Cerpen #1

December 5, 2009 at 5:38 am | Posted in fiksi | 22 Comments
Tags: ,

Di layar televisi ada empat anak yang dijejer di kursi panjang. Mereka ketakutan, menangis sejadi-jadinya. Yang paling kanan yang paling besar. Namanya D, kelas lima SD. Rambutnya sepinggang. Dan belum sempat ganti baju sekolah. Itu lihat bajunya masih merah putih. D duduk disebelah L, adik lelakinya yang paling lucu, yang selalu digendongnya tiap pulang sekolah.

Kata D selalu, “L sudah makan? Mau donat?”

L tidak pernah menangis sebelumnya. Karena D selalu menahesati L, anak lelaki tidak boleh cengeng. Dan bocah kecil itu, usianya empat tahun, selalu menagih donat yang bertabur coklat seres pemberian Mbak D. “Enak,” kata L.

Tetapi di layar televisi malam itu L tidak seperti L yang dikenal F, kakaknya yang duduk di sebelah kanannya. L menangis histeris. Lebih histeris dari kakak ketiganya K, yang paling cengeng di antara mereka. Malam itu tidak ada film ‘Suliwa’ kesukaan K, atau sinetron “Tak Kenal Maka tak Sayang” kesukaan Ibu. Karena di televisi ada mereka yang dijejer di kursi panjang. Mereka ketakutan, menangis sejadi-jadinya.

“Pemirsa,” kata seorang wartawati yang wajahnya biasa saja, “hingga saat ini belum ada pihak yang diizinkan masuk ke rumah Pak Z kecuali kamerawan kami. Sementara di luar, pihak kepolisian mengatakan bahwa mereka tidak ingin mengambil tindakan yang akan membahayakan nasib keempat anak itu. Sehingga, katanya, mereka, pemirsa, ehhhmmm…., yak, pemirsa, mereka masih menunggu perkembangan selanjutnya, pemirsa.”

Namanya Dewi, wartawati itu. Lulusan UGM.

Gambar dengan cepat beralih ke pinggir jalan di sekitar rumah Pak Z yang sudah ramai dikunjungi massa penasaran. Tiba-tiba ada kumis tebal di TV. Kumisnya Ajun. Kom. Bambang Suweno, Kapolres Jakarta Tenggara. Ada suara Dewi, suaranya saja. “Apa yang akan dilakukan polisi, pak?”

“Yah kita tidak boleh ceroboh ini. Tidak boleh gegabah. Masalahnya kan Pak Z ini kata Mbak kemarin di TV mengancam akan membunuh anak-anaknya kalau ada pihak kepolisian yang mencoba masuk ke dalam rumah. Kita masih melihat perkembangan, kita masih melihat perkembangan.”

Si wartawati, menjalani tugasnya, kemudian bertanya sengit. “Apakah keempat anak ini akan mati, Pak? Apa ada kemungkinan mereka bisa diselamatkan, Pak?”

“Ya, itu, kita lihat perkembangannya dulu, Mbak. Kita akan berusaha semaksimal mungkin.”

Dewi tidak puas dengan jawaban itu, dan mungkin merasa pertanyaannya yang tadi kurang bermutu. “Apakah bapak yakin bapak bisa menyelamatkan mereka?”

“Ya, itu, seperti saya bilang tadi, kita lihat perkembangan.”

Di koran, diceritakan:

Pak Z adalah seorang pegawai swasta di Jakarta. Gajinya pas-pasan. Hanya tiga juta per bulan. Istrinya masih hidup, tapi sudah cerai beberapa tahun lalu, tidak lama setelah L lahir. Tidak ada yang tahu alasan Pak Z menceraikan istrinya. Ada yang bilang L bukan anak kandung Pak Z. Tapi itu hanya gosip, seperti dikutip harian Warta Metro. Selama ini Pak Z dikenal sebagai warga yang baik. Jarang bergaul memang, tapi tidak pelit senyum. Karena itu warga Kejambulan geger ketika mereka melihat mobil stasiun TV KatrokOne nangkring di depan rumah Pak Z dan sekonyong-konyong mendapatkan tetangga mereka di layar televisi, memegang sebuah golok yang katanya akan dia gunakan untuk menyembelih keempat anaknya apabila aksinya tidak disiarkan langsung.

“Saya bosan hidup. Saya merasa hidup itu tidak ada gunanya,” katanya datar di depan kamera, hampir tanpa ekspresi sama sekali, demam kamera pun tidak. Stasiun TV KatrokOne memasang running text: DIDUGA STRES, SEORANG AYAH BERENCANA MEMBUNUH KEEMPAT ANAKNYA DI DEPAN JUTAAN ORANG. Tidak ada yang tahu pasti apa tuntutan Pak Z. Uang kah? Popularitas sesaat kah? Politik kah? Kenapa Presiden tidak dihiraukannya? Kenapa tawaran uang dan juga adopsi dari ratusan keluarga kaya ditolaknya?

Pengamat media mengutuk KatrokOne, karena tunduk pada tuntutan gila Pak Z. Sementara psikolog dan sosiolog mulai meracau tentang bagaimana kehidupan perkotaan yang impersonal bisa bikin orang jadi gila. Petinggi MUI tidak lupa menyitir al-Qur’an, yang melarang orang beriman untuk membunuh anak-anak mereka karena takut hidup kelaparan. Benar begitu kasusnya Pak Z?

“Saya bukannya tidak percaya pada Tuhan. Saya juga tidak butuh uang,” Pak Z memulai curhat akbarnya, yang disiarkan secara nasional. “Saya hanya merasa tidak punya alasan untuk hidup. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Setiap hari saya merasa menjadi orang yang konyol. Untuk apa hidup? Untuk apa mati?”

“Bapak tau?” ia memulai argumentasinya, “Di dalam bus saya tidak pernah melamun, bapak. Buat apa melamun kalau apa yang saya lihat di sekitar saya lebih tidak nyata dari fantasi saya sendiri. Saya lihat anak-anak kecil itu, Pak. Mukanya cemong. Di lampu merah yang dekil dan terik. Berdiri di tengah sepeda motor dan mobil-mobil mewah yang angkuh! Berapa usia mereka? Sepuluh tahun? Tujuh tahun? Lima tahun? Empat tahun? Tiga tahun? Satu tahun!? Bagaimana mungkin bapak bisa hidup dalam fantasi yang menjijikkan ini!?”

Pemirsa bengong.

Ada yang sinis, tapi. Kata mereka: “Ah, bego nih orang!” Ada juga yang merasa tertohok. Mereka diam saja. Ada yang sok bijak. “Ya itu takdir Allah, Pak. Kita itu harus pasrah. Jangan mendahului Gusti Allah.” Ada juga yang sok kritis. “Itu tanggung jawab pemerintah itu. Pemerintah yang harus menangani mereka. Ada di undang-undang itu!” Ada juga yang sama sekali tidak tahu mau bilang apa. Yang jelas, bagi mereka Pak Z ini tidak waras.

Si kamerawan usil bertanya: “Pak, kenapa Bapak mesti membunuh anak-anak Bapak? Kenapa, Pak?” Pak Z, wajahnya masih tanpa ekspresi, tidak membalas pertanyaan yang tidak diundang itu. Matanya menatap si kamerawan. Anak muda itu mulai menggigil: nyalinya pecah. “Kamu mau mati duluan?”

Pemirsa merinding.

D pun teriak histeris. “Ayaaaah! Ampun ayaaah. Ayaaah! Mau ketemu Ibu ayaah. Ayaaaah!” Ketiga adiknya ikut histeris. Rumah itu menjadi pekak oleh tangis. Kamera masih on. Semua orang bisa melihat semua kengerian yang ada di rumah itu, kecuali wajah si kamerawan yang sudah pucat dan pasi. Bos KatrokOne senang ada label ‘Eksklusif’ di layar kaca. “Kejadian besar ini,” katanya bangga.

Di layar televisi Pak Z berteriak, “Diam!!! Diam!!!”

Jutaan orang terhenyak di depan TV.

“Kenapa kamu menangis?” D melihat ayahnya berjalan pelan menghampirinya sambil membawa golok. “Di mana ibu? Kamu mau mengasuh adik-adikmu sendirian? Di mana ibu? Hah? Ayo, jawab, D. Di mana ibu?” D sesenggukan. Tidak berani menatap ayahnya. L diam, F dan K juga diam. Pak Z mengangkat goloknya. Ditempelkan di leher D. Kamera masih on.

Waktu berjalan lambat sekali di layar kaca. Golok Pak Z tampak sangat dingin di leher D yang masih perawan. Kamera dizoom. Perlahan sekali Pak Z menggeser goloknya. Darah tipis mengalir pelan seiring laju golok karatan itu di leher D yang bersih. Si kamerawan, baru setahun kerja, dadanya meletup-letup, seperti dipukul-pukul palu godam. Tidak ada yang bisa dilakukannya kecuali melanjutkan apa yang sudah dilakukannya dari kemarin pagi, yakni bersembunyi di balik kamera, rasa bersalah dan ketakutannya sendiri.

D merintih kesakitan. Lukanya mulai terasa perih. Pak Z kemudian berhenti sejenak dari kegilaannya. Menatap wajah D yang bulat dan sawo matang. Bukankah D mirip neneknya, H, yang sudah lama mati? D anak yang baik, kata Pak Z. Tidak pernah mengeluh. Pengertian. Tidak pernah sekali pun D merengek meminta dibelikan boneka atau coklat. Nilai rapornya memang tidak istimewa. Nilai delapan paling banter hanya dua saja, itu pun untuk pelajaran agama dan PMP.

“Kamu sayang ayah, D?”

Banyak orang yang bersimpati pada D. Wajahnya menghiasi halaman depan berbagai surat kabar selama berhari-hari. Ada juga bloger yang memasang wajahnya yang bulat dan sawo matang itu di sisi pinggir blog mereka. Sebagai tanda bela dan sungkawa. Di Twitter, di Facebook, D menjadi meme internet yang paling melesat. D, yang tidak akan kita lupakan. Si kamerawan dikabarkan berhenti dari pekerjaannya sehari setelah drama penyandraan  itu berakhir, dan memutuskan untuk mendirikan Yayasan D untuk mengenang gadis kecil yang ditatapnya dari balik kamera. Kapolres dicopot dari jabatannya karena dianggap tidak becus. Kata gosip wartawan Polda, Pak Bambang berubah menjadi alim dan diketahui sering ikut khuruj bersama komunitas jemaah tabligh ke Kalimantan. Stasiun TV KatrokOne semakin popular, tidak peduli popularnya karena apa, prestasi atau kebodohan.

Yang penting rating, kata bosnya.

Tidak ada yang bisa melupakan sembab di wajah D. Ketika ayahnya menangis tersedu-sedu di kakinya yang mungil, D tidak berkata apa-apa. Seolah tahu, hidupnya bakal segera berakhir. Semua orang melihat L, F dan K memanggil-manggil D, berusaha untuk mengembalikan kakaknya dari lamunan yang sangat dalam. “Kakak, kakak,” seru mereka. Tapi D diam saja. Pak Z, mengerti isyarat yang diberikan D, mengangkat goloknya kembali.

“Kamu mau ikut ayah, D? Kita harus pergi, D. Ayah tidak bisa menjanjikan kamu surga. Tetapi kita harus segera meninggalkan neraka ini. Kamu mau ikut, D? Kamu mau kan?”

Di layar televisi ada empat anak yang dijejer di kursi panjang. Mereka ketakutan, menangis sejadi-jadinya. Yang paling kanan yang paling besar. Namanya D, kelas lima SD. Rambutnya sepinggang. Dan belum sempat ganti baju sekolah. Itu lihat bajunya masih merah putih. D duduk disebelah L, adik lelakinya yang paling lucu, yang selalu digendongnya tiap pulang sekolah.

Kata D selalu, “L sudah makan? Mau donat?”

22 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Silahkan dikritik. Mohon saranya kalo tulisan ini mesti diproteksi.

  2. ^
    No Idea. jarang Nonton TV berita soalnya.

    *diusir*

    BTW, kejem juga tuh, demi rating.

  3. top markotop…
    sampe tahan napas saya waktu membacanya…

  4. Harus divisualisasi ini. Bikin film independen, masukin ke lomba film independen, dan Gentole akan menjadi aktor dan sutradara film independen. Dan tidak anonymous lagi.
     
    … PMP!?!? Jaman Suharto toh ini settingnya!?!? Tapi kok ada internet?? 😯

  5. ^ hahahaha, si lambrtz ga pernah nyobain rasanya paket PMP/ PSPB
    .
    terus Gentole jadi aktor yang mana ceritanya nih? Jelas bukan yang rambut sepinggang dan kelas 5 SD 😎
    .
    menurut saya, cerpen ini menggambarkan situasi hidup urban (Jakarta) pada umumnya dan situasi hidup Gentole pada khususnya.
    .
    PS: wei efek saljunya matiin dong, bikin lambat

  6. Minta dikritik?

    1. Cerpen di atas sepertinya perlu judul, apakah judulnya : Cerpen #1? 😕

    2. Meski cerita piktip, adegan pak Z yang mulai menggores leher D, dan di zoom kamera, kalau dalam konteks pemberitaan, apalagi siaran langsung eksklusip, sepertinya tidak sesuai dengan aturan penyiaran (Internasional juga) karena segmentasinya jelas semua umur… bukan Parental Guide, beda lagi kalau sistem penyiarannya menganut paham eksklusip kebablasanisme. *sok tau mode on * 😎 hmm… beda lagi jika ini cerita di negeri antah berantah.

    3. (IMHO) nama televisi KatrokOne, meski tujuannya semacam satir, tapi… sepertinya mengurangi “sesuatu” dalam cerpen diatas..

    Mengkritik itu memang gampang, dan maaf jika kritikan saya itu sangat subjektip.

    .

    baiklah… 3 saja… kalau panjang khawatir menyaingi komen Bung G3mbel, piss 🙂

  7. @illuminationis
    Pernah Mbak, tapi kelas 1-2 SD aja. :mrgreen:

  8. @snowie
    .
    Ya tidak apa tidak komentar apa-apa.
    .
    @felicia
    .
    Wah, thanks. Impromptu ini.
    .
    @lambrtz
    .
    Haha lebih susah kali bikin film. Iya ini settingnya memag tidak konsisten. Agak sulit memang. Namanya juga cerpen.
    .
    @illuminationis

    menurut saya, cerpen ini menggambarkan situasi hidup urban (Jakarta) pada umumnya dan situasi hidup Gentole pada khususnya.

    Maksudnya apa ini Gentole pada khususnya? :mrgreen: Ini kan cerita saja. Tidak lebih dari itu.
    .
    @zephyr
    .
    Ah, makasih kritiknya. Ini memang cerpen versi Beta. Hehehe…
    .
    Judul memang belum ada. Susah bikin judul. Yah soal gorok itu sebenarnya memang inti ceritanya. Melanggar aturan? Iya. Tidak masuk akal? Bisa jadi. Tapi inikan cerita fiktif. Dalam hal ini mungkin eksekusi sayanya yang jelek. Jadi kesannya gimana gitu. Kurang ngena. Saya juga merasa tidak terlalu nyaman dengan hasil akhirnya. Mestinya bisa lebih dramatis dan real. Oh, well…
    .
    Soal KatrokOne memang itu asal ambil aja namanya. Seperti Bambang Suweno itu. Bukan satir itu. Males cari nama saja. Tapi jadi mengganggu yah? Wah kalo begitu, nanti diupdet lah.
    .
    Menulis itu susah, yak? Jadi komentator bola sajalah saya. :mrgreen: Eh tapi saya udah ilfil sama bola.

  9. @mbak illu
    .
    Saljunya bagus. Permintaan ditolak. 😀

  10. ada bau Seno, ada bau Dan Brown kayaknya, dan tentu ada cita rasa khas Gentole juga..

    Saya bosan hidup. Saya merasa hidup itu tidak ada gunanya,”

    .
    Ah, Gentole, sepertinya kau selalu gelisah dengan hidup yang begitu sederhana ini, saking sederhananya mungkin hampir-hampir tak berguna toh..
    .
    Kata Pram, hidup sungguh sangat sederhana, yang hebat-hebat hanya tafsiranya. (Rumah kaca)
    .
    Oya, cerpennya bagus, meski agak terasa kaku :mrgreen: , dan saya bisa bikin donat :mrgreen:

  11. Bagus!
    Saya bertanya-tanya kapan bisa bikin cerpen yang sarat makna 😛
    ngomong-ngomong, kira-kira ada tidak yang menyumpah serapahi katrokone sesudah kejadian tsb?

  12. @pembaca alias komentator_no8
    .
    Siapakah dirimu komentator nomer delapan. :mrgreen: Kaku yah? Hehe…Emang udah dasarnya menulis sambil meracau asal-asalan (campur aduk filsafat, curhat dan sedikit show off).
    .

    …cita rasa khas Gentole juga..

    .
    Tiba-tiba saya merasa seperti menjadi donat.
    .
    @grace
    .
    Your works are way better than mine! Seriously.
    .
    Tidak ada hujatan untuk KatrokOne. Mas Zephyr betul. Bagian ini memang harus diperbaiki. Telalu kentara. 😀

  13. akhirnya, ada cerpen juga. jadi, judulnya apa nih?
    dan ya, sebaiknya yang ketrokOne itu diganti, utk sebuah cerita serius, ketrokOne ini malah jadi kayak parodi, cukup mengganggu penceritaan mas

  14. @emina
    .
    Ya nanti diganti.

  15. *menunggu cerpen lainnya*
    dan sy harap nantinya ada cerpen ttg cinta,atau wanita
    :mrgreen:

  16. ^

    Tergantung mood. 😀

  17. Akhirnya cinta jualah yang berjaya
    Back ground agama yang tak jelas dalam jiwa
    Di tambah kesendirian yang menyebalkan and membosankan
    Dan lagi-lagi cinta menunjukkan taringnya
    Mengubah seorang gentoele yang sok’ kritis.
    Menjadi seorang penurut,duduk manis walau belum sampai taraf keculunan.
    Segala sesuatunya tak lagi di landasi logikanya yang sok’ kritis.
    Cinta ternyata tak sebatas retorika
    Cinta adlah sesuatu yang tak terdepinisikan,kadang melampaui akal sehat.
    Cinta adalah kematian kecil.
    Cinta dapat membunuh karakter seseorang bahkan keyakinan sekalipun.
    Cengeng menjadi kuat,atau sebaliknya
    Pembangkang menjadi penurut duduk dengan manisnya.
    Akhirnya cinta jualah yang berjaya dan menunjukkan taringnya,siap memangsa siapa saja yang mencoba bermain dengannya.
    .

    @ bung ali
    *Numpang corat-coret and ngomal ngomel di blog ente*

  18. Memang salah kapolresnya. Saya tak tau setting TKP, tapi apabila tidak ada peledak yang diikatkan ke tubuh sandera, penyandera hanya bersenjata tajam, dan tidak secara kontinyu dalam posisi siap menebas sandera, mestinya mudah diringkus/dibunuh.

  19. @ibeng
    .
    Yah silahlan, Bung Ibeng. Punya blog?
    .
    @jensen99
    .
    Haha…iya tadinya saya mau nulis sampai akhirnya si bapak itu ditembak mati polisi beberapa saat setelah dia melakukan pembunuhan yang gila itu, tapi kayaknya merusak imajinasi. Mau pakai bahan peledak juga kesannya gak masuk akal. Repot memang. 😦

  20. @ Jensen + Gentole
    nah itu komentar di atas kan sudah jadi bukti bahwa fakta hidup sehari-hari lebih bombastis daripada imajinasi. Ga heran kan kalo penulis jadi diam? karena realita sudah melebihi dunia khayalan.
    .
    @ Gentole “pada khususnya”
    setiap tulisan adalah secuil informasi tentang suasana hidupmu :mrgreen:

  21. @illuminationis
    .
    Ya, Anda benar!

  22. anger sangat kerasa di sini. kaya rocker jaman 60-an dan 70-an yg nulis lirik politis :p

    *setuju sm illuminationis, matiin saljunya :/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: