 😆

    tapi ndak saya tulis karena mau sok filsuf highlight sisi filosofisnya saja. dan kayaknya ada yang kurang beres. tapi mau beresin udah muales. :mrgreen:

    Orang yang suka filsafat bawaannya memang sok-filsuf. Tak perlu di-strike. Sok-filsuf itu bawaan default penggemar filsafat.
    *dilempar cermin*
    .
    Yaa… tak apalah. Minimal nonton nanti kulihat yang enak-enaknya saja 🙄
    Dan, oh, Mia Wasikowska itu… bibirnya… slurrpp… :ngeces:

  11. Film ini ga bagus.

  12. ^
    ^
    Jyaaah…! Si Geddoe juga sudah nonton? 😦
    Ah payah… kalian ini tak ada tolerannya sikit pun. Tunggulah yang lain nonton dulu. Konspirasi ini, pasti konspirasi! 😈
    .
    .
    [provokasi]Sepertinya enak nunggu pembahasan bukunya sajalah. Gentole boleh Geddoe boleh, kolaborasi GenGed juga boleh. :mrgreen: [/provokasi]

  13. @arie: ya begitulah
    @alex:

    Untuk remaja dengan bumbu filsafat? Bukan pangsa pasar yang umum untuk perfilman. Atau ditujukan untuk hiburan kanak-kanak? Rasanya juga nggak tepat

    Iya emang ekspektasi saya aja yang berlebihan. 😕
    .
    Dan soal Mia. Claire Danes?? Paltrow??
    .
    Geddoe: Iya, kagak bagus.
    alex lagi: Hahahaha kalah sama Geddoe. Btw, Geddoe nonton sama siapa ya di bioskop? Sama pacar? Bukannya dia selibat? *disetrum*

  14. Iya emang ekspektasi saya aja yang berlebihan. 😕

    Susah memang kalau sudah baca bukunya duluan 😕

    Dan soal Mia. Claire Danes?? Paltrow??

    Ahh… kamu ini! Tahu saja bibir-bibir manis itu! 😈
    *lap iler yang berceceran di lantai

    Hahahaha kalah sama Geddoe.

    Dunia memang tidak adil. Sama-sama di Sumatra padahal… entah kalau dia di seberang Malaka sana *maksa* :mrgreen:

    Btw, Geddoe nonton sama siapa ya di bioskop? Sama pacar? Bukannya dia selibat? *disetrum*

    Se…selibat? Sudah jadi rahib dia?! 😯
    *ngakak*

  15. Ini nonton di Malaysia. 😛
    .
    Yang selibat itu joke, tapi boleh juga kalau jadi dianggap rahib. *pakai kerudung druid*

  16. ^
    Is it just me atau emang blog ini tampilan item putih banget; ya postingannya, ya avatarnya. *gakpenting*

  17. Yayaya, selalu ada korelasi antara apa yang dikaji dengan suasana hati -mmm, atau suasana dompet-?
    Hihihi

  18. @atta: Itu betul. Btw, Mbak, nulis lagi dong!

  19. Benar juga, Gen… kesannya jadi hitam-putih gitu :mrgreen:

  20. Hitam putih? Iya ya… 😕 *OOT*

  21. did you know that Lewis Caroll is actually a pseudonym for Charles Lutwidge Dodgson and the name was only reversing order from his first and middle ones, and the story was made for one of his math student named Alice? nggak, nggak hasil nge-wiki. one of the gentlest souls on earth told me such things in the class long, long ago (and i did crosscheck). i was once mesmerized by both books, alice in the wonderland and alice through the looking glass.

    ummm… dari dulu saya taklid buta sama film2nya Burton sejak Beetlejuice, Edward the Scissorhand, Corpse Bride, Sleepy Hollow, dll. saya selalu suka visually ‘dark’ movies, that’s why i love him (and loving Sin City). still, saya penasaran ama pelemnya gara2 review dikaw yg kejam ini. masih kah Burton menggelap?

    JANGAN! JANGAN DIJAWAB! GWA NONTON AJA NDIRI NTAR!

    *mbalikucing*

  22. Ngelirik komen tentang Golden Compass… Ugh memang sayang kandungan atheisme 😀 dan anti-organisasi agama di kisah ini dipangkas. Itupun masih diboikot…His Dark Matter nggak jadi muncul sebagai trilogi deh.

  23. sabar mas.. sabar… 🙂

  24. sehabis membaca kedua kalinya.. (menarik nafas dulu, kopi masih nyisa dua kali teguk) dan..: sabar mas… sabar.. 🙂 (tetap sama, g bisa ngomong yg lain.. 😦 )

  25. […] yang lucu, dan sang Mad Hatter…yang membuat saya speechless. Meskipun film ini juga menuai kritikan dari para purist , perlu diingat bahwa toh sudah ada banyak juga wajah-wajah Alice lain yang pernah dibuat […]

  26. @alex, lambrtz: Iya kan? Tapi sekarang udah gak lagi. 😀
    .
    @thebitch: Ada di bukunya ya kalo enggak salah? Ada apa antara Burton dan Joni dep? *ngewiki*
    .
    @odi: :mrgreen:
    .
    @arken: Tidak apa-apa. Yang berlalu biar berlalu…*halah*

  27. Lewis = diinggriskan dari Ludovicus, versi latin dari nama Lutwidge
    Carroll = diinggriskan dari nama Carolus, versi latin dari nama Charles.

    Lewis itu cirinya memang permainan semantik, pintar mengutak-atik kata, sampai membuat pseudonym demikian. Pakar logika matematika nulis cerita, ya kebawa kerjaannya membolak-balik logika 😆
    .
    Dalam Through the Looking Glass, soal sepele memotong roti jadi menarik. Dalam keseharian, biasanya orang memotong roti dulu, baru membagikan. Namun Alice di dalam dunia cermin, membagikan roti dulu, baru memotong. Ini cerita berkesan membodohi “logika yang maha benar” 😆
    .
    Tapi itu menariknya. Dengan imajinasi “di luar logika” itu, dua karyanya itu justru berisi permainan logika matematika. Dari cerita sampai ke dialog-dialognya.

    “Not the same thing one bit!” said the Hatter. “Why, you might as well say that ‘I see what I eat’ is the same thing as ‘I eat what I see!’”
    “You might just as well say,” added the March Hare, that ‘I like what I get’ is the same thing as ‘I get what I like’!”
    “You might just as well say,” added the Dormouse, which seemed to be talking in his sleep, “that ‘I breathe when I sleep’ is the same thing as ‘I sleep when I breathe’!”

    Sekilas seperti bolak-balik kata untuk mengolok Alice saja. Mengeroyoknya macam di gambar pesta teh itu. 😆
    Tapi, pernyataan-pernyataan di atas itu termasuk jenis inverse relationship, dimana nilai semantik dari sebuah pernyataan X tidak akan sama dengan kebalikan dari pernyataan X itu sendiri. Tetap, diluar logika matematika pun, itu dialog yang cerdas. Macam cara menipu di bab “Wool and Water” dalam Through the Looking Glass ini:

    “I’m sure I’ll take you with pleasure!” the Queen said. “Twopence a week, and jam every other day.”
    Alice couldn’t help laughing, as she said, “I don’t want you to hire ME–and I don’t care for jam.”
    “It’s very good jam,” said the Queen.
    “Well, I don’t want any TO-DAY, at any rate.”
    “You couldn’t have it if you DID want it,” the Queen said. “The rule is, jam to-morrow and jam yesterday–but never jam to-day.’
    “It MUST come sometimes to ‘jam to-day’,”Alice objected.
    “No, it can’t,” said the Queen. “It’s jam every OTHER day: to-day isn’t any OTHER day, you know.”

    😆
    Permainan semantik Si Ratu Putih untuk menipu Alice agar bekerja gratis, tanpa akan pernah mendapat selai yang dijanjikan. Karena berdasar janji itu, berarti: Alice cuma akan mendapatkan selai KEMARIN dan BESOK, tapi HARI INI bukanlah esok dan bukanlah kemarin 😆
    .
    Adanya selipan-selipan kalimat persyaratan “…if and only if…” (bi-implikasi), “if… then…” (negasi), “both… and…” (konjungsi), dan “either… or… (or both)” (disjunksi); itulah yang bikin karya-karya Lewis sepertinya tidak ditujukan sebagai cerita kanak-kanak biasa. Temanmu -ya, yang komen hitam-putih itu- yang katamu bakal jadi master komputer, pastilah mahfum juga :mrgreen:
    *disantet lambrtz*
    .
    Jadi… yaaa.. [sempat] penasaran, apa ada dialog-dialog demikian dalam versi Alice dewasa? Soale itu analisa matematika Alice dalam Alice’s Adventures in the Wonderland dan Through the Looking Glass and What Alice Found There jadi bahasan dulu di MIPA 😕
    .
    *sayangnyasudahrusakminatnontongara2reviewini.terkutuklahparapenulisspoiler!* 👿

  28. ^

    *sayangnyasudahrusakminatnontongara2reviewini.terkutuklahparapenulisspoiler!* 👿

    Sampeyan ini juga nulis spoiler bung. Saya baru mau baca Through The Looking Glass. 👿 *santet Alex©*
     
    *siyulsiyul* :-”
    *kabur ah*

  29. ah, you guys. should’ve read Haroun and the Sea of Stories, written by one hell of an author Salman Rushdie, a year after the phenomenal Satanic Verse. he wrote one damn must-read book for his son and–to me–the children all over the world who, somehow, lost their sense of imagination.

    *aku ngombe opo to mauuu?*

  30. Kemaren sempat bertanya di twitter “why the novel Alice in the Wonderland’s so famous?” dan belum menemukan jawaban memuaskan..

    kalau dari sisi lingustik, kalau tidak salah, istrinya Amed skripsinya soal linguistiknya Lewiss Carroll ini…

  31. mantaaaaappppppp mas…..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: