Menyoal Tafsir dalam Seni dan Agama atau Mengapa Anda Perlu Memperlakukan Tuhan dan Seniman Seperti Pacar Anda

November 24, 2009 at 1:20 am | Posted in agama, Catatan, katarsis | 23 Comments
Tags: , , , ,

Oleh Ali Sastro a.k.a Gentole

Kalau Anda, para lelaki, tidak fasih ilmu tafsir dan semiotika, saya sarankan Anda jangan berpacaran dulu, apalagi menikah. Perempuan, dengan segala hormat kepada pembaca budiman yang hari ini kebetulan lagi PMS, adalah makhluk aneh yang diciptakan Tuhan Yang Maha Bias Jender untuk membuat kita, para lelaki, menderita. Saya tidak tahu apakah Hillary Clinton, Angela Merkel dan Megawati berada dalam kategori ini juga, tetapi konon perempuan dalam hal percintaan tidak bisa bicara dalam terang bahasa verbal yang logis dan formal. Mereka lebih memilih bahasa isyarat – sering kali non-verbal — yang memeras otak. Mereka, misalnya, sering kali mengatakan A untuk bilang B atau melakukan 4a dikali 2b untuk bilang X. Sialnya, setiap kali Anda salah tafsir, Anda bakal divonis ‘tidak pengertian’. Tuduhan ini bukan soal sepele, bung. Mereka yang sudah pernah didiemin tahu betul betapa kejamnya emotional blackmail yang dilakukan makhluk tak berjakun itu! Dan kita, para lelaki, hanya bisa pasrah; aslama, yuslimu, islamun.

Tunggu dulu. Sebelum Anda, para wanita, menggelar pledoi dan melakukan serangan balik, ketahuilah bahwa saya sebenarnya mafhum peradaban yang kita punya adalah sebuah peradaban tafsir. Manusia, tidak hanya perempuan, memang sudah terbiasa memahami A bukan sebagai A, tetapi metafora dari M, simbol dari C atau alusi dari Z. Ya, begitu. Manusia sudah kadung percaya bahwa apa yang tampak itu dangkal, dan malah artifisial, dan berfikir bahwa ‘isi’, ‘makna’ dan ‘maksud’ itu tidak pernah tampak, selamanya berada di balik yang terlihat. Kalau begitu, masalahnya di mana?

Sesekali pasang karakter anime lah

Masalahnya adalah Tuhan. Ternyata Tuhan itu seperti perempuan: tidak bicara dalam terang bahasa formal. Coba pikir. Hampir semua kitab suci agama besar – al-Qur’an, Taurat, Injil, Baghavad Gita, dst. — tidak ada yang berdiri sendiri; selalu ada kitab lain atau buku tafsir yang menjelaskan apa yang hendak mereka katakan, seolah kitab suci itu retarded dan tidak bisa bicara sendiri. Orang Yahudi membaca Mishnah untuk memahami Taurat. Orang Kristen membaca korespondensi bapak-bapak Gereja untuk memahami Injil dan kitab-kitab Perjanjian Lama. Orang Islam membaca ribuan hadist dan juga kitab tafsir untuk memahami al-Qur’an, yang sebenarnya sudah memproklamirkan dirinya sebagai ‘terang-benderang’. Entah sudah berapa buku ditulis untuk ‘menggantikan’ kitab-kitab langit itu. Menurut saya ini problematik. Di satu sisi saya berfikir Tuhan mestinya bicara lurus; tidak ambigus maknanya; tidak mengandung ketaksaan yang melelahkan. Tetapi, di sisi lain, manusia memang tidak pernah puas dengan teks sebagaimana adanya ia. Mengapa bangsa Israel melakukan eksodus dan luntang-lantung sampai akhirnya sampai ke tanah yang dijanjikan? Mengapa Nabi Yesus Kristus disalib? Mengapa Nabi Ibrahim dipaksa untuk menyembelih Ismail/Ishaq? Mengapa umat Islam melaksanakan ibadah haji? Mengapa dalam tradisi Islam Tuhan memilih 99 nama? Kenapa tidak 37 atau 76 saja? Apa maksud 99?

Pada tahun 1960-an di Amerika sana, kritikus seni Susan Sontag – seorang perempuan muda yang bening – menulis sebuah esai berjudul: Against Interpretation. Menurut Ibu Susan, seni mesti dibebaskan dari tafsir, karena tafsir ini seringkali seperti melecehkan seni itu sendiri, seolah seni yang tampak di mata itu hanya topeng saja, atau tidak penting, sehingga perlu digantikan dengan apa yang bukan dirinya, yang disebut sebagai penafsiran atasnya. Mengapa kita tidak menerima seni sebagaimana adanya saja? Atau dalam bahasa Ibu Susan:…to show how it is what it is, even that it is what it is, rather than to show what it means. Dalam berkesenian, saya setuju 100 persen sama Ibu Susan, manusia mesti melihat sebuah karya sebagaimana adanya dan tidak perlu berupaya untuk mencari-cari artinya. Karena melakukan itu melelahkan. Dan belum pasti pas juga. Dan lagian, bagi sebuah karya seni — apakah itu novel, lukisan, lagu, puisi –, tafsir adalah tiran. Nah, pertanyaannya adalah, apakah kita perlu memperlakukan kitab suci sebagai karya seni atau karya sastra juga?

Tidak ada kitab suci yang tidak sastrawi. Kitab suci semuanya doyan metafora, doyan alusi, doyan alegori. Dan tidak ada kitab suci yang tidak kontroversial. Keindahan sastrawi dari berbagai dongeng dan juga syair-syair apokaliptik yang ada dalam kitab suci hadir di tengah berbagai gagasan yang tidak selaras dengan akal sehat dan jiwa zaman. Dalam kondisi seperti itu, wajar bila manusia menginginkan ‘penafsiran’ yang sesuai. Atau lebih buruk lagi, penafsiran dan sistematisasi – biar mudah dipahami. Dus, ribuan buku ditulis untuk menafsirkan kitab suci yang sukar itu. Dan yang terjadi adalah? Orang semakin tidak mengerti; semakin bingung. Saat ini kitab suci ibarat pembicara yang tidak didengarkan dalam sebuah seminar yang berisik, yang dihadiri oleh orang besar kepala yang merasa lebih tau dari sang pembicara yang malang itu. Mengapa tidak kita biarkan kitab suci sebagaimana adanya saja tanpa penafsiran? Mengapa harus ada tafsir?

Pada abad ke-7 di jazirah Arab, Nabi Muhammad dilaporkan pernah berkata: “Sesungguhnya di antara kamu ada seorang yang berperang atas penafsiran al-Qur’an sebagaimana aku berperang atas penurunan al-Qur’an”. Para sahabat pun mengangkat pandangan untuk melihat siapa orang yang dimaksud. Dan di antara mereka ada Abu Bakar dan ‘Umar. Kemudian beliau berkata  “Bukan, akan tetapi dia adalah pengesol sandal, ‘Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ‘anhu”. (Yang berminat untuk lebih lanjut mengetahui status hadist ini dan berbagai kontroversinya silahkan berkunjung ke sini dan sini.)

Mahakarya sastra itu disebut al-Qur’an. Ditulis pada abad ke-7 setelah Yesus Putra Maryam dilahirkan Betlehem. Tidak seperti al-Kitab bangsa Yahudi yang ditulis selama ratusan tahun, al-Qur’an ditulis kurang dari 23 tahun dan dikodifikasikan kurang dari  seabad kemudian. Juga tidak seperti kitab-kitab lainnya, al-Qur’an ‘sadar’ bahwa kitab-kitab terdahulu sudah dibajak oleh para penafsir. Karena itu, apabila hadist yang saya kutip itu valid, Nabi Muhammad merasa perlu mengumumkan kewenangan Ali Bin Abi Thalib dalam menafsirkan al-Qur’an. Seperti Susan Sontag yang berperang lewat esainya untuk melawan segala penafsiran atas karya seni, Ali berperang lewat pena dan pedangnya untuk melawan penafsiran yang salah atas al-Qur’an. Kisah Ali menurut saya menggarisbawahi persoalan pelik yang dihadapi oleh semua agama, tidak cuma Islam. Kita ditanya. Siapa yang berhak menafsir? Mengapa tafsir A valid dan B tidak? Dalam tradisi Katolik, Paus dipercaya sebagai penafsir al-Kitab yang sah. Karena itu, dalam pandangan ulama Katolik, renungan teolog Protestan tidak dijamin keabsahannya, apalagi yang rada liberal seperti Bapak Karl Barth dan N.T. Wright. Dalam pandangan Syi’ah, Allah menjaga tafsir al-Qur’an melalui para imam dalam garis ahlul-bait, sementara dalam tradisi Katolik, Allah/Roh Kudus menjaga tafsir al-Kitab melalui bapak-bapak gereja dalam rantai kepausan. Apakah ini menyeselaikan persoalan? Tidak. Menurut saya tidak. Seperti halnya dalam Sunni dan Protestan, dalam Gereja Katolik dan Syiah pun ada sub-sub tafsir yang tidak seragam kalau bukan subversif. Jadinya?

Hayo ini bacaanya apa?

Ya tidak ada penyelesaian yang komprehensif. Bagaimana pun tafsir itu ibarat labirin; selalu ada penafsiran atas penafsiran. Apabila Anda tidak punya cukup waktu untuk mendedikasikan seluruh hidup Anda untuk mempelajari kitab suci – kecuali liqo sepekan sekali atau menyaksikan 30 menit kuliah subuh di televisi – jangan harap Anda bisa mendapatkan tafsir yang dijamin benar. Karena itu, mungkin Anda perlu memikirkan apa kata Ibu Susan Sontag; tafsir itu bisa jadi tiran dan melecehkan teks. Dan apabila teks itu kitab suci, penafsiran bisa melecehkan kitab suci. Kenapa tidak kita biarkan saja kitab suci itu berbicara. Tidak usah ditafsir jauh-jauh. Kalau tidak mengerti ya sudah. Itu rahasia Tuhan. Saya bukannya menyarankan agar Anda membaca kitab suci secara harfiah; memaknai sebuah kata berdasarkan fakta bahasa yang beredar pada masa Anda hidup. Yang saya maksud adalah membiarkan kitab suci itu pada wujud lahiriahnya; pada bunyinya, pada gaya tulisannya, pada diksinya. Soalnya begini. Di samping kosan saya ada musola yang selalu nyetel murottal. Indah sekali. Apalagi surat-surat dari juz 29 dan 30. Saya tidak berusaha untuk memahaminya. Saya hanya merasakannya saja. Dan ternyata bunyi al-Qur’an mengingatkan saya kepada Tuhan; membuat saya merasa dekat dalam keabstrakanNya. Tuhan memang tidak harus dipaksa untuk berbicara dalam terang bahasa formal, seperti pacar saya yang manja itu, yang sering kali bicara lewat gestur yang prone to misinterpretation. Kalau dipikir-pikir, saya memang tidak selalu mengerti apa yang dikatakan Tuhan dan pacar saya, tetapi toh saya masih senang mendengarkan mereka berbicara. Seperti melihat lukisan atau membaca puisi yang indah. Dinikmati saja. Keindahan adalah keindahan. Tidak perlu ditafsir. Tidak perlu bertanya pada si pelukis: ‘ini maksudnya apa ya mas?’ Hey, jangan remehkan keindahan. Kata Imam Tertinggi Gereja Roma: beauty leads to God.

23 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. ^

    .

    .

    Mencoba hanya menikmati tulisan ini, dan tak berupaya untuk melakukan penafsiran-penafsiran 🙂

  2. Kalau Anda, para lelaki, tidak fasih ilmu tafsir dan semiotika, saya sarankan Anda jangan berpacaran dulu,

    whooohoho… berarti abang tergolong fasih ilmu tafsir & semiotik yah? 😀 ya iya sih, anak Adab gitu loh :-”
    .

    saya memang tidak selalu mengerti apa yang dikatakan Tuhan dan pacar saya, tetapi toh saya masih senang mendengarkan mereka berbicara. Dinikmati saja.

    😆 ini bukan semacam apologi kan ya?

  3. Masalahnya adalah karena yang dibicarakan adalah sesuatu yang kualitatif bukan yang kuantitatif jadi lebih kaya perbedaan pendapat

  4. bukankah berbagai penafsiran, menurut saya sih, bs memperkaya pengetahuan kita sendiri? dan beragam penafsiran itu, memang juga memperkaya perbedaan, tapi dari sana jg kita banyak belajar menghargainya. dan menurut saya juga, sebuah penafsiran (pada karya seni atau else) tdk akan mencederai kemurnian dari yang ditafsirkan itu sendiri.

  5. Rrr…Monty Python’s Life of Brian? :mrgreen:

  6. @zephyr
    .
    Yah enggak gitu juga kali, Mas.
    .
    @lumiere
    .
    Apologi? Bukan.
    .
    @lovepassword, emina
    .
    Yang saya persoalkan bukan perbedaan tafsir. Tetapi alasan menapa tafsir itu harus ada. Dan juga bahaya tafsir terhadap ‘kebenaran’ itu sendiri. *halah*
    .
    @nicholas
    .
    Tepat!

  7. email yang didapat beberapa hari yang lalu, rasa-rasanya cocok dengan bahasan di atas:
    .
    Seorang Kakek hidup di suatu perkebunan di suatu pegunungan sebelah timur Negara bagian Kentucky (Amerika) dengan cucu lelakinya yang masih muda. Setiap pagi Kakek bangun lebih awal dan membaca Alkitab di meja makan di dapurnya. Cucu lelakinya ingin sekali menjadi seperti kakeknya dan mencoba untuk menirunya dalam cara apapun semampunya.
    .
    Suatu hari sang cucu nya bertanya, ”Kakek! Aku mencoba untuk membaca Alkitab seperti yang kakek lakukan tetapi aku tidak memahaminya, dan apa yang aku pahami aku lupakan secepat aku menutup buku. Apa sih kebaikan dari membaca Alkitab?”
    .
    Dengan tenang sang Kakek dengan mengambil keranjang tempat arang, memutar sambil melobangi keranjang nya ia menjawab, ”Bawa keranjang ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuhi dengan air.”
    .
    Maka sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek, tetapi semua air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya. Kakek tertawa dan berkata, “Lain kali kamu harus melakukannya lebih cepat lagi.”
    .
    Maka ia menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan keranjang tersebut untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi tetap, lagi-kagi keranjangnya kosong sebelum ia tiba di depan rumah. Dengan terengah-engah, ia berkata kepada kakeknya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang sudah dibolongi, maka sang cucu mengambil ember sebagai gantinya. Sang kakek berkata, ”Aku tidak mau ember itu; aku hanya mau keranjang arang itu. Ayolah, usaha kamu kurang cukup.”
    .
    Maka sang kakek pergi ke luar pintu untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya itu.
    .
    Cucunya yakin sekali bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakek nya, biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, air tetap akan bocor keluar sebelum ia sampai ke rumah. Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika ia sampai di depan kakek keranjang sudah kosong lagi.
    .
    Sambil terengah-engah ia berkata, ”Lihat Kek, percuma!”

    ”Jadi kamu pikir percuma?” jawab kakek. Kakek berkata, ”Lihatlah keranjangnya.“

    Sang cucu menurut, melihat ke dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda. Keranjang itu TELAH BERUBAH dari keranjang arang yang tua kotor dan kini BERSIH LUAR DAN DALAM.
    .
    “Cucuku, hal itulah yang terjadi ketika kamu MEMBACA ALKITAB. Kamu TIDAK BISA MEMAHAMI atau INGAT segalanya, tetapi KETIKA kamu MEMBACANYA LAGI, kamu AKAN BERUBAH, luar dalam. Itu adalah KARUNIA dari ALLAH di dalam hidup kita.”

    Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang.

  8. Tapi gimanapun juga saya masih bingung. Sampeyan bilang sebaiknya apa-apa tidak ditafsir. Saya pikir tadinya sampeyan meng-encourage pemahaman secara literal, tapi ternyata bukan. Lalu bagaimana? Apa kitab suci (yang bukan buku matematika itu) hanya boleh dirasakan dan dimengerti sebagai karya sastra, tanpa dimengerti maksudnya, atau gimana? 😕 (sorry if I missed that part)

  9. @felicia
    .
    Yah idenya sama. Di situ agama berfungsi sebagai mitos, bukan logos. Karen Armstrong, dalam banyak bukunya, berusaha untuk mengingatkan kembali bahwa selama ini kitab suci difungsikan seperti itu; sebagai praktik spiritual. Orang Islam yang kitab sucinya berbahasa Arab dan repetitif aja susah dihapal, apalagi Alkitab; udah terjemahannya banyak, bahasa aslinya cuma bisa dibaca segelintir orang, tebal pula. Tapi yah ini gak dogmatis; dan setiap orang mungkin punya sensasi yang berbeda terhadap bunyi kitab suci. Ada kaitannya dengan upbringing, etc.
    .
    @nicholas
    .
    Memahami secara literal itu kan penafsiran pada level paling dangkal. Sebuah kalimat atau kata dipahami berdasarkan fakta bahasa yang ada. Kalo Alkitab bilang enam hari penciptaan; maka kata ‘hari’ secara literal dimaksudkan sebagai jeda antara dua terbit matahari. Itu literal.
    .

    Lalu bagaimana? Apa kitab suci (yang bukan buku matematika itu) hanya boleh dirasakan dan dimengerti sebagai karya sastra, tanpa dimengerti maksudnya, atau gimana?

    .
    Saya bukan Tuhan. Tidak bisa mengatakan ini boleh atau tidak. Terserah orang mau ngapain. :mrgreen: Yang jelas, kehidupan keberagamaan umat manusia sekarang ini sudah digrecoki oleh berbagai tafsir. Dan tafsir ini, kalau dipikir-pikir, sebenarnya telah melakukan kudeta atas kitab suci purba yang masih perawan dari tafsir orang. Nah, saya, pertama, hendak mengingatkan saja: hati-hati dengan tafsir.
    .
    Lalu bagaimana?
    .
    Yah itu dirasakan saja. Kitab suci dalam ketelanjangannya, tanpa banyak menghabiskan tenaga kognitif untuk memahami maksud dari semua kata-kata dalam kitab suci. Ini bukan berarti kita mengabaikan makna; toh seperti membaca puisi saja; kita kan tak sepenuhnya buta artinya sama sekali, tetapi juga tak sepenuhnya mengerti. Tetapi puisi yang indah ‘rasanya’ beda, bukan? Aku gak tau apakah membaca/mendengar kitab suci tanpa penafsiran ini bisa membawa kita pada ‘kebenaran’ dan apakah ini tidak lebih dari manipulasi otak saja. Apapun, sebenarnya fungsi agama ya itu; sesederhana itu; to calm you. Apakah itu deceptif? Who cares? Yang jelas, memosisikan kitab suci sebagai logos yang harus dimengerti dengan sendok dan garpu filsuf Yunani itu yah repot.
    .
    Tapi ya saya bukan anti-tafsir juga. Saya senang kok tafsir. Dan masih bertafsir-tafsir ria di sana sini. 😀

  10. @ Ali
    .
    .

    Kalau Anda, para lelaki, tidak fasih ilmu tafsir dan semiotika, saya sarankan Anda jangan berpacaran dulu, apalagi menikah

    .
    😆 , 😆
    :lol :….. 😆
    .

    mengacu pada ayat-ayat santan satan :
    .
    hai engkau mahluk berpenis, telah tampak kerusakan di muka bumi berupa kebencian, amarah dan dendam serta peperangan sebagai akibat kaum laki2 yang salah memahami keinginan kaum perempuan. (1)
    .
    dan janganlah sekali2 engkau kaum laki2 menuruti segala keinginan kaum perempuan tapi cukuplah engkau berikan apa2 yang mereka butuhkan (2)
    .
    jika memang engkau laki2 itu mahluk berkepala dua maka tetaplah pake kepala bagian atas jika terpaksa harus bertarung dengan kaum perempuan. (3)
    .
    dan ketahuilah bahwa fitnah perempuan itu jauh lebih kejam dan mengerikan di banding siksa api neraka. (3)

    .
    .
    .
    hati2 ketiga ayat di atas itu sangat nyata kesesatannya. dan saya telah memperingatkan anda :mrgreen:
    .
    .

    makhluk aneh yang diciptakan Tuhan Yang Maha Bias Jender untuk membuat kita, para lelaki, menderita.

    .
    nah kalau kata Engkong Nietzche , perempuan itu : god’s second mistake , nah kalau mbah Chu Pat Kay pernah bersabda seperti ini : derita karena wanita itu sungguh derita yang tiada akhir 😆 , 😆
    .
    nah bagi kaum laki2 ,jaga dan periharalah hatimu tetap pada tempatnya jangan sampai hilang atau berpindah tangan. sebab hatimu adalah nyawamu ….. !!!! 👿 😆
    .
    nah sebagaimana Aa ( salah seorang master manajemen hati yg sangat terkenal seantero dunia ) pernah bersabda :
    .
    Jagalah Hati Jangan Kau Kotori
    Jagalah Hati Lentera Hidup Ini
    Jagalah Hati Jangan Kau Nodai
    Jagalah Hati Cahaya Illahi

    .
    jadi waspadalah…!! waspadalahhh !! 😆
    .

    [/lospokus] [/OOT]
    .
    .

    Masalahnya adalah Tuhan. Ternyata Tuhan itu seperti perempuan: tidak bicara dalam terang bahasa formal

    .
    .
    ya demikianlah sobat. malah saya sempat berpikir bahwa jangan harap kita mampu memahami keberadaan tuhan yang maha imajiner dan maha rahasia jika untuk memahami perempuan yang wujud fisiknya saja sangat nyata kita tidak mampu.
    .
    contohlah nabi Muhammad yang sangat faham betul tentang wanita dari wanita paling wanita sekalipun.
    .
    awalnya sih cobalah untuk jadi pendengar lalu perhatikanlah dengan seksama , awas jangan pada kata2nya tapi perhatikanlah gestur tubuhnya dan tatapan matanya. kalau dia ngomel2 dengarkanlah dengan khusu sebagaimana kekhusuanmu dalam sembahyang kalau perlu sediakan air putih, agar supaya dia bisa minum dan menarik nafas sejenak lalu persilahkan kembali untuk ngomel dan marah sepuasnya. jika marahnya dirasa belum reda tawari piring, gelas, atau teko untuk dibanting biar emosinya bisa terlampiaskan. kalau dianya udah kecapaian. giliran sang lelakilah yang ngomong.
    .
    katakanlah : sungguh kamu terlihat sangat cantik ya.., ketika kamu ngomel dan marah sehingga aku dibuat terpesona karenanya 😎 😆
    .
    memaksa memahami perempuan dengan logika sama halnya tuan makan sejata, siap2lah untuk ngejedot2 kepala ke tembok atau terus menerus ngelus2 dada.
    .
    awalnya sih dengan rasa lalu logika ikut berbicara bukan logika dulu baru rasa. menaklukan atau menjinakan perempuan itu terkadang tidak perlu susah payah melawannya. tapi cukup dengan mengalah dan menerima apa adanya. jika anda bisa seperti ini , kemenangan nampaknya sudah ada dalam genggaman. 😆
    .
    setelah rasa itu terasah sedemikian tajamnya barulah masuk kelogika sehingga jadilah rasa yang berlogika .
    .
    sama kayak kita menilai lagu yang pertama di rasa kan nada2nya yang berirama kuping lalu setelah cukup umur baru cari tau lyriknya.
    .
    anak2 juga kan gitu, dia nyanyi padahal dia samasekali gak faham liryknya. tapi kan kalau udah remaja atau dewasa biasanya mencari tau kandungan liriknya. 😀

    .
    kalau dalam kamus saya, saya tidak mengenal itu nama kitab suci bagi saya pribadi yg dikatakan kitab suci oleh orang2, itu hanyalah sebatas catatan sejarah atau buku sastra saja.
    .
    kalau ingin baca kitab suci ya tinggal baca aja sumbernya yg asli , dan itu bukan bahasa manusia loh 😆 apalagi bahasa bahasa ngarabb atau ngibrani 😆
    .

    ntar deh di sambung lagi abis tema nya asik 😆

  11. *baca baca lagi beberapa bagian tulisan dan komen-komen*
    eh…”…wanita adalah makhluk ciptaan Tuhan untuk membuat para lelaki menderita..?”
    .
    benarkah begitu?
    .
    anda, kang ali atau kang gembel, apakah sangat berpengalaman menderita karena wanita?
    .
    menurut saya, bahkan dalam alqur’an sendiri disebutkan (yg dikutip oleh anis matta)’wanita adalah tempat kita (laki-laki) menemukan ketenangan.
    .
    .

  12. ada yang lupa,
    jika kita berpikir seperti itu, bahwa wanita adalah pembuat penderitaan bagi kaum laki -laki, berarti kita malah akan menderita. tergantung pikiran kita juga sih.
    .
    semoga sih tidak begitu. semestinya karena wanita itu adalah per-empu-an peradaban, maka dia adalah tempat bersandar.
    .
    eh malah fokusnya ke wanita-nya ya…ketimbang tafsir-nya. maaf :mrgreen:

  13. emotional blackmail –> ini sih juga kerjaannya laki-laki, https://s-ssl.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif anyway, saya sih setuju aja pake meliaht keindahan sebagai keindahan, bukan menafsir tapi menunggu ketersingkapannya… tapi untuk soal perempuan, mesti disingkap sendiri kayanya mas gentole.. hehehe.. pizzz..

  14. @g3mbel
    .
    Biasa. Panjang.
    .
    Soal ayat-ayat setan, saya pas aja. :mrgreen:
    .

    memaksa memahami perempuan dengan logika sama halnya tuan makan sejata, siap2lah untuk ngejedot2 kepala ke tembok atau terus menerus ngelus2 dada.

    Betul. Mari kita tanyakeun ke Mbak Illuminationis.:D

    kalau ingin baca kitab suci ya tinggal baca aja sumbernya yg asli

    Apakah itu kalo boleh saya tahu?
    .
    @emina
    .
    Itu Mas G2mbel. Bukan saya Mbak.
    .
    *ngumpet*
    .
    @kenz
    .
    Apanya dulu nih yang disingkap? Biar jelas. Agar tidak terjadi tafsir-tafsir yang tidak dinginkan. :mrgreen:

  15. *membaca paragraf pertama*
    .
    .
    .
    *batuk!*

  16. wah kalo tradisi agama langit saya juga suka heran kenapa orang-orang pada sering ngotot bahwa cuma 1 penafsiran (versi sendiri) yang paling afdol.
    .
    tapi dalam tradisi India, Bhagavad Gita itu termasuk, suatu karya tulis emang selalu ditemani karya komentar. Bukan melulu untuk memberi pengertian/ tafsiran baru yang sesuai era tersebut. Tapi karena gaya penulisan India kuno selalu kriptik dan sangat padat makna, sehingga penjabarannya selalu ada lagi, jadi bacaannya sepaket gitu loh.
    .
    Jadi semisal hendak membaca Kama Sutra (karya kompilasi Vatsyanana), selalu sepaket dengan baca komentar-komentarnya, seperti tulisan Yasodhara atau Devadatta.

  17. jadi mungkin Gentole pun perlu baca karya komentar penyerta buku bacaan yang namanya perempuan, biar penjabarannya lebih gamblang :mrgreen:

  18. eh… *baru baca-baca komentar di atas*
    .
    @ GeGe (Gentole Gembel)
    .
    saya ini cewe yang gak kayak cewe… jadi jangan diajak konsultasi soal cewe, saya aja ga ngerti 🙄

  19. @frozen
    .
    *ngasihobatbatuk*
    .
    @illuminationis
    .
    Jadi apa buku tafsir perempuan? 😀

  20. ^ jawaban di bawah ini ditanggung menyesatkan, tapi siapa tahu bermanfaat :mrgreen:
    .
    mulailah dengan membaca majalah yang katanya khusus untuk konsumsi perempuan, walau faktanya informasi di dalamnya sering hasil ngecap yang diulang-ulang terus, ada aja perempuan yang setelah membaca lalu mencoba menerapkan dalam kehidupan sehari-harinya. Kalo terus relasi dalam hidup nyata jadi acakadul ga sesuai harapan, ya bisa dimaklumi.
    .
    *padahal saya sendiri ga baca majalah tipe itu*

  21. ^
    .
    Makasih tipsnya. 😀

  22. bahkan untuk mengindera/mengalami suatu kualitas saja kadang selip, apa tah lagi penafsiran. tapi kita punya artefak tradisional juga yang tak butuh penafsiran yaitu mantra. kl gak salah sastrawan sutarji itu yang pengin kembali ke situ. salam

  23. Bicara mslh tafsir..saya sendiri punya penafsiran ttg tafsir ni gan..(salah2 dikit g pa2 ya gan)
    Tafsir ibarat diagnosa atau penjelasan dokter utk gejala2 penyakit yg tentunya tidak semua org yg sakit akan mengerti tanpa ada penjelasan dokter..
    Tafsir jg seperti penjelasan seorang guru matematika ttg rumus2 yg memusingkan kepala….
    Tafsir jg mirip2 seperti penjelasan anda kepada sang pacar ketika anda khawatir klu dia salah mengerti tentang ucapan anda…
    Segala perbuatan anda sehari2 jg adlh tafsir ttg nilai2 yg selama ini anda yakini menurut versi anda..
    Bobot(kualitas) suatu penafsiran tentulah bsa di lihat dr kualitas sang penafsir itu sendiri….
    Mungkin ada benarnya klu dikatakan bnyk penafsiran = bnyk kebingungan
    tp lagi2 itu jg adl penafsiran yg bsa jg tdk demikian adanya….
    ” Memang Banyak jln menuju ROMA,tp pastikan bahwa jln yg anda tempuh memang betul2 menuju ROMA”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: