Dalam Sakit

January 24, 2010 at 5:46 am | Posted in berbagi cerita, curhat | 8 Comments
Tags: ,

Dalam Sakit
Sapardi Djoko Damono


waktu lonceng berbunyi
percakapan merenda
kita kembali menanti-nanti
kau berbisik,
siapa lagi akan tiba?
siapa lagi menjemputmu
berangkat berduka?

di ruangan ini
kita kait dalam gema
di ruang malam hari
merenda keadaan rahasia
kita pun setia memulai percakapan kembali
seakan abadi menanti-nanti
lonceng berbunyi

8 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. I was about to think that this poem was your work.

  2. sapardi lagi T_T

    *bikin postingan*

  3. *menunduk khidmat*
    *tenggelam dalam penghayatan*
    .
    .
    .

    u_u

  4. Dalam sakit
    .
    Kuseka hidungku
    sroot sroot
    .
    Kusentuh dahi dan tengkuk
    panas membara
    .
    Pandangan pun mulai mengabur
    Jalan tak tentu alur
    Dan bicara mengalor-ngidul
    .
    Bos, ingin pulang
    .
    .
    sroooottt
    huatchiiii

  5. baca komen lambrtz
    😆

  6. siapa lagi akan tiba?
    siapa lagi menjemputmu
    berangkat berduka?

    kalo versi terjemahan saya, ini bagian si sakit kepikiran mati 😐

  7. Sakit kau, Gen? 😕
    Kurangi budaya online malam, tidurlah yang cukup, konsumsi vitamin dan segala jenis konsumsi ajaib versi lulusan ilmu medis yang layak dimamah-biak makanan dalam bentuk 4 sehat 5 sempurna, ikut yoga, rajinlah olah raga, jangan merokok lebih dari 2 bungkus/hari, dan… perbanyak ibadah… karena kalau semua itu gagal dan kau tewas juga kena sakit, ada sikit harapan ibadah itu bisa ganti kredit dosa di alam barzah. Kecuali kau tidak percaya hal begitu atau mau merenungi puisi di salah satu toilet neraka 😆
    .
    .
    .
    *komengaksadardiri.com*
    Dan tentang puisi yang kau jiplakkan di postingan ini: Puisi ini salah satu puisi Sapardi yang aku tak suka (tentu ini subjektif, kalau kau suka juga silakan saja 😛 ). Sepertinya ini puisi yang “terlalu benderang” penampakannya, terlalu kering dan sederhana. Kurang berseni bahkan jika dibanding puisi sederhana yang – seperti katamu – nyaris wajib di undangan pernikahan itu. Ya… ya… puisi “Aku Ingin” itu 😆
    Karena… kau bisa temukan puisi macam ini di koran-koran lokal yang malah didominasi berita kriminal macam poskota, ditulis oleh penulis yang sama yang bikin cerpen ala edisi Valentine majalah Aneka Yess! dekade 90-an (masih ada majalah penelor remaja-remaja koper itu?). Sunggguh, aku pernah lihat puisi bercorak sama, lama baca puisi Sapardi punya.
    *sok kritikus sastra mode OFF*
    Sesekali menggandeng tiran bernama penafsiran utk menghujat karya sastrawan. Sama-sama seniman harus terima hujatan. Semoga Sapardi sempat menikmati pelecehan ini. Amin… 😎

  8. Bagaimana jika ternyata “jiwa” mu yang lelah? “Jiwa”mu yang sakit?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: