Gentole dan Leviathan

January 6, 2010 at 2:51 am | Posted in gak jelas, iseng, ngoceh | 13 Comments
Tags: , , , , ,

Jakarta Raya. 2010. Jalan Sudirman seperti habis diperkosa: sunyi-lengang. Tidak ada Metromini. Tidak ada Kopaja. Patas Mayasari Bakti yang tidak punya perasaan dan kentutya hitam-beracun itu? Mereka belum datang. Kalangan sedan yang necis dan sombong itu? Mereka lagi dipingit, disayang di garasi. Tukang ojek sisa semalam masih bermimpi dalam tidurnya yang dalam, dalam dengkurnya yang jauh lebih dalam. Kakinya membujur, melingkar di bangku kayu yang sejak dulu berada di situ; di pangkalan ojek Jembatan Karet, Itu. Udara pagi yang baik hati hendak berbisik ‘hei, bangun’ kepada si abang ojek ketika Gentole (saya) membuka mata dan mendapatkan dirinya terkulai di kasur lusuh. Hari ini hari Selasa. Gentole (saya) berjanji untuk menyelesaikan urusannya dengan Sang Leviathan: Negara.

Negara dan Birokrasi

Kisah ini bermula dari sebuah sifat yang konon tercela: yakni Sifat Malas. Saya berfikir kemalasan adalah elemen kemanusiaan yang tidak selaiknya dimusuhi, melainkan kudu dipelihara sebaik-baiknya, dijunjung setinggi-tingginya, seolah Kanjeng Nabi sendiri pernah berujar, “Kemalasan adalah sebagian dari iman!” Setelah Melankoli dan Irasionalitas, kemalasan adalah sifat atawa kualitas yang tidak akan pernah Anda dapatkan pada Malaikat, Iblis dan prosesor Pentium. Sifat malas adalah satu dari sedikit anugrah akbar yang diberikan Penguasa Semesta kepada keturunan Adam, ketiga hanya setelah nalar dan libido. Itu sebabnya, Gentole gagal membayar PKB pada waktunya, menunggak sampai akhirnya STNK-nya sekarat.

Pembaca yang budiman, apakah Negara?

Negara adalah seekor Setan, kata Hobbes. Negara adalah entitas imajiner yang membebaskan sekaligus memenjarakan manusia; ia bekerja dalam tatanan-perlambang; bendera, lagu kebangsaan, presiden, istana, paspampres, hari kemerdekaan, pendidikan kebudayaan nasional, pendidikan sejarah nasional, bahasa nasional, UUD, dan berbagai lembaga birokrasi dengan mana kuasa Negara merampok kebebasan Anda. Dan, demikian adanya sejak Negara ini ada di bumi ini, kita tidak pernah menyukai Kantor Pajak dan Kepolisian – dua wajah Leviathan yang paling mudah dikenali, paling mudah dicaci dan dimaki.

Polisi bukan bangsa Vogon, dan petugas pajak tidak bisa disalahkan hanya karena menunaikan tugas mereka sebagai eksekutor dari kuasa Negara. Tidak semua polisi jahat. Itu betul. Tidak semua petugas pajak korup. Itu juga betul. Tetapi ‘tidak semua jahat dan tidak semua korup’ saja tidak cukup. Terlalu banyak kebebasan yang telah dirampas. Tanpa konsultasi, tanpa jajak pendapat. Anda sudah jadi budak Negara. Kalau STNK-nya mati, motor Anda bodong, dilarang jalan, dilarang parkir! Mau protes? Ngawur! Negara sudah berketetapan pengendara motor wajib bayar pajak tahunan dan STNK harus dibuat lebih panjang usia berlakunya. Sejak dulu, jauh sebelum Anda dilahirkan yah sudah begitu-itu hukumnya; tidak punya SIM, tilang! Tidak punya STNK, sita!!

Masalah ini tentu harus diselesaikan.

Pada Selasa yang kesekian kalinya itu, saya memutuskan pergi menghadapi Leviathan. Tapi satu hal. Saya tidak tahu Leviathan yang hendak meladeni saya itu ada di mana, dan sebilanya saya tahu, saya juga tidak yakin pengetahuan saya itu benar, karena sering kali apa yang saya pikirkan tidak berkorespondensi alias tidak cocok dengan kenyataan.

Di manakah Sang Leviathan ini?

Sebelum saya menetapkan hati saya untuk melawan Leviathan langsung, beberapa kerabat menyarankan agar saya menggunakan layanan jasa SIM dan STNK saja. Tidak perlu pakai repot, kata mereka. Tinggal bayar. Tunggu dua sampai tiga hari. Selesai. Tetapi karena saya nunggak sampai tiga tahun, keraguan menjalar setiap kali saya berfikir hendak menghadap si Biro Jasa itu; yang memang kesannya tangkas, dan sudah sering berurusan dengan Leviathan. Kata mereka, saya mesti bayar setidaknya Rp 1.5 juta untuk menyelesaikan urusan saya. Memang ‘tinggal beres’-nya itu menggoda. Tetapi saya tidak percaya ini para ksatria kecil yang suka berkolusi dengan si Leviathan.

Karena itu, saya memutuskan untuk mengerjakannya sendiri dengan bekal pengetahuan seadanya. Saya dengar ada banyak pelayanan SIM keliling, yakni semacam gurita Setan Negara yang menghampiri setiap warganya dan menyebutnya sebagai ‘pelayanan’.

Ternyata.

Menghadapi sendiri si Leviathan ini susah.

Huaaargh!

Pembaca yang budiman. Kemalangan yang saya alami tampaknya lebih dikarenakan keteledoran saya sendiri ketimbang ganasnya Leviathan. Bagaimanapun, saya ini wartawan yang malu dan malas bertanya. Kecuali memang bila sejawatnya hanya bisa melontarkan pertanyaan bodoh dan dirinya harus menyelamatkan profesi jurnalis dari penghinaan yang dilakukan oleh para profesionalnya sendiri. Dan, tapi, ah, peduli setan soal profesi; mestinya saya bertanya ke pada pak polisi: “Pak, saya tinggal di Tangerang dan hendak memperpanjang STNK di Jakarta. Bisa, Pak?” Saya tidak bertanya; beranggapan bahwa karena Polda Metro Jaya adalah Leviathan yang menguasai Jakarta Raya, mestinya bisa saja dong ngurusin SIM/STNK di Jakarta? Puji Tuhan, saya salah – dan cukup lama berfikir bahwa apa yang saya fikir itu benar.

Pada hari Kamis sebelum Natal, saya pergi ke Jalan Gajah Mada. Ini tempat pelayanan STNK keliling yang pertama saya kunjungi. Dan di sana saya mendapatkan seorang Satpam yang berkata: “Tadi, sih, ada, Mas, tapi pergi lagi. Mungkin karena kantornya libur, jadinya mereka ikut libur.” Hati saya terluka waktu itu. Entah bagaimana, sepertinya ada plot untuk membatalkan segala niatan saya mengalahkan Sang Leviathan. Saya ingat sepekan kemudian saya mengunjungi layanan SIM keliling di Joglo. Semuanya beres kecuali bahwa hari itu tanggal 31 Desember. Kata polisinya, “Tanggung, Mas, hari Sabtu saja kembali lagi. Kalo diperpanjang sekarang jatuhnya 2014 ini SIM habisnya.” Hari Sabtu saya datang lagi ke tempat yang sama pada jam kurang lebih sama seperti dititahkan pak polisi yang tadi. Benar, mobilnya yang mirip mobil SWAT putih itu ada di situ. Hanya saja antriannya jauh lebih panjang, dan tragisnya saya dianggap terlambat. “Hari Minggu saja, Mas. Di Senayan.”

Hati saya terluka lagi.

Ah, layanan STNK/SIM keliling ini curut!! Saya mau menghadap babonnya langsung. Daan Mogot! Daan Mogot! Saya akan ke sana. Dan kita kembali pada hari Selasa yang tadi ketika saya hendak berhadapan langsung dengan Leviathan. Daan Mogot (saya tidak tahu sejarahnya, tetapi nama jalan ini terdengar seperti nama monster alien. Apakah ini nama pahlawan?) adalah sebuah jalan besar yang menghubungkan Jakarta dan Tangerang – melewati Kalideres dan Cengkarwng, kota kelahiran saya yang tidak pernah saya cintai. Jalan ini, dari saya kecil sampai dewasa, tidak pernah rapih. Jalan ini berbicara banyak tentang kesalahan Jakarta. Jorok. Macet melulu. Sekalinya tidak macet, pengendaranya ugal-ugalan. Gila. Banyak paku jahanam. Banyak preman. PADAT! Ada tukang asongan, tukang tambal ban, orang gila, kenek bau, pegawai pabrik, pipi meor pegawai pabrik, kali item-bau, pelacur, lakalantas, dan pokoknya hampir apa saja ada di sana. Melewati jalan ini pada jam berangkat kerja adalah bunuh diri. Dan Selasa itu saya malah berputar-putar dengan bodohnya di sana.

Kenapa?

Pertama, saya dengan PDnya berfikir bahwa kantor pelayanan SIM dan STNK itu satu tempat. Setelah bertanya sana-sini, saya sampai di Satpas. Saya ingat betul. Di sini lima tahun lalu saya berjuang keras sekali (dengan sedikit sogokan) mendapatkan SIM; sebuah surat tanda Anda cukup sehat dan waras untuk berkendara di jalan, agar Anda tidak mati atau menjadi pembunuh di jalan raya. Dan saya melihat gerombolan burung nasar itu. Ada beberapa polisi Vogon yang menatap dari kejauhan, tetapi saya melihat lebih banyak burung nasar di sana. Mereka menatap tajam. Ada-ada saja profesi sekunder mereka. Ada yang jadi tukang pensil dan ada juga yang menjadi tukang parkir. Di langit ada bunyi seorang wanita polisi yang sepertinya tidak pernah membaca puisi, dari sebuah TOA. Saya tidak mendengar jelas. Sepertinya itu sebuah pengumuman ‘Resistence is futile’ agar warga menghidari Calo – mereka adalah burung nasar yang saya maksud itu. Entah bagaimana, pengumuman itu malah terdengar seperti iklan gratis buat para calo.

Di pintu parkir.

“Mau bikin baru atau perpanjang, Mas.” Yang bertanya ini adalah petugas parkir, bukan polisi, bukan petugas Satpas, bukan pemohon SIM. Saya bilang: ‘perpanjang.’ Dalam sekejap saya dihampiri beberapa orang. Pertanyaannya sama, “bikin baru atau perpanjang, Mas?” Haha. Saya tahu bagaimana menghadapi mereka: “Saya wartawan, Mas.” Dan mereka pun berpaling. Jalan pun terbuka lebar menuju sebuah pintu yang dijaga dua polisi. “Bisa dibantu, Mas,” kata salah seorang dari mereka yang sedikit lebih berisi perutnya. Saya jawab polos: “Saya mau perpanjang STNK.” Goblok.

Ternyata Satpas bukan Leviathan yang saya cari. Menurut informasi dua polisi itu. Yang saya cari adalah SAMSAT. Wah, namanya lebih garang dari SATPAS! Dan petualangan saya melawan Daan Mogot dan Samsat berlanjut. Karena jalannya satu arah, saya mesti melawan macet lagi, dua kali. Saya tidak mau kalah. Dari SATPAS melaju menuju SAMSAT di daerah Cengkareng. Ini adalah SAMSAT babon; yang menaungi samsat-samsat kecil di Jakarta Raya. Sebentar saja saya sudah sampai. Di Samsat. Ada seorang polisi berdiri di depan gerbang.

“Permisi, Pak, ini Samsat utama, yah, Pak?”

Kesunyian turun dari langit. Matahari sudah kegerahan.

Wajah saya belepotan keringat, debu, ragu dan juga malu. Karena jelas di gedung Samsat ada bacaannya: “SAMSAT JAKARTA BARAT”. Sudah kepalang dipermalukan, saya tambah lagi aja dosisnya: “Pak, bisa enggak, perpanjang STNK Tangerang di sini.” Bapak itu tertawa. Dia pikir saya ini ksatria linglung. “Enggak bisa, Mas!!”

Tiba-tiba saya merasa merana sekali. Saya hampir menyerah. Bagaimana bisa saya mengalahkan Sang Leviathan apabila saya tidak bisa menemuinya untuk mengajaknya bertarung? Dari kecil saya tidak pernah suka birokrasi. Itu lembar merah, lembar putih, fotokopi ini, fotokopi itu, satu kali, dua kali, kertas kuarto, kertas minyak, stempel sini, stempel sana, tanda tangan pak ini, bapak itu, bapaknya sudah pulang, bapaknya keluar kota, bapaknya lagi ada tamu, loket satu, loket dua, loket sembilan, menunggu dipanggil, menunggu lamaaa sekali sebelum akhirnya dipanggil ketika saya sudah keburu pulang atau ketiduran. Masya Yahweh!! Terkutuklah si Ibu-bu kaya yang nyelak giliran saya itu!!!

Leviathan, seperti saya bilang, adalah entitas imajiner, seperti banyak hal lainnya dalam hidup: Tuhan, Iblis, moralitas, malaikat, keadilan, hukum, etika, cinta, lembaga perkawinan. Leviathan tak bisa dikalahkan. Leviathan akan terus hidup setelah Anda habis dimakan cacing. Tapi saya tak habis akal dan tak habis semangat. Sudah kepalang tanggung. Saya bablas saja ke Tangerang. Dan di perjalanan saya sadar. KTP saya kabupaten, bukan kota. Artinya saya mesti ke Tigaraksa – monster lain yang bikin hati saya ciut. Tigaraksa ini jauh. Ini tempat jin buang anak. Kenapa jauh, karena saya tinggal di perbatasan kabupaten dan kota. Takdir memang tidak pernah berpihak kepada Anda ketika Anda dilanda kemalangan secara berturut-turut.

Tak terasa sudah di Tangerang. Selamat Datang di provinsi Banten, kata gerbang jalan sebelum penjara anak-anak nakal. Saya melamun. Dan akhirnya sampai di rumah. Ada bunda, ada kue onde-onde. Saya makan. Enak. “Coba tanya Pak Kasirin saja. Dia pasti tahu,” kata perempuan yang mengantarkan saya ke dunia. Pak Kasirin adalah pemilik bengkel di depan gang rumah saya. Pak Kasirin ini adalah Pak Tua bijak (the old wise man) yang akan memberi saya petunjuk. Dalam dimensi lain, Pak Kasirin ini adalah Dumbledore atau Gandalf.

Pak Kasirin

“Bukan di Tigaraksa, Le,” kata beliau. “Di Serpong. Ini saya kemarin baru bayar pajak di sana.” Kemudian saya konfirmasikan jawaban Pak Kasirin sama kawan lama. “Iya, di Serpong. Yang di Tigaraksa itu SIM.” Oh, sial. Apakah Anda pernah membenci diri Anda sendiri karena terlalu sering melakukan kebodohan? Saat itu saya merasa begitu. Dasar bego. Kalo bertanya sejak awal, kan, tidak harus berlumuran darah di Daan Mogot.

Pergilah saya ke Serpong, melewati perumahan Gading Serpong yang bagus-bagus. Apakah ini surga? Bisik saya dalam hati, yang kembali kembali tergores perih – sampai kapan saya berpindah dari satu kubus ke kubus lain? Saya berusaha fokus. Samsat Serpong. Samsat Serpong. Jalan memutar cukup jauh sebelum saya tiba di sana. Di Samsat Serpong.

Tidak ada burung nasar. Gedungnya ramah sekali. Pegawainya juga ramah sekali. Wah, ternyata Leviathan yang saya cari tidak segarang yang saya bayangkan. Saya diberi formulir. Saya tidak mengerti pertanyaan yang diajukan. Seorang polisi tahu saya linglung. “Di sana ada contohnya, Mas,” katanya. Dan benar. Saya tinggal mencontek saja. Tapi, apa ini TNBK? Ini apa? Saya sok tahu. Tidak bertanya lagi. Saya contreng saja STNK dan membiarkan TNBK tak tercontreng.

Cek fisik. Saya diminta membongkar motor saya sedikit. Dicek fisik motornya. Lolos. Di loket delapan berkas saya distempel sana sini. Dilegalisir. Lalu saya kembali ke loket dan mendadak kaki saya lemas ketika Pak Polisi itu bilang: “Jadinya besok yah, Mas.” Apakah bapak ini tidak sadar bahwa tepat di jidadnya ada bacaan: standar pelayanan STNK maksimal 45 menit. Ingin rasanya saya jadikan dendeng orang ini.

Tapi saya berupaya ramah.

“Pak, saya sudah ambil libur untuk ini. Apa bisa diselesaikan hari ini?”

“Memang Mas kerja di mana.”

Hahahaha. Kesempatan. Kesempatan. Saya keluarkan saja kartu sakti saya. “Saya wartawan, Pak. Dari Harian Kacang Goreng.” Si bapak itu terperanjat. Wajahnya jadi berseri-seri. Senyumnya lebar.

“Oh. Ya sudah bapak bawa berkasnya ke bagian TU. Minta dibukukan. Nanti balik lagi ke sini.”

Di bagian TU pelayanannya cepat sekali untuk saya. Kenapa ayo?  Ternyata oh ternyata di berkas saya, di map saya ada stempelnya:

PERS!

Hahahahahaha. Saya merasa menang. Saya tidak mau sok idealis. Di Jakarta Raya ini. Orang sikut menyikut. Di Samsat anda harus berkompetisi dengan burung nasar alias calo atau Biro Jasa. Dan saya memang tidak meminta diperlakukan khusus. Saya hanya menjawab pertanyaan si Polisi yang sepertinya hendak meminta suap itu. Oh, lihatlah berkas saya berjalan seperti perahu kertas yang mengalir elegan di sungai yang gemericik itu. Saya tersenyum.

Tapi sayang setelah semua proses usai. Saya baru sadar bahwa TNBK adalah tanda nomor kendaraan bermotor alias PLAT NOMOR! Dua bulan lagi plat nomer mati. Ah, tak apa, setidaknya saya sudah tahu di mana si Leviathan dan bagaimana menjinakannya.😀

13 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. *ngakak*
    .
    .
    Seru! Seru!
    .
    Aku pernah merasakan hal yang sama. Hahahaha…. saat punya kuasa, apakah kartu joker segala-bisa macam kartu persmu, atau pegang posisi ormas, setan-setan itu berpikir 2x sebelum bikin bubur jadi nasi, bikin duit awak jadi isi laci. Ya…ya… seperti ejakulasi berkali-kali kata kawan😆

  2. wkwkwkwk….
    ternyata leviathan bisa dengan mudahnya ditaklukan dengan senjata pamungkas yang terdiri dari 4 kata saja😀
    untung waktu ngurus paspor kemaren ngga seribet itu😛

  3. Hati-hati kena UU ITE.

  4. you should’ve asked beforehand. dan ya, polisi punya petugas khusus untuk menangani “anggota, keluarga dan media”. udah pernah pake jasa itu..😀

  5. @alex
    .
    Sebenarnya aku males Lex menggunakan kartu pers. Beneran. Kalo terpaksa saja. Kalo enggak ditanya juga yah rela juga antri lama.
    .
    @felicia
    .
    Ngurus paspor lebih gampang lagi kalo wartawan. Entah kenapa mereka berfikir wartawan pasti liputan ke luar negeri.
    .
    @lambrtz
    .
    Mudah-mudahan aman.
    .
    @arie
    .
    Iya, mestinya nanya emang.😕

  6. @ Pemegang Kartu Pers

    Sebenarnya aku males Lex menggunakan kartu pers.

    Itu kartu keramat lho. Kalo di kalangan pemegang senjata, KTA namanya. Masuk kemana-mana macam umat Muhammad dapat syafa’at di hari kiamat: Mujarab lewat tanpa hisab. Cukup nunjukin KTA sambil bilang jumawa, “Nggak tahu apa kalo kita anggota?!”
    .
    *dan lirik “every little thing gonna be alright” pun terdengar dari lagu Three Little Birds-nya Bob Marley*😆

    Beneran. Kalo terpaksa saja. Kalo enggak ditanya juga yah rela juga antri lama.

    Kadang2 ada sikon dimana yang congkak harus dilawan dengan congkak juga. Ibarat pisau dapur, tergantung utk apa kau pakai😀
    .
    Ah, masih sok-idealis juga ternyata:mrgreen:

  7. Saya memang tidak meminta dì perlakukan khusus.

    anda gak minta di perlakukan secara khusus ko’
    anda cuma minta hak anda.
    cuma ya itu,dengan cara sedikit gertakan.
    ya,begitulah hidup,buat mendapatkan hak kita sendiripun,harus punya taring.

  8. Hidup di dunia yang semrawut ini kadang perlu identitas tambahan yang bisa dimanfaatkan saat diperlukan untuk gantian menakuti si Leviathan.

    BTW, cerita ketemu orang tua itu, jadi inget film Jackie Chen nyasar dan ketemu orang tua yang memberi petunjuk.🙂
    *mbayangin mas Gen jadi Jackie Chen yang mbawa guci*

  9. “Saya hanya menjawab pertanyaan si Polisi yang sepertinya hendak meminta suap itu.”

    gw udah pernah denger ini. dari seorang kolega sesama wartawan baru di sebuah harian. dia dan temannya “cuma menjawab pertanyaan si polisi yang mau menilangnya”, yang akhirnya ngebiarin dia pergi. lucky bastards

  10. wuih kayak nonton Hercules aja. penuh dengan petualangan menghadapi berbagai macam makhluk berbahaya untuk menyelesaikan tugas beratnya. Ternyata hanya butuh senjata sakti berupa tameng bercap pers doang.:mrgreen:

  11. Hahahaha, kok belum pernah baca yang ini, ya. Luar biasa.😆

  12. [[xatflip]]

  13. itu semua tolol boonk ajh


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: