Fabel #1

January 13, 2010 at 6:35 am | Posted in fiksi, gak jelas, iseng | 4 Comments
Tags: , , ,

ROMAN PEPAYA

Di dalam pepaya yang ditinggal ibu di meja makan ada tinggal seorang kakek yang berfikir dirinya serat pepaya. Namanya Darman. Tetapi segenggam biji pepaya yang masih kecil, yang terus menggodanya siang dan malam, akrab memanggilnya Mbah Sinting – sebutan yang selalu membuat mereka geli dan terpingkal. Karena sudah dikatakan dalam hikayat pepaya, bahwa sejak zaman Nabi Sulaiman dulu hingga perut Keabadian tergores dan masa kini dilahirkan, tidak pernah ada satu manusia pun yang kenan hidup di dalam pepaya, dan merasa betah. Tapi kakek ini berbeda. Sudah lama beliau tinggal di dalam pepaya dan tidak jua merasa bosan. Dinding pepaya yang berair dan legit tidak pernah bisa menyadarkannya; bila di luar sana selalu ada bibir perempuan yang jauh lebih manis dari segala gula-gula di penjuru semesta. Oh, tidakkah Engkau mengerti bapak tua; bila segenap duka yang menetesi empedu di wajahmu yang kuyu itu bukanlah jerit dan air mata Dara, gadis belia yang Engkau puja ketika fajar menyingsing; yang setiap langkahnya Engkau sambut dengan segala puja dan puji kepada Tuhan Yang Esa; sampai-sampai mereka yang hatinya dengki berfikir Engkau sudah menganggap Dara, kekasih kecilmu itu, sebagai Tuhan yang Lain? Dan seperti biasa Engkau pun mengalah sambil membangkang, “Mereka tidak salah. Dara adalah Tuhan. Dan aku mencintai-Nya.” Tetapi Dara tidak pernah mencintaimu. Begitu katamu. Dan itulah sebabnya Darman, di bawah melankoli rembulan dan gemiricik dedaunan yang disirap angin tengah malam, pergi ke kaki bukit dan bertanya-tanya kepada penghuni hutan: “Di manakah gerangan si penjual pepaya?” Tidak ada yang memberinya jawab kecuali seekor burung Nasar yang ia dapatkan mata dan bulunya lebih gulita dari gelap. “Akulah si penjual pepaya,” kata si burung Nasar. “Dan Engkau adalah anak manusia yang hendak menjual seluruh jiwa dan raganya kepadaku karena Dara, kekasihmu, adalah gadis belia yang doyan makan pepaya, bukan? Kemarilah, bapak tua. Lepaskan jubahmu dan menarilah untukku.” Dan Engkau pun menari semalaman; mengepakkan kedua tanganmu seolah kamu itu seekor burung yang baru saja lepas dari sangkar. Engkau terus menari dan tidak pernah berhenti, hingga ketika azan subuh hampir berkumandang Engkau biarkan tubuhmu yang renta disantap burung Nasar dan kawan-kawannya yang rakus dan lapar. Kamu mengalir dalam darah yang tumpah ke tanah; meninggalkan rasa sakit dari dagingmu yang robek dan koyak oleh cakar dan paruh tajam segerembolan burung — yang terus mematuki wajahmu, dadamu, perutmu. Keesokan harinya si penjual pepaya menemukan tubuh Darman yang rusak di kebun pepaya miliknya, dan memutuskan untuk menguburnya sekalian di kebun itu karena takut dihakimi warga yang kesal dengan ulah si burung Nasar (yang kemudian diketahui ternyata piaraan si penjual pepaya). Sudah lewat sepuluh tahun Engkau tinggal dari satu pepaya ke pepaya yang lain, bapak tua; berharap Dara yang kini dewasa menemukanmu; agar bisa merasakan bibirnya yang tipis dan halus; yang katamu jauh lebih manis dari segala gula-gula di penjuru semesta. Oh, betapa senangnya Darman ketika ibuku menemukannya di pasar kemarin, sampai alam semesta yang iba kepadanya pun mendengarnya berkata lirih: “Aku adalah pepaya, Dara. Dan Engkau adalah kekasihku.”

4 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Mbok ya dijadikan beberapa paragraf gitu. Pusing mbacanya. @_@

  2. Awalnya saya menganggap di bapak tua sudah gila, bisa-bisanya suka dengan si pepaya muda. Tapi pepaya muda tetaplah pepaya muda baginya, meskipun sudah jadi pepaya matang tapi menyimpan benih orang *terharu* 😥
    .
    *meracau pagi-pagi*

  3. @lambrtz
    .
    Maaf, tidak bisa.
    .
    @mizzy
    .
    Itu juga bikinnya meracau, kok. 😀

  4. wow !
    Ngomongin pepaya.
    dari mudah menjadi tua.baru kemudian matang.
    untuk bisa merasakan manisnya pepaya matang,kita harus menunggu tua dulu.
    Bisa juga si.! muda tapi matang,salah satunya dengan cara pengarbitan.
    Cuma yaitu ! rasanya tidak semanis pepaya matang sesudah tua.

    Oh manggaku, muda dan masam. nikmat rasanya di jadikan manisan.

    oh buah kelapa !
    Mudamu nikmat menggugah selera, di tambah bongkahan es batuan.
    Tuamu tidak senikmat mudamu, tapi cukup menggairahkan. perasan santanmu,gurih dan berlemak.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: