Puisi#1

December 16, 2009 at 11:31 pm | Posted in gak jelas, iseng, katarsis, refleksi | 21 Comments
Tags: , ,

Demi kaos tank-top dan kedua payudara mungil yang masih perawan di dalamnya; Aku ingin sekali mengajakmu pergi bersama hasrat; pergi yang jauh, agar gelap gerbong yang kita tumpangi ini kenan berkisah tentang manisnya kehilangan – tentang hatinya yang bengkak karena rindu ditahan-tahan.

Demi bikini dan payudara montok yang meleler-leler di pesisir Pulau Para Dewata, yang sudah tidak perawan lagi itu; Aku membawa berita gembira untukmu; berita tentang Tuhan yang mati di kayu salib dan tidak pernah bangkit lagi selama-lamanya, agar anak-cucu Adam bisa hidup bahagia tanpa dosa,

karena Tuhan kita almarhum sudah.

Advertisements

21 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Yang belum 2717 tahun dilarang komentar. :mrgreen:

  2. ^

    *belum 27*

    *diam sambil makan gorengan*

    😛

  3. demi vagina basah rasa stroberi
    yang begitu menggiurkan untuk dijilati
    dan demi penis yang terkulai lemah karena kekurangan gizi
    sekarang aku tahu bahwa cinta itu suci
    begitu suci memang sehingga tak perlulah dibahas kembali :mrgreen:
    .

    * ngikut kontes puisi umur saya dah 27+ * 😆

  4. @mizzy
    .
    Silahkan.
    .
    @g3mbel
    .
    *terbelalak*
    .
    Sebenarnya saya berusaha untuk tidak sevulgar itu, Mas. 😕
    .
    *mikiruntuknyensor*

  5. duuh maaf 😯 yang itu, “kata2 yg itu” di sensor saja sebab tadi bikinnya terlalu spontan. maklumlah puisi mengalir begitu saja tanpa terkendali.
    .
    * sekali lagi mohon maaf * 😦

  6. Ini masih sibuk liburan, Mas?

    .
    .
    .

    @ G3mbel
    *berlagak sok kritikus*
    .
    Saya… ada sedikit catatan Bung, lain kali Anda harus waspada, seimpromtu apapun Anda menulis sebuah karya–katakanlah puisi sebagai genre sastra, ingat bahwa selalu ada diskrepansi antara karya sastra erotis dengan karya sastra pornois, sehingga jangan sampai puisi Anda masuk golongan KSS (Karya Sastra Selangkangan).
    .
    *ngeloyor pergi*
    *puwas*

  7. Ma-masterpiece!

  8. @g3mbel
    .
    Tapi saya tidak suka sensor dalam bentuk apapun (kecuali bila membahayakannyawa virtual saya). Puisi Anda memang vulgar, vulgar sekali, tetapi apakah puisi saya tidak lebih vulgar? Ini persoalan perspektif saja barang kali.
    .
    Tetapi bila Anda memaksa untuk menyensor puisi itu, karena kuatir pencitraan Anda atau lain hal, saya akan menyensornya.
    .
    @aris
    .
    Bisa dibedakan apa yang saya tulis dengan apa yang Mas G3mbel tulis?

  9. Bisa dibedakan apa yang saya tulis dengan apa yang Mas G3mbel tulis?

    Bisa.

  10. ^
    .
    Beda di mananya?

  11. Ck..ck..ck..! Ko’ jadi ngawur.
    Kemana lagi kedalaman imajinasimu bung!
    ‘jadi mentok di selangkangan’.
    Inih..nih..!, gara-gara tuhan gak nongol-nongol.
    Ada yang nongol,sudah mati lantas di tiang salib.
    Kadang berpikir sederhana lebih menyenangkan,dengan tafsir kebutuhan pokok,sandang pangan.
    Biarlah tuhan ada seperti berita kitabNya.
    Tuhan sejati tidak pernah menampakkan diri.
    Karena Dia tau,akan selalu ada manusia-manusia yang selalu mengingkariNya.
    Kalau sampai demikian akan memantik sifatNya,’sang maha murka’
    Dan Tuhan bukanlah sesuatu yang suka ingkar janji,akan hari perhitunganNya.
    ”Dan burung-burungpun bertasbih dengan memuji tuhanNya,tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka’
    Semutpun berbaris dengan rapinya.
    Seakan saling menyapa,entah dengan bahasa lisan atau isarat tubuh.
    .
    .
    .
    *kebetulan di gubuk gue banyak semut,lumayan buat sekedar inspirasi*

  12. tafsirnya panjang mas … 🙂
    .
    saya hanya ingin mengatakan bahwa eros ya eros mustahil sama dengan agape…, ketika eros kasta terelit sirna maka sangat mungkin bisa berubah jadi agape….!!!
    .
    contoh kasusnya terlalu banyak dan melimpah ruah dari mulai cerita legenda, cerita kitab suci, kisah sejarah maupun kisah nyata.
    .
    sekali lagi saya lebih baik di tuduh sebagai laki tak bermoral dari pada harus mengingkari diri saya sendiri alias munafik.
    .
    sekali lagi saya tidak ingin munafik dan paling benci dengan segala bentuk kemunafikan….!!!!
    .
    contoh pertama kisah Sangkuriang yang jatuh cinta pada ibunya sendiri. kenapa Dayang Sumbi meminta syarat sesuatu yg mustahil di penuhi oleh Sangkuriang berupa sebuah danau yg harus dibuat selama sehari semalam…? dan Sangkuriang pun menyanggupinya hanya dengan tersenyum saja.
    .
    Dayang Sumbi tahu bahwa itu anak kandungnya sendiri sehingga dengan seketika asmaranya sirna. Tapi bisakah ini berlaku pada Sangkuriang…? sejuta kata pun tidak akan mampu menyadarkan orang yg sedang di mabuk asmara sebab kepala bagian bawah jadi d atas dan kepala bagian atas jadi d bawah … apa esensi cerita ini…? ( eros ya eros yang tentunya bersumber dari selangkangan ) dan tentunya banyak hikmah yg bisa di petik dari cerita legenda ini.
    .
    contoh kedua dari ajaran hikmah agama sebelah, kisah Dewa Bhrata yang kemudian di beri gelar Bhisma ( orang yang teguh memegang sumpahnya ) yang bersumpah tidak akan menikah seumur hidup demi berbakti kepada sang ayah sebab Durgandini ( calon istri Sentanu yg notabene ayahnya Bhisma ) meminta syarat agar anaknyalah yg kelak menjadi pewaris tahta kerajaan. Itulah alasan Bhisma bersumpah untuk menghindari pertumpahan darah antara bakal keturunannya dengan keturunan dari Durgandini ( wangsa Barata ).
    .
    karena sumpah ini pula tanpa sengaja Bhisma membunuh Amba wanita yang mencintainya setengah mati yang sebenarnya Bhisma pun mencintainya bahkan Amba adalah cinta pertama sekaligus cinta terakhir Bhisma. Bhisma tanpa sengaja membunuh Amba dengan panahnya sebab pada awalnya dia hanya menakutinya saja.
    .
    bagi saya Bhisma adalah figur laki2 tangguh yg konsisten dengan kata2nya . Laki2 yang sanggup menaklukkan nafsu birahinya oleh sebab sumpahnya. Dia adalah laki2 yg berpikir dengan satu kepala alias mampu menaklukan nafsu selangkangannya. dari sini eros tidak berlaku lagi yang ada adalah agape ( sesuatu yang suci )
    .
    contoh ketiga dari kitab suci agama ibrahimi. kisah Habil dan Qobil. perseteruan dua anak adam yang mencintai satu wanita ( Iklima ) . Adam bingung luar biasa dengan permasalahan ini sehingga dia dapat wahyu bahwa penyelesaiannya dengan cara berkuban. kita sudah sama2 tau cerita lengkapnya bukan.
    .
    kurban yang di terima oleh alam/tuhan adalah kurban Habil sebab dia mengorbankan yg terbaik yang ia miliki.
    Tapi Qobil tidak terima dia nekat membunuh Habil. dan dia membawa Iklima pergi meninggalkan kedua orang tuanya ( Adam dan Hawa ) beserta saudaranya yg lain.
    .
    Bagi saya Qobil adalah simbol eros sejati yang berani menantang tuhan yg jelas2 hanya menerima kurban Hobil dan menolak kurbannya. Qobil pun berani pula meninggalkan kedua orang tua dan saudaranya. dan yang pasti dia berani membunuh saudaranya sendiri. Qobil ciri dari orang yg hanya mampu berpikir dengan selangkangannya saja. adakah cinta disana…? ada dan tentu sangat ada yaitu cinta eros. bagi saya tidak ada yang salah dari kasus ini sebab semuanya terjadi demi hidup dan kehidupan. Hanya saja kita bisa mengambil pelajarannya saja… 🙂
    .
    contoh yang keempat dari para pemuka agama yang selalu berlindung di balik sesuatu yang suci ( kitab suci ) . Para pemuka agama ini kawin/nikah lagi ( poligami ) dengan alasan apakah itu pembenaran atau mengacu pada kebenaran bahwa yg ia lakukan itu mencontoh tauladan mereka dan tentunya ini direstui oleh yang maha suci katanya :mrgreen: . bagi saya kasus yang seperti ini sungguh sangat menggelikan dan teramat sangat porno dan sangat vulgar dimana kemunafikan bagitu nyata terlihat. tapi sekali lagi, ini hanya di mata saya saja belum tentu di mata anda bukan…? 😉
    .
    setau saya dalam pernikahan cara islam , syarat sah akad nikah itu salahsatunya adalah pembacaan kalimah syahadat. dimana isinya adalah sebuah penyaksiaan akan tuhan dan utusannya.
    .
    dalam hal ini merupakan simbol sumpah kepada tuhan, rosul, kedua orang tua wanita , para saksi yang hadir , kepada alam semesta sekaligus pada diri laki-laki yang mengikrarkan sumpah itu bahwa dia akan mencintai, melindungi dan menafkahi istrinya dengan benar dan dengan sebaik-baiknya. sungguh sumpah yang sangat berat…..!!! lebih berat dari sumpahnya Bisma kepada ayahnya dan ia menepatinya walaupun harus di tebus dengan jiwa raganya dan setiap tetes darah dari ranjang panah ketika menjelang ajalnya.
    .
    jika ada laki-laki yang katanya muslim dan berniat kawin/nikah lagi alias poligami dengan tanpa menghiraukan istrinya dimana dia dulu pernah bersumpah , beserta anak2nya serta orangtua serta para kerabatnya, mana bukti kelaki-lakian yang bisa di pegang kata2nya. ….!!!! 👿 . Bagi saya pribadi bukanlah laki2 jika harus menjilat ludahnya sendiri apalagi itu adalah ludah dari sumpah yang sakral…!!!
    .
    bagi saya masalah ini adalah masalah selangkangan saja yang mana anak ABG pun bisa jadi jauh lebih paham. jadi tak usahlah berlindung di balik sesuatu yang suci sebab hina dan suci ini begitu nyata…!!!! 👿
    .
    .
    .
    .
    demikianlah secuil tafsir puisi saya di tulis agar tidak ada yang salah menafsirkannya, jika belum jelas tentu bisa kita diskusikan kembali.

  13. balik lagi kehakikat kata.
    .
    bagi saya kata itu hanya sebatas penanda. kata-kata itu kosong sebab isinya adalah makna.
    .
    kalau sesuatu itu di katagorikan sebagai puisi tentunya alangkah lebih baiknya tidak dipahami secara literal saja coba baca dengan pikiran jernih tenang damai. sebab kata ya kata cuma sebatas tulisan yang memaknai ya.. yang membacanya. 😉
    .
    jangan2 bukan tulisannya yang porno atau vulgar tapi mungkin pikiran yang membacanya saja yang tidak konsen. :mrgreen:
    .
    kepada saudara Aris yang faham akan sastra dan bung Ali yang tahu seluk beluk tentang sastra . saya ini bukan sastrawan yg terbiasa bermain2 dengan kata2. saya hanyalah orang sedang mencoba bermain dengan penanda saja
    .
    terima kasih atas kritik dan apreasinya.

  14. Aduh, saya baca Lolita aja udah ga sanggup.
    *ikutan makan kacang sama mbak Mizzy*

  15. @ G3mbel

    jangan2 bukan tulisannya yang porno atau vulgar tapi mungkin pikiran yang membacanya saja yang tidak konsen.

    Ngeres maksudnya? Masalahnya, yang namanya pembaca itu–biasanya–sebelum mereka melakukan pembacaan metateks, mereka akan terlebih dulu menikmati sebuah teks itu secara verbatim (literal). Jangankan saya–yang bukan siapa-siapa ini, Mas Gentole yang kapasitas pemahaman sastranya mumpuni saja sempat kaget dengan pemilihan kata yang Anda pakai–dengan tanpa sempat (atau ogah) melakukan pembacaan kedua karena keburu illfeel dengan kata yang disebutnya vulgar itu. Atau karena apa ya? Diksi yang cukup mengganggu? Itu barangkali.

     

    Tapi untung! Untung sekali Anda membikin syarh panjang lebar atas sepenggal puisi WUOW yang Anda bikin itu. Kalau tidak? Entah. Mungkin persepsi saya tidak akan berubah dari persepsi awal saat pertama membaca puisi tersebut. 🙄 Tapi kalau tafsirnya bisa jauh lebih “mencerahkan” begitu ketimbang puisinya, kenapa tidak dipadatkan saja esensinya secara gamblang pada sepenggal puisi yang Anda buat, itu bisa membuat pembaca dari strata intelektual manapun bisa menikmati sekaligus mudah mendapat pesan inti puisi tanpa harus susah-susah melakukan swa-tafsir, yang ujung-ujungnya tak seperti tafsiran Anda. Toh Anda pasti hafal, mahfuzhat yang berbunyi, at-thariqah ahamm minal madah. 😀

     
    PS: Sorry, Pak. Soale waktu pertama nemu puisi Anda, saya sedang hendak makan siang. Mengimajikan kalimat vag#&%! rasa stroberi (?) yang menggiurkan (?) untuk dijilati nyaris membuat selera makan saya lenyap.

  16. dasar orang gila yang bikin puisi…

  17. @Frozen
    ahh … seni itu kan semakin misterius semakin bagus, semakin tidak tertebak semakin enak … haha. 😀

    saya sendiri, ketika membaca puisi nya mas G3mbel yang seperti itu (sebelum membaca ulasannya), persepsi saya (berdasar pembacaan atas tulisan-tulisannya yang sudah pernah saya baca) mengatakan, “itu bukan seni yang ditarik ke arah selangkangan, tapi selangkangan yang ditarik ke arah seni”. bedanya memang sangat tipis, karena secara tampilan kasat mata memang sama saja. walaupun begitu, saya setuju bahwa kita harus berhati-hati, persepsi orang tidak bisa kita batasi.

    @G3mbel
    saya sendiri masih setuju dengan poligami (sampai saat ini), walaupun dengan kondisi khusus. bukan atas perintah pemuka agama ataupun atas nama tafsir (yang memang sering dipolitisir) dari kitab suci.

  18. @mansup
    .
    Ma-makasih!
    .
    @g3mbel, frozen, watonist
    .
    Lah makanya saya ndak nyensor. Persoalannya memang persepsi orang saja; saya sih tidak terlalu keberatan. Saya kaget karena memang tulisan semacam itu masih sangat jarang dan sepertinya masih sulit diterima publik. Dan, frozen tak benar itu, saya tidak mengerti/paham betul sastra. Tapi belum ada yang protes tuh. Jadi yah dibiarkan saja. Mudah2an tidak disensor pak mentri. :mrgreen:
    .
    Omong-omong soal erotisme, yang seksual, dan yang puitis. Mungkin nanti bisa dibahas di post tersendiri.

  19. Puisinya bagus mas. Ngga terlalu vulgar sih. Puisi Rendra juga ada yang seperti ini.

    Tapi untuk puisi mas G3mbel itu saya ngga ada komen. 😦

  20. dasar orang gila yang bikin puisi…

    .
    nah yang komen yg di atas bukan komen saya looh, ini komen temen saya yg baca puisi saya ketika dia menyelinap masuk kamar n membajak laptop saya yg saya lupa untuk log off , kemudiaan dia ngakak ketawa dan nuduh saya orang gak waras/gila 😆
    .
    sekali lagi saya ingin nambahkan soal puisi-puisian.
    .
    sebetulnya bukan perkara mudah untuk menafsirkan makna puisi sebab puisi itu ibarat kata sandi yang penuh dengan teka-teki.
    .
    untuk membukanya kita perlu password dan pasword itu bukan logika atau perasaan tapi nalar puitis yaitu gabungan antara rasa dan logika yang memiliki daya tembus luarbiasa terhadap satu citra sehingga makna bisa begitu kentara.
    .
    jadi puisi itu khusus bagi orang dewasa saja :mrgreen:
    .
    saya yakin bagi orang yg telah dewasa mampu memahami puisi saya tanpa harus ada tafsir. 😆
    .
    dan saya pun sebenarnya cukup kecewa dengan mba bung Gentole sebab ternyata beliau ini masih berusia remaja n perasaannya begitu sensitif , emosi anda masih labil ternyata bung 😆
    .
    saya tahu kok memisahkan kata dengan makna literal itu hampir mirip dengan memisahkan panas dari bara api. tidak ada yg bisa melakukannya kecuali hanya orang yang telah dewasa.
    .
    kata2 hanyalah kata cuma simbol n sekedar tanda. jika orang sudah sampai pada hakikat kata saya yakin orang tersebut mampu menyikapi segudang hinaan , caciaan makian atau segudang puja dan puji hanya dengan ekprsesi bisa-biasa aja 🙂
    .
    siapa yg bisa terjerat dengan perangkap pujiaan maka dia akan hancur dan babak belur ketika di hina dan di caci maki. 😆
    .
    kali ini bung Gentol keselek ama kata2nya sendiri tapi wajar kok sebab pengetahuan “nalar puitis” itu bukan milik anda mungkin itu hanya informasi yg anda curi dari Umberto Eco
    .
    .
    .
    .
    kata2 memang hanyalah antek2 bagi “Sang Pujangga” 😆 tapi bukan bagi satrawan loooh :mrgreen:

  21. @lambangbiru
    .
    Masih nyontek2, Mas.
    .
    @g3mbel
    .
    Saya cuma peka sama pembaca saja mas g3mbel (khan beragam). Pribadi sih, seperti sudah saya tulis di atas, saya tidak keberatan dengan puisi Anda, yang meleler-leler itu.
    .
    Btw, saya dicaci dan dihina sama sapa toh? Dan dipuji sapa juga toh? Saya sih udah biasa dihina-hina dari awal-awal blog ini didirikan. :mrgreen:


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: