Politik Cinta dan Nasionalisme Gombal

February 21, 2010 at 3:15 am | Posted in iseng, katarsis, ngoceh, refleksi | 15 Comments
Tags: , , , ,

Konon orang bertanya-tanya mengapa Albert Camus yang berkewarganegaraan Perancis bisu ketika tentara Perancis menggempur tanah kelahirannya Aljazair. Dalam sebuah wawancara Kang Camus berkata: “I love justice, but I will defend my mother before justice.

Pendahuluan

Salad budaya bukan eksklusif fenomena Internet.

Coba lihat sejarah. Peradaban besar hanya bisa dikembangkan oleh warga kosmopolit; yakni mereka yang kenan menerima berbagai corak kebudayaan. Islam, misalnya, tidak akan punya pengaruh besar di dunia seandainya agama ini tidak mengakomodir peradaban Persia dan Romawi (ya filsafatnya, ya arsitekturnya). Yang saya sebut terakhir juga tidak akan pernah disebut dalam buku sejarah dunia sebilanya peradaban Yunani dan Babilonia tidak pernah ada. Peradaban Nusantara juga tidak beda. Coba lihat keraton Solo dan Yogya, dan juga kesultanan dan kerajaan lainnya di Nusantara, apa mereka kedap pegaruh budaya asing (India, Cina, Islam dan Eropa)? Ada budaya lokal yang asli dan otentik memang, tetapi pengaruh mereka secara politik biasanya tidak seberapa (bandingkan, misalnya, dengan sinkretisme Jawa dan hegemoninya).

Karena itu, perdebatan mengenai nasionalisme sejak mula selalu berkutat pada pertanyaan: apakah gagasan mengenai “kebangsaan” itu melampaui kebudayaan, melampaui ras, melampaui agama? Begini. Hampir semua bapak bangsa kita adalah produk hibrida pemikiran Timur dan Barat; coba lihat Boedi Oetomo, Ahmad Dahlan, Sjahrir, Cokroaminoto, Tan Malaka, dan (sebut tokoh idola Anda di sini). Mereka tidak akan pernah berpikir tentang Indonesia dan bahkan konsep “bangsa” bila saja mereka tidak pernah dididik secara Barat dan membaca literatur yang ditulis dalam bahasa Belanda dan Inggris. Saya membayangkan, bila saja Nusantara tidak pernah diperah imperialis Eropa, kita semua bakalan tinggal di bawah monarki-monarki kecil, tanpa Indonesia Raya, tanpa Bahasa Indonesia, tanpa Sang Saka Merah Putih! Dus, nasionalisme yang kita ‘anut’ adalah naisonalisme yang terpaut, tetapi tidak terikat, pada budaya (tidak seperti Malaysia). Keragaman budaya, pendeknya, hanya elemen saja dari gagasan kebangsaan yang luas dan melingkupi.

Salad ideologi?

Bagaimana dengan ideologi secara umum? Apakah idoelogi penting? Gagasan NASAKOM yang diusung Bung Karno dan kenyataan bahwa Partai Komunis (PKI) dan Partai Islam (Masyumi) kenan bertarung pada Pemilu 1955 merefleksikan sebuah kenyataan, bahwa Indonesia sebagai bangsa itu melampaui ideologi. Jadi, apakah bahan dasar nasionalisme Indonesia itu?

Nasionalisme Gombal

Pertama. Yang perlu digarisbawahi di sini adalah fakta bahwa yang melahirkan Indonesia itu kolonialisme. Tanpa kolonialisme, tidak akan ada sejarah Indonesia; tidak akan ada sejarah perjuangan; tidak akan ada film perang yang sengaja dibuat Deddy Mizwar dengan sebegitu emosionalnya untuk “membangkitkan rasa nasionalisme yang kian pudar”. Nasionalisme, pembaca yang budiman, adalah anak kandung kolonialisme. Begitu kenyataannya. Kolonialisme melahirkan sebuah gagasan yang secara inheren bertentangan dengan dirinya sendiri, dan kemudian menjadi satu-satunya kekuatan yang mampu mengakhirinya. Lalu, apakah nasionalisme hanya bisa dilihat sebagai anti-tesa dari kolonialisme saja? Well, pada awalnya nasionalisme memang mesti dilihat sebagai fenomena politik yang pragmatis: resistensi orang tertindas atas penindasan si penindas. Tetapi gagasan nasionalisme tidak berhenti pada level itu saja. Setelah kolonialisme tidak ada, nasionalisme berubah menjadi rada menye; dalam mana kita mengenal frase gombal “Cinta Tanah Air”, yang menurut saya merupakan perwujudan nasionalisme yang sesungguhnya. Ah, kalau sudah cinta, susah. Irasional. Tidak bisa dijelaskan. Kenapa cinta? Siapa yang dicintai? Apalagi kalau sudah sampai pada tahap “cinta-meskipun”. Itu dijamin repot. Di sini kita mendengar: Kalau kamu rela mati demi negara, kamu nasionalis. Kalau kamu bilang negara selalu benar, kamu nasionalis. Lihat saja Camus yang lebih berpihak pada “Ibu” (tanah air) ketimbang “keadilan” (kemerdekaan Aljazair). Beberapa orang menyebutnya fanatisme atau chauvinisme, tetapi sebenarnya itulah wajah nasionalisme yang sesungguhnya. Keberpihakan pada negara, seberapa pun jujur, polos dan rasionalnya, adalah ekspresi yang chauvinistik!

Sudah punya NPWP?

Tetapi kita tidak bisa tidak curiga, kawan. Tidak semua orang sungguh-sungguh waktu bilang “cinta” kepada kekasih mereka, apalagi untuk negaranya. Karena itu, gejala nasionalisme masa kini adalah “nasionalisme gombal”. Kalau sudah gombal, ya, susah. Lah, wong yang digombali biasanya suka; sekalipun mereka sadar betul bahwa semua kata manis itu bohong alias gombal. Itu sebabnya kita bisa mendengar kata-kata manis tentang nasionalisme dari blog mereka yang hidupnya kebarat-baratan, tinggal di luar negeri, tidak pernah bayar pajak dan malas ikut pemilu. Kalau nasionalisme dipahami sebagai “cinta tanah air”, apakah itu artinya mereka yang tidak nasionalis, tidak mencintai bangsanya? Jawabannya: Ya.

Negara Bumi

Seperti sering dikutip anak ABG, lawan dari cinta bukan benci, tetapi indifference. Dan menurut saya dewasa ini semakin banyak anak muda yang indifferent terhadap gagasan “kebangsaan” yang pernah dilontarkan generasi salad abad ke-20. Internet, dengan segala keajaibannya, membuat generasi Web 2.0 ilfil terhadap gagasan “bangsa” atau “cinta tanah air”. Persoalan kebangsaan pastilah menjadi kecil, ketika setiap hari kita terekspos pada persoalan mondial yang jauh lebih penting: dari flu burung, perubahan iklim, krisis finansial dan terorisme hingga soal Brangelina. Dari sini humanisme universal menurut saya menjadi sangat relevan bagi anak-anak muda. Bagaimana pun Brad Pitt juga manusia, bukan? But, tentu saja, fuck Brad Pitt. Yang jelas, persoalan kebangsaan menjadi kecil ketika manusia merasa lebih bertanggungjawab atas dunia. Pertanyannya, apakah humanisme universal bakalan melahirkan Negara Bumi? Kalau Uni Eropa setelah Traktat Lisbon disahkan diprediksi bakal menjadi sebuah kekuatan politik yang manunggal di pentas dunia, sepertinya bukan tidak mungkin bila Negara Bumi suatu saat bakal dibentuk juga. Tetapi ini tentu saja bukan soal yang mudah. Karena? Karena politik, tentu saja. Lihat Geddoe dan Sora9n dan internaisonalisme mereka. Dan kemudian coba kita bandingkan dengan afinitas Alex terhadap Aceh dan kebenciannya pada “imperialisme” Jawa. Geddoe dan Sora9n sepertinya tidak terlalu mencintai daerahnya, karena itu mereka menjadi a-politis. Sementara Alex, seperti kita lihat dalam blognya, mempunyai kepedulian yang luar biasa terhadap Aceh sehingga postingan beliau menjadi sangat politis ketika berbicara tentang Jawa dan Indonesia. Pertanyannya, apakah Alex kurang “mengglobal”? Tentu tidak. Wong Alex doyan sajak-sajak lintas negara juga dari Chairil Anwar sampai Pabrol Neruda! Lantas, mengapa Alex seperti lebih concerned terhadap Aceh ketimbang humanisme universal yang sepertinya lebih disukai Geddoe, Sora9n dan Lambrtz?

Politik Cinta

It's all about love!

Saya tidak tahu mengapa saya bisa sampai kesimpulan ini. Tetapi bukakankah alasan megapa Papua dan Aceh hendak merdeka itu disebabkan persoalan kesukuan yang bisa diterjemahkan sebagai politik yang didasari pada kecintaan pada suku dan tanah air mereka yang direbut Jawa? Oh, bukankah sejarah perlawanan terhadap kolonialisme adalah sejarah cinta – tanahku, bangsaku, semuanya? Menurut saya politik cinta ini yang bakal menggusur terbentuknya Negara Bumi, yang pernah diperjuangkan Islam dan Komunisme, namun gagal total. Mengapa? Karena sekalipun nilai-nilai Islam, Komunisme  dan Humanisme itu universal, umat manusia tidak bisa bersepakat ketika sudah menyangkut kekuasaan dan penguasaan terhadap sumber daya. Khilafah internasional bisa menjadi kolonialisme baru bila khalifah yang ditunjuk itu selalu dari negara-negara Arab, bukan? Ah, politik. Susah. Demikian halnya dengan Negara Bumi, apakah distribusi kekuasaan dan kesejahteraan bisa dilakukan secara merata: bagaimana bila ada wilayah yang merasa diperah dan dianaktirikan? Bukankah itu bakal malah melahirkan ego kelompok yang mementahkan kecintaan pada kemanusiaan yang universal? Kawan saya dari Malaysia pernah bilang, “why should I care only about Malaysia? I care about all the people who suffer in the world.” Sementara kawan saya dari Filipina bilang, “why should I care about the world if my neighbors are suffering?

Entahlah. Saya tidak tahu apa yang terjadi esok. Sampai saat ini saya lihat masih banyak orang yang masih mencintai tanah air mereka. Dan itu bagus (eh, tapi entahlah). Sementara itu, saya pikir orang-orang tua itu tidak perlu lah mencari-cari alasan agar anak muda mencintai tanah air mereka. Tidak perlu lagi mencari kesamaaan budaya dan ideologi yang mendefinisikan Indonesia, karena inti nasionalisme itu bukan itu, tetapi judul lagunya The Beegees: How Deep Is Your Love?

Sekian.

Advertisements

15 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Waduh panjang, up to the point where I can’t find out what the main idea that you try to convey is. 😀
     
    Saya komentar dikit aja ya.

    “why should I care about the world if my neighbors are suffering?”

    As a self-proclaimed internationalist and cosmopolitan, I concur this. Of the whole suffering in the world, you can only practically care about a small subset. This, probably in most cases, can be reflected through nationalism, since most people in the world live in their own countries, CMIIW. However, what if the person 1) live abroad, or 2) is emotionally tied to a certain place or community in another country?
     
    Mother Teresa. Orang Ottoman, tapi kok berani-beraninya nolong orang di India yang bukan sapa-sapanya, padahal di daerahnya sendiri tentu banyak orang menderita. Pengkhianat tuh. But why should we care? 😀
     
    Jadi IMO ya ini case-by-case dan subjektif sih, depending on the background of the person. 😕
    You can choose to help your countrymen and thus adopt nationalism, or you can choose to care about the people from different side of the world and be called traitor internationalist. It doesn’t matter anyway, since actually it is the care itself that is most important. 😀
     
    *ngalor ngidul ga jelas*
     
    BTW kerjaan kantor dah berkurang ya, kok bisa posting panjang. :mrgreen:

  2. Eee…ada yang kurang.

    However, what if the person 1) live abroad, or 2) is emotionally tied to a certain place or community in another country?

    Because in these cases, your neighbours don’t come from your country!

  3. Ah, serius baca ini saya jadi tambah bingung. Kalau nasionalisme merupakan bentuk seberapa cintanya kita terhadap negara kita, memang betul kalau saya dulu bilang cinta saya timbul tenggelam, sering hilang, tapi tidak bisa dipungkiri masih ada jauh di dalam hati saya.
    Pertanyaan saya, rasa cinta ini, haruskah selalu diwujudkan atau direfleksikan dengan kegiatan tertentu? (bisa berupa penyampaian ide-ide maupun tindakan real jelas). Atau perasaan cinta ini bisa di simpan diam-diam saja? Adakah batas dari usaha mewujudkan rasa cinta itu supaya tidak berlebih sebab katanya segala sesuatu yang berlebih itu tidak baik?

  4. You really like to tackle issues with passion, right… 😆
     
    Sebenarnya saya pribadi lebih suka diskusi yang playful dan bumbu smiley, alih-alih rada formal macam ini. But if you so insist… okelah. Respon di bawah ini — sebelumnya mohon maaf kalau kepanjangan. 😉

    Pendahuluan

    Salad budaya bukan eksklusif fenomena Internet.

    Coba lihat sejarah….

    Tentu, bukan eksklusif internet. Tapi harus diingat bahwa internet adalah yang paling besar/menyeluruh pengaruhnya sejauh ini. Dengan internet, semua produk budaya dari berbagai negeri (dan zaman) bisa sampai ke semua orang.
     
    Kalau semua orang mau belajar, mereka bisa punya musik, buku, ebook, fotografi arsitektur dsb.-nya dari seluruh dunia. Sebagai contoh: bukan tak mungkin arsitek kondang kita di zaman sekarang dapat inspirasi dari TrekEarth.com, flickr, dan kawan-kawannya. 😉

    Tetapi gagasan nasionalisme tidak berhenti pada level itu saja. Setelah kolonialisme tidak ada, nasionalisme berubah menjadi rada menye; dalam mana kita mengenal frase gombal “Cinta Tanah Air”, yang menurut saya merupakan perwujudan nasionalisme yang sesungguhnya.

    Anu… saya rasa perlu dicatat bahwa frase “nasionalisme yang sesungguhnya” itu mirip “no true scotsman”. Sudah kita bahas tempo hari. Definisinya pasti jadi arbitrary, sebab koridornya sendiri rada kurang jelas.
     
    Bukan berarti konsep seperti “true X” itu tidak ada, sih. Bisa saja ada, tapi bagaimana mencapainya? Konsensus? Harus ada definisi resmi dulu yang semua orang sepakat. Nah ini yang saya pikir lacking dari konsep-konsep filsafati seperti nasionalisme dsb.-nya. 😮
     

    Setelah kolonialisme tidak ada, nasionalisme berubah menjadi rada menye; dalam mana kita mengenal frase gombal “Cinta Tanah Air”, yang menurut saya merupakan perwujudan nasionalisme yang sesungguhnya. Ah, kalau sudah cinta, susah. Irasional. Tidak bisa dijelaskan.

    So… you’re saying this is irrational matter to begin with? Dengan kata lain, perkara yang tidak bisa dijelaskan secara logis? 😕
     
    Wah, ya, mohon maaf, tapi… kalau begitu buat apa didiskusikan? 😐 Kalau suatu masalah udah nggak logis, pasti larinya ke definisi subyektif. Dan yang seperti itu bakal sulit dicari titik temunya.
     
    Methinks diskusi pengertiannya adalah tukar pikiran, saling mencerna dengan akal. But you propose that our topic is illogical to begin with. IMHO, kalau begini mah sama saja dengan debat kusir tentang Tuhan/agama/dsb.-nya. (-_-)

    Menurut saya politik cinta ini yang bakal menggusur terbentuknya Negara Bumi, yang pernah diperjuangkan Islam dan Komunisme, namun gagal total. Mengapa? Karena sekalipun nilai-nilai Islam, Komunisme dan Humanisme itu universal, umat manusia tidak bisa bersepakat ketika sudah menyangkut kekuasaan dan penguasaan terhadap sumber daya.

     
    Cinta atau tamak? Ah, ya, tapi cinta itu memang catch-all word sih. Semua “rasa suka” yang kita tidak mengerti, sebut saja sebagai “cinta”. Ya? :mrgreen: But I digress.
     
    Soal kehendak akan modal/sumber daya, kita sama-sama tahu lah. Ini problem klasik. Manusia tak bisa hidup tanpa tanah, air, hasil bumi buat didagangkan, dsb. Masalahnya: what gives them right? Apa yang membuat orang Arab, misalnya, jadi berhak atas cadangan minyak di bawah bumi? Karena lahir dan tinggal di atas tanah itu, atau bagaimana?
     
    Lah, tanah itu sendiri batasnya tidak konstan. Sungai bisa kering, patahan bisa ambles. Sekian juta tahun lagi muka bumi beda dengan sekarang. Jadi ini pertanyaan saya: what gives them right of property?
     
    Sejujurnya, saya bukan minarchist, apalagi anarchist. Tapi saya pikir pernyataan “property is theft” ada benarnya di sini.
     
    Saya justru lebih setuju kalau dibilang bahwa Bumi (dan seisinya) adalah gift for all its citizens. Manusia sebagai spesies paling maju punya kewajiban moral untuk mengolahnya secara holistik — bukannya main petak-petakan seperti sekarang ini.

    Demikian halnya dengan Negara Bumi, apakah distribusi kekuasaan dan kesejahteraan bisa dilakukan secara merata: bagaimana bila ada wilayah yang merasa diperah dan dianaktirikan? Bukankah itu bakal malah melahirkan ego kelompok yang mementahkan kecintaan pada kemanusiaan yang universal?

    Ini poin yang valid. Makanya, seperti yang saya jelaskan di tempat saya, saya tidak sepenuhnya kontra-nasionalisme. Kita masih butuh “administrator” untuk mengatur dan melindungi hak masyarakat regional. Enggak realistis mengharapkan sentralisasi tanpa korup.
     
    Tapiii… ada tapinya. :mrgreen: Negara di sini tak usah punya kekuatan besar amat, apalagi dibumbui nationalism fervor. Meminjam Geddoe: tak perlulah bea cukai, administrasi, dan peradilan diberangus. Negara itu penting untuk administrasi dan konsolidasi, tapi ya cuma segitu saja. 😉

    Tidak perlu lagi mencari kesamaaan budaya dan ideologi yang mendefinisikan Indonesia, karena inti nasionalisme itu bukan itu, tetapi judul lagunya The Beegees: How Deep Is Your Love?

    Saya kok memandangnya rada berbeda. Saya justru merasa bahwa nasionalisme sejati* itu sebaiknya yang berdasar pada ideologi. Kesamaan pendapat dan cita-cita — bukan sekadar “cinta” yang ga jelas definisinya. 😕
     
    Amerika bisa besar karena mereka berpegang pada nilai-nilai ideologis: demokrasi, free speech, dan so-called “American Dreams”. USSR juga (dulu) besar karena para vasalnya percaya pada utopia komunisme. Terkait uraian masbro, problemnya adalah kalau kita sedikit-sedikit menisbahkan pada jargon kabur nan arbitrer.
     
    Perempuan susah dimengerti, dibilang “itu karena cinta!”. Masyarakat ingin punya properti, dibilang “cinta”. Sedikit-sedikit “cinta”… kata ini begitu sering dipakai sampai2 maknanya kabur. 😐
     
    Sama saja kalau kata “cinta” diganti dengan “wakalixes”. Kenapa orang berbuat begini-begitu? Well, that’s because of “wakalixes” ! :mrgreen:
     
     
     
    ——
    Note:
     
    *) “Sejati” di sini dalam pengertian arbitrer, tentu. Sebab belum ada definisi jelas soal itu. 😉
     
    **) Kata ‘wakalixes’ courtesy of Richard Feynman. Saya cuma numpang pakai saja. 😛

  5. fuck Brad Pitt

    Say I: fuck Jolie :mrgeen:
    .
    Baiklah. Mari berbincang tentang nasionalisme.
    .
    Sederhana saja, nasionalisme, akan halnya tuhan, atau agama, atau cinta, konon katanya mirip garam. Adollable. Bisa dipakai untuk masakan apa saja. (diambil dari tweet seorang teman)

  6. aduh, itu semaili-nya salah :mrgreen: , silahkan diedit kalau rajin…

  7. fuck Brad Pitt!!!
     

    Tanpa kolonialisme, tidak akan ada sejarah Indonesia; tidak akan ada sejarah perjuangan

    Ya.. ya.. saya ingat pernah mengatakan hal serupa kepada adik2 tingkat yang diskusi soal situasi politik Papua: “Tanpa Indonesia (dan Belanda), tidak ada Papua, dan perjuangannya tuk menjadi “Papua”; Tanpa Indonesia, yang ada disini hanyalah Sentani, Biak, Serui, Sorong, Wamena, Asmat, dsb… Oramg gunung dan orang pantai… semua hidup sendiri2″ 😆
     
    Ngomong2 soal negara bumi, jumlah negara di dunia ini masih terus bertambah dengan teratur loh. Identitas yang dilindungi oleh batas imajiner pada peta itu ternyata penting. 😉

  8. @ lambrtz
     

    However, what if the person […] 2) is emotionally tied to a certain place or community in another country?

    Saya rasanya kok gak terlalu aneh kalo ada orang yang ikut memihak pada konflik2 politik (dan masalah2 lain) diluar negaranya sendiri. Orang kita banyak yang pernah jadi pejuang Mujahidin di Afganistan, dan kamu sendiri pendukung Irish Republican Army kan? 😕
    CMIIW

    or you can choose to care about the people from different side of the world and be called traitor internationalist.

    I prefer to be called zionist. 😆

  9. If only we can choose our nationality…
    Dulu kakek saya bermigrasi jauh-jauh dari negeri tirai bambu sana kemari. Memilih untuk menetap dan menjadi penduduk di sini. Semua keturunannya sekarang disebut WNI tanpa embel2 traitor.
    Kenapa kalau seandainya sekarang saya mau hijrah ke suatu negara (entah ke mana, belum terpikirkan) harus disebut traitor? *lirik komen lambrtz*
    In the end,

    Siapakah sesama kita manusia saudara sebangsa?
    Siapakah di antara ketiga orang ini seluruh bangsa di dunia ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia saudara sebangsa?

    :mrgreen:

  10. @all
    .
    Maaf banget belum bisa balas. Ada banyak yang perlu dikatakan dan dijelaskan tetapi tons of things came up.

  11. Seorang agen separatis™ dari Papua bilang soal postingan ini. Patutlah telingaku mendenging-denging beberapa hari ini…. ah, ternyata ada pergunjingan online postingan ini. Mesti disiram bensin sedikit biar tak padam. Apa daya… akses internet broadband di Aceh ini tak sama seperti *batuk2* di luar sana…
    *curcol*

    So here kita go! 😎

    Konon orang bertanya-tanya mengapa Albert Camus yang berkewarganegaraan Perancis bisu ketika tentara Perancis menggempur tanah kelahirannya Aljazair. Dalam sebuah wawancara Kang Camus berkata: “I love justice, but I will defend my mother before justice.

    Terberkatilah Albert Camus. Amen to that, Camus.
    .
    Pertanyaan yang sama: kenapa ada orang Aceh begitu chaunivis, sinis, sarkastis dan berkesan separatis saat bicara soal NKRI-Aceh? Kenapa bicara soal “Hati Yang Terluka” dengan segala operasi DOM episode I dan episode II (plus aneka spin-off berjudul Opslihkam, Sadar Rencong 1 dan Sadar Rencong 2), Gas Arun, KKA, hutan, jalan, infrastruktur, BRR-nya Koentoro Mangkoesoebroetoe, sampai soal sepele seperti batik di saat Aceh sudah (kelihatan) damai?
    .
    Sesimpel jawaban Camus itu: Cinta perdamaian, tapi lebih cinta kemerdekaan. Kemerdekaan untuk menikmati kesetaraan dengan pulau Jawa dan terutama Jakarta. Kesetaraan untuk porsi merata dari eksplorasi LNG Arun, Pupuk Iskandar Muda, Semen Andalas di Lhoknga, dll-dst-dsb. Termasuk kemerdekaan untuk mencicipi kesempatan yang sama agar jembatan semulus Jembatan Suramadu antara Jawa-Madura juga bisa membentang antara Aceh dan Pulau Sabang. Setidaknya, kemerdekaan untuk tidak (akan pernah) lagi memiliki KTP Merah Putih sebesar paspor. (Aku menyimpannya sebagai tanda mata pernah jadi WNI kelas 2 di Republik ini).
    .
    Cinta Indonesia? Ya. Setidaknya aku cinta lagu jadul yang satu ini. Tapi jika berkaitan dengan tanah kelahiran, kampung halaman, tempat dimana rumah, keluarga, harta benda dan kuburan leluhur berada: bukan hal yang aneh jika seseorang bisa menghalau benda abstrak bernama negara dari daftar 10 Things I Love The Most di benaknya.
    .

    Salad budaya bukan eksklusif fenomena Internet.

    Salad budaya…. istilah apalagi itu? 😕
    Kalau soal SALAD, tentu saja bukan. Budaya Salad juga fenomena dapur. No kidding. Masakan di dapur dengan pakai salad juga memiliki pengaruh dari berbagai interaksi budaya. Mungkin budaya memasukkan salad dalam satu jenis sop buatan suku Aneuk Jamee di sini adalah pengaruh dari budaya salad dari suku Minang yang merupakan suku asal mereka. Internet terlalu sombong jika mengklaim “dirinya” seeksklusif itu 😛

    Coba lihat sejarah. Peradaban besar hanya bisa dikembangkan oleh warga kosmopolit; yakni mereka yang kenan menerima berbagai corak kebudayaan.

    Setuju.

    Islam, misalnya, tidak akan punya pengaruh besar di dunia seandainya agama ini tidak mengakomodir peradaban Persia dan Romawi (ya filsafatnya, ya arsitekturnya). Yang saya sebut terakhir juga tidak akan pernah disebut dalam buku sejarah dunia sebilanya peradaban Yunani dan Babilonia tidak pernah ada. Peradaban Nusantara juga tidak beda. Coba lihat keraton Solo dan Yogya, dan juga kesultanan dan kerajaan lainnya di Nusantara, apa mereka kedap pegaruh budaya asing (India, Cina, Islam dan Eropa)? Ada budaya lokal yang asli dan otentik memang, tetapi pengaruh mereka secara politik biasanya tidak seberapa (bandingkan, misalnya, dengan sinkretisme Jawa dan hegemoninya).

    Lagi-lagi setuju.
    Tapi ada catatan untuk ini, Gen. Ada perbedaan antara mengakomodir dan di-akomodir-kan. Yang pertama kerelaan, yang kedua pemaksaan. Islam dengan Persia dan Romawi, MNRTK, mengakomodir peradaban Persia dan Romawi. 1). Dengan kesetaraan sebagai sesama pihak berkuasa. 2). Karena mereka berkuasa, seperti saat sudah menguasai Persia dan Andalusia.
    .
    Dalam hal peradaban Nusantara, kau benar. Hegemoni menentukan. Dan aku mencium kata “hegemoni” itu bukan sebagai kata “akomodir”, tapi pemaksaan. Batik-isasi secara nasional, adalah pemaksaan pada budaya-budaya non-Jawa dengan alasan budaya nasional. Ya, tentu hal ini terjadi dimana saja, bahkan di Aceh sekalipun ketika suku Aceh yang dominan mengklaim bahasa Aceh sebagai “BAHASA ACEH” meski faktanya ada bahasa Gayo, Aneuk Jamee, Kluet, Singkil, Devayan dan Tamiang di sini. Tapi ini tak menutupi fakta bahwa sejarah peradaban nusantara adalah hegemoni budaya lingkaran pusat versus di luar lingkaran pusat kekuasan. (i,e, Definisi etika, sopan-santun, kehalusan bertutur menurut SBY dalam budaya berbangsa-bernegara bla-bla-bla akan membuat cara berbahasa kami di Sumbagut (Aceh – Medan) terlihat barbar jika diukur dari tata-krama Jawa).
    .

    Saya membayangkan, bila saja Nusantara tidak pernah diperah imperialis Eropa, kita semua bakalan tinggal di bawah monarki-monarki kecil, tanpa Indonesia Raya, tanpa Bahasa Indonesia, tanpa Sang Saka Merah Putih!

    😆
    Semoga kolegaku yang cukup nasionalis sabar membaca ucapanmu itu. Ada yang bahkan nyaris percaya bahwa Bahasa Indonesia sudah ada jauh sebelum Sumpah Pemuda 1928. Bukan, bukan bahasa Melayu Kuna, tapi – demi Tuhan – bahasa Indonesia! Dan aku percaya itu seperti aku percaya Pitheco Sangiran dulu juga punya mobil ala Flintstones 🙄
    .

    Bagaimana dengan ideologi secara umum? Apakah idoelogi penting?

    Relatif. Negara – dan corak birokrasi apapun, dibangun dengan konsensus yang melibatkan ideologi yang disepakati. Apakah ideologi itu akan berganti atau ditinggalkan, itu lain perkara. Indonesia, dibangun dari ideologi, yang corak awalnya – jika ditelusuri gagasan-gagasan the so-called Founding Fathers itu – adalah nasionalisme+sosialisme. Konklusi ideologi A+ideologi B pra-kemerdekaan itulah menjadi ideologi comot-comot yang wujudnya PRAGMATISME. Pragmatis, karena dengan mengusung ideologi sosialisme dan nasionalisme adalah alat yang cocok untuk melawan kolonialisme Belanda dan fasisme Jepang. Soekarno lalu menggantinya dengan Marhaenisme rakitannya sendiri, dan merefleksikan itu dalam slogan Nefo-Oldefo. Bukan begitu? :mrgreen:

    Gagasan NASAKOM yang diusung Bung Karno dan kenyataan bahwa Partai Komunis (PKI) dan Partai Islam (Masyumi) kenan bertarung pada Pemilu 1955 merefleksikan sebuah kenyataan, bahwa Indonesia sebagai bangsa itu melampaui ideologi.

    Kritik:
    .
    1. Itu lebih kepentingan politik Soekarno. Stabilitas politik jika dalam komunikasi politik dewasa ini. NU dan Masyumi sebagai kekuatan Islam, terlalu besar untuk dipinggirkan. PKI sedang menanjak kekuatannya, salah satunya karena Komintern konon memberi perhatian perkembangan Komunisme di Asia Tenggara. Dan itu bisa mem-backup Soekarno jika ambisinya untuk berhadapan dengan apa yang dicapnya Nekolim jadi kenyataan.
    .
    2. Indonesia bukan bangsa, Gen. Ada yang tertarik melaporkan ini sebagai opini subversif?
    Ya, ini memang bisa diperdebatkan, soal definisi bangsa. Tapi… sampai saat ini aku beranggapan Indonesia bukan bangsa.
    Rusia adalah bangsa, Uni Sovyet (dulu) adalah negara. Tionghoa adalah bangsa, RRC adalah negara. Yahudi adalah bangsa, Israel adalah negara (setidaknya kata PBB). Arab adalah bangsa, Saudi Arabia adalah negara. Indonesia? Yang mana bangsa yang mana negara? Apa definisi bangsa dan apa definisi negara? Mana batasannya? Di bagian mana sejarah dunia ini kau pernah mendengar Indonesia disebut sebagai bangsa sebelum tahun 1945 atau 1928? Ada fase untuk sebuah entitas, sekelompok suku-suku berevolusi menjadi sebuah bangsa, tapi jelas bukan dalam hitungan puluhan tahun, KJAS. Usia negara ini sendiri belum sampai 100 tahun, dan jauh sebelum 1945, setidaknya sebelum Boedi Oetemo lahir, tak ada yang menyebut sebuah bangsa bernama Indonesia. Yang ada Hindia Belanda dengan bangsa Aceh, bangsa Jawa, bangsa Melayu, dan bangsa Melanesia(?) di Papua. Where’s our Indonesia? Literatur sejarahku mungkin tak sepadan dengan Kung Fu Boy dan Samurai-X, tapi sependek nalarku, demikianlah yang kutahu. Seriously, Kisanak. No bercanda 😐
    .
    Apakah sebuah bangsa tidak bisa dibangun, dibikin? Bisa saja. Bangsa ecek-ecek. Amerika Serikat adalah contohnya: Campuran dari beragam suku bangsa dan lalu menyebut diri mereka bangsa. Tapi itu tidak menghilangkan adanya identitas dominan anglo-saxon dalam negara mereka. Dan itulah yang sekarang ini kita punya. Di sini, di negara ini. Apa identitas Indonesia sebagai sebuah bangsa? Pancasila? Peleburan kebudayaan? Itu sinkretisme namanya. Dan apa hasilnya? Aku belum ketemu. Atau mungkin kemajemukan? Hehehe.. itu namanya negara, bukan bangsa, dengan dua identitas dominan: Melayu dan Jawa (oh malangnya minoritas macam Papua dan Sangihe-Talaud).
    Atau… *seperti “kecemasanku” pada nasionalisasi batik yang diwajibkan di Senayan itu* identitas bangsa Indonesia itu adalah nasionalisasi budaya dengan tolok ukur dari satu budaya? Itu… aku tak menemukan analogi yang lebih cerdas dengan IQ pas-pasanku ini selain dari bayangan Kumpeni datang kemari dan mewajibkan pribumi pakai jas, pakai sepatu kayu, lalu berdansa-dansi dengan noni-noni dan melebur jadi satu: Hindia Belanda. Oh yes: itu penjajahan namanya, dengan satu identitas “ditenggelamkan” dan identitas lain dilestarikan.
    .

    Jadi, apakah bahan dasar nasionalisme Indonesia itu?

    Simbiosis mutualisme.
    Negara adalah organisasi seperti korporasi. You pay for what you get. Maka saat daerah-daerah yang bercecer memutuskan untuk bergabung dalam RI (yes, RI, tanpa NK, sebab tak ada NK dalam proklamasi dan UUD 1945), alasannya rasional seperti alasan kita bekerja untuk periuk nasi di zaman ini. Mengakui pemerintahan di pusat, mengeksplorasi SDA dan mengirimnya jadi upeti ke Jakarta dengan harapan timbal-balik agar warga/daerah di nusantara mendapat kompensasi berupa apa-apa yang dijanjikan dalam pembukaan UUD 1945. Tentu perasaan senasib-sepenanggungan juga berperan-serta saat itu, Gen. Mengagitasi perasaan senasib-sederita itu adalah trik yang sama dimanapun dan kapanpun, termasuk saat GAM di Aceh menjanjikan kemerdekaan dari apa yang disebut Kolonial Indonesia-Jawa tinggal sebatang rokok lagi. Agitasi yang sama kupakai untuk postingan federasiku bagi mereka yang di Borneo, Celebes dan Papua. Dan itulah, agitasi untuk kemerdekaan Republik Indonesia sebagai sebuah negara itu lah yang kemudian mewujud dalam apa yang kau sebut NASIONALISME GOMBAL 😀

    Nasionalisme, pembaca yang budiman, adalah anak kandung kolonialisme.

    Amiiinn…
    Dan chauvinisme saat ini adalah anak kandung dari nasionalisme itu sendiri 😆

    Keberpihakan pada negara, seberapa pun jujur, polos dan rasionalnya, adalah ekspresi yang chauvinistik!

    Lagi: Setuju 😀

    Itu sebabnya kita bisa mendengar kata-kata manis tentang nasionalisme dari blog mereka yang hidupnya kebarat-baratan, tinggal di luar negeri, tidak pernah bayar pajak dan malas ikut pemilu.

    *copy-paste, kirim ke sejumlah kolega nasionalis yang S2-S3-SLilin di luar negeri*


    Internet, dengan segala keajaibannya, membuat generasi Web 2.0 ilfil terhadap gagasan “bangsa” atau “cinta tanah air”.

    Internet cuma salah satu media untuk keterbukaan, Gen. Efeknya tentu saja ada. Gorbachev juga tahu itu saat membuka gerbang untuk duo anonymous Glasnost dan Perestroika. Nasionalisme yang dipaksakan puluhan tahun buyar dan USSR pun bubar. Bukankah ini yang dicegah RRC dengan Great Firewall yang memblokade internet mereka? 😕

    Persoalan kebangsaan pastilah menjadi kecil, ketika setiap hari kita terekspos pada persoalan mondial yang jauh lebih penting: dari flu burung, perubahan iklim, krisis finansial dan terorisme hingga soal Brangelina. Dari sini humanisme universal menurut saya menjadi sangat relevan bagi anak-anak muda.

    Menjadi kecil, iya. Tapi terlupakan, sepertinya tidak. Justru… kepedulian pada persoalan mondial itu sendiri menurutku karena “mereka” menyadari bahwa bangsa negaranya adalah bagian dari persoalan di planet ini. Perubahan iklim yang diributkan Greenpeace dan sejenisnya tentu bisa dianggap ancaman, setidaknya film 2012 yang dilarang MUI membayangkan ancaman itu 😆

    Pertanyannya, apakah humanisme universal bakalan melahirkan Negara Bumi?

    [Obama]Yes, we can[/ Obama]. And that will be Cockaigne 🙄

    Kalau Uni Eropa setelah Traktat Lisbon disahkan diprediksi bakal menjadi sebuah kekuatan politik yang manunggal di pentas dunia, sepertinya bukan tidak mungkin bila Negara Bumi suatu saat bakal dibentuk juga. Tetapi ini tentu saja bukan soal yang mudah. Karena? Karena politik, tentu saja.

    Bukan tidak mudah, tapi juga tak akan pernah. Ya, pendapatku ini bisa salah. Tapi sepertinya lama sesudah kita wafat, maka Negara Bumi seperti itu akan terwujud.

    Tetapi ini tentu saja bukan soal yang mudah. Karena? Karena politik, tentu saja.

    You hit the titik.
    It’s all about politics 😀

    Lihat Geddoe dan Sora9n dan internaisonalisme mereka. Dan kemudian coba kita bandingkan dengan afinitas Alex terhadap Aceh dan kebenciannya pada “imperialisme” Jawa. Geddoe dan Sora9n sepertinya tidak terlalu mencintai daerahnya, karena itu mereka menjadi a-politis. Sementara Alex, seperti kita lihat dalam blognya, mempunyai kepedulian yang luar biasa terhadap Aceh sehingga postingan beliau menjadi sangat politis ketika berbicara tentang Jawa dan Indonesia.

    *ini bagian yang agaknya bikin telingaku mendenging-denging* 😆

    Ah ya, luruskan ini dulu:

    Jika Jawa di sini di maksudkan sebagai sebuah entitas suku-bangsa, maka tak ada apa yang disebut “imperialisme Jawa” itu sebenarnya dalam benakku. Aku menganggapnya lebih sebagai “koinsidensi” sejarah. Tentu akan lain jadinya jika Pemerintahan Darurat Republik Indonesia bertahan di Sumatra. Maka mungkin Melayu-isasi akan mendominasi, menjadi simbol garda terdepan “nasionalisme” negara ini. Dengan ini artinya: Aku tidak punya masalah apa-apa dengan Jawa secara suku-bangsa dan budaya. Tapi bahwa ada manipulasi nasionalisme sehingga “seolah-olah” cuma satu ragam itu saja yang eksis di Indonesia, yang nasionalistis untuk diterima, aku menolaknya. Pemanipulasi itu tidak harus orang Jawa. Orang Aceh, Batak, Papua dan Dayak di Jawa sana, di Jakarta tepatnya, bisa mencomot apa-apa yang bercorak Jawa untuk jadi “tumbal” uji-coba identifikasi negara-bangsa. Ini yang aku tak suka sampai saat ini. Sederhana saja: Saat orang-orang non-Jawa teragitasi karena urusan perut, Gen, tak banyak orang akan waras untuk memilah siapa salah siapa tidak. Mereka tak peduli dengan sistem negara ini, mereka peduli pada bagaimana mengisi periuk nasi. Dan orang “lapar” paling gampang dibikin marah sampai silap matanya. Aku sudah melihat perlakuan tak enak pada suku Jawa di Aceh saat konflik, mereka yang tak salah apa-apa tapi diusir karena provokasi serupa itu. Hei, mereka kemari, membuka lahan, bertani dengan keringat sendiri, adalah hak mereka. Aku tak peduli dengan suku bangsa: Hak adalah hak.

    Dan soal cinta tidak cinta daerah, soal menjadi politis atau menjadi a-politis…
    Repeat: it’s all about politics, Gen. Menjadi a-politis itu sendiri adalah sebuah pilihan politik. Meski aku sendiri meragukan a-politis yang absolut. Karena *ulang* a-politis itu adalah pilihan politik. Ada pertimbangan-pertimbangan politik yang tak terlihat. Mari lihat kasus evolusi yang pernah diperjuangkan Geddoe dan Sora versus Waliyullah-wannabe bernama Harun Yahya: Isu tersebut saat itu, meski bukan urusan nasional di Indonesia, adalah isu yang berkaitan dengan politik. Kekuatan lobby Sang Messiah Kreasionis bernama Harun Yahya saat memblokir layanan WordPress.com di Turki saat itu adalah sebuah tindakan politik yang – suka tidak suka – memancing reaksi pula dari Geddoe dan Sora, meski mereka membahasnya dari sudut sains. Tapi mereka terlibat dalam ekses politik: Ya. Termasuk ketika gerombolan sorban dan situs pemberi Hidayah ngotot dalam soal dakwah. Bukankah agama adalah bagian dari politik? Bahwa ada orang bawa pentungan dengan sorban dan (saat itu) tidak ditangkap setelah mukul orang kiri-kanan, tentu itu ada unsur politiknya. Ya, aku senang menyadari bahwa Sora dan Geddoe terlibat dalam “arena politik” saat menentang sikap tengik seperti U-know-what-lah-the-puritan-fanboi itu. Ah, gimana kabar si Habib hari ini? Dijenguk dan dibelai mesra para eks-perwira yang dulu mengizinkan organisasinya tumbuh besar paska Tragedi Semanggi? 😆

    .
    Atau artikel Sora di tahun 2008 yang membahas soal UU ITE: postingan itu berkenaan dengan sebuah kebijakan politik, bahkan jauh sebelum Prita jadi konsumsi politik para Capres-cawapres. Tak ada orang yang lepas dari keterpautan dengan politik, bahkan di internet sekalipun. Jika PERMEN KONTEN sah diluncurkan oleh Yang Mulia Tuanku Pak Menteri Tifatul Sembiring, sebagai sebuah keputusan politik (Peraturan Menteri adalah kebijakan politik!), maka para netter yang a-politis sekalipun kena imbasnya.
    .
    Ini cerita usang soal telur ayam yang dimasak kaum ibu dan keputusan politik untuk menunda perbaikan jalan rusak. Kita bisa tak peduli dengan soal jalan rusak dan segala tender-tender politik pemerintah berkenaan dengan jalan tersebut, tapi jelas kita peduli saat harga telur ayam naik dan ibu kita mengeluh, lalu dompet kita kena imbas menambah belanja dapur. Korelasinya sederhana: Pemerintah membiarkan jalan rusak –> mobil pembawa telur tertahan –> tambahkan pungli –> tambahkan harga bensin —> tambahkan harga telur ayam = HARGA TELUR NAIK. Bukan sulap bukan mejik. Tapi ekses dari sebuah kebijakan politik 😀
    .
    Lalu… apa itu definisi a-politis?
    .
    Geddoe sendiri pernah (dalam chat) dilang kalau dia tidak tertarik dengan segala gerakan sosial di internet, yang kuanggap termasuk gerakan-gerakan politik. Dan aku menghargai itu, personally. Itu pilihan. Itu sikap. Internet sungguh akan monoton dan hambar jika semua isinya – taruhlah blog – membacrit tentang politik dan politik saja. Gerakan sosial ini dan itu. Di sisi lain, akan sama membosankan jika cuma membahas soal-soal yang text-book tanpa ada sentuhan sosial, kemanusiaan dan kehidupan yang nyata.
    .
    Di luar internet yang membuat para netter bisa menjadi Alice in Wonderland ini, hal canggih dengan segala kebenaran text-book demikian belum jadi santapan. Agamawan selebritis di layar kaca bahkan yang pandir sekalipun lebih bisa diterima saat menyajikan apa yang mereka sebut santapan rohani, bahkan meski itu kebohongan, mitos yang dibungkus dengan dalil langitan. Praktis: interaksi sosial mereka lebih “menjual”, lebih “seolah-olah” memberi solusi final atas semua hal.
    .
    Jelas peranan para netter untuk terlibat segala macam gerakan politik sosial juga bukan hal yang mutlak. Bahwa ada orang yang – seperti kata Gentole di post ini – macam Sora dan Geddoe yang (terlihat) a-politis, itu dinamika hidup. Kalau aku sendiri melihatnya sebagai tandem jika menghadapi “musuh” yang sama, dan sparring-partner saat ada perbedaan pandangan. Termasuk kau sendiri, Gen :mrgreen:
    .
    Ah ya, sikon dan pilihan. Itu yang menjadi dua alasan kenapa kita bisa (kelihatan) peduli atau tidak peduli dengan sesuatu. Termasuk dengan perkembangan politik di daerah/lokasi per individu. Aku, kau, Sora, Geddoe, Jensen, dan siapa pun, Gen. Jika saat ini aku terlihat seperti apa yang kau anggap, maka sejarahlah yang membentuknya, Gen.
    .
    Ceritanya akan lain jika Aceh, misalnya, kondisinya tidak seperti yang sudah jadi sejarah umum selama ini. Tidak ada Operasi Jaring Merah. Tidak ada orang-orang yang didominasi non-Aceh di posisi strategis LNG Arun atau PT KKA atau Pupuk Iskandar Muda. Tidak ada pagar besi provitnas di luar kompleks Arun yang megah dan memisahkan keluarga high-class dari luar Aceh dengan warga miskin di bawah pelepah rumbia. Dan tidak ada orang-orang mati dikirim dalam peti ke rumah-rumah penduduk dengan sekedar minta maaf “Sorry, salah tembak…” karena ada oknum aparat fly kena cimeng salah membedakan mana pistol mana geretan mainan. Jika itu semua tak ada, tentu hidup akan baik-baik saja. Dan mungkin sekali aku juga akan sama duduk di Starbucks sambil ngenet dengan nyaman pakai akses internet broadband yang maknyuss sebab operator seluler gencar ekspansi kemari. Tak peduli apakah jalan nasional antara Medan – Aceh itu cocok jadi lintasan off-road jika dibandingkan dengan tol-tol mulus lintas Pulau Jawa sana. Yang perlu dilakukan cuma menikmati hidup yang nyaman dan damai. Alhamdulillah! Hallelujah!
    .
    Tentu saja ada orang-orang di daerah yang bisa begitu. Teman-temanku di sini juga ada. Dalam satu sisi, mereka bisa jadi cerminan diri, dalam sisi lain, orang-orang begini bisa menyebalkan meski pun juga bisa dimaklumi: Manusia tidak akan pernah benar-benar merasa terusik kecuali jika – kata orang Minang – paruik dan cipuiknya sudah terusik. Periuk nasi masih aman, tentu orang merasa nyaman. Dan itu berpengaruh pada pilihan. Choice.. the problem is choice, Gen 😀
    .

    Pertanyannya, apakah Alex kurang “mengglobal”? Tentu tidak. Wong Alex doyan sajak-sajak lintas negara juga dari Chairil Anwar sampai Pabrol Neruda! Lantas, mengapa Alex seperti lebih concerned terhadap Aceh ketimbang humanisme universal yang sepertinya lebih disukai Geddoe, Sora9n dan Lambrtz?

    Karena aku di sini, Gen 😆
    .
    Sebenarnya memang aneh juga humanisme universal itu. Aku sendiri merasa aneh saat memposting ajakan untuk gera’an Free Rice untuk gempa Haiti. Tak ada kerabat di sana. Tak ada orang Aceh. Bahkan aku ragu ada orang Indonesia kejepit lemari di sana terancam kelaparan setengah mati. Sementara aku kemarin itu sendiri justru tidak sepaham dengan ajakan Koin Untuk Prita. Jika patokan adalah jarak, aku sudah berlaku tidak adil sepertinya 😕
    .
    Demikianlah… kadang-kadang humanisme universal itu membuat perasan sudah GO INTERNATIONAL, merasa bagian yang sudah sah diterima dalam peradaban dunia saat ini. Tapi di saat yang sama, saat bersimpati-ria pada genoside di Afrika, misalnya, bisa begitu cuek-bebek pada… let’s say: konflik di Poso, Ambon, Aceh dan Papua. Hipokrit? Entah. Konyol? Iya. Sama konyolnya dengan alasan humanisme yang bikin aku kecewa saat netter ramai-ramai membahas Aceh karena (tebaklah!) 3 bajingan WH memperkosa seorang gadis yang dituduh zina di Langsa. Neraka!! Kemana mereka saat belasan aparat keamanan melenggang-kangkung dari pengadilan, sementara korban perkosaan dari zaman konflik di sini masih menuntut keadilan? Karena kasus WH lebih bercitarasa isu agama, sehingga lebih humanis, lebih universal? Buka mata lebar-lebar dan lihat masalah yang sama: Ada vagina perempuan diperkosa (baca: DICOLOK PAKSA) oleh penis-penis bajingan, satu pakai seragam aparatur agama satu pakai seragam aparatur negara. Bukannya itu sama? Atau aku salah? 😕
    .
    Semestinya (jika aku boleh pakai kata ini) kita tidak bisa peduli pada isu-isu yang kita anggap universal tapi melupakan isu-isu yang lebih nasional atau lokal cuma karena “tidak mengglobal”. Masalah hidup manusia di kolong langit berkutat pada urusan yang sama: Perut dan selangkangan. Tak jauh dari itu. Seglobal apapun trending topics dengan tanda # di twitter. Humanisme universal jelas menarik. Dan aku suka gagasan itu, Gen. Bahwa kita merasa pembantaian Kristen Koptik di Naga Hammady, Mesir, adalah sebuah ketidak-adilan, itulah arti menjadi manusia. Memahami perasaan sakitnya manusia lain, persetan agama, negara dan suku bangsanya. Tapi… tidakkah akan jadi munafik jika aku berkoak-koak tentang penangkapan blogger-blogger Mesir karena mengekspos pembantaian tersebut, dengan alasan Kebebasan Informasi, sementara diam dengan gejala akan dikebirinya kebebasan internet di negara sendiri? Ironis.

    Saya tidak tahu mengapa saya bisa sampai kesimpulan ini. Tetapi bukakankah alasan megapa Papua dan Aceh hendak merdeka itu disebabkan persoalan kesukuan yang bisa diterjemahkan sebagai politik yang didasari pada kecintaan pada suku dan tanah air mereka yang direbut Jawa?

    Soal Papua tanyakan pada Jensen 😆
    Soal Aceh, lebih tepatnya bukan direbut oleh Jawa, tapi oleh sentralistiknya pemerintahan ini yang berpusat di Pulau Jawa. Aku tak peduli apakah di sana itu orang Jawa, orang Betawi atau orang Aceh seperti Mustafa Abu Bakar yang jadi Meneg BUMN, tapi lihatlah kasus pemadaman listrik di Aceh ini yang sudah bertahun-tahun. Sementara padam di Jakarta buru-buru departemennya minta maaf dengan penuh sopan santun, listrik isdet di daerah bertahun-tahun tak pernah mereka minta maaf sesopan itu. Simpel: pemerataan keadilan dan segala basa-basi otonomi khusus dalam bingkai NKRI adalah omongkosong jika semua berpusat pada kepentingan di Pulau Jawa saja. Mari puja opsi federasi untuk sementara ini! 😛

    Oh, bukankah sejarah perlawanan terhadap kolonialisme adalah sejarah cinta – tanahku, bangsaku, semuanya? Menurut saya politik cinta ini yang bakal menggusur terbentuknya Negara Bumi, yang pernah diperjuangkan Islam dan Komunisme, namun gagal total.

    😆
    Again: You hit the titik.
    Yeah right… I used to believe in the so-called “Wild International” … hehehe… setidaknya mendengar Zack de la Rocha merepetkan itu dalam One Day As A Lion masih lumayan memancing utopia serupa 😳

    Tidak perlu lagi mencari kesamaaan budaya dan ideologi yang mendefinisikan Indonesia, karena inti nasionalisme itu bukan itu, tetapi judul lagunya The Beegees: How Deep Is Your Love?

    Nice. And also: How deep is your periuk nasi. Makin dalam periuk nasimu, makin banyak beras minta diisi.
    .
    .
    .

    Ada banyak yang perlu dikatakan dan dijelaskan tetapi tons of things came up.

    Idem. I have so banyak juga mau dikatakan berkenaan dengan postinganmu ini, tapi berkilo things came down of the truk fuso beberapa hari ini… Jadi cuma segini sajalah… 😕
    .
    .
    .
    .
    *halah ikut-ikutan… komen udah macam postingan* 😆
    .
    Maaf, Gen, internet lagi lumayan wuzz-wuzz… sesekali aku ngeblog di blogmu. :mrgreen:
    .
    .
    .
    Last… terlibat/terlihat (peduli) dalam politik memang sering bikin jijik. Tapi…


    Neo, sooner or later you’re going to realize, just as I did, that there’s a difference between knowing the path and walking the path.
    [Morpheus]

    *diskonek*

  12. dan kamu sendiri pendukung Irish Republican Army kan? 😕

    Anu, itu gimmick aja. :mrgreen:

  13. Eh yang di atas maksudnya buat jensen99…

  14. Wah nama saya dibawa-bawa.
    .
    Saya sendiri tidak sebersemangat Masbro Sora atau Lambrtz dalam urusan bernirbangsa, intisari pemikiran saya sudah saya utarakan lewat komentar “tidak usah bubarkan bea cukai” itu. Perkara mengapa saya selalu dijadikan tersangka sebetulnya mengherankan juga, walau memang saya pernah bikin orang-orang marah waktu pakai bendera VOC di Y!M sewaktu tujuh belasan.
    .
    Pendapat saya begini; kebanyakan kita tidak memilih untuk bernegara apa atau berbangsa apa, oleh sebab itu kebanggaan dan rasa kepemilikan yang muncul pasti akan semu. Lain ceritanya dengan veteran perang kemerdekaan atau semacamnya. Negara didirikan pada dasarnya hanya untuk menegakkan keteraturan. Saya memerlukan negara untuk keteraturan. Jadi saya menggunakan negara untuk kemakmuran pribadi. Negara adalah alat. Saya tidak merasa terikat dengan konsep seperti itu.
    .
    Tapi di sisi lain saya kira memang ada kewajiban tersendiri untuk dipelihara. Rasa-rasanya budaya asal itu semacam kontrak antara kita dengan leluhur dan anak cucu. Saya memelihara budaya supaya kakek-kakek saya tidak dilupakan zaman, dan sebagai imbalan anak cucu saya akan menjaga supaya riwayat generasi saya juga tidak lenyap. Saya tidak religius — tidak berharap ada Tuhan atau Setan yang mengingat, hanya manusia yang datang setelah saya. Ini kebutuhan eksistensial. Terlalu absurdlah kalau setiap manusia mesti membawa baton semua bangsa sekaligus, oleh sebab itu ada pembagian-pembagian.
    .
    Jadi singkatnya begini; saya tidak tahu sampai mana nasionalisme itu mesti dibawa, saya tidak bisa definisikana. Tapi saya bisa mengenali apa-apa praktek yang melewati batas. ‘Kan protes atas nasionalisme semu itu kebanyakan datang dari situ? Melihat nasionalisme yang kelewatan dan menyatakan tidak setuju? Coba lihat kontroversi Indonesia-Malaysia, gerakan-gerakan kekanak-kanakan a la Kaskus begitu ‘kan pada hakikatnya sama saja dengan tawuran SMP? Atau bagaimana ketika ada anak yang lebih mengikuti budaya impor asing, tindakannya dianggap mengabaikan dan tak terpuji? Padahal di sisi lain bule-bule yang main gamelan dipuja-puji, bukannya disemprot lantaran tak melestarikan budayanya sendiri di Eropah? Hal-hal seperti itu.
    .
    Dan BTW, ada apa dengan Brad Pitt? Tyler Durden itu keren. 😀

  15. ^

    Perkara mengapa saya selalu dijadikan tersangka sebetulnya mengherankan juga

    Lho ya wajar tho. Ente kan dikenal sebagai ‘anak ajaib’, jadi wajar kalau opininya dikira ekstrim. (=3=)/

    *wups* (ninja)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: