Para Pengkhianat Novel atau Mengapa Saya Sering Meninggalkan Toko Buku Gramedia dengan Tangan Kosong

November 21, 2009 at 3:28 pm | Posted in apresiasi, curhat, katarsis | 43 Comments
Tags: , , , ,

Ustaj, aktifis, psikolog, narsisis sebaiknya jangan jadi novelis. Biar penulis saja yang menulis.

~ Gentole

Novel Tidak Punya Jurusan

Pembaca. Tujuan novel itu bukan khotbah, bukan advokasi, bukan filsafat, bukan pengembangan diri [sic!], dan pastinya bukan uang segepok. Muak saya dengan banyak penulis fiksi lokal yang hendak mengubah dunia, dengan karya mereka yang dibilang ‘luar biasa!’ dan ‘dahsyat!’ itu. Tidak perduli bila pada akhirnya mereka benar-benar bisa mengubah dunia. Itu lain soal. Yang jelas, pretensi pengarang, sekecil dan sesamar apapun, untuk menjadikan karya mereka semacam ‘agen perubahan’ adalah pengkhianatan terang-terangan terhadap novel itu sendiri; adalah racun yang menjadikannya impoten, lumpuh dan akhirnya mampus. Novel tidak punya jurusan. Tidak ada novel jurusan surga, novel jurusan perubahan sosial atau novel jurusan orang yang berguna bagi nusa dan bangsa. Novel itu ditulis bukan untuk mengkhotbahi pendosa agar segera bertaubat sebelum leher ditebas Izrail; bukan untuk mengatakan bahwa orang-orang miskin harus dibela dan orang kaya harus dicerca; bukan untuk menyulap seorang underachiever jadi juara kelas, masuk ITB dan kerja di Caltex; dan bukan pula untuk mewartakan kebobrokan sistem; agama atau negara.

Novel bukan Blog atau Tempat Narsis Lainnya

Novel mesti dibebaskan dari tidur siang para pengarang narsisistik; dari cermin retak para penulis yang tidak bisa membedakan antara diri mereka sendiri dan ‘anak-anak’ (baca: karya) mereka. Novel semi-otobiografis, seperti  — saya sebut saja lah di  sini — Laskar Pelangi dan Ayat-ayat Cinta, adalah tumor sastra Indonesia, yang kehadirannya tidak layak diamini, apalagi dirayakan. Tunggu dulu bung, mbak, nona, ukhti, kisanak. Anda jangan apriori dulu. Saya tidak hendak menyerang ‘sastra Islam’ atau ‘sastra jilbab’. Bagi saya, sastra Islam atau sastra kiri, sastra selangkangan, sastra anak mesjid, sastra ‘Utan Kayu’, atau sastra Starbuck, apapun, itu sama saja. Selama sebuah karya itu dibebani oleh ‘kepentingan’ si pengarang, dalam bentuknya yang apa saja, maka karya itu tidak akan mampu berkata banyak. Novelnya Ayu Utami pun, dalam konteks ini, setipe dengan novelnya Kang Abik. Beda warna, beda kutub dan beda latar belakang saja. Intinya yah khotbah-khotbah juga. Khotbah yang sangat mengkhotbahi. Arogan dan intrusif!

Defisit Orijinalitas Novel Indonesia Kontemporer

Hanya karena Anda pernah tinggal di Timur Tengah atau Eropa, bukan berarti tulisan Anda bakal menarik pembaca Indonesia yang belum pernah kemana-mana. Dan hanya karena Anda pernah tinggal di pelosok desa di sebelah timur negara kita, bukan berarti novel yang Anda tulis itu orijinal dan ‘lain’. Saya hampir selalu gagal membeli buku bagus setiap saya pergi ke Gramedia. Kecuali karya beberapa cerpenis dan penyair – entah mengapa sajak Indonesia belakangan ini jauh lebih ‘maju’ ketimbang cerpen dan apalagi novelnya – hampir semua buku baru yang dijejer di rak ‘sastra Indonesia’ idak ada yang menawarkan ‘kebaruan’. Paragraf pertama dari banyak novel yang saya baca kok rasanya ‘sudah pernah saya baca’ semua. Dan, ngomong-ngomong, ke mana perginya karakter sastrawi yang layak diingat? Tolong cerahkan saya. Saya harus baca apa? Masak Putu Wijaya lagi, Danarto lagi, Romo Mangun lagi, GM lagi, SGA lagi?

Advertisements

43 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Saya harus baca apa?

    Baca manga Haruhi dan Kodomo no Jikan gan. Dijamin tidak mengkhotbahi. :mrgreen:

  2. ^
    Ini soal novel. Novel Indonesia.
    .
    Pengumuman: Tidak Menerima Komik dan Kartun Jepang!

  3. ^
    Bukannya komik Jepang itu bisa digolongkan sebagai graphic novel?

  4. ^

    Kita sepertinya sepakat soal arti ‘grafis’. Masbro Jensen berkenan menjelaskan apa itu ‘novel’? :mrgreen:

  5. Tolong cerahkan saya. Saya harus baca apa? Masak Putu Wijaya lagi, Danarto lagi, Romo Mangun lagi, GM lagi, SGA lagi?

    ¤ Yang Ketemu Jalan, Nasjah Djamin.
    ¤ Para Priyayi, Umar Kayam.
    ¤ Cintaku di Kampus Biru
    ¤ Epigram, Jamal D. Rahman.
    ¤ Master of The Game, Sidney Sheldon.

  6. ^ Kan novel Indonesia kontemporer. Terbitan di atas tahun 2000 lah. Nasjah Djamin dan Umar Kayam gak masuk itungan dong. Lagian udah baca yang Umar Kayam. Sydney Sheldon? Wah kamu nggak baca postingan. Epigram? Sinopsisnya aja begitu. Soal aktifis mahasiswa. Terus pergi ke luar negeri. Hah…bosan.

  7. ^
    kalau bosen mah baca aja langsung “novel kehidupan” biar sampean jadi novelis sekalian. :mrgreen:

  8. Ahaha, arogan dan intrusif anda bilang, yang ironisnya saya temukan pula dalam postingan ini. 😈

    Jadi begini, mumpung banyak pilihan, kalau tidak bahagia dengan novel Indonesia sekarang, kenapa tidak cari alternatif lain saja? Manga atau novel luar saja lah… *dihajar*

  9. ^
    iya nih yang punya blog ini kalo nyela paling jago , tapi giliran di suruh buat sendiri… hualaah sudah berapa puluh novel bermutu yang telah bung sastro lempar ke khalayak.. hahh ?, 👿 😆
    .
    kalau saya sih kagak bisa nyela novel manapun soalnya saya kagak ngarti masalah pernovelan . 😕

  10. @g3mbel
    .
    Saya gak bakat jadi novelis. Tapi saya suka ngritik. :mrgreen:
    .
    @amd
    .

    Ahaha, arogan dan intrusif anda bilang, yang ironisnya saya temukan pula dalam postingan ini.

    .
    Khan saya bukan novelis dan postingan ini bukan novel. Kalo saya arogan dan intrusif, tidak ada novel yang rusak toh. 😀 But I know what you mean. Maafkan nada tulisan saya yang belum juga berubah. Dari dulu ya begitu. Garam sisinismenya cukup banyak. 😀
    .
    Btw, offended kah karena Laskar Pelangi dicerca di sini? :mrgreen:
    .
    @g3mbel
    .
    Hehe sirik aja nih Mas G3mbel. Kalo sempat ke toko buku baca bukunya Milan Kundera yang The Curtain atau Testament Betrayed.

  11. err~~ sir gentole, saya termasuk yang suka nulis fiksi (cerpen/novel) tapi sangat sulit menemukan novel yang ‘membuat saya ingin tak ingin berhenti membaca pada saat membaca paragraf pertamanya’. sulit saya termasuk cerewet dalam selera.

    makanya itu, klo muter2 di gramedia atau bahkan dipameran buku bandung pun, malah bengkak kaki masih blom nemu novel yang ingin saya baca (dan beli tentunya).

    oiya, saya ingat, waktu di pameran buku bandung kemarin, ada sebuah stand yang saya tidak ingat namanya, bukan penerbit terkenal, dan dia menjual buku -buku pengarang lokal yang tidak saya kenal juga (entahlah klo orang lain kenal atau tidak) sy tidak ingat sama skali, dijual murah banget sampai di bawah 10 ribu. Waktu sy liat sebenarnya tulisannya cukup menarik. Temanya kritis sosial semua, berat. Tapi stand-nya sepi, tidak ada yang minat (sehingga mungkin diobral).

    ya, ya, setiap tulisan (pun novel) bukankah memang selalu memuat kepentingan? selalu ada gagasan yang ingin disampaikan oleh penulisnya? menurut saya, semua fiksi sih ya sama saja begitu. jadi yang benar2 orisinil yg bagaimana ya? Yang kayak sadeq hedayat atau Yasunari Kawabata ? (sy suka novel2 kawabata).

    oiya saya punya antologi cerpen anti perang berjudul : Perang, Cinta, dan Revolusi. Kumpulan cerpen karya pengarang dunia. Mungkin bisa sy rekomendasikan. Lumayan bagus, kok. Ada kawabata-nya hehe :mrgreen:

    untuk novel indonesia, coba lihat aja Agus Vrisaba, pengarang Bali yg sudah meninggal. Tidak terkenal. Tapi tulisannya, menurut saya, mantap. Ga tau kenapa, beda aja pas baca. Ada sesuatu yang beda dlm cara dia menangkap sebuah momen dan menuliskannya kembali. Hehe, tapi klo suka sih.

    baca fiksi itu, kebanyakan tergantung selera kan?

  12. wasduh, tulisannya acak2an, ada yang keapus dan ga ada paragrafnya….maaf T_T
    .
    rupanya harus pake titik, klo enter dua kali ga ngefek ya…. maaf jadi tak enak dibaca itu…

  13. Hmm… Novel Indonesia kontemporer…
    Bagaimana kalau saya sarankan kepada Anda untuk membaca… Soliloquy, novel memoar seorang Rimura Arken, filsuf muda alumnus UIN Sunan Kalijaga yang tempo dulu kita pernah conference bersamanya di YM.
    .
    Bacalah Soliloquy, dan saya menjamin debu-debu kemahabosanan Anda, akan tertiup debur ombak kata-kata liris lagi bernas. Saya yakin kerontang dan dahaga jiwa Anda terhadap sesuatu yang novelty akan terpuaskan dengan gerimis kalimat yang tersebar dalam novel ukuran 13×19 cm terbitan 2009 ini, toh Anda juga pasti sudah sepakat dengan saya perihal kegenialan blogger yang satu ini dalam memilah dan menyusun diksi.
    .
    Cobalah rasa Soliloquy, sebuah novel yang membincangkan perasaan terdalam, hanya pada diri sendiri saja, bukan pada siapa-siapa.
    .
    .
    .
    *kembali larut dalam Soliloquy, yang baru dibeli dua minggu lalu*

  14. Ternyata bukan aku aja yang ngerasa kayak gitu.

    Gimana dengan Langit Kresna Hariadi? Walaupun akhirnya aku anggap terlalu bertele-tele gaya penulisannya, tapi setidaknya nggak narsis.
    😀

    Oiya… ada buku Pram yang belum kubaca….

  15. @emina

    saya termasuk yang suka nulis fiksi (cerpen/novel) tapi sangat sulit menemukan novel yang ‘membuat saya ingin tak ingin berhenti membaca pada saat membaca paragraf pertamanya’. sulit saya termasuk cerewet dalam selera.

    Senasib kita, Mbak. Saya juga begitu. Kalau awal-awalnya saja tidak mengundang untuk terus membaca. Saya gak akan terus membaca.
    .

    oiya, saya ingat, waktu di pameran buku bandung kemarin, ada sebuah stand yang saya tidak ingat namanya, bukan penerbit terkenal, dan dia menjual buku -buku pengarang lokal yang tidak saya kenal juga (entahlah klo orang lain kenal atau tidak) sy tidak ingat sama skali, dijual murah banget sampai di bawah 10 ribu.

    Novel klasik, atau kontemporer?
    .

    ya, ya, setiap tulisan (pun novel) bukankah memang selalu memuat kepentingan? selalu ada gagasan yang ingin disampaikan oleh penulisnya? menurut saya, semua fiksi sih ya sama saja begitu.

    Ya tentu. Masalah ini memang sengaja tak saya tulis di postingan. Menurut saya novel itu harus: pertama, jujur. Seorang pengarang bisa saja menulis tentang korupsi, kemiskinan, kebobrokan moral, dts., tetapi si pengarang sejatinya tidak serta-merta berpihak pada “gerakan anti-korupsi’ atau berlarut-larut dalam tragedi orang miskin. Singkap saja kenyataan korupsi dan kemiskinan. Sebagaimana adanya. Tentu saya tidak bicara jurnalisme, tetapi sebuah novel, bagaimanapun surrealnya, mesti ada elemen realismenya juga kan. Imajinasi kan tak lahir dari kekosongan. Kepentingan yang saya maksud di sini kepentingan yang bersifat politis. Bila novel punya tujuan, maka itu tidak lain adalah penyingkapan berbagai wajah kemanusiaan kita, yang selama ini tidak pernah kita pikirkan dan alami, atau sudah dialami tapi tak menyangka bahwa itu besar.
    .
    Agus Vrisaba ya? Baru denger. Nanti kalo ketemu saya lihat.
    .
    @frozen
    .
    Masih belum nemuin juga. Itu bukannya memoar? Kata Arkenz dah ada di Gramedia. Tapi belum ketemu juga.

  16. @dnial
    .
    Langit Kresna Hariadi?
    .
    Eh itu yang mana yah? Judulnya apa? Bukan Bubin Lantang kan?

  17. sir Gen,
    .
    .
    Kontemporer itu.
    saya biasa nyari di stand -stand yang tidak terlalu populer, biasanya nemu yang lumayan cling, hehe. Krn kebanyakan, novel2 sekarang kan menyesuaikan selera pasar, biar laku dan booming. Tapi taste-nya ga memuaskan hati saya..*halah*
    .
    tapi kalau laskar pelangi, saya juga baca sampai tamat dan saya suka juga walau tidak beli. saya suka pada bagian perjuangan Lintangnya, dan persahabatannya.
    .
    hm..penjelasan sir Gen benar2 masuk akal ttg orisinilitas novel. itu yang saya maksud cari, ternyata ngena banget! yup! saya suka yang seperti itu…err~ tapi ga tau ya apa novel/cerpen yang pernah sy buat itu kayak gitu. menurut seorang penulis yang pernah mengkritik cerpen saya sih, sy tuh selalu membebaskan pembaca untuk memilih.
    .
    Langit kresna hariadi itu salahsatu karyanya Gajah Mada. Dari novel sejarah itulah sy tau awal mula ketidak harmonisan jawa-sunda…
    lumayan lah novel itu.

  18. @emina

    menurut seorang penulis yang pernah mengkritik cerpen saya sih, sy tuh selalu membebaskan pembaca untuk memilih.

    Cerpennya dipublikasikan di mana?

  19. Ah, hampir dua tahun ini, saya memaksakan membeli novel karya penulis indonesia, dan sayangnya, tidak satupun yang selesai dibaca – kecuali laskar pelangi.

    Soal tetralogi laskar pelangi yang membuat Amed merasa terserang itu , pada penulisan awalnya menurut saya pribadi, justru mewakili keinginan dari posting ini yang mendambakan novel tanpa tendesi apa-apa. Namun ketika media mengambil alih, industri hiburan menemukan tambang uang baru, dan si pengarang merasa keterkenalan mendadaknya harus membawa KEBAIKAN pada masyarakan, akhirnya endingnya justru anti-klimaks.

    Tentang blogger yang blognya diterbitkan, yah… can’t write a word without hurt some friends :mrgreen:

    Tapi ujung-ujungnya kan masalah selera ini, tidak bisa dipaksakan…

  20. Itu bukannya memoar?

    Lah, saya bilang apa ya di baris ketiga? 🙄

  21. @mansup
    .
    Laskar Pelangi memang awalnya fenomenal. Sungguh sebuah pengecualian. Saya ingat waktu awal dulu, sebelum booming, mantan saya yang menawarkan buku itu. Memang sih. Rasanya beda. Tetapi belum cukup memuaskan selera saya. Sayang memang bila akhirnya Andrea mesti dielu-elukan dan kehilangan alasan dia menulis novel. Anyway, keberatan saya pada Laskar Pelangi adalah rasa otobiografi-nya.
    .

    Tentang blogger yang blognya diterbitkan, yah… can’t write a word without hurt some friends :mrgreen:

    Siapakah? Kalo saya punya uang, saya mau produseri blog Rosenqueen Company. :mrgreen:
    .
    @frozen
    .
    Ho, iya. :mrgreen:
    .
    Beli sama Arkenz-nya langsung aja kali ya?

  22. […] apa itu ‘novel’?

    Kisah fiksi, berbentuk narasi, ceritanya panjang dan memenuhi kriteria artistik tertentu (dll). Poin2 itu masih bisa ditambah atau diperdebatkan sih, tapi yang jelas tidak termasuk “bisa membawa perubahan”. CMIIW. Tapi biasanya hal itu dianggap sebagai level artistik suatu novel sih. 🙄
     
    Oh ya, IMO ayat-ayat cinta itu gak istimewa kok.

  23. @jensen99
    .
    Buat saya novel adalah: “penyingkapan berbagai wajah kemanusiaan kita, yang selama ini tidak pernah kita pikirkan dan alami, atau sudah dialami tapi tak menyangka bahwa itu besar, yang sering kali tidak memadai bila disajikan secara visual.”

  24. –kang ali sastro–

    ah, saya mah masih amatiran, kang ali. Dulu tahun 2003 pernah dipublikasikan oleh Annida, cerpen yang meremaja sekali. judulnya “jen dan lomba baca puisi’ dan ‘Kabar Terakhir’. tapi yng kabar terakhir ini jelek, romantik sampai akhir tapi blm cukup baik. saya klo baca lagi jadi misuh2. tapi ya….belajar lah.
    .
    Nah, apakah kang ali menganggap cerpen saya itu islami? hehe, soalnya klo bilang annida pasti arahhnya kesitu. menurut saya sendiri sih ga, tapi tema-nya general. saya beranikan diri dikirim ke sana, taunya lolos.
    alhamdulillah ya. tapi setelah itu mengalami berbagai kegagalan, ditolak mulu, terutama kalau dikirimnya ke koran2. hehe. tak apa-apa, tetap semangat. sekarang sudah mulai akan menulis lagi, lama vakum jadi agak susah memulai.
    .
    saya senang bereksperimen, seperti dlm cerpen kabar terakhir itu, jadi cewe ateis sebagai ‘aku’, berani banget. taunya emang kurang menjiwai, hehe.
    .
    sy ga terlalu suka cerita (novel/cerpen) yang ada judgement pada akhirnya, dan ini saya temukan pada genre tertentu. Misalnya endingnya seseorang harus menjadi baik. Kalau tidak natural, jadi terpaksa dan mengecewakan. Misalnya klo ada novel tentang jilbab dan diakhir cerita sang tokoh utama musti harus jadi pake jilbab, padahal ga selalu mesti begitu. saya suka proses, dan akhir yang tidak disangka-sangka, dan pembaca diarahkan untuk memilih sendiri.
    .
    seperti cerpen saya yang jen dan lomba baca puisi itu, itu tentang jilbab lho, tapi sy tidak memberikakan keputusan klo sang tokoh utama akhirnya pakai jilbab atau engga, karena hidup kan ga sesimple itu..hehe. menjadi baik ga semudah itu prosesnya.

    lhaaa~~ kok malah curhat kepanjangan.
    .
    maaf klo ga nyambung..pingin share aja sih…hatur nuhun ^^

  25. @emina
    .
    Wah saya ada kenangan tuh sama majalan Anida. 😀 Tapi ah itu masa lalu. Pada tahun yang sama saya juga senang menulis cerpen. Meski cuma jadi dua. Jelek banget.
    .
    Terus dicoba aja. Saya malah gak pede ngirim tulisan ke koran.

  26. ha??? yang benar? bikin cerpen? dikirim ke annida juga? boleh dong saya liat cerpennya yang dibuat kang ali ? boleh ga.. :mrgreen:

  27. @emina
    .
    Jelek. Bagusan cerpennya si Aris tuh.

  28. Btw, offended kah karena Laskar Pelangi dicerca di sini? :mrgreen:

    Lah, kok saya jadi ngerasa dicitrakan sebagai front pembela Laskar Pelangi sih? 😈

    Saya mah memang jarang baca novel, apalagi baca novel yang so called bermutu dengan prasyarat-prasyarat sedemikian dahsyat. Mending juga nonton film, dua jam selesai :mrgreen: . Laskar Pelangi, saya yakini, memang bukan untuk pembaca novel tingkat tinggi yang sudah melahap novel-novel yang katanya kelas atas itu. LP itu di mata saya juga tacky, exaggerating, sekaligus naif. Lah, ngapain novel semacam itu harus saya bela? Saya hanya suka dengan LP karena unsur pendidikannya yang dekat dengan pekerjaan saya sekarang.

    Yang justru saya bayangkan adalah gimana kalau Mas Gentole, yang sudah muter-muter Gramedia di kotanya saja masih harus misuh-misuh dan mengeluarkan postingan seperti ini, disuruh untuk cari novel yang bermutu di Gramedia sini, di Banjarmasin? Ketemu gak ya? 😆

  29. kalau saya baca novel sekedar iseng…
    makanya rata2 yang dibaca ya chicklit, teenlit, atau malah novel anak2 karangan enid dan sebangsanya…
    kemarin2 sempat baca novel The Alchemist-nya Paulo Coelho dan Bilangan Fu-nya Ayu Utami, agak tercengang juga tapi senang membacanya 😀

  30. aq mw tanya, kan katanya novel tuh,

    “tapi yang jelas tidak termasuk “bisa membawa perubahan”.

    apakah “tidak bisa membawa perubahan” termasuk poin2 dalam novel?
    😉

  31. @ Ali Sastro
    .

    Buat saya novel adalah: “penyingkapan berbagai wajah kemanusiaan kita, yang selama ini tidak pernah kita pikirkan dan alami, atau sudah dialami tapi tak menyangka bahwa itu besar, yang sering kali tidak memadai bila disajikan secara visual.”

    .
    oooh jadi itu yaa definisi novel tuh, 🙂
    .
    kalau demikian serpihan2 kitab mahabarata yang pernah saya baca lewat cerita, wayang , esai tulisan termasuk novel juga dong …? :mrgreen:
    .
    malah kalau saya pikir mahabarata ( http://en.wikipedia.org/wiki/Mahabarata ) jauh lebih kumplit dan lengkap lagi soalnya memaparkan secara metaphorik epik kemanusian secara utuh dan menyeluruh yang meliputi sisi kebinatangan, keiblisan, kedewaan, serta keilahian mahluk yang bernama manusia .
    .
    jadi mahabarata jauh lebih berbobot dari novel manapun.
    .
    tapi asal jangan nonton versi film indihenya saja , soalnya jadi kepengen muntah 👿 , karya pujangga besar dunia yg tlah berusia tak kurang dari 2500 tahun di filmkan ala india yang super “norak” malah kehilangan makna.
    .
    mending baca skripnya saja yang banyak tersebar di jagat dunia maya. dijamin kagak bakalan selesai di baca dalam tiga sampai sepuluh tahun bahkan mungkin seumur hidup 😆

  32. Masak Putu Wijaya lagi, Danarto lagi, Romo Mangun lagi, GM lagi, SGA lagi?

    Danarto itu memang keren.. 😎

    .

    yeah.. mungkin sesekali nyoba baca karyanya GM Sudarta, atau Agus Noor… atau yang lainnya (yang lainnya itu siapa ya? :mrgreen: )

  33. Pengen komentar, tapi udah lama banget gak baca novel karya pengarang Indonesia. Gak tau informasi terkini….. 😦

  34. @amd
    .
    Kalau saya di Banjarmasin mungkin saya akan menabung untuk pesan buku lewat Amazon atau penerbit lokal secara online. 😀 Tapi kalau saya tak punya uang. Yah nasib.
    .
    @felicia
    .
    Alkemis bagus. Saya suka banget itu. Bilangan Fu waduh belum. Novel berat itu.
    .
    @g3mbel
    .
    Mahabarata memang karya sastra. Dan memang bagus. Ada tuh rekomendasinya Anand Krishna. Lupa saya. Sempat wawancara dia dulu. Tapi kan yah ada unsur selera juga dalam membaca novel tuh.
    .
    @zephyr
    .
    GM Sidarta akan saya coba. Danarto itu bagus sekali. Saya mulai kenal dari Setangkai Melati di Sayap Jibril.
    .
    @ando-kun
    .
    Eh, waktu pameran buku di JCC kemarin, Periplus ngobral banyak banget nove-novel Jepang. Tidak ada yang saya kenal sih. Sampe dijual harga 5,000 perak. Tadinya mau beli, tapi rada ragu. Eh, gak jadi. Sekarang rada menyesal. Secara harganya cuma 5,000 ampe 10,000.

  35. Ah novel Jepang yang terakhir saya baca itu The 210th Day, karangan Natsume Souseki…
    belinya juga waktu bazaar buku, cuma 5000 perak :mrgreen:

  36. Primo,
    .

    Buat saya novel adalah: “penyingkapan berbagai wajah kemanusiaan kita, yang selama ini tidak pernah kita pikirkan dan alami, atau sudah dialami tapi tak menyangka bahwa itu besar, yang sering kali tidak memadai bila disajikan secara visual.”

    .
    Lah yang dijejalkan di Gramed itu ‘kan “novel” dalam artian jamak seperti yang disebutkan Mas Jensen, bukan yang dalem seperti yang dikutip. Jadi itu bukan “novel” dong, dus ga “mencemari novel” seperti yang dituduhkan? 😕
    .
    Secondo,
    .
    Kalau yang seperti Orwell atau Dostoevski itu apa kira-kira termasuk menggurui dan berkepentingan?
    .
    Terakhir,
    .
    Saya juga sering meninggalkan Gramedia dengan tangan kosong, tapi tidak apa, di sana banyak AC gede. Nikmat berdiri di depannya pura-pura mencari buku.

  37. @etikush
    .
    Sori kelewat. Jawabannya enggak menurut saya.
    .
    @felicia
    .
    Murah, tak laku?
    .
    @Kgeddoe
    .
    Iya makanya saya bilang ‘novel-novel’ yang ada di Gramedia itu mengkhianati pengertian novel yang saya pahami. Di sini saya tak bicara soal ciklit saja, tetapi juga novel-novel serius, novel-novel yang ditulis oleh sastrawan dan sastrawati serius, yah macam Ayu Utami itu, yang akhirnya jatuh pada ‘kesalahan’ yang hendak saya tunjukkan di postingan ini. Lagian, waktu saya bilang soal “penyingkapan” itu; saya sama sekali tak menafikan wujud fisik novel; prosa yang sangat panjang. Dan dalem tidak harus filosofis, bukan? Novel yah novel.
    .
    Orwell menurut saya berkepentingan. Animal Farm dan 1984 itu satir; dan sepertinya tidak sulit untuk menangkap maksud Orwell; tidak perlu susah-susah menafsir. Beda sama Dostoyevsky; dia cuma mau cerita tentang kehidupan orang-orang stres. Kalau akhirnya yang muncul adalah citra kenestapaan manusia modern, itu sih bonus aja.
    .
    Di Malaysia ada Kinokuniya lengkap itu di Petronas.

  38. Murah, tak laku?

    entah ya, tapi saya sering kok menemukan buku-buku impor dijual seharga kurang dari 10.000 di pameran-pameran buku….
    gak laku karena bahasanya belum bisa dicerna oleh masyarakat umum, mungkin?

  39. uuh…kenapa tagnya jadi kacauuu… >.<
    maaf ya mas gentole, mohon dibereskan… m(-.-)m

  40. oh, jadinya mw bw perubahan kek,
    mw enggak kek,
    itu bukanlah poin2 novel…

    berarti bebas2 aja-kan mw bw perubahan ataw gak bawa perubahan,
    selama novel memiliki poin2 inti novel.

  41. Hmmm, tulisan yang menarik. Terima kasih telah berbagi, karena jujur saja saya merasa jarang ada yang menuliskannya dalam perspektif seperti ini. Kesuksesan memang harus dimulai dari dalam, serta dilakukan dengan penuh komitmen.

    Saya pikir kita memang perlu saling mengingatkan satu sama lain tentang teori dan proses pengembangan diri. Dan sebagai referensi silang, Anda juga pasti bisa menemukan cerminan lainnya dalam tulisan saya yang berjudul Racun Pengembangan Diri. Sekedar untuk semakin menambah wawasan saja, semoga bisa membantu.

    Salam kenal, sobat, senang bertemu dengan sahabat baru yang juga memiliki semangat untuk menginspirasi orang lain.

    Lex dePraxis
    Unlocked!

  42. Yang jelas, pretensi pengarang, sekecil dan sesamar apapun, untuk menjadikan karya mereka semacam ‘agen perubahan’ adalah pengkhianatan terang-terangan terhadap novel itu sendiri

    hmm … kalau begitu, sepertinya sampai saat ini saya memang belum pernah membaca novel.
    .
    kalau saya sih, rasa-rasanya bisa menikmati segala jenis tulisan, walaupun yaa … tetap saja ada perkecualiannya, “asal tidak menabrak pakem yang dibuatnya sendiri”.

  43. sependapat,


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: