Etalase dan Manekin

November 18, 2009 at 8:17 pm | Posted in curhat, gak jelas, katarsis, refleksi | 17 Comments
Tags: , ,

Pada hari ke-10088 setelah saya dilahirkan ke dunia, sebelum hujan deras menguyur Jakarta, saya berkunjung ke Plaza Indonesia, salah satu altar kapitalisme paling elit dan intimidatif seantero negeri. Dan di sela-sela tugas meliput sebuah diskusi serius soal kerjasama keamanan di kawasan Asia Pasifik, saya menatap sebuah manekin dan berfikir:

Di mana-mana manekin sama saja.

Tidak enak jadi manekin. Tidak punya jiwa. Tidak punya otak. Memang. Manekin ini. Parasnya jelita betul. Tubuhnya juga molek sekali. Coba lihat kakinya yang jenjang. Atau kesempurnaan pinggulnya. Tidak ada cela. Sedap dipandang. Elok. Kaya pesona. Tapi manekin ini kan tidak punya kehidupan. Anda sudah tahu itu lah. Dari pagi sampai malam, dari siang sampai sore, kerjanya berpose saja. Melambai. Melenggok. Melamun. Tiada lelah barang sedikit. Menarik perhatian para pelintas yang emosinya tidak seragam. Ada yang lagi bosan. Ada yang lagi stres. Ada yang lagi menangis. Ada yang lagi marah. Dan ada juga yang lagi merasakan semuanya. Campur aduk. Seperti saya waktu itu. Di depan etalase yang bersinar. Berdiri. Berfikir. Manekin ini. Apakah dia bahagia? Apakah dia bosan? Apakah dia pernah menangis?

Dalam sekejap saya merasa seperti hantu yang bersembunyi di balik sosok yang tampak samar di kaca etalase. Kedua mata saya adalah lubang. Tubuh ini adalah jubah. Dari situ. Dari kegelapan antah-berantah, saya menatap diri saya sendiri dalam etalase; seperti saya menatap si manekin dan berfikir:

Tidak enak juga jadi manusia. Punya jiwa, tapi keruh. Tidak jelas apakah selama ini jiwa punya guna. Dijual tidak bisa. Dibuang tidak bisa. Manusia. Mati saja kau. Punya otak, tapi buntu. Memang. Manusia ini. Yang tampak di hadapan saya ini. Adalah manusia sungguhan. Tidak seperti manekin yang maha jelita tapi palsu itu. Manusia ini wajahnya bergurat; tidak lupa bekas jerawat. Matanya layu. Bibirnya kering. Rambutnya jabrik. Jelek. Ini orang nasibnya seburuk rupanya. Tidak seperti manekin yang tidak kenal masa-lalu dan masa-depan. Manusia ini. Yang bajunya lecek. Dihantui masa lalu selalu. Diteror masa depan terus. Tapi sebentar. Kalau boleh saya tanya. Apakah kesunyian ini mesti ditanggungnya sendirian? Hei, orang-orang. Kamu. Kamu yang lagi ngopi di Starbuck. Dan kamu yang lagi nyobain tas di Charles and Keith. Dan juga kamu yang sedang membaca tulisan ini: Apakah Anda bahagia? Apakah Anda bosan? Apakah Anda pernah menangis?

Bubur ayam yang saya santap baru habis setengah ketika tiga dara jelita dari parkiran Sarinah datang menjelang. Celana mereka ketat. Baju mereka juga. Seperti manekin tadi. Tubuh mereka pun elok. Itu sebab. Sepuluh detik pertama saya gunakan sebaik-baiknya buat curi-curi pandang barang sekilas dua kilas, karena sisanya adalah sepuluh menit yang kikuk. Mejanya hanya satu. Selesai tidak selesai. Saya harus pergi. Maklum. Risih. Saya merasa dihakimi. Saya merasa berdosa karena sudah menghina dogma estetika mereka. Saya harus segera pergi. Dan pergilah saya. Sedikit gondok. Tidak bisa melupakan semangkok bubur ayam yang baru habis setengah itu. Yang saya tinggalkan begitu saja. Biarlah. Bubur ayam bekas saya itu. Warnanya. Coklat. Seperti muntah. Doyan kecap. Maklum. Tiga dara itu pasti jijik. Ah, saya ini bodoh. Kegeeran berfikir bahwa tiga gadis itu sadar bahwa saya ‘ada’. Padahal? Ah, yah, begitulah…

Di trotoar merah Jalan Thamrin. Saya melihat langit untuk yang kesekian kalinya. Kesekarangan yang tidak terbantahkan. Menampakkan dirinya dalam deru mesin Kopaja. Dan semuanya menjadi nyata. Jakarta adalah sebuah etalase. Dan kita semua adalah manekin. Kita adalah manekin. Manekin! Manekin!

17 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. aq bahagia

    klo terlalu banyak fokus pada diri sendiri, ya, saya bosan

    minimal sebulan sekali saya nangis…
    maklum, pms hehehe….

  2. Sepuluh detik pertama saya gunakan sebaik-baiknya buat curi-curi pandang barang sekilas dua kilas

    πŸ˜†
    Pacarmu sudah tahu? 😈

  3. @etiqush
    .
    Senangnya ada yang menjawab. Tapi itu betul, sebulan sekali menangis karena PMS? Wah berarti tiga dara yang saya lihat kemarin itu benar-benar tidak seperti manekin dong. Karena mereka juag setiap bulan menangis?
    .
    @nicholas
    .
    Kalo cuma curi pandang ditolerir. :mrgreen:
    .
    Btw, kamu kan saintis dan anggota Front Pembela Sains, ada tidak teknologi yang bisa bikin manekin PMS dan menangis tiap bulan? Hehehehehe…

  4. Saya bahagia, saya bosan, saya marah, saya …
    Justru karena bisa mengalami naik turun emosi itu hidup jadi lebih berwarna, ngga seperti manekin di gambar itu yang dari ujung kepala sampai ujung kaki warnanya putih semua :mrgreen:

  5. @felicia
    .
    Jadi kamu bukan manekin itu yah? Baguslah. Soale di PI saya lihat banyak manekin yang bisa jalan; bisa ketawa; bisa makan. Dst. πŸ˜€

  6. pernah pacaran sama manekin berjalan mas? saya pernah… hasilnya gaji sebulan habis setengah hari… dan sejak saat itu saya fobia sama manekin, berjalan maupun telanjang…

  7. @manusia super
    .
    πŸ˜†

  8. Jangan2 dalam sendiri, manekin juga menangis ??

  9. … dan para manekin, dalam etalase-etalase kakunya, ditambah keberadaan robot-robot pekerja, akan menambah keras, acuh dan sengkarut belantara Jakarta.

    dan mungkin, entah di hari yang keberapapuluh ribu usia kalian, para manekin dan robot-robot pekerja, rindu untuk bereinkarnasi menjadi manusia, dan merasakan “kemanusiaannya”. 😎

  10. @ Akhi Ali Sastro
    .

    Bubur ayam yang saya santap baru habis setengah ketika tiga dara jelita dari parkiran Sarinah datang menjelang. Celana mereka ketat. Baju mereka juga. Seperti manekin tadi.

    .
    nah bagaimana kalau 847 hari , 3 jam , 9 menit, 32 detik
    plus minus 26 piko sekon dari saat pertama kali memandang tiga dara itu , di pelataran masjid Istiklal jakarta ada seorang gadis cantik berjilbab sopan dan rapi menyapa anda :
    .
    gadis berjilbab : aslkm , eh mas.. anda masih ingat saya …? πŸ˜›
    .
    empu blog : siapa ya… πŸ˜•
    .
    gadis berjilbab : masa mas ini dah lupa., kita kan pernah ketemu di PI ya kurang lebih dua tahun lalu, waktu itu kan mas yang makan bubur gak abis itu kan..? πŸ˜‰
    .
    empu blog……. : πŸ˜• * pura2 pikun *
    .
    gadis berjiblab : alhmdlh mas allah memberikan hidayah pada saya sehingga saya sekarang seperti ini, BTW maaf mas kenapa anda ini gak solat, sekarang kan waktunya solat..? mas ini muslim kan..?
    .
    empu blog……. : ….. * njawab apa ya kira2 :mrgreen: *
    .
    .
    .

    * ternyata salah seorang dari ketiga dara itu akan telah berubah menjadi seorang mujahidah wanita ( aktifis PKS ) yang sangat gigih menegakkan kalimah allah πŸ˜€ *
    .
    .

    nah nanti itu kan bukan manekin lagi kan bung…?
    .
    lantas yang bukan manekin itu yang seperti gimana sih , jelasin yang jelas dong bung…, jangan asal tuduh seenaknya aja…. ! πŸ‘Ώ πŸ˜†

  11. eh … iya lupa … πŸ˜†
    .

    @ kakanda Ali Sastro
    .

    Kesekarangan yang tidak terbantahkan
    .
    weleh2 dah mulai pengsiun jadi tukang filsafat rupanyanya :mrgeen:

  12. @lovepassword
    .
    Tidak mungkin manekin menangis karena kita sudah tahu kalo manekin itu benda mati. Bukan makhluk hidup. Manusia menangis karena punya air mata; ada ‘mekanisme’-nya untuk menangis. Nah, kalo manekin juga diberi semacam ‘mekanisme’ menangis. Apakah mereka benar-benar menangis? Apakah setiap tangis manusia pasti asli, bukan rekayasa? Apakah melankoli itu bisa dijabarkan secara ilmiah dan kemudian direduksi menjadi gejala alam semata? Bahwa si A begini, karena si B begini? Di satu sisi, manusia seperti manekin, ketika manusia didefinisikan dari tubuhnya; dari apa yang tampak oleh mata; dari mekanisme yang menjadikannya manusia; homo sapiens; primata; dts. Tetapi di sisi lain, manusia tidak mau disebut manekin karena manusia punya perasaan: rasa bersalah, rasa bosan, melankoli, dll. yang konon katanya “tidak tampak”. Pernah menangis sambil tertawa?
    .
    @zephyr
    .
    Saya sih menduga tak lama lagi manekin bakal menjadi seperti manusia. Dan itu akan sangat menyeramkan. Menangisah manekin. Menangislah sepuas-puasnya! *lebay*
    .
    @g3mbel
    .

    lantas yang bukan manekin itu yang seperti gimana sih , jelasin yang jelas dong bung…, jangan asal tuduh seenaknya aja…. !

    Seperti yang saya tulis buat mas Demen Kata Kunci, sebenarnya relasi antar-manusia bisa jadi tidak berbeda dengan relasi antar-manekin — didasari oleh indifference. Misalnya, tiga dara itu. Saya tak tahu pakah mereka berfikir seperti apa yang saya pikirkan. Dan mereka juga sama. Buat mereka saya ini orang yang bisa diabaikan, seperti manekin-manekin itu. Apakah mereka manusia karena mereka bisa bergerak dan marah? Bukankah manekin, pada saatnya nanti, bisa melakukan hal yang sama?
    .
    Akhwat yang solehah itu juga lebih sering tampak seperti manekin juga buat saya. Pakaiannya saja yang berbeda.
    .

    weleh2 dah mulai pengsiun jadi tukang filsafat rupanyanya

    Belum. Masih lama kayaknya. Nanti kali kalo sudah punya rumah.

  13. Manekin berjalan ya..yah, yang saya tahu, banyak (bahkan hampir semua) manusia ingin tampak seperti manekin, perfect, bagus dari apa yang tampak saja, eksis, mencoba mendisplay diri agar menarik perhatian.
    Padahal mereka tidak mengerti, manusia tidak akan bisa seperti manekin, soalnya manekin ga punya perasaan, manekin kosong, manekin tidak bisa menangis, dan manekin tidak bisa merasakan kebahagiaan.
    Manusia? Setelah bertahun-tahun jadi manekin, mungkin dia baru sadar, ada yang lain yang lebih penting untuk di isi ketimbang “jualan diri”.

    Sayangnya, tidak semua manusia menyadari itu.
    Dan seperti yang mereka harapkan, mungkin suatu saat mereka akan benar2 menjadi manekin,
    kosong 😦

  14. katanya kalo mau lihat manekin2 super bling-bling kudu mampir ke mall Pluit, “Perlu ke sana buat nonton orang bingung mengamati fenomena sosial Jakarta.”

  15. ^

    Wah. Jakarta Utara itu surreal!!

  16. ^ Jakarta mana yang kagak surreal?

  17. Bagus sekali tulisan ini, belajar dari pengalaman yang kita lihat bisa diambil hikmahnya. Sebagian besar orang hanya bisa lihat, tapi belum bisa merenungkan apa yang dilihat. Bagusss….. saya juga jualan manekin http://manekinplastik.webnode.com adakalanya renungan itu muncul….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: