Eulogi Untuk Kambing Kurban

November 28, 2009 at 4:17 am | Posted in agama, katarsis, refleksi | 22 Comments
Tags: , , , , , , , ,

There was one who was great by virtue of his power, and one who was great by virtue of his hope, and one who was great by virtue of his love, but Abraham was the greatest of all, great by that power whose strength is powerlessness, great by that wisdom which is foolishness, great by that hope whose form is madness, great by the love that is hatred to oneself.

Søren Kierkegaard, Fear and Trembling, ‘Eulogy on Abraham’

Hadirin dan Hadirat Yang Berbahagia,

Kemarin. Di Jakarta, di mana saja ada Muslim dan panitia Idul Qurban. Darah segar ditumpahkan. Sapi yang besar, sapi yang kecil, kambing yang hitam, kambing yang coklat. Semuanya disembelih sudah, diringi pekik takbir dan rasa sakit yang lengking. Mereka sudah jadi daging. Tinggal disate, disemur, atau direndang. Dan saya, seperti puluhan tahun lalu, kembali bertanya-tanya: maksud pembantaian ini apa toh?

Agama Purba

Ritus pengorbanan adalah wajah agama dalam bentuknya yang paling purba. Sudah ada jauh sebelum Yahudi, Kristen dan Islam merangsek dunia dengan kata-kata manis mereka tentang surga dan kasih sayang. Dulu, pengorbanan dimengerti sebagai upaya menyenangkan Tuhan yang pelit dan pemarah. Agar panen terus berlimpah. Agar tidak dirudung mala. Sederhana saja. Apabila Tuhan senang dan moodnya baik, semua akan baik-baik saja, bukan? Kalau Tuhan benar-benar ada, dan ternyata pelit dan pemarah, ritual ini masuk akal. Kalau Anda berfikir Tuhan tidak ada, ritual ini tentu saja absurd. Nah, katanya guru agama kita, Tuhan itu ada, tetapi Beliau tidak pelit dan pemarah. Meski demikian, lanjut mereka, Tuhan tidak menganggap ritual pengorbanan ide yang buruk juga.

Apa kata para khotib soal ini?

Qabil menyerang Habil. Kata Khatib kemarin, dalang kriminalisasi KPK dan pembunuh Nasrudin itu si Qobil!!

Selain digunakan sebagai tunggangan yang sama sekali tidak sangkil dan mangkus di akhirat nanti, Khatib solat Ied yang saya hadiri kemarin bilang hewan ternak dikorbankan untuk mendapatkan keridhoan Allah Yang Esa. Seperti Habil yang lebih dicintai Adam ketimbang Qabil — yang konon menurut salah satu legenda Yahudi adalah anak dari ular yang menggoda Adam dan Hawa di surga dulu (apakah Hawa selingkuh!?) — umat Islam berkurban untuk mencari ridha-Nya semata, dan karenanya sesembahan itu diterima olehNya. Jadi bukan merah darah atau legit daging kurban yang menjadikan Allah senang, tetapi rasa ikhlas dari ciptaanNya yang rela berkorban. Begitu.

Apa kata para romo?

Agnus Dei. Picture taken from About.com

Kambing yang tewas digorok kemarin adalah simbol dari kematian Yesus Kristus – the Lamb of God — di kayu salib. Manusia semuanya berdosa dan karenanya, seperti Ishaq, harus mati, kata romo BP di forum Sarapan Pagi. Kenapa? Karena Allah Maha Adil. Kalau Anda berdosa Anda harus dihukum. Titik. Tetapi, masalahnya, Allah juga Maha Kasih, tidak punya hati lah untuk menghukum manusia semuanya. Karena itu, Ishaq tidak jadi disembelih. Diganti sama kambing. Nah, kalau kematian Ishaq ditebus oleh darah kambing, bagaimana dengan nasib umat manusia yang berdosa? Kata Romo BP, Yesus Putra Allah, inkarnasi dari Firman, adalah kambing yang menebus dosa kemanusiaan. Wah, kalau begitu, umat Katolik mestinya ikut merayakan Idul Kurban juga! Atau umat Islam mestinya berhenti merayakan Idul Adha karena yang demikian itu adalah perlambang dari teologi Katolik yang mereka tentang!

Apa kata Gentole?

Kambing dan sapi tidak salah apa-apa. Kenapa mereka harus mati?  Kalau ini urusan antara Ibrahim dan Tuhan, antara Tuhan dan ciptaan favoritnya, manusia, mengapa kambing dan sapi yang dibunuh? Mari kita mengheningkan cipta sejenak untuk sapi dan kambing yang sudah kita santap tadi malam. Hening. Selesai. Begini, menurut saya kedua tafsir korban di atas – baik yang Katolik maupun yang Islam – tidak jauh berbeda dengan logika pengorbanan agama-agama tribal di pedalaman Amazon sana.

Yeah, why us, man!!

Dalam Islam, Habil, Ibrahim dan orang beriman yang kaya raya berkorban untuk mencari ridha Allah. Bukankah ini artinya mereka berusaha untuk ‘membuat senang’ Allah? Sama saja, bukan, dengan masyarakat primitif yang hendak ‘menjinakkan’ dewa-dewa? Dalam tradisi Katolik, kambing yang disembelih Ibrahim adalah penebus kematian Ishaq. Ini juga tak berbeda dengan keyakinan bangsa tribal bahwa seseorang harus mati agar orang lain tidak mati; agar masyakarat tidak dirudung mala dan petaka. Sama saja bukan dengan masyarakat primitif yang membunuh anak perempuan mereka agar mereka tidak dihukum dewa-dewa? Jadi saya membutuhkan tafsir baru (ya saya tahu, tafsir itu berbahaya).

Merefleksikan Ibrahim

Mari kita renungkan cerita besar tentang pengorbanan.

Stop! Old man, you just got punk'd!

Saya tidak hendak merasionalisasi atau menjustifikasi kekonyolan Nabi Ibrahim. Tidak bisa. Seperti kata Dawkins, kalau Ibrahim hidup di masa ini, sudah pasti dia bakal dibilang sesat, ditahan polisi, diadili, dipenjara, dibilang gila, dan kisahnya dijadikan HL koran Warta Kota. Nasibnya bakal sama persis dengan Lia Aminudin. Kalau begitu, apa yang bisa dipelajari dari kisah Ibrahim dan kegilaannya?

Menurut saya Ibrahim merefleksikan kondisi masyarakat modern dalam perburuan makna mereka yang hampir sia-sia. Seperti dituliskan secara apik oleh Johanness e Silentio alias Soren Kierkegaard dalam Fear and Trembling: Ibrahim besar bukan karena dia berhasil melewati ujian Tuhan semata. Ini bukan hal baru. Dalam tradisi Islam, konon Nabi Ibrahim dianggap salah menafsirkan mimpi saja. Dalam tradisi Katolik juga, seperti diuraikan di atas, ini bukan soal ujian dari Tuhan saja: bahwa “if you really love me, kill your son.” Tuhan tentu tidak seperti karakter film thriller produksi Hollywood, kawan. Lagian, praktik penyembelihan anak diduga tidak terlalu asing pada masa itu. Jadi pilihan etis Ibrahim tidak bisa direpro dalam foto kehidupan sekarang.

Menurut De Silentio, Nabi Ibrahim hebat karena beliau lemah, bodoh, gila dan membenci dirinya sendiri. Dan inilah kondisi manusia sebagaimana saya alami. Ketika beliau berfikir bahwa anaknya mesti disembelih, Nabi Ibrahim berada dalam sebuah krisis yang luar biasa hebat. Dalam fase ini, Nabi Ibrahim bergelut dengan Tuhan! Bergelut dengan iman! Dan itu yang saya alami. Tidak mudah untuk menjadi orang beriman di zaman ini. Sulit bagi saya untuk percaya kata khatib solat Jumat kemarin, bahwa hewan kurban itu bakal jadi tunggangan kita di akhirat, yang apabila ibadah kita tidak ikhlas, kakinya bakal sedikit pincang. Hah? Kenapa tidak korban Alphard saja sekalian ustaj!?? Nah, di sini, seperti Ibrahim, manusia dihadapkan pada sebuah ketidakmungkinan, pada absurditas, pada sesuatu yang tidak bisa dimengerti, yang tidak bisa diyakini betul tanpa lompatan iman – sebuah lompatan yang sangat tinggi dan curam!! Karena bagaimanapun, tidak Nabi Ibrahim tidak anaknya Ishaq/Ismail mafhum maksud penyembelihan itu. Akhirnya Ishaq/Ismail memang tidak disembelih, tetapi Nabi Ibrahim sudah kadung mengorbankan Nalar dan egonya. Lenyap dalam Allah yang memintanya berserah diri.

Lalu apakah itu artinya Ibrahim melakukan hal yang benar? Karena kisah itu dinarasikan secara lengkap dan tuntas, bahwa ternyata Tuhan tidak menghendakinya menyembelih Ishaq dan bahwa bapak orang beriman itu telah melakukan hal yang ‘benar’, keputusannya yang konyol itu bisa lebih diterima. Secara teologis, Ibrahim sudah divindikasikan. Atau dimaafkan bila ternyata beliau salah tafsir. Tetapi bagaimana dengan kita yang kisahnya belum tuntas: Ibrahim-ibrahim modern? Saya tidak tahu. Tadinya saya berfikir bahwa yang mesti kita sembelih adalah Nalar. Nalar adalah Ishaq  atau Ismail modern. Yesus modern. Karena setiap kali saya mendengar khotbah agama atau membaca artikel yang ditulis buat dakwah dan misi, saya ingin sekali menyembelih Nalar saya. Dan pada tiap Idul Adha saya tak bisa tidak mendakwa; ini masuk akal enggak sih? Ingin sekali rasanya saya percaya bila kambing yang dijadikan sate ini bakal jadi kendaraan orang akhirat nanti, atau benar-benar bisa menyenangkan Tuhan (bila Beliau sungguhan ada). Pada saat yang sama saya juga ingin mendemitologisasikan semua omong kosong ini. Memilih nalar! Melawan mitos! Bukankah Nalar adalah anak saya yang cintai?

Tetapi saya ragu. Apa benar begitu? Seperti Ibrahim. Saya juga tidak mengerti. Saya juga gelisah. Yang jelas. Saya dihadapkan pada sebuah ketidakmengertian. Dipaksa untuk mencari kekuatan dalam kelemahan, kebijaksanaan dalam kebodohan, kewarasan dalam kegilaan, dan kasih sayang pada rasa benci yang begitu akrab sama diri saya sendiri. Apa yang harus kita lakukan? Entahlah. Kadang saya berfikir definisi iman yang sesungguhnya adalah keraguan yang permanen, bukan percaya, bukan yakin. Wallahu A’lam.

Updated

22 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Euh… berat… apalagi dibaca saat perut penuh sate kambing…

    Pernah membaca “Sejarah Dunia Dalam 9 1/2 Bab” yang memiliki ide semacam ini, hanya saja tokohnya adalah Nabi Nuh, yang diceritakan sebagai megalomaniak egois yang inkompeten.

    Agama abrahamik memang penuh metafora, dan celakanya, metaphor is the language of God.. Not human…

  2. eulogi apa sih

  3. Ada yang bangga jadi domba karena domba itu patuh mengikuti gembalanya. Ada juga yang merasa bangga jadi kambing gunung di gunung terjal yang bebas merdeka.

    “Lebih baik menjadi seperti seekor kambing gunung yang berani menentukan sendiri sebuah batu pijakan untuk melangkah ke depan di tebing curam, daripada menjadi seperti seekor domba gembalaan yang digiring kesana kemari bersama kawanannya di padang rumput hijau tanpa punya pilihan pribadi!”

    http://ioanesrakhmat2009.blogspot.com/2009/11/pak-ioanes-adalah-seorang-pengusung.html

    Tetapi kambing dan domba yang sempurna akan dikorbankan. Yang tidak sempurna yang tertunda kematiannya. 🙂

  4. Ente kalo gak bunuh binatang,mau makan ape..?

  5. Stop! Old man, you just got punk’d!

    This made my day. Sublime.

  6. Bahkan saat ente ingin sembuh dari sakitpun,’saat itu juga anda seorang pembunuh.

  7. Kenapa tidak korban Alphard saja sekalian

    Nah betul itu, korban versi abad ke-21 ya modelnya kayak Alphard, atau portfolio sekalian, korban kambing sudah tidak up-to-date lah

    Kadang saya berfikir definisi iman yang sesungguhnya adalah keraguan yang permanen

    lha ini, cocok!

  8. Tulisannya bagus apalagi bagian Stop old men you just got punk’d…menarik…menarik….Jadi ingat, tepat 2 minggu kemarin,pendeta cerita soal kisah pengorbanan ishak yang diganti sama kambing jantan. Pendetanya bilang,Tuhan tidak pernah menguji umatnya di luar kemampuan umatnya. Kalau emang Dia tahu Abraham bakal lulus uji,ngapain pake dramatisasi ini ya. Sepertinya Tuhan emang pengen bikin standarisasi perihal pengorbanan biar mendefinisikan kualitas keimanan pengikutnya lebih mudah. Satu lagi,kayanya Tuhan emang perempuan. Suka menguji sesuatu yang sudah diyakininya 😀

  9. Hahah,
    Perempuan yg tak lebih.
    Gitu, ya!

    Salam Damai!

  10. @mansup
    .
    Wah buku apa itu? *google*
    .
    @mbah jiwo
    .
    Wah itu saya sok keren aja, Mas.
    .
    @lovepassword
    .
    Sebenarnya saya tidak mengerti. :mrgreen:
    .
    @ibeng
    .
    Lah saya ndak melarang akan binatang. Saya cuma berfikir tiap hari toh kambing disembelih. Kenapa idul qurban berbeda?
    .
    @Kgeddoe
    .
    :mrgreen:
    .
    @ibeng
    .
    Iya bung.
    .
    @illuminationis
    .
    :mrgreen:
    .
    @butterfly
    .
    Oh, benarkah Neng Butterfly? 😀
    .
    @Maren
    .
    Salam damai juga.

  11. dari informasi yg ndak jelas asalnya, tapi kayaknya dari setan deh :mrgreen: , Ibrahim yg hendak menyembelih putranya Ismail/ishak hanyalah sebagai suatu akibat dari suatu sebab yang telah terjadi sebelumnya.
    .
    menurut kabar setan ( ketahuilah setan itu akan tetap setia mendampingi, selagi manusia masih menjelma di permukaan bumi ) :lol:, mbah Ibrahim itu suatu ketika mendermakan harta kekayaannya berupa ternak dan hasil pertaniannya kepada penduduk , nah pas gitu ada yg nyeletuk dari kalangan penduduk dengan memujinya, bahwa si mbah ini orang sangat dermawan n murah hati , truz si mbah ini kelepasan ucap.
    .
    jangankan harta kekayaan, anak saja jika tuhan mngendakinya akan saya korbankan ( waktu itu si mbah dah sangat tua dan istrinya dah menopose, mungkin si mbah berpikir bahwa mustahil dia punya anak dengan keadaan yg sudah sedemikian 😀 )
    .
    itulah mungkin sebabnya. jadi hati2lah dalam berucap sebab ucapan itu bisa jadi penjara bagi yg mengucapkannya.
    .
    jadi kenapa terjadi kasus si mbah hendak menyembelih anaknya itu karena salah si mbah saja yg tak kuasa mengontrol kata2nya di kala senang , sebab semakin tinggi posisi seseorang kata2nya bisa menjadi sabda. dan sabda itu tidak bisa di tarik kembali apalagi di anulir karena offside 😆
    .
    nah yg jadi pertanyaan kenapa kasus si mbah ini dikaitkan dengan ritual menyembelih binatang ya…? bukankah esensi permasalahannya gara2 salah berucap…? , apakah ini juga gara2 kasus salah tafsir yg menyamaratakan bahwa semua orang itu seperti si mbah dan si mbah itu mrepresentasikan semua orang…? , emang yg berkurban itu punya kesalahan kayak si mbah gitu… ?
    .
    nah inilah mungkin bahayanya salah tafsir itu …, melakukan sesuatu ala babi buta, yg malah bisa jadi babi betulan 😆
    .
    lebih baik jangan lakukan sesuatu yg ndak jelas alasannya , karena alasan ritual itu sungguh alasan yang sangat tidak beralasan :mrgreen:

  12. @ ali sastro
    Kenapa idul kurban berbeda.?
    Tanya kenapa!
    Di situlah, ada pesan and kesan bagi mereka yang gak pernah merasakan daging sapi and kambing.
    Sayangnya di kita terlalu banyak yang susah.hingga jadi masalah,saat pembagian.
    Gimana kalau nilai ‘Rp pengorbanannya.terus beliin makanan,bagi-bagi deh.
    Tapi makna peringatan spiritualnya agak kurang brkesan.
    Sebagaimana kita saat memperingati hri kemerdekaan,tanpa perlombaan balap karung and panjat pinang.
    Jangan-jangan ente gak pernah upacara ya..!
    Apalagi ikut balap karung.

  13. @Ibeng : Ooo buat serimoni doang ya…biar ada tanggal merah di kalender….mmmm….menarik-menarik *ngomporin mode on*

  14. @all

    Utk segala sesuatu yg kita inginkan selalu memerlukan kurban. Kurban itu bisa apa saja. Kurban waktu, uang, korban keringat, perasaan, kurban kembang tujuh rupa, kambing sesajen, kurban kena getah nangka, dll. Semakin besar kepinginan manusia itu maka harus semakin besar juga korban yg dipertaruhkan. Tul, tak, tuh, ta’ieuh, bah!

    Salam Damai!

  15. @butterfly
    Gak juga si..!
    Kadang kita terlalu egois.
    Hingga tidak perduli orang lain.
    Dengan adanya hari pengorbanan,di mana ada kesan and pesan.
    Mengingatkan kita untuk berbagi.
    Walaupun tuhan gak ada.(bagi yang gak).
    Kenyataannya,banyak nilai positif yang kita dapatkan.
    Toh tuhanpun tidak memaksa.
    Hanya bagi mereka yang mampu.
    Tuhan tidak seperti wanita,yang banyak menuntut.Kadang tidak perduli kemampuan kita.
    *kita cuma kuat satu ronde,eh dia minta nambah.kita kuat tiga ronde,dia dah ogah.*
    Katanya…, gak tau juga si…!
    Ku bukan tife cowo ply boy,yang suka gonta ganti tuhan.

  16. @g3mbel
    .
    Jadi yah mungkin betul begitu. Agama-agama besar di seluruh dunia memang dibangun oleh salah tafsir. Mungkin saja, bung.
    .
    @maren
    .
    Iya betul itu memang.

  17. Dalam ilmu logika, mungkin saja sikap Ibrahim itu sebuah demonstrasi untuk membuktikan apakah benar Tuhan itu ada. Sebelumnya benda-benda langit ia teliti, lalu ia mendapat kesimpulan bahwa bulan, matahari, bintang-bintang bukanlah Tuhan, karena tenggelam.

    Lalu Ibrahim mendapat mimpi, untuk mengorbankan anaknya, perintah dari entitas yang bernama Tuhan. Bisa saja kalau peristiwa itu benar-benar terjadi (terjadi penyembelihan) Ibrahim mendapat kesimpulan bahwa Tuhan tidak ada. Tapi ternyata tidak, Ismail/Ishak diganti dengan domba.

    Saya pikir pengorbanan/kenekatan Ibrahim adalah untuk membuktikan eksistensi Tuhan. Jadi manusia modern tak perlu lagi membuat pembuktian menyeramkan seperti nabi Ibrahim untuk menegaskan eksistensi Tuhan.

  18. @buzzart
    .
    Nah itu rada mirip ama ide tulisan ini. Kayaknya sih memang Ibrahim yang melakukan semacam ujian on whether God exists or not. Jadi, terbalik. Bukan Ibrahim yang diuji, tetapi Tuhan. Nah, my point is, manusia modern berada dalam kondisi yang sama seperti Ibrahim sekarang. Kasus Ismail hanya simbol aja; tidak menjadi pengganti/penuntas dari kondisi manusia sekarang.

  19. Aku setuju juga dgn logika yg demikian itu, Bro. Masuk akal. Ibrahim meniru-niru cara berkorban yg paling elok dari cerita atau fakta kebiasaan kampung sebelah. Termasuk sunatnya pun ada logikanya bila itu dia tiru dari kampung sebelah.

    Sukurlah Isa datang, manusia suci yg rela berkorban (menjadi korban rohani), walau kuasa Illahi setara Tuhan ada padanya. Isa datang bukan meragakan kuasa itu utk menguasai dunia melainkan meragakan kuasa itu utk menguasai jiwa. Jiwa adalah biang kerok keresehan manusia itu. Dan, kasihnya lah kurasa yg telah menyelamatkan dunia itu hingga kini.

    Salam Damai!

  20. @buzzart & @Ali Sastro
    tapi kalau memang itu dibuat untuk menguji Tuhan, maka metode uji nya yang nggak valid. bisa saja kan yang datang pada saat itu adalah setan ??

  21. @setan
    setan ga akan sanggup datang ke alam mimpi sekalipun menyamar sebagai tuhan, ini sebenernya omongan orang2 yang ga punya duit buat beli kambing males juga gw komen di mari,, tinggal beli lu potong mau hari raya kek hari minggu kek motong motong aja, trus lu kasi sama orang yang membutuhkan.. udah ngapain juga diributin masalahnya juga ga ada kewajiban ini malah ngalor ngidul lu pada ngeributin tuh kambing… gw yang tiap hari korban kuda peluncur kalo perlu ster aja diem.

  22. Dasar org yahudi pada sesat…. Kloo km masih ragu brarti kalian pd g puny iman skalian lo jd atheis aj… Jgn mnghina agama islam klo lo smua g tau ajarany… Yesus itu cm mnusia biasa mlh dianggep tuhan patung benda mati disembah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: