Avatar dan Ambivalensi Peradaban Kita

December 27, 2009 at 3:00 am | Posted in apresiasi, katarsis, ngoceh, refleksi | 48 Comments
Tags: , ,

Disclaimer: Ini komentar asal-asalan setelah menonton film Avatar di bioskop kemarin.

Saya hampir berkata subhanallah ketika Jack Sully (Sam Worthington) memandang penuh takjub hutan tropik di pertambangan Pandora, di sebuah planet entah di mana, entah kenapa. Ah, apakah puisi masih layak ditulis ketika teknologi sudah sedemikian mumpuni, sudah sedemikian intimidatif dalam mencipta realitas?

Realitas Bohongan

Rasanya baru kemarin Jack Dawson (Leonardo D’Caprio) dan Rose DeWit (Kate Winslet yang selalu saya puja) bergelayutan di pagar anjungan kapal Titanic yang setengah tenggelam itu, mengulang kembali  dalam sinema kengerian yang terjadi pada awal abad kemarin ketika kesombongan yang begitu vulgar dari peradaban teknologis kita dipermalukan secara semena-mena oleh alam dan Tuhan. Seperti betulan, semuanya seperti betulan – wajah pucat Rose atau patahan kapal yang seperti orgasme di tengah malam itu. James Cameron, sang sutradara, menuai pujian dan penghargaan. Lebih sepuluh tahun kemudian, dalam film Avatar, Cameron mengingatkan kembali hikmah tragedi Titanic: teknologi sudah membuat manusia sombong dan lupa pada akarnya: alam.

Pembaca yang terhormat, Hollywood memang doyan berkhotbah belakangan ini. Mungkin karena kampanye Muhammad Al-Gore atau ocehan repetitif media massa tentang ibu pertiwi yang semakin koyak akibat duet mematikan teknologi dan keserakahan. Cameron, tentu saja, bukan yang pertama dan apalagi satu-satunya orang film yang berkhotbah di 21. Meski begitu, filmnya yang teranyar ini menggugah saya untuk menulis karena ia sebenarnya merefleksikan hubungan problematik antara manusia dan teknologi, antara dunia sebagaimana adanya dan dunia yang kita coba-rekayasa, lewat teknologi.

Kelemahan Avatar

Kelemahan film Avatar yang paling mencolok adalah alur-ceritanya yang terlalu mudah ditebak, terlalu klise, terlalu artifisial, terlalu Hollywood [Lihat Wikipedia bila tidak percaya]. Terlepas dari berbagai pencapaian artistiknya secara visual, film ini bisa dibilang kering dari segi cerita; hampir tidak ada dimensi manusianya; tidak ada adegan atau dialog yang layak diingat. Jack, IMO, is just another Rambo; karakter default protagonis segala film perang Amerika, yakni veteran badass yang traumatik, yang sudah kehilangan alasan untuk hidup normal, yang urat nyalinya sudah putus, yang karena saking sakitjiwanya bisa mengalahkan ribuan tentara sendirian, literally alone. Pada 1980-an, sebelum perang Iraq dan Afghanistan, Rambo masih dipuja-puja. Sekarang? Tokoh Jack adalah simbol dosa-dosa Amerika kepada dunia di awal milenium baru.

Rambo Biru

Sepanjang film, Cameron mengekshibisikan sudut pandang Amerika dalam peta politik dunia; bahwa mereka adalah entitas militer yang adidaya dan berperadaban, sementara di luar sana hanya ada orang-orang tak beradab yang — meskipun tak sehebat dan seadidaya mereka — mesti dilihat sebagai ancaman serius. Memang, Cameron seperti ingin memberikan perspektif lain: bahwa dalam film itu, tentara Amerika berada pada pihak yang jahat, dan ketika Kolonel Miles Quaritch berujar “we’ll fight terror with terror”, kita tahu Cameron menentang kebijakan Timur Tengah George Bush yang urakan. Alas, sekilas Cameron seperti hendak mengglorifikasi teroris melalui figur Jack dalam tubuh Avatarnya, tetapi mengingat Jack adalah “Rambo yang lain” kesan itu segera pudar di tengah sinisisme: Mengapa orang Amerika selalu berfikir bahwa negara/bangsa lain membutuhkan bantuan mereka untuk melawan segala penindasan, bahkan yang dilakukan oleh mereka sendiri? Lihat betapa tidak berdayanya bangsa Na’vi tanpa Jack? Huah. Dasar Amerika!!

Nah, karena story-line-nya itu yang tidak kedap ideologi dan megalomania bangsa Amerika (penjajah bangsa Indian) secara umum, film itu menjadi sekedar film Hollywood yang lain saja buat saya, yang tidak bisa dibedakan dari film Terminator 4, yang ngawur itu. Saya tidak berharap film Hollywood menjadi tidak terlalu “Amerikana”, tetapi setidaknya kurangilah kadarnya sedikit. The Matrix saya kira cukup berhasil.

Orang Amerika cuma butuh tiga bulan untuk menjadi raja suku Na'vi yang konon buas itu.

Ambivalensi Peradaban Teknologis Kita

Karena tidak bercerita dengan baik, realitas virtual yang semestinya indah dan “luar biasa” itu menjadi bebal dalam Avatar. Daun dan kembang yang bercahaya violet, akar-akaran yang bercahaya biru, serat tumbuhan yang bercahaya merah jambu, burung purba yang bisa ditunggangi seperti kuda rodeo, semuanya seperti hadir tanpa konteks — vacuous. Hanya sebuah gambar yang memanjakan mata saja, tidak mengingatkan saya pada keindahan alam yang sesungguhnya di luar sana, yang konon sedang sakit digerus kapitalisme. Karena, entah kenapa, yang terbayang di kepala saya saat itu cuma sekelompok geek yang setiap hari menghabiskan waktu mereka di depan komputer; melihat dan mencipta dunia di layar LCD, bukan di alam terbuka. Dan gumaman filsafat itu pun, yang dilontarkan Dr. Grace Augustine (Sigourney Weaver), bahwa ada jejaring kehidupan yang menyatukan pepohonan, binatang buas, serangga dan manusia, dan bahwa Tuhan dan intelligent design (dalam film keduanya disebut Eywa) bisa dijelaskan secara biologis itu sepertinya kurang mengena; bukan karena tidak ilmiah atau apa, namanya juga fiksi, tetapi karena terlalu dipaksain ilmiah saja, jadinya seperti tertahan pada dua persepsi: ini fiksi-ngarang saja atau fiksi-sains?

Nah, di sini ambivalensi itu begitu tebal. Di satu sisi Avatar seperti berupaya mengecam kehidupan teknologis manusia yang terlalu angkuh dan jauh dari alam, tetapi film itu sendiri, di dalam dan juga di luar narasinya, atau dalam keseluruhan proses produksinya, malah merefleksikan hubungan  problematis, kalau bukan masokis, antara kita dengan teknologi. Bayangkan; agar manusia mencintai alam yang sedang sakit itu, teknologi dibuat jungkir balik untuk merakayasa alam (partikel yang berseliweran dalam peralatan komputer) untuk menciptakan sebuah realitas yang dibuat-buat, tentang alam yang sudah tidak dihargai, tetapi dalam proses yang njlimet itu alam yang kita kenal di kepala sudah dimodifikasi secara virtual, sudah tidak lagi seperti alam sebagaimana adanya, melainkan alam yang tidak lagi alamiah, yang menurut saya merupakan pelecehan terhadap keperawanan alam itu sendiri. Wah saya ngomongnya muter-muter ini yak? Nah, itu, intinya di satu sisi manusia ingin mencintai alam dan cemas akan kedigdayaan teknologi, tetapi di sisi lain manusia begitu mencintai teknologi sehingga untuk mencintai alam pun manusia, seperti ditunjukkan Cameron, tidak bisa meninggalkan teknologi. Hasilnya?

Sebuah film canggih tanpa narasi yang baik; sebuah film canggih tanpa wajah manusia yang kita kenal; sebuah film canggih tanpa makna; sebuah film canggih yang dikendalikan pasar; sebuah film yang angkuh, yang tidak mengajarkan apa-apa kecuali bahwa di depan sana, di rel peradaban teknologis ini, hanya ada realitas virtual, dunia yang artifisial.

😦

Advertisements

48 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Film baru, Gen?
    .
    Bersyukurlah, setidaknya kau masih bisa menonton. Di sini cuma bisa menunggu DVD bajakan kalau mau cepat menonton dengan kualitas yang tak sepadan dengan bioskop 21 itu 😀
    .

    Saya hampir berkata subhanallah ketika Jack Sully (Sam Worthington) memandang penuh takjub hutan tropik di pertambangan Pandora, di sebuah planet entah di mana, entah kenapa.

    Aku malah entah kenapa mencengir dengan ucapan subhanallah itu sendiri. Macam kalau aku sendiri yang mengucapkannya: entah perasaan religius atau faktor kebiasaan karena lahir sebagai muslim dari keluarga muslim. (Lagian mau muja siapa dengan kata “Maha Suci” itu? Maha Suci Obama? Ada saran?) 😆
    .

    Ah, apakah puisi masih layak ditulis ketika teknologi sudah sedemikian mumpuni, sudah sedemikian intimidatif dalam mencipta realitas?

    Dalam pendapatku: Masih. Sisi cengeng manusia akan selalu ada sepanjang zaman, kecuali mungkin otak dan hatinya diganti dengan otak dan hati karet bekas sandal jepit….
    .

    Lebih sepuluh tahun kemudian, dalam film Avatar, Cameron mengingatkan kembali hikmah tragedi Titanic: teknologi sudah membuat manusia sombong dan lupa pada akarnya: alam.

    Lebih dari sepuluh tahun kemudian, nama Si Cameron itu juga mengingatkan aku betapa menggelikannya film Titanic itu membuat cewe-cewe di kelas jadi romantis dadakan, semua jadi ikhlas mati dalam pelukan pejantan se-hensem itu di lautan beku 😆
    .
    Romantisme juga membuat manusia lupa diri rupanya…
    .
    Ah ya, tentu Cameron juga tentu suka jika diingatkan namanya sebagai orang di balik Titanic, maka dollar akan mengalir lancar… 😀
    .


    Mengapa orang Amerika selalu berfikir bahwa negara/bangsa lain membutuhkan bantuan mereka untuk melawan segala penindasan, bahkan yang dilakukan oleh mereka sendiri?

    Karena bangsa-bangsa non-Amerika, termasuk di Nusantara ini, mengaminkannya baik sadar atau tidak? 😛
    .
    Ah ya, The Matrix memang cukup berhasil. Aku tidak merasa nonton film yang kentara bau Amerikanya, mungkin karena itu film banyak filsafatnya kali ya? 😀
    .
    Apapunlah, reviewnya sudah bikin aku nggak bernafsu nonton film ini. Bisa nonton syukur nggak bisa ya nggak syukur. Tentu saja pernyataanku ini dengan disclaimer: Pernyataan ini adalah kesadaran sendiri tanpa ada prasangka bahwa blog Gentole ini sedang dibayar oleh film-film lain, baik film lokal bertajuk Air Terjun Pengantin atau film luar seperti Alvin and the Chipmunks 2. Demikian.

  2. Ya,superioritas dan orogansi…SI amerika.
    Konon,pencipta sebuah peradaban,entah millenium keberapa.!

  3. @alex

    Film baru, Gen?

    Ya, film baru dari yang bikin Titanic. Ada banyak kok beritanya. 😀

    Aku malah entah kenapa mencengir dengan ucapan subhanallah itu sendiri. Macam kalau aku sendiri yang mengucapkannya: entah perasaan religius atau faktor kebiasaan karena lahir sebagai muslim dari keluarga muslim

    Faktor bawaan lahir itu. Udah mendaging.

    Karena bangsa-bangsa non-Amerika, termasuk di Nusantara ini, mengaminkannya baik sadar atau tidak?

    Saya juga berfikir begitu. Dunia memang seperti ambivalen terhadap Amerika. Cinta tapi benci, di luar marah-marah, tapi di dalam cinta, atau di luar cinta, tapi di dalam benci. Ah, ribet.
    .

    Apapunlah, reviewnya sudah bikin aku nggak bernafsu nonton film ini. Bisa nonton syukur nggak bisa ya nggak syukur. Tentu saja pernyataanku ini dengan disclaimer: Pernyataan ini adalah kesadaran sendiri tanpa ada prasangka bahwa blog Gentole ini sedang dibayar oleh film-film lain, baik film lokal bertajuk Air Terjun Pengantin atau film luar seperti Alvin and the Chipmunks 2. Demikian.

    Kalau mau lihat gambar yang bagus, saya anjurkan tonton saja. Lumayan segar buat mata dan otak yang lagi malas berimajinasi. :mrgreen: Dan btw si Neytiri yang flat-chested itu jauh lebih alluring ketimbang Tamara yang lagi obral belahan itu. 😀

  4. @ibeng
    .
    Iya, Ibeng.

  5. Nonton 3D atau yang biasa?
    *Gw nongton yang 3D dong aw*

    Tapi bener sih, Avatar cukup Amerika banget. Walau kalau saya nongton felem atau anime Jepang, pasti Jepang banget ceritanya.

    Kalau The Matrix sih karena dunianya beda, virtual reality gt IMO.

  6. Ya, film baru dari yang bikin Titanic. Ada banyak kok beritanya. 😀

    Nggak sempat baca berita. Udah eneg… melulu pasokan kabar ala Jakarta saja 😀

    Faktor bawaan lahir itu. Udah mendaging.

    Ya. Kalo lahir dan besar di kehidupan brengsek kota Medan pasti ucapanku “Kimak kali indahnya!”

    Dunia memang seperti ambivalen terhadap Amerika. Cinta tapi benci, di luar marah-marah, tapi di dalam cinta, atau di luar cinta, tapi di dalam benci. Ah, ribet.

    Ya sama macam blogger2 anti hegemoni produk Amerika, anti kapitalis bla bla bla. Akhirnya bisa jadi ikon jualan brand juga *lirik blog2 jamaah terdepan* 😆

    Kalau mau lihat gambar yang bagus, saya anjurkan tonton saja. Lumayan segar buat mata dan otak yang lagi malas berimajinasi. :mrgreen: Dan btw si Neytiri yang flat-chested itu jauh lebih alluring ketimbang Tamara yang lagi obral belahan itu. 😀

    Kalo memang ada nanti boleh dicoba. Meski film-film yang seperti itu, macam Planet of the Apes, entah kenapa kurang menarik.Promosi Neytiri itu boleh jadi pertimbangan. Tamara udah basi dia punya tungkai dan belahan 😀

  7. Bah! Lupa nutup strike 😆

    Inilah kalo kebanyakan bermain pesan di balik tanda coret itu =))

  8. @Gentole
    terimakasih, review anda sangat mencerahkan dan menyelamatkan.
    Mencerahkan karena berhasil membuat pertanyaan “ini pilem layak tonton ndak?” mendapatkan jawaban.
    Menyelamatkan karena berhasil membuat selembar kertas bergambar Bapak Pembangunan Indonesia, kembali bersemayam di dompet.
    .
    .
    .

    Dan btw si Neytiri yang flat-chested itu jauh lebih alluring ketimbang Tamara yang lagi obral belahan itu.

    flat chested lebih alluring dari full cleavage??
    hmm… opini yang menarik :mrgreen:

    @Alex

    Ya. Kalo lahir dan besar di kehidupan brengsek kota Medan pasti ucapanku “Kimak kali indahnya!”

    Ah, itu tergantung individunya juga bro. Aku lahir dan besar di Medan tapi tak sampeklah aku ngomong kek gitu. Tapi kalok ada yang cakap macam tu, sepatah juga tersilap:
    “Sik, ma babami!” 😆 😆

  9. @ Ji

    Kau ini macam mana membacanya? Cak kau lihat baek2: jelas itu tertulis “pasti ucapanku”. Ah, mentang2 kau di Medan dan ogah ketemu lalu kau bandingkan dgn dirimu. Huh! Kena denda sekotak Bika Ambon pula enaknya kau ini 😆

    Etapi serius, cak kau liat-liat, mesti ada ucapan gitu di preman-preman Pasar Sambu atau anak-anak punk yg acap kena garuk Poltabes itu. Macam “kimak kali bodi cewek itu!” Ha! Baru sadar kau mengucap “Sungguh benar Alex© dgn segala komennya” 😆

  10. @calupict
    .
    Emang beda benerkah? Aku nyoba nonton di XXI Lippo kemarin.
    .
    @alex
    .
    Udah dibetulin tagnya. Yah kalo sempat saja. Di Aceh tak ada 21 kah?
    .
    *benerannanya*
    .
    @ji
    .
    Wah jangan langsung percaya review saya. Saya ini udah dibayar sama produser Air Terjun Pengantin.

  11. @ Gentole

    21? Gyahahaha… bioskop model 80-an yg kursinya bangku panjang mirip SD dahulu kala saja sudah tak ada di Aceh. Bioskop sudah terpatri dlm otak penegak syariat sebagai sarang maksiat, tempat layar besar memajang adegan senggama ala Suzanna, dan para non-muhrim bercumbu remas-remasan burung dan sepasang pepaya dalam kegelapan jahiliyah. Di Aceh, hiburan maksiat seperti itu menjadi privat properti macam pemutar DVD. Ulama dan umara macam sepakat: maksiat di kamar saja, okeh? 😆

  12. Avatar? Aang-nya mana? :mrgreen:
    memang film ini cuma menang visualnya doank, ceritanya kosong…
    tapi bahkan penggambaran bang Na’vi itu tidak lebih menarik ketimbang animasi buatan Jepang…
    yah, mungkin selera individu saja, seperti juga saya lebih suka Gundam daripada Transformer 😀

  13. Setelah membaca resensi ini saya jadi kehilangan minat. 😦
    *untung belum nonton*

  14. ^
    … nah lho?! 😆

  15. kalau begidu mendingan nonton Sinchan ama Doraemon aja atuh jauh lbh memiliki makna :mrgreen:

  16. @ gentole

    Wah jangan langsung percaya review saya. Saya ini udah dibayar sama produser Air Terjun Pengantin

    .
    Ai makjang, narablog sekarang? Alih profesi? Atau statement pengukuhan diri sebagai seleblog?
    😆 😆 . 😆

    berapa bayarannya bro? bisa gak kau ikutkan blogku… :mrgreen:

    @ Alex

    keong! kan udah kutulis juga disitu: tergantung individunya.

    sekotak bika ambon? Beuh, rendah kali hargamu kawan :mrgreen:
    Udah kubilang kalok mau nongkrong, titi bobrok aja, kudengar katanya mie aceh disana pakek bumbu ganja, ha..jangan pura2 tak ngences kau 😆
    .
    .
    Apa pulak pasal awak mensurvey sambu sama perampatan lampu merah tempat byk anak2 punk tecirit-cirit dikejar pp, udah taunya kau selera aku. Makanya kau ajukan proposal kopdar ala kaum hedonis, ya kan 😆 😆

  17. beuh..lupa nutup blockquote

    ah afwan ya akhi…mohon bantuan perbaikan mesjid komeng diatas

  18. beuh..lupa nutup blockquote

    ah afwan ya akhi…mohon bantuan perbaikan mesjid komeng diatas

  19. muslim slalu protes klo kafir bikin film bagus.dasar…!!!
    inayah bakalan menang gramy award th 2010….

  20. @ Ji
    .
    Ngeces? Hah! Sudah biasanya aku sama mie Aceh 😛
    Jelas saja Bika Ambon, di sini kan langka itu. Barter sama kue pala, cemana?
    .
    Hed…Hedonis? Kau?? Hedonis??
    *ngakak*
    .
    .
    .
    PS: SAYA KOMPLEN KEPADA GENTOLE: KENAPA TIDAK DIHIDUPKAN FITUR REPLY DI BAWAH SETIAP KOMEN. TIDAK BISAKAH BLOGGER NOMADEN MACAM KAMI BERCAKAP-CAKAP DENGAN REPLAI-MEREPLAI KOMENG??
    .
    *duh…kepslok kepencet*
    .
    .
    .
    *diusir*

  21. @ wild bear

    Ah, masa sih? Perasaan situ saja deh kayanya xixixixi… Temanku ada yang kristen ada yang buddha, kalo nggak suka sama satu film ya mereka protes juga :mrgreen:

  22. @alex

    bioskop model 80-an yg kursinya bangku panjang mirip SD dahulu kala saja sudah tak ada di Aceh.

    Gaya hidup borjuis yang hedonis dan dekaden itu menyenangkan, Lex. Itu benar itu. 😀
    .
    @felicia
    .
    Ya, saya juga lebih suka Aang, Katara, Sokka, Toph dan Zuko. 😀
    .
    @lambangbiru
    .
    Jangan cepat percaya review. Lihat sendiri dulu. Terus kita bandingin reviewnya. :mrgreen:
    .
    @g3mbel
    .
    Hehe…Ninja Hatori!
    .
    @lainsiji
    .
    Dah dibetulin.
    .

    Ai makjang, narablog sekarang? Alih profesi? Atau statement pengukuhan diri sebagai seleblog?

    Gak ngerti pertanyan mu, Nak.
    .
    @wild bear
    .
    Ah, kalau begitu nanti saya akan menulis dengan istilah dan idiom Kristenbisa aja si bung/mbak ini. :mrgreen:
    .
    @alex. ji
    .
    Bagi dong makanannya. Kayaknya enak. 😀

  23. Ah, posting ini mengungkapkan dengan gamblang isi pikiran saya… Jadi dengan ini saya tetap dengan keputusan sepihak saya; film terbaik 2009 masih dipegang oleh Up! :mrgreen:

  24. ^
    .
    Hehe setuju; Up emang moving. Reviewers sinis kebanyakan nyerangnya di kesan bahwa film Avatar enggak orijinal; ada contekan Dance With The Wolf, Pocahontas, Matrix, Terminator, etc. Saya sih tidak mau mempersoalkan itu. Eksekusinya yang jelek. Kenapa juga orang bilang ceritanya bagus, yak? 😕

  25. aduh, br*ngs*k. baru mau liat. udah kau hajar begini. arrgh. Buset, saking tidak orijinalnya sampai namanya Jek lagi, Jek lagi?!

  26. ^
    Yah jangan terpengaruh dong. Kan review ini subyektif. Meskipun, iya, gitu, Jek lagi, Jek lagi. :mrgreen:

  27. @ Gentole

    Gaya hidup borjuis yang hedonis dan dekaden itu menyenangkan, Lex. Itu benar itu. 😀

    Disetujui. :mrgreen:

  28. Wah, baru saja hendak saya donlod filmnya, agak penasaran soale.
    .
    *mengucap puji syukur kepada Allah, telah dicegah dari menonton hal yang tidak berfaedah*
    .
    *donlod Drama Korea*

  29. Oh iya, judulnya saja sudah tidak orijinal, ngejiplak kartunya Nick… *sok sinis*

  30. @ frozen

    Drama Korea? DRAMA KOREA? Dimana romantisme dan ketampanan bermanunggaling kawula gusti? Kawula lebbay dan gusti bernama cintah?? 😆

    @ Amd

    Judul avatar dan karya Nick itu sendiri juga tidak orijinal. Menciplak istilah di internet. Kurasa itu mereka pasti suka main yahoo! mesenjer dan doyan ganti2 avatar 😆

  31. Met Tahun Baru

  32. jreng jreng… jadi inget john rambo (tetralogi rambo) hingga john matrix (commando). mereka memang kelewat hobi bikin super-soldier yang meski beraksi sendirian tapi mampu menjungkir balikkan sebatalyon prajurit terlatih jadi macam anak kuliahan ngerjain anak es de. tapi dari segi animasi? bagus memang. tapi sudah nggak mengherankan lagi selepas ane nonton FF VII : AC hingga Dr.Seuss’ Norton Hears Who?

    e tapi nice review, lah. seenggaknya ane udah tau laik tidaknya filem yang kata temen saya ‘nendang’ ini buat saya tonton. dari segi pembelajaran, IMO, saya malah masih terkesan dengan WALL-E: soal bagaimana manusia jadi tak berdaya ketika telah mengalami dependensi akut terhadap teknologi 😀

  33. Ah, saya diingatkan karena hingga pergantian tahun saya belum juga menontonnya.

    Anyway, selamat tahun baru; semoga 2010 lebih baik 😉

  34. Selamat Tahun Baru mas.
    Semoga semakin sukses dan semakin berbahagia.
    Salam hangat.

  35. couldn’t agree more with ur review

    *baru aja nonton, setelah menghindari segala macam review sebelum nonton filmnya

    satu hal yg gw selalu sebel dgn film macam begitu; se-remote dan primitif apapun masyarakat yg dianggap “the Other” sama amerika itu, pasti selalu ada yg bisa bahasa Inggris

    tapi memang gambar yg indah itu layak untuk ditonton 3D. mgkn di masa depan, 3D bisa dihadirkan di ruang TV, dan kita terpaksa beli TV 3D krn perkembangan zaman dan ngomel2 k anak; “dulu mama nonton pake 2D jg gpp kok”

    film peringatan global warming yg paling oke sejauh ini memang wall-e. mgkn krn romantis dan menye2 😀

  36. @alex
    .
    Sosialis yang tidak konsisten.
    .
    @frozen
    .
    Nonton di Blitz dong. Atau di XXI. Yang 3d. Jangan ngaji terus, Ris. Berikan hidupmu yang masih muda itu kesenangan.
    .
    @amd
    .
    Halah. Pastinya Mas Amd anti seni jiplakan. :mrgreen:
    .
    @alex
    .
    Avatar itu istilah yang jauh lebih tua dari Internet lah. 😀
    .
    @lovepassword
    .
    Met tahun baru.
    .
    @kuro
    .
    Ya setuju. Wall E bagus. Romantis dan menye. :mrgreen: Dan pesan lingkungannya nyentil banget.
    .
    @atta
    .
    Met tahun baru juga. Nonton lah, Mbak Atta.
    .
    @lambang emha
    .
    Met taun baru!
    .
    @alia
    .
    Nonton di Jakarta atau Padang? Ada yang 3d di sana? :mrgreen:

  37. jgn menghina. ya di jakarta lah. sblm gempa aja bioskop sudah tak laku (saking telatnya), apalagi kl udah retak2 gitu

  38. @alia
    .
    :mrgreen:
    .
    Gak segitunya kali, Al. 😀

  39. Ah, itu khan sama saja dengan kisah si menari bersama serigala membela bangsa smurf yang tertindas oleh manusia dan si buas azrael piaraannya.

  40. Nonton IMAX kayaknya lebih mantap.

  41. @ empunya blog

    Sosialis yang tidak konsisten.

    Njrit! 😆

    Justru karena soksialis eh sosialis, mesti rajin2 bersosialisasi. Salah satu caranya dengan jadi hedonis ke bioskop. Segala jenis perangai manusia bisa ketemu 😆

    Soekarno saja dulu sok-sok’an kiri, larang2 karya Amrik, nangkepin Koes Plus, ehh.. dianya sendiri diam-diam terima suplai film2 Hollywood ke istana. Konon sih begitu 😛

  42. Yeaah..! Kaya’ bung Ali.
    Sok2-an atheis,takut juga ame tuhan.

  43. Lah, kesan yang saya dapat kok film ini memang tidak dibuat untuk jadi refleksi apapun? Pujian yang dialamatkan kepadanya pun semuanya mengarah kepada kemewahan segi teknikal yang dimilikinya, seperti kamera stereoskopik ataupun motion capture yang semakin disempurnakan. Subteks-subteks yang dibawanya (lingkungan, perancangan cerdas, penghargaan terhadap kesehatan jasmani, dst.) pun rasanya cuma dicocok-cocokkan saja — sebab setahu saya film ini mulai diproduksi sejak bertahun-tahun lalu dan sempat mandeg di development hell, sepertinya jauh sebelum Al Gore dan U2 membikin cinta lingkungan jadi hip dan trendi. :mrgreen:
    .
    Soal cerita memang tidak bisa diselamatkanlah. Ini ‘kan tipikan fiksi ilmiah biasa yang sangat kaya dan mendetail dalam legendariumnya (kru ada membuat ensiklopedi lengkap flora-fauna Pandora) tapi kering dari segi cerita. Biasalah itu, lelaki kulit putih Amerika memimpin orang ras lain mengalahkan musuh.

  44. *pulang riset*
    .
    Nah ternyata bener ini ceritanya dibikin tahun 1994 sebagai pastiche karya-karya majalah fiksi ilmiah.

  45. @ando
    .
    Ya sudah banyak yang bilang begitu.
    .
    @IMAX, what?
    .
    @alex
    .
    Halah, bisa aja kau, Lex.
    .
    @ibeng
    .
    :mrgreen:
    .
    Kgeddoe
    .
    Ya saya juga dengar sudah lama ini film dibuat. Tapi kok gambaran perang Iraq, juga referensi ke The Matrix, robot terminator, semuanya kayak recent banget. Ndak yakin skripnya sudah final pada 1994. Cameron boong kali. 😀

  46. Iya, dugaan saya memang detailnya diracik belakangan, jadi tema lingkungan yang dibuat kental, referensi perang melawan teror-nya Bush, itu memang diletakkan baru-baru ini. Namun tentunya cerita utamanya yang memang sangat taat asas Hollywood, serta pamer teknologinya yang ambivalen memang tidak bisa diubah lagi.
    .
    Barangkali Cameron kecele draft filmnya yang sudah lama dibuat kadaluwarsa oleh blockbuster-blockbuster belakangan yang tidak senaif dulu (kontras Betmen George Clooney dan Christian Bale), lalu terpaksa menambahkan elemen-elemen baru. :mrgreen:
    .
    Hasilnya mungkin memang janggal seperti yang Masbro tulis.

  47. […] jika anda masih terkagum-kagum melihat Avatar meraih 9 nominasi, sebaiknya baca ini dulu deh, hohoho… GD Star […]

  48. […] jika anda masih terkagum-kagum melihat Avatar meraih 9 nominasi, sebaiknya baca ini dulu deh, […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: