Kewarasan Itu Membosankan, Rasa Sakit Itu Mewah

October 27, 2009 at 3:18 am | Posted in curhat, filsafat, katarsis | 22 Comments
Tags: , , , ,

It is mostly a matter of tone: it is hardly possible to give credence to ideas uttered in the impersonal tones of sanity…

…The truths we respect are those born of affliction. We measure truth in terms of the cost to the writer in suffering—rather than by the standard of an objective truth to which a writer’s words correspond.

Susan Sontag ketika berbicara tentang Simone Weil.

Prolog

Kadang saya berfikir kondisi fisik dan mental saya yang begini ringkihnya adalah sebuah kutukan dari Yang Maha Kuasa. Atau kutukan dari Alam Semesta yang blo’on dan tidak peduli sama saya. Entahlah. Saya tidak tahu dan tidak perduli. Yang jelas, saya merasa seperti orang yang tidak waras dan pesakitan. Ini mungkin terdengar menyedihkan buat Anda, tetapi mungkinkah itu sebuah anugrah?

Notes_From_The_Underground_by_liquidkid1

Ini pastinya bukan foto si empu blog.

Menggugat Kewarasan

Tidak jarang saya merasa seperti terpelanting dari Keseharian; merasa asing dengan diri saya sendiri dan dunia dalam mana saya tinggal. Itulah saat ketika saya mengumpat habis-habisan dunia yang sudah kepalang tidak masuk akal di mata saya; sebuah dunia yang sama sekali tidak saya kenal; sebuah dunia yang lancang, yang menggerayangi setiap lekuk kegelisahan yang saya alami. Apakah Anda pernah merasa asing dengan Keseharian yang Anda hidupi? Atau dengan dunia yang kita kenal lewat media masa dan jejaring sosial? Dunia yang berisik, bising dan pekak! Saya sering. Dan biasanya perasaan asing itu diikuti oleh perasaan muram yang sangat pekat. Orang psikologi menyebutnya depresi. Depresi ringan, mungkin. Tetapi tetap saja disebut depresi. Itu sebabnya saya sering merasa tidak waras: mungkin karena saya hidup dalam kecemasan yang konstan akan ketidakpastian masa yang akan datang; atau dalam kerinduan yang tidak akan pernah terobati pada sesuatu yang tidak pernah bisa saya definisikan apa; atau dalam penolakan terhadap dunia obyektif; sebuah dunia yang memuakkan dan membosankan; sebuah dunia yang terlalu waras!

Saya menilai kewarasan itu dangkal dan membosankan. Ini alasan sebenarnya mengapa saya tidak menyukai halaman opini harian Kompas atau buku-buku manajemen yang dijejer di Gramedia atau ceramah-ceramah agama di televisi dan apalagi seminar-seminar tentang pembangunan. Semuanya terlalu waras. Mereka tentunya tidak selalu masuk akal. Dan itu tidak menjadi soal. Yang saya persoalkan adalah upaya mereka untuk bersikap waras karena dunia menghendaki mereka begitu, karena itu syarat wajib tulisan dan ceramah mereka dianggap “wajar” dan layak diberi anggukan malas dari pembaca atau pendengar mereka yang kebanyakan malas berfikir. Dengarkanlah apa kata Ibu Susan Sontag, “There are certain eras which are too complex, too deafened by contradictory historical and intellectual experiences, to hear the voice of sanity. Sanity becomes compromise, evasion, a lie.” Zaman yang kita miliki adalah zaman yang keblinger edan dalam mana setiap orang menjajakan kebenaran seperti perusahaan telekomunikasi berlomba-lomba mengatakan bahwa mereka “yang paling murah”. Semua  belagak bisa mengajukan fakta yang tidak terbantahkan; dan yang kita dapatkan hanyalah sebaskom klaim yang saling bertolak belakang. Antara ilmuwan dan agamawan, antara teknokrat dan politisi. Coba lihat. Tiba-tiba Yesus, Muhammad, Siddhartha, Plato, Newton, menjadi seperti nama produk kartu telepon. Klaim mereka diadu di toko buku dan berbagai mimbar. Argumentasi yang paling waras dari pakar fisika yang paling brilian atau sosiolog yang paling prodigous tidak akan pernah bisa menjadikan zaman sekarang sedikit lebih waras, malah semakin edan! Yang mereka katakan, seperti kata Ibu Susan, adalah sebuah “kompromi, sebuah jawaban yang ngeles dan sebuah kebohongan.” Apakah ketidakwarasan juga menjanjikan kebenaran? Mungkin bukan kebenaran, tetapi kesejatian. Benar belum tentu sejati. Sejati juga bisa jadi salah. Tetapi percayalah kita tidak membutuhkan kebenaran dalam hidup, tetapi kesejatian hidup.

Saya kira Anda tahu bahwa hampir semua orang besar yang hidup di masa lalu, dari Nabi Ibrahim sampai Kurt Cobain, adalah orang-orang yang tidak waras. Dan saya menduga ada korelasi antara ketidakwarasan dan hidup yang sejati. Dalam novel The Idiot, Dostoyevsky bercerita tentang Nabi Muhammad yang terkena penyakit ayan atau epilepsi, yang ia duga merupakan sebuah proses psikologis yang menghantarkan manusia pada puncak kesadaran. Dostoyevsky sendiri mengidap penyakit tersebut. Beliau bukan seorang Muslim, tetapi beliau percaya: “[Muhammad] did not lie. He had indeed been in Paradise – during an attack of epilepsy, from which he suffered, as I do.” Karena itu saya tidak heran bila tokoh-tokoh dalam novel beliau pun sama tidak warasnya dengan dia. Dan saya mengamini itu. Saya menjadi dewasa bersama Raskolnikov, Pangeran Mishkin, penulis Catatan Bawah Tanah dan juga Keluarga Karamazov. Tentu saja Dostoyevsky tidak sendirian. Penulis besar lainnya, seperti Nietszche, Kafka dan tentunya Simone Weil adalah orang-orang yang berada di tepi batas antara kewarasan dan ketidakwarasan. Dan karenanya apa yang mereka tulis itu layak baca dan tidak membosankan. Bukan karena apa yang mereka katakan itu benar, faktual, logis dan rasional, tetapi karena apa yang mereka tulis memberikan kita alasan mengapa kewarasan  yang diagungkan kehidupan masa kini telah merenggut kesejatian hidup yang tidak pernah kita miliki. Kewarasan itu membosankan. Dan hidup yang membosankan tidak layak dihidupi! Madness, on the other hand, is never boring.

Dalam Sakit, Kesejatian Tersingkap

Anda boleh tidak setuju sama saya. Tetapi kehidupan yang sejati hanya tampak pada mereka yang sakit keras. Saya kira Anda-anda anak-anak muda yang gandrung pada budaya Jepang mengagumi Aya, penulis buku harian Satu Liter Air Mata. Tidak perduli yang memerankannya itu si kinky Erika Sawajiri dalam film serinya yang dijual bebas dalam versi bajakan, perjuangan Aya melawan penyakitnya, dan kemudian kepasrahannya pada nasib, mengajarkan orang banyak hal tentang kehidupan. Dan karenanya, seperti yang dikatakan Ibu Susan Sontag dalam kutipan di atas, Aya berdiri sejajar bersama Dostoyevsky dan semua penulis besar lainnya yang menulis dari rasa sakit yang tidak tertahankan. Yang tidak menulis di kamar mereka yang mewah, tetapi di sebuah kamar kecil yang sesak dan menyesakkan. Itu sebabnya saya tidak terlalu menyukai hasrat manusia untuk hidup sehat, karena itu membuat manusia seolah-olah takut mati, seolah-olah berfikir bahwa mereka bisa hidup lebih lama, dan bahkan untuk selamanya. Rasa sakit adalah kemewahan. Yang dengannya manusia dapat menghargai kehidupan. Oliver Twist dan NIcholas Nickleby dalam novelnya Charles Dickens tidak akan pernah menarik seandainya mereka terlahir sebagai anak orang kaya dan hidupnya bahagia dari lahir sampai mati. Manusia menyukai tragedi. Karena dengannya mereka bisa tertawa dan memahami komedi. Tentu saja tidak ada yang mau diserang penyakit ganas yang tidak akan saya sebutkan dalam tulisan ini karena akan terdengar terlalu vulgar bagi Anda, tetapi bukankah kematian adalah sesuatu yang tidak terelakkan, dan rasa sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan?

Akhirul Curhat

Yah, jadi begitu, Anda mungkin harus menyicipi sedikit kegilaan untuk menjadikan hidup Anda bermakna. Jangan terlalu waras lah. Dan, ya, hidup sehat itu penting, tetapi jangan lupa: rasa sakit atau derita itu kemewahan. Mereka yang selama hidupnya befoya-foya dan sehat senantiasa dalam kewarasan yang teramat membosankan sungguh-sungguh telah menyia-nyiakan hidup mereka yang berharga.

NB:

Susan_Sontag

Ini fotonya ibu Susan Sontag.

22 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. ngapain majang potonya ibu Susan Sontag? aku pengen liat tampangmu kalo lagi sakit eh
    well, yah.. Gentole juga manusia ™

    .
    the most convenient place to spare the endless trashy thoughts is Blog, just wrote whenever U feel the urge to-nyampah😉 hope U get better after that, syafakallah..

  2. *gubrak*😯 tag-nya berantakan😥

  3. In insanity we learn.😎
    Sori fastread, belum baca sungguh-sungguh.😦

  4. Depresimu hari ini memprihatinkan, masbro… Pasrah itu kesejatian?😐
     
    Begini, cobalah tuk jangan terlalu sering sendirian.😉

  5. Saya pernah menggigau suatu hari dan berpikir “Kenapa orang-orang yang sakit,menderita, kesusahan, cerita mereka lebih penting daripada orang-orang yang tidak?Ini tidak adil, bagaimana kalau hidup kita sehat, bahagia, berkecukupan, senang senantiasa sampai akhir hayat?”
    Walaupun saat itu tentu saja saya tau, kisah perjuangan hidup Aya misalnya, itu bukan hal yang bisa di temukan setiap hari.

    Dan, ya, hidup sehat itu penting, tetapi jangan lupa: rasa sakit atau derita itu kemewahan.

    Saya malah berpikir, sakit dan derita memang kemewahan, tapi menemukan “sesuatu” dalam kewarasan dan membuatnya tidak membosankan justru lebih istimewa bukan?
    Rasanya tantangannya lebih besar:mrgreen:

  6. yaahh… baru kemaren posting “gentole jg manusia”

  7. @Lumiere
    .
    Terima kasih sudah mengomentari sampah.😀
    .
    @Nicholas Hwa
    .
    I doubt you’d understand if you do did read it seriously.:mrgreen:
    .
    @Jensen99
    .
    Sebegitu memprihatinkannya kah?😕
    .
    Tapi terima kasih sarannya! Seandainya temen-temen blogger bisa diajak makan siang bareng kapan saja.😀
    .
    @Frea
    .
    Ya memang tidak mudah menemukan sesuatu dalam kewarasan. Semoga beruntung. Btw, saya bukannya anti-kewarasan. Saya menulis ini supaya kehidupan intelektual saya tidak terlalu kering saja.
    .
    @alia
    .
    Hehehe… postnya dah dihapus!

  8. Kok mirip-mirip Madness and Civilisation; ini membicarakan “kewarasan” yang sama tidak? Ada hubungannya atau malah tidak ada sama sekali?

  9. Saya menilai kewarasan itu dangkal dan membosankan

    .
    ya begitulah ,sangat jarang orang yang waras dalam kewarasannya. kecuali mungkin mbak Frea :mrgreen:
    .

    Tiba-tiba Yesus, Muhammad, Siddhartha, Plato, Newton, menjadi seperti nama produk kartu telepon

    .
    😆 , jelas sudah bahwa hidup itu adalah komedi yang menyedihkan ( perkawinan antara komedi + tragedi )
    .

    Argumentasi yang paling waras dari pakar fisika yang paling brilian atau sosiolog yang paling prodigous tidak akan pernah bisa menjadikan zaman sekarang sedikit lebih waras, malah semakin edan

    .
    jangan kaget kisanak😆 , kegilaan dalam satu komunitas homo sapien itu suatu hukum yang gak bisa di ganggu gugat lagi sementara bagi satu individu sungguh satu kelangkaan. jadi berbahagialah jadi mahluk langka .:mrgreen:
    .

    Rasa sakit adalah kemewahan. Yang dengannya manusia dapat menghargai kehidupan

    .

    What makes one heroic?—Going out to meet at the same time one’s highest suffering and one’s highest hope.

    .

    seberapa sakit dan menderitakah anda, sehingga layak dipilih sebagai mahluk yang paling layak menjalani hidup dan kehidupan..?

  10. @Kgeddoe
    .
    Bukunya Foucault cuma baca-baca sekilas saja. Rada mirip memang, karena sama-sama kritik atas bagaimana masyarakat mendefinisikan kewarasan. Yang saya ingat betul dari Foucault cuma konsep Episteme tentang bagaimana pengetahuan itu berkaitan dnegan kekuasaan. Saya sih tidak menolak bahwa ada yang disebut mental disorder, tetapi kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari, kegilaan tidak diukur secara ilmiah, tetapi secara sosial. Kewarasan itu kesepakatan sosial. Setiap orang sebenarnya memiliki ketidakwarasannya masing-masing. Seperti banyak di banyak film sci-fi, lebih sering ornag “dianggap gila”. Dan kewarasan itu, kalau dilihat secara terbalik, adalah ketidakwarasan juga.:mrgreen:
    .
    @g3mbel
    .

    jangan kaget kisanak😆 , kegilaan dalam satu komunitas homo sapien itu suatu hukum yang gak bisa di ganggu gugat lagi sementara bagi satu individu sungguh satu kelangkaan.

    Wah tidak mengerti. Jadi maksudnya apa? Kegilaan apa yang merupakan sebuah necessity?
    .

    seberapa sakit dan menderitakah anda, sehingga layak dipilih sebagai mahluk yang paling layak menjalani hidup dan kehidupan..?

    Yah, itu yang ada di pikiran saya. Tapi kok jadi terdengar masokis, ya?😕

  11. Kewarasan itu kesepakatan sosial.

    Setuju😀
    Lagipula, siapa sih yang bisa mendefinisikan apa itu kewarasan yang sesungguhnya? Orang-orang yang dulu dianggap tidak waras saja sekarang dianggap jenius…

  12. Saya kok merasa postingan ini amat berbau Nietzsche. ^^;; BTW, memangnya Erika Sawajiri kinky, gitu?😛
     
    oke, sedikit

  13. @g3mbel :

    ya begitulah ,sangat jarang orang yang waras dalam kewarasannya. kecuali mungkin mbak Frea

    Kok saya jadi di sebut-sebut? saya kan cuma berharap bisa begitu, kenyataannya mungkin belum, atau malah ga bisa😛

  14. kesejatian . . . hmmh . . pasrah … ikhlas

    kegilaan itu yang membuat hidup ini berwarna
    mungkin benar yg dikatakan jack dawson dalam film titanic
    “Besok bagaikan lembaran putih kosong, buatlah segalanya lebih berarti”

    “Dan saya menduga ada korelasi antara ketidakwarasan dan hidup yang sejati”
    Agak rastafarian dikit , my perspective

  15. @ Ali Sastro
    .

    Kegilaan apa yang merupakan sebuah necessity?

    .
    kegilaan dalam kewarasan , seperti contoh yang tersebut dalam tulisan sampean. seorang Muhammad bin Abdulah di abad ke-7 masehi terpaksa harus menyepi di sebuah gua karena merasakan kegelisahan dan kebingungan yang luar biasa, menyaksikan fenomena masyarakat pada zamannya . meskipun keadaan gua itu sunyi dan tenang seolah tak berarti apa2 oleh sebab kondisi didalam dirinya yang exstremely chaos .
    .
    baru setelah beliau mulai mengerti makna realitas, intensitas chaos itu sedikit-sedikit mulai berkurang ( perlahan tapi pasti menuju arah kedamaian )
    .
    biasanya kalau yang di dalam itu udah damai ( peace ) , sekacau dan seberisik apapun keadaan di luar tentu tidak akan banyak berpengaruh terhadap keadaan di dalam sebab yang di dalam sudah mencapai kondisi peace nah inilah yang dinamakan waras dalam kewarasannya 🙂
    .

    Tidak jarang saya merasa seperti terpelanting dari Keseharian; merasa asing dengan diri saya sendiri dan dunia dalam mana saya tinggal. Itulah saat ketika saya mengumpat habis-habisan dunia yang sudah kepalang tidak masuk akal di mata saya; sebuah dunia yang sama sekali tidak saya kenal; sebuah dunia yang lancang, yang menggerayangi setiap lekuk kegelisahan yang saya alami

    .

    kata neng Dian kerabatmu yang jagoan filsafat itu, seharusnya sampean itu lari ke hutan kemudian ke pantai , lalu pecahkan piring, gelas, teko semuanya biar pecah😆 , eh.. eh saya lihat sampeyan malah lari ke warung nasi padang, duh ada apa denganmu ? .😕 😆
    .

    Yah, itu yang ada di pikiran saya. Tapi kok jadi terdengar masokis, ya?😕

    .

    terkadang untuk kondisi tertentu yang teramat mendesak , sikap masokis tuh diperlukan. semisal ketika kesedihan itu sudah tidak bisa diwakili lagi oleh airmata, lalu rasa pedih dan sesak sudah tak mampu lagi diungkapkan oleh kata-kata, atau dengan kata lain yang namanya si suffering tuh dah nyampe titik klimak maka power lah yang menjadi satu2 nya solusi. wujud konkrit biasanya berupa tertawa sepuasnya ( the devil laugh ) tapi hal ini bukan berarti tanpa resiko , kalau syaraf2 otaknya ndak kuat dan lentur kaya karet bisa terancam gila permanent.:mrgreen:
    .
    Tertawa dalam kasus ini sebenarnya adalah satu bentuk penerimaan sekaligus pelepasan energi negatif sebagai akibat benturan antara force n strength yang terus menerus terjadi di dalam diri.
    .

    Seandainya temen-temen blogger bisa diajak makan siang bareng kapan saja.

    .
    iya.., iya ntar deh kalau saya pulang saya siap kok diajak makan siang ama sampean apalagi kalau makan siangnya di mall, bisa 2in1 lah makan sambil cuci mata gituh , pasti dunia serasa makin cerah😛

    .

    .
    * tuh pendek lagi kan,komenku..? gak niat ngomen sih tadinya *

  16. @ Frea
    .

    Kok saya jadi di sebut-sebut? saya kan cuma berharap bisa begitu, kenyataannya mungkin belum, atau malah ga bisa😛

    .

    bisa kok mbak, saya kira mbak bisa jika sekedar cukup puas berputar-putar di kolam kecil itu.😛
    .

    tapi jika gak puas dan hendak berkelana menjelajahi kolam yang lebih luas dan lebih besar lagi seorang Sidharta Gautama yang orang bilang telah memiliki segalanya ( harta , tahta, wanita serta keluarga ) di very high class from very very high class , ya wajar kan.. ?, la wong Sidharta itu seorang pangeran dari kerajaan besar bukan seorang kuli tinta yang tinggal dikontrakan :mrgreen: , harus merasakan kegelisahan dan kebingungan yang akhirnya memaksa dia meninggalkan apa2 yang telah ada di genggamannya.
    .
    .
    .

    mang mbak Frea gak pernah merasa gelisah dan bingung gituh…?🙄 :mrgreen:

  17. @felicia
    .
    Felicia masih waras kan?:mrgreen:
    .
    @sora9n
    .
    Makin ngeri aja nih bacaannya Sora9n dan Geddoe.
    .
    @frea
    .
    Oh, begitu.
    .
    @evolution garage
    .
    Leonardo maksudnya? Rastafarian juga, Anda?
    .
    @g3mbel
    .
    Hehe…makanya saya tulis di blog. Biar ramai, kalo kata Dian mah.😀 Btw, itu rada mengerikan juga deskripsinya.😕 Anda sering mempraktikkannya? Ketawa lepas kayak ‘orang gila’?

    .

  18. mang mbak Frea gak pernah merasa gelisah dan bingung gituh…?

    Gimana ya, kalo kegelisahan, tentu saja banyak. Justru itulah yang membuat saya berpikir “bagaimana mendapatkan sesuatu dalam keadaan yang ada sekarang, yaitu kesehatan dan ketidaksusahan, saya ingin sesuatu yang setimpal, atau mungkin lebih dari mereka yang susah. Saya ingin mendapatkan sesuatu yang kurang itu, bagaimana caranya?”
    Tentu saja cara Gautama sudah pernah terpikir oleh saya, namun apakah itu cara satu-satunya? apa tidak bisa menemukan sesuatu dalam kondisi tidak sakit dan tidak menderita?
    Itu yang saya pikirkan. Jangan-jangan sebenarnya saya saja yang aneh atau malah ndak nyambung?😕

  19. <blockquote?Apakah arti Pergulatan/kegelisahan bila tidak untuk mengakhiri pergulatan/kegelisahan? — GM–

  20. Ups… tag-nya kacau..😎

  21. kayak Steppenwolf dalam bukunya Hermann Hesse.
    *Steppenwolf, bukan Siddharta yak!*
    .
    semua orang sebenernya ya merasakan kegelisahan/ kesakitan/ penderitaan. Cuma bedanya di tiap orang, kalo merasa, terus apa tindak lanjutnya?
    .
    Coba baca Steppenwolf, siapa tahu bisa jadi inspirasi. Itu salah satu buku Hermann Hesse yang paling kontemplatif. Katanya kalo dibaca ulang tiap 10 tahun, maka akan menemukan makna baru (seiring dengan bertambahnya umur dan uban)😎

  22. […] saraf di otak kita. dengan kata lain, kemanusiaan kita adalah sebentuk kegilaan juga; karena kewarasan yang membosankan itu juga dilahirkan dari penolakan terhadap kenyataan yang hina dan pemujaan atas delusi yang […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: