Seperti Malam Yang Kemarin, Memikirkan Yang Sudah Dipikirkan, Mengatakan Yang Sudah Dikatakan, Lagi dan Lagi

November 9, 2009 at 9:05 pm | Posted in katarsis, refleksi | 15 Comments
Tags: , , , ,

butterfly

Dan aku berada di sini lagi, Tangerine; pada malam ini, seperti malam yang kemarin, di kamar ini, kamar yang sama, Tangerine, di depan layar magis buah pikiran Steve Jobs, dipelototi selembar kertas elektronik yang tidak bisa dilipat-rapih, tidak bisa diremas-marah, tidak bisa dirobek-murka, tidak bisa dibuang-sembarang. Di situ, pada kertas bohong-bohongan itu, Tangerine, aku menulis. Dan frustasi, seperti malam yang kemarin, di kamar ini, kamar yang sama. Karena aku tidak bisa tuliskan apa yang hendak aku ungkap-jelas. Dan aku bingung; juga bisu. Kata-kata sudah pensiun semua rupanya. Bajingan! Tidak ada sisa. Segalanya sudah dikatakan seribu tahun lalu, seabad lalu, sepuluh tahun lalu, sepuluh menit lalu, sepuluh dan bahkan sepersepuluh detik yang lalu pada sebuah akun jejaring sosial kawan lama yang sudah jadi bini orang entah siapa. Tapi, Tangerine, lubang gelisah yang luka masih saja menganga; merindu.

Telunjuk, jari tengah dan jari manis yang aku punya sudah aku paksa lembur, Tangerine, siang dan malam, seperti Sisifus, untuk menulis lagi apa yang sudah dipikirkan semua orang, yang sudah dikatakan siapa saja, yang sudah dijiplak kesana-kemari, di mana saja. Kasian. Huruf-huruf sudah tidak saling sapa. Mereka tidak lagi berkata-kata; tidak lagi bertaut makna! Dan, lagian, aku juga sudah tidak lagi meminta-minta arti. Biar begitu, Tangerine, hidup ini masih saja berujung sepenggal koma. Belum waktunya khatam, kataku, seperti malam yang kemarin, di kamar ini, kamar yang sama. Karena itu, Tangerine, aku berfikir masih ada yang belum dipikirkan semua orang; yang belum dikatakan siapa saja; yang belum dijiplak kesana-kemari, di mana saja. Dan karenanya: Aku berada di sini lagi, Tangerine; pada malam ini, seperti malam yang kemarin, di kamar ini, kamar yang sama, Tangerine, di depan layar magis buah pikiran Steve Jobs, dipelototi selembar kertas elektronik yang…

Tangerine, hari ini matahari tidak lagi bercerita tentang alam semesta yang mengembang dan sebuah ledakan kosmik yang menjadi cikal bakal sepotong puisi alay yang aku tuliskan pada sepertiga malam yang kelam, yang Kau sambut dengan kerutan dahi, dan senyuman yang sepertinya ragu dan canggung. Aku mau Kau duduk di sini; bersamaku, Tangerine, berbagi gelisah yang tidak akan pernah pergi, menanti yang belum dipikirkan, yang belum dikatakan, yang belum dijiplak kesana-kemari, di mana saja.

Advertisements

15 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. 🙂 sepertinya memang “kutukan”, yah seperti Sisifus..

  2. Ulang tahun jadian ya? 😀

    alam semesta yang mengembang dan sebuah ledakan kosmik

    Ini apa ga kebalik? 😕

  3. @lumiere
    .
    Ya kamu dikutuk juga? Nggak yah? Sudah dapat obat penangkalnya dari Mbak Illuminationis? :mrgreen:
    .
    @nicholas
    .
    eh jangan bilang-bilang dong
    .
    *sombong*
    .
    Ini karya sastra bung, bukan paper fisika. Narasi tidak mesti linear. Dan lagian, saya ndak bermaksud menuliskan keduanya sebagai sebuah urutan peristiwa. Jadi, mohon paragraf itu dibaca sebagai stimulan imaji saja, saudaraku.

  4. … sudah menjelang fajar, dan aku ingin tidur… sebentar saja Tangerine. 🙂

  5. merindunya dalam…

  6. Tapi, Tangerine, lubang gelisah yang luka masih saja menganga; merindu.

    .
    loh kok jadi teringat ama lagu yang ini ya : http://www.youtube.com/watch?v=TdMzxowuHtI&NR=1 :mrgreen:
    .

    [/los pokus]

  7. @zephyr
    .
    Haha ini entah tulisan saya yang sangat pasaran jadi mudah ditebak atau memang Bang Zephyr ini bisa membaca pikiran orang; atau diam-diam mengintai komputer saya.
    .
    @ketiga
    .
    Sedalam apa?
    .
    @g3mbel
    .
    Ah, terima kasih untuk lagu sentimentil dan melenakan itu.

  8. Merindu saat peringatan hari jadian? Hmm… Sebotol Chivas Regal bersama beberapa teman dekat mungkin akan lebih menghibur dibanding frustasi sendirian didepan layar apel loh, IMO. :mrgreen:

  9. lanjutan dongeng di atas:
    .
    kebingungan ini pun bukan cuma milik seorang, Tangerine
    seperti juga cerita tentang derita
    .
    .
    You can’t run away from pain, since pain is inherent in life. But you can choose to suffer or not to suffer.

  10. @jensen
    .
    Selebrasinya sudah selesai; tidak dimuat di Catatan Gentole.
    .
    @illuminationis
    .
    Yes, master.

  11. merindu itu adalah satu tanda bahwa anda sudah memasuki zona pra dewasa . jadi ya sutralah lupakan saja segala kenangan indah dan manis masa remaja mu itu kawan :mrgreen:

  12. sedalam pikiranmu sendiri.

    tapi kadang, ada saatnya kita harus melepaskan, dan memaafkan. Masa lalu itu dalam sejarah kita adalah bagaikan sebuah paku yang ditancapkan pada bongkahan kayu. Walau kau berusaha untuk menghilangkannya, selama apapun kau coba, itu tak akan pernah hilang. Jadi yang diperlukan adalah melepaskan, karena ia akan tetap menjadi bagian sejarah kita.

    tenggelam dalam kenangan dan kerinduan, kadang amat menyakitkan. itu sangat berharga bukan? sekarang saatnya untuk melihat ke depan.

  13. @G3mbel
    .
    Yang Tak Terlupakan, Takkan Terlupakan.
    .
    @Ketiga
    .
    Kami baik-baik saja, Mbak.

  14. *jadi pingin minum jus jeruk*

  15. ^
    .
    *bikinjusjeruk*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: