Mengingat Camus

January 9, 2010 at 1:50 am | Posted in curhat, filsafat, katarsis | 28 Comments
Tags: , ,

Waktu pulang kuliah hampir satu dekade yang lalu saya berpikir keras tentang hidup yang saya jalani, tentang dunia nyata yang terbuat dari sebuah angkot dan para penumpang bisu di dalamnya; dari pemukiman, ruko dan gereja Betsheda merah jambu yang berlari jauh dan terlewati; dari langit yang berwarna biru, dari awan dan keringat yang mengembuni hidung si bapak yang duduk pas sekali di depan saya. Kala itu, siang baru saja dibentangkan. Di tangan saya ada sebuah buku tipis terbitan Gramedia. Di dalamnya pikiran saya melayang ke Aljazair dan Perancis lebih 50 tahun lalu; menelusuri kegelisahan seorang pemberontak, seorang yang terbuang – seperti saya dan mungkin juga Anda. Orang itu Albert Camus. Dan buku yang saya pegang adalah bukunya yang berjudul Mite Sisifus – sebuah mahakarya yang mengubah segalanya dalam hidup saya.

Albert Camus

Pembaca yang budiman, setelah Mite Sisifus, dunia jadi abu-abu buat saya. Dan orang-orang jadi pucat semuanya, dengan batu besar di pundak mereka, mengerjakan apa yang sudah dikerjakan kemarin dan akan diulangi lagi keesokan harinya; begitu seterusnya, untuk selamanya, hingga habis keabadian. Hidup ini memang tidak melulu tawa, tidak melulu air mata, tapi saya tidak pernah bisa menghindari banalitas bahkan dari senyum polos seorang gadis kecil di jalan raya, yang tidak pernah sadar bahwa di hadapannya adalah sebuah dunia yang tidak perduli, yang tidak menawarkan apa-apa kecuali ketidakbermaknaan yang menyesakkan. Kemana perginya nurani setelah lampu merah berganti dan gadis kecil itu menepi – tanpa sesal sedikitpun di wajahnya, di wajah Anda – meninggalkan sedan, bis dan segerombolan motor Jepang yang menderu-deru?

Mungkin hidup tidak perlu terlalu diseriusi agar tak larut dalam kegelisahan yang pekat. Tetapi hampir satu dekade setelah saya membaca Mite Sisifus, hidup ini tak kunjung cerah dan multi-warna. Dan pada akhirnya saya seperti terjebak pada sebuah pertanyaan yang kekal; apakah hidup ini perlu diseriusi atau tidak? Apakah kita biarkan saja ia melaju sampai akhirnya hancur berkeping-keping? Ketika membuka tulisan-tulisan lama, saya membaca kembali refleksi saya tentang Camus pada Mei 2003, yang sedihnya malah mementahkan pertanyaan saya di atas:

Mungkin persoalannya memang tidak sesederhana itu. Memilih untuk tidak hidup tidak serta-merta kita berhasil mengatasi hidup. Kita hanya mencoba untuk menghindari hidup. Kita tidak akan pernah tahu kalau, mungkin saja, kehidupan setelah mati itu memang sungguh-sungguh ada. Dan kematian, akhirnya, bukanlah akhir dari hidup. Apakah kita benar-benar beristirahat ketika kita kalah atau mati? Belum tentu, Kawan, mungkin kita tidak akan pernah lepas dari ‘hidup’.

Tetapi baiklah, adakalanya memang kita akan menyalahkan kedashyatan ini, hidup ini. Sudah bosan kita mempertanyakan, siapakah aku, hendak kemana aku, apakah aku ada, kenapa aku ada, apakah dunia ini, dan apakah ada artinya? Pertanyaan-pertanyaan itu pun membuat hidup semakin absurd. Absurd bukan karena ‘hidup’ adalah seusuatu yang tanpa jawab dan tidak berarti atau sia-sia, melainkan dikarenakan kita sudah tidak lagi menginginkannya. Mengerti hidup bukanlah satu-satunya pilihan. Ada banyak pilihan lain. Malah banyak orang yang lebih memilih untuk tidak mengerti hidup. ‘Lebih baik melupakannya. Kerjakan saja perkerjaanmu!’ Banyak orang yang akan berkata seperti itu saya kira. Tetapi, sadar bahwa kita ini hidup adalah suatu keniscayaan, dan itu satu-satunya pilihan. Kita terperangkap di dalamnya, di dalam kesadaran akan hidup itu.

Dan ketika saya berfikir sebegini kelamnya, dengan tumpukan pekerjaan yang bakal menjelang seperti gerombolan serigala pada 2010, dan semua harapan yang tumpah-ruah seperti hujan lebat di Jakarta; soal nikah beda agama yang dilarang Leviathan dan pemuka agama, soal biaya kuliah adik, soal tempat tinggal, dan segalanya, Camus sudah dimakan cacing, sudah jadi satu sama Absurditas. Lima puluh tahun yang lalu, pada 4 Januari 1960, pemikir Perancis itu tewas dalam kecelakaan tragis. Dan tiba-tiba, pagi ini, saya merindukan kematian. Jangan salah paham. Saya tidak mau mati. Ini bukan rindu yang obsesif dan posesif. Antara saya dan kematian. Saya ini ibarat pecinta yang tidak pernah berharap kekasih hati yang dipujanya diam-diam akan datang kepadanya setelah makan siang dan berkata, “Selama ini aku pun mencintaimu!”

Lagian, kata Mbak satu ini, modar itu tidak seburuk yang dibayangkan.

Advertisements

28 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Tetapi, sadar bahwa kita ini hidup adalah suatu keniscayaan, dan itu satu-satunya pilihan. Kita terperangkap di dalamnya, di dalam kesadaran akan hidup itu.

    Oracle, Agent Smith, Morpheus dan Neo juga berdebat soal itu di dunia Matrix 😛
    .
    Mungkin yang kita butuhkan secangkir teh ajaib yang diteguk Alice untuk minggat ke Wonderland, Gen 😀
    .
    .

    Lagian, kata Mbak satu ini, modar itu tidak seburuk yang dibayangkan.

    😆
    Boleh jadi. Tapi kata ustad di layar tipi mati itu sakit. Rasanya seperti dikuliti hidup-hidup. Biasalah, tipikal ustad yang berapi-api menceritakan orang di panggang di neraka seperti sate kambing, penuh asap dan merah panas bara api. Entahlah, mungkin beliau pernah kerja di rumah pejagalan… 😕

  2. Sudahlah, Mas. Manfaatkan kelupaan. Nikmati kesementaraan dan berbagai perulangan itu dengan taat, niscaya engkau akan selamat. :mrgreen:

    *kembali gawe*

  3. *mau tanya dulu*
     
    AFAIK, CMIIW, yang disampaikan Camus lewat Mythe Sisyphe bukannya semangat defiance, yah? Sepemahaman saya intinya pada Sisyphus yang ogah tunduk pada aturan para dewa (which are absurd BTW). Alih-alih tunduk, dia lebih memilih “menjadi diri sendiri” dengan mengikuti hasrat keisengannya. 😛
     
    Saya pikir di sini Camus agak terinspirasi oleh Nietzsche — dalam konteks manusia sebaiknya menjalani hidup yang jujur, sepenuh-penuhnya, tanpa pretensi dan tidak terkungkung Herdenmoral. Walhasil Sysiphus adalah eksistensialis. Tapi ini pandangan saya pribadi sih.
     
    Soal “menyeriusi hidup”, Sysiphus juga hidupnya nggak serius lah IMHO. Dia kan kerjanya main-main saja (dan mempermainkan para dewa). Saya kok membayangkan dia sosok yg jovial, alih-alih kelam spt yang mas Gentole uraikan. :mrgreen:
     
    /as always, CMIIW
    //cuma belajar filsafat lewat ebook 😄

  4. @alex

    Mungkin yang kita butuhkan secangkir teh ajaib yang diteguk Alice untuk minggat ke Wonderland, Gen

    Nah. Itu eskapisme, lex. Saya kira dikau juga tak hendak mencari cangkir teh ajaib itu. Tetapi seperti saya bilang, menghindari atau lari dari hidup itu tak berarti mengatasi hidup.

    Tapi kata ustad di layar tipi mati itu sakit.

    Yah. Begitulah.
    .
    @frozen
    .
    Yah. Kelupaan yang menyejukkan.
    .
    @sora9n

    AFAIK, CMIIW, yang disampaikan Camus lewat Mythe Sisyphe bukannya semangat defiance, yah?

    Saya tanya dulu. Sora sudah baca artikel/esai Mite Sisifus atau buku Mite Sisifus yang terdiri dari beberapa esai?
    .
    Saya juga bukan ahli filsafat. Sekedar pembaca saja. Yang saya tahu, semangat pemberontakan memang inti filsafat Camus, yang menurut dia bukan “eksistensialis”. Namun demikian, konsep pemberontakan Camus, seperti dijabarkan dalam novel The Stranger, hanya bisa dimengerti apabila manusia/individu sudah menemukan absurditas. Konsep “absurditas” itu sebuah pegandaian dari pemberontakan itu sendiri. Nah, di buku Mite Sisifus itu ada beberapa esai yang memang membahas masalah absurditas itu [kalo enggak salah judul esainya Bunuh Diri Filosofis]; jadi bukan perlawanan Sisifus terhadap dewa, tetapi derita yang purposeless itu yang absurd. Jadi, pertanyaan Camus: setelah kita memenemukan absurditas, bahwa hidup ini tak bermakna, nir-Tuhan dan nihilistik, apa? Bagaimanakah kehidupan etis dijalani di dunia tanpa nilai dan tujuan?
    .
    Ada beberapa contoh karakter pemberontak yang ditawarkan jadi model oleh Camus, yang saya ingat itu adalah Sang Seniman dan Don Juan. Don Juan itu menerapkan prinsip etika kuantitatif; yakni hidup sebanyak-banyaknya, sehedon-hedonnya. Akhirnya memang Camus mengatakan bahwa hidup tak perlu diseriusi, bahwa manusia bisa hidup terus, meskipun mungkin tujuan hidup itu enggak ada; selain kerja, kawin, punya anak dan mati. Tapi itu kan pilihan Camus. “One must imagine Sysyphus happy.”
    .
    Yang saya tulis dalam post ini itu soal Absurditas itu. Yang dibahas dalam esai lain dalam buku Mite Sisifus. Nah, saya hanya menggunakan pendekatan Camus, untuk mengenyahkan segala para-anggapan/pengandaian, dalam merefleksikan hidup. Dan saya menemukan Absurditas. Setelah itu apa? Nah, itu jawaban saya terus berubah-ubah, dan tak melulu memihak Camus. Dalam blog ini saya menampakkan kecenderungan yang berbeda-beda. Hidup berat a la Tereza atau ringan seperti Sabina? Carpe diem atau Prokrastinasi?
    .
    Btw, Sora9n sudah baca novel Sampar/La Peste terjemahan NH Dini? Di situ kayaknya lebih banyak menyorot soal absurditas ketimbang pemberontakan kayak tulisan Camus yang lain.
    .
    Saya juga dah lama tak baca lagi. Ini lagi ingat saja. Sudah hampir sepuluh tahun lalu bacanya. Bukunya juga dah ilang kemana tau.

  5. Agak penasaran juga untuk tahu apa isinya Mite Sisifus.
    Ngga nemu, malah dapet quote yang ini dari beliau:
    .

    At 30 a man should know himself like the palm of his hand, know the exact number of his defects and qualities, know how far he can go, foretell his failures – be what he is. And, above all, accept these things.

    .
    Mas Gen udah 30 tahun apa belum? 😉

  6. @sora9n/lambang
    .
    http://en.wikipedia.org/wiki/The_Myth_of_Sisyphus
    .
    Liat Wikipedia aja dulu. Bukunya entah ada di mana. Yang Gramedia itu terjemahan kerjasama dengan pusat kebudayaan Perancis. Yang saya ingat bahasa Indoensianya. Belum baca yang versi Inggris.

  7. Liat Wikipedia aja dulu. Bukunya entah ada di mana.

    Lha ini, di [ sini ], nangkring tuh buku. 😕
    .
    *kembali ke utara, mencari kitab solilokui*

  8. @ Gentole

    Nah. Itu eskapisme, lex. Saya kira dikau juga tak hendak mencari cangkir teh ajaib itu.

    Aku mau :mrgreen:
    Jikalau-andaikata-umpama-dan-misalkan ada. Tapi bukan untuk “minggat” begitu saja. Sekedar mencari hal-hal baru atau apa yang bisa dipersepsikan sebagai hal baru (karena kata Englishman “tak ada yang baru di bawah matahari”). Ini sama seperti dulu saat sok-sok’an down di masa kuliah, lalu sok-sok’an pula mencari mati. Bukan karena ingin lari, tapi berimajinasi akan ada sesuatu yang baru dan aneh di sana. Yang lebih menarik dari dunia yang kita(?) anggap monoton ini.
    .
    Eskapisme tidak serta-merta menyelesaikan hidup, memang. Bahkan tidak juga mati, karena konon pula paska dunia ini usai akan ada kehidupan lain dengan diri kita di sana, setidaknya kata ahli agama begitu, jika Tuhan tidak lalu bosan dan bikin skenario hidup baru, tentunya (agak sedikit menggelitik mengingat cerita agama soal malaikat protes penciptaan manusia karena “pernah” ada yang menumpahkan darah sebelumnya. Bukankah boleh jadi Dia itu pernah bikin drama lain sebelum ini? 😛 )
    .

    Tetapi seperti saya bilang, menghindari atau lari dari hidup itu tak berarti mengatasi hidup.

    Benar. Tidak mengatasi hidup. Tidak juga lalu selesai. Alice itu sendiri di Wonderland tetap saja menemui masalah-masalah baru. Intinya kan bukan dimana dan kemana kita akan pergi, tapi APA hidup itu sendiri 😕
    .
    Bagi Nietszche sendiri, inti hidup bukanlah duduk dan menyesali, melainkan masuk ke dunia baru yang kamu ciptakan sendiri. Ini pernyataan bukannya juga eskapisme dalam bentuk lain, ada sedikit berbau utopia bahwa akan ada hal-hal baru sementara sejarah tidak sepakat dengan itu? Mengingat ide Nietzsche ini adalah pengembangan dari Shopenhauer, bisa dimaklumi jika ini masuk dalam kategori filsafat romantisisme. Schopenhauer sendiri beranggapan bahwa Hidup manusia itu ditakdirkan sebagai kekecewaan, dan “eskapisme” yang ditawarkannya adalah hiburan yang dibawa oleh seni 😀
    .
    Setidaknya, yaaa… itulah hiburan untuk pertanyaan tak usai Si Kumis Nietzsche: “Bagaimana kita bisa hidup di dunia tanpa Sesuatu (Tuhan) yang menjamin bahwa hidup itu berarti?” 😀
    .
    Eerr… agama juga bilang hidup itu senda-gurau belaka 😛
    .
    Tentang Sisifus, bukannya dia sendiri pada akhirnya tidak mendapatkan kebebasan total untuk menentukan jalan hidupnya? Bahwa di satu sisi dia emoh untuk tunduk pada Dewa (atau Tuhan), tidak membuat dia lepas dari campur tangan Yang Lebih Berkuasa dari dirinya 😕

  9. Dan tiba-tiba pagi ini,saya merindukan kematian.jangan salah paham.saya tidak mau mati.ini bukan rindu yang obsesif n posesif.Antara saya dan kematian.

    Walleeh !
    Bilang aja ente cuma asal nyeplos.
    Gitu aja ko’ repot !
    Camus ndak lebih dari salah seorang,dari sekian banyaknya orang yang merasa prustasi.
    n kebetulan dia pernah populer.
    mengaku-ngaku si pemberontak,yang berharap mendapat dukungan/pengikut.

  10. saya ikut menyimak saja ya…
    *duduk tenang di pojok*

  11. Permasalahan orang-orang yang hidup di perkotaan, perang, dan cinta… itu dia ciri khas filsafat Eksistensialisme.

  12. @frozen
    .
    Hoh. Iya. 😀
    .
    @alex
    .
    Romantisisme Camus memang yang akhirnya menempatkan dia di keranjang eksistensialisme bersama Dostoyevsky, Nietzsche dan Schopenhauer.
    .

    Tentang Sisifus, bukannya dia sendiri pada akhirnya tidak mendapatkan kebebasan total untuk menentukan jalan hidupnya? Bahwa di satu sisi dia emoh untuk tunduk pada Dewa (atau Tuhan), tidak membuat dia lepas dari campur tangan Yang Lebih Berkuasa dari dirinya,

    Iya, betul juga. Akhirnya tak menyelesaikan persoalan juga itu pemberontakan. 😀
    .
    @Ibeng
    .
    Loh saya ini memang selalu asal nyeplos. :mrgreen: Jadi persoalannya di mana toh. Semua orang frustasi begitu? Frustasinya gimana? Lalu setelah frustasi apa? Bunuh diri? Menunggu kematian? Atau merindukan kematian?
    .
    @felicia
    .
    Silahkan.
    .
    @buzzart
    .
    Semestinya di blogosfer sudah tak ada lagi yah?
    .
    *ngerasa OOT*

  13. @frozen
    .
    Kagak bisa didownload. Ah, beli ajalah kapan-kapan. Yang lama juga sudha hilang. Buat koleksi saja.

  14. ^
    Noh Mas, sudah saya upload ke [ sini ], silakan diunduh sepuasnya.
    .
    *so ngapain beli kalau bisa baca gratis di internet?*

  15. @frozen
    .
    Lebih enak beli. Bau kertasnya sedap.

  16. Lah..iya..ya..!
    saya juga termasuk asal nyeplos.
    Maksud saya, itu si Albert camus.
    Sempat ngetrend,buat pelampiasan emosi sesaat
    ya,ujung-ujungnya, ndak nyelesaiin masalah.
    Kalau soal mati saya juga ndak tau.
    katanya si..! semut bisa mendeteksi kematian temennya.
    dengan adanya prubahan aroma tubuh.
    mati alami maksudnya.bukan mati di injek.

  17. @ projen
    .
    Anda itu sudah melakukan peng-upload-an karya milik orang lain secara ilegal. Sebuah tindakan tercela terhadap karya-karya yang dilindungi oleh hak cipta. Tidak bisakah anda menghentikan kebiasaan seperti itu, setidaknya janganlah di 4shared anda upload-kan, masih ada situs ringan yang bisa diakses dengan lebih efisien dari ponsel. Box.net misalnya….
    .
    *gondok gak bisa donlod2* 😦
    .
    @ Gentole
    Kalau sudah beli yang bentuk kertas, scan-kan segera ke bentuk e-book, Gen 😆
    .
    Eh, jadi teringat pertanyaan semalam dari teman: apa dalam filsafat saat ini ada semacam neo-romantisisme? Ada kira-kira, Gen? 😕
    *udahlamamencampakbukufilsafat* 😐

  18. isi blog ini sebiru tema templatenya.
    .
    sekali-kali buat postingan lucu dong Gen 🙄
    .
    katanya mentertawakan diri sendiri adalah obat hati paling ampuh 😎

  19. Saya menangkap gejala di blogosfer sekarang ini betapa tema-tema serius sudah menjadi hal yang usang kalau dipostingkan, terlebih oleh blogger2 yang sepanjang 2008 kemarin telah menguras pikiran habis-habisan seputar evolusi, kreasionisme, teologi, filsafat, metafisika, parokialisme umat, kemiskinan, ketidakadilan, dan apalah itu.
    .
    Mungkin sekarang ini giliran kita, bahwa betapa lebih cocok membahas hal-hal yang remeh-temeh untuk kemudian–sependapat dengan komentar atas–ditertawakan. 🙄

  20. @ Gentole
     
    Saya sudah pernah baca esai Myth of Sisyphus yang versi bahasa Inggris (waktu itu nemu di internet, sekitar tahun 2009). Camus sendiri sebagian besar saya baca dari handbook — jadi bukan dari material aslinya. La Peste, sudah baca satu-dua bab — but that’s all about it. Versi bahasa Inggris. Kalau The Stranger belum mulai sama sekali. ^^a
     
    BTW terima kasih penjelasan + referensinya masbro. Nanti saya cari e-book-nya kalau ada. 😀

  21. We’re not here because we’re free; we’re here because we’re not free. There’s no escaping reason, no denying purpose, because as we both know, without purpose, we would not exist.

    Entah macam mana caranya, Albert Camus yang kau gambarkan ini, terasa macam Agent Smith curcol di The Matrix Reloaded, Gen 😀

  22. Coba baca Iwan Simatupang … Camus citarasa Indonesia

  23. Sitor Situmorang juga lumayan absurd

  24. @ibeng
    .
    Hooh begitu.
    .
    @alex
    .
    Kayaknya filafat eksistenisialis itu udah basi, Lex. Isunya sekarang tuh politik, identitas, teknologi, etc. Ada sih satu buku populer yang judulnya Against Happiness. Tapi yah itu buku populer.
    .
    @illuminationis
    .
    Aku gak bisa ngelawak, Mbak.
    .
    @frozen
    .
    Ah, ris, aku mau menulis apa saja yang aku suka; dengan atau tanpa komentar siapa-siapa. Toh emang blog ini lumayan segmented. Yang dateng mereka yang rada aneh sedikit. :mrgreen:
    .
    @sora9n
    .
    Sim-sim. Itu linknya Aris berguna.
    .
    @alex
    .
    Iya. Agen Smith itu agak Camusian. Tapi dia tuh deterministik. Akhirnya jadi rada totalitarian.
    .
    @rudi1
    .
    Sudah
    .
    @rudi2
    .
    Sudah juga.

  25. […] kata berbau utopia warisan dari zaman Nabi Adam, seperti yang mungkin dipikirkan oleh seorang kawan dalam postingannya tentang Mite Sisifus karya Albert Camus. Karena mereka, Camus dan Neruda, bahkan tak pernah lepas […]

  26. […] kata berbau utopia warisan dari zaman Nabi Adam, seperti yang mungkin dipikirkan oleh seorang kawan dalam postingannya tentang Mite Sisifus karya Albert Camus. Karena mereka, Camus dan Neruda, bahkan tak pernah lepas […]

  27. OOT, buku yg mengubah hidup saya,
    The Anatomy of Human Destructiveness, tulisan Erich Fromm

  28. heump, … referensi manusia pemberontak dong.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: