Setelah Kakek Tidak Ada Lagi

October 21, 2009 at 9:28 am | Posted in berbagi cerita, curhat | 14 Comments

Kabar itu tidak mengejutkan saya, juga yang lainnya. Kejadiannya sudah diduga, dan bahkan diam-diam diharapkan dalam doa dan eufemisme para kerabat yang datang menjenguk. Kakek saya, pada pukul empat Subuh tadi, akhirnya tutup usia, setelah lebih dua pekan berjuang melawan tubuhnya yang tua dan renta, yang tidak juga rela memberinya jeda barang sejenak dari nafasnya yang tinggal setengah. Hampir tidak ada tanda kehidupan beberapa jam sebelum beliau diproklamirkan “telah berpulang”. Matanya sayup. Bola matanya kelabu. Yang beliau butuhkan bukanlah jeda, tetapi satu helaan nafas yang bakal mengakhiri segala derita.

jessicabracken1

***

Kakek saya mengajari saya banyak hal tentang hidup. Saya belajar dari berbagai nasehat yang beliau berikan, dan juga kesalahan yang kerap beliau buat selama hidupnya. Roti tawar kakek, demikian beliau memanggil saya dua puluh tahun silam. Waktu seperti baru saja di-fast-forward! Sepertinya baru kemarin saya pulang menginap dari rumah kakek, was-was meninggalkan kasur beliau yang kuyup karena ompol saya. Malu sekali. Saya sudah bukan bayi lagi waktu itu. 😀 Dan sekarang adalah hari beliau dikembalikan ke bumi – bersama berbagai nasehat dan kesalahan yang beliau buat. Ah, saya berdusta bila saya mengatakan kepada Anda bahwa saya sangat berduka atas kepergiannya. Saya merasa seperti Malraux dalam novel The Stranger-nya Albert Camus. Namun demikian, ada yang lain dari hidup saya setelah beliau tiada, dan ada banyak hal yang mesti dituliskan. Saya tidak tahu apakah saya benar-benar ingin melupakannya.

***

Konon hanya saya dan beberapa orang lain saja yang bisa “menghidupkan” kakek di usianya yang sangat senja. Di atas 80, sangat tua. Tidak tahu persisnya berapa. Katanya, “Kakek ngobrolnya seru kalo le dateng.” Saya tidak tahu alasannya apa. Mungkin karena hanya saya  satu-satunya cucu beliau yang mau mendengarkannya bercerita tentang masa lalunya yang romantik. Karena, sebagai mahasiswa sejarah, hanya saya yang mengerti betapa “hebatnya” beliau dulu. Bagi yang lain, kakek mungkin tidak lebih dari seorang tua saja, atau bapak dari bapak-ibu mereka. Karena itu, kami pernah dekat sekali.

Dulu kakek saya adalah seorang pejuang Negara Islam Indonesia yang digagas Kartosuwiryo. Beliau adalah seorang Muslim militan yang dilatih secara militer untuk menjadi anggota Hisbullah, atau Tentara Islam Indonesia. Waktu itu beliau masih sangat muda. Katanya sih tampan. Nenek saya yang jelita pun dengan mudah ia pincut [Nenek saya, btw, sekarang sudah tidak bisa diajak berbicara. Hidupnya lebih banyak diisi tidur. Dan bergumam. Memanggil -manggil meraka yang sudah tiada]. Tentu saja menjadi anggota Hisbullah saja tidak menjadikannya seseorang yang konon berpengaruh – saya tidak bisa verifikasi klaim ini. Tetapi kakek saya memang bisa sedikit berbahasa Belanda dan beliau adalah seorang intelektual yang pandai berdebat. Maklum, mungkin setelah tahu NII sudah gagal-total, dan mengerti bahwa jalan pemberontakan militer tidak lah efektif, kakek saya menjadi aktifis Masyumi yang memuja Pak Natsir, dan konon beliau berada dalam daftar orang-orang yang akan dibunuh PKI sebilanya kudeta berhasil. Kakek saya tinggal di bilangan Setiabudi. Ini, sekali lagi, hanya klaim yang sulit diverifikasi. Seru sekali mendengar segala peristiwa sebelum Orde Baru dan “kekinian” dimulai dalam tuturan seorang “saksi” hidup. Kakek saya seorang pembaca koran, dan juga pendengar radio yang setia. Dia melek politik. Ada cerita, ada analisa. Ah, saya tidak ingat betul, tetapi sejarah politik Indonesia dalam tuturan kakek saya adalah sejarah pengkhianatan. Karena setiap kali perubahan politik terjadi, selalu didahului oleh analisa beliau bahwa si fulan dikhianati si fulan, atau si A tidak lagi memercayai si B.

Tapi kehangatan itu tidak berlangsung lama…

Saya lupa kapan persisnya dongeng-dongeng ringan tentang bagaimana beliau menjadikan nenek saya mabuk kepayang berubah menjadi perdebatan sengit antara kami berdua, yang kerap meninggalkan beberapa memar di hati kami masing-masing. Awalnya mungkin karena saya berani bicara; misalnya bahwa saya tidak setuju pendirian negara Islam. Kakek saya, tentu saja, hingga akhir hayatnya masih berkeras bahwa Negara Islam harus didirikan, dan bahwa negara sekuler peninggalan Sukarno adalah batil dan mesti digantikan oleh sebuah teokrasi yang berlandaskan Al-Qur’an dan Hadist. Saya hanya tidak habis pikir, bagaimana mungkin kehampaan eksistensial yang menggelayuti kakek saya selama puluhan tahun setelah revolusi tidak juga menjadikannya sadar bahwa konsep negara Islam itu utopis dan tidak kompatibel dengan keseharian sebagian besar warga Indonsesia, termasuk anak-anaknya. Hampir semua anaknya, yakni om dan tante saya, tidak ada yang peduli ideologi beliau apa, apalagi celotehnya tentang Negara Islam. Ada dari mereka yang menjadi pemabuk, tatonya banyak, dan ada juga yang menjadi pekerja serabutan yang tidak terbersit sedikitpun sebuah pemikiran bahwa merubah dasar negara akan merubah nasibnya.

Kakek saya membenci Sukarno ketika saya begitu terpukau oleh pemikiran pemimpin revolusi itu. Dia menganggap Cak Nur pengkhianat Natsir ketika saya dilanda sesal tidak pernah bertemu pemikir Islam kenamaan itu waktu masih kuliah di IAIN, hingga akhirnya beliau wafat. Dia melarang saya kuliah di Amerika agar saya tidak dicuci otaknya seperti Cak Nur, sementara saya sudah lama sekali bermimpi mengejar beasiswa Fulbright. Sudah lama saya tidak mendengarnya berdongeng. Dan sudah lama juga saya menghindari pembicaraan yang akan memicu perdebatan yang hanya akan membuatnya terluka. Itu sebabnya, kami sudah tidak sedekat dulu beberapa tahun sebelum hari ini. Saya tidak lagi mencari nasehat beliau di kala bimbang atau terpojok. Hingga akhirnya beliau wafat hari ini, beliau bahkan masih tidak tahu bahwa saya berencana menikahi seorang Kristen, yang dulu pernah memicu perdebatan yang mesti diakhiri oleh ibu saya atau siapa saya lupa. Sepuluh tahun lalu, saya adalah wujud dari mimpi-mimpinya yang musnah ditelan sejarah. Sekarang?

Ah, kakek, maaf kan ‘roti tawar’ mu ini…

Setiabudi, 21 Oktober 2009

14 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Turut berbela sungkawa.

    Sepuluh tahun lalu, saya adalah wujud dari mimpi-mimpinya yang musnah ditelan sejarah.

    Lha berarti dulu sampeyan… 😕

  2. Kehilangan, dalam bentuk apapun selalu akan membawa perubahan…

    Saya berdoa, semoga idealisme negara Islam kakek membawa kemudahan di tempat beliau yang baru…

  3. turut berduka cita 😦
    Semoga beliau di terima sisi-Nya.
    Tapi punya kakek yang dekat (paling tidak, bukan sekedar kenal “nama” dan wajah saja) di ingatan benar-benar jauh lebih baik ketimbang yang cuma “sekelebatan” saja. *ga deket dengan Almarhum Kakek*

  4. Turut berduka cita. Semoga arwah almarhum diterima di sisi-Nya.

  5. Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun. Allahummarhamhu. Allahumma man ahyaytahuu minnaa faahyihii ‘alal islaam wa man tawaffaytahuu minnaa fatawaffahuu ‘alal iimaan. Allahumma ashlih lanaa diinanaalladzi huwa ‘ismatu amrinaa wa ashlih lanaa dunyaanallati fiihaa ma’aa syunaa waashlih lanaa aakhiratanaallatii ilaihaa ma’aa dunaa waj’alilhayaata jiyaa datallanaa fi kulli khair waj’alil mawta rahmatallanaa min kulli syarr.

    *turut berkabung*

  6. sebelumnya saya ucapkan turut berduka cita.

    Saya lupa kapan persisnya dongeng-dongeng ringan tentang bagaimana beliau menjadikan nenek saya mabuk kepayang berubah menjadi perdebatan sengit antara kami berdua, yang kerap meninggalkan beberapa memar di hati kami masing-masing.

    Ah saya menyayangkan ini, berbicara ideologi dengan orang yang jauh lebih tua lebih baik dibawa nyantai, gak perlu terlalu serius sampai menimbulkan memar di hati. lebih enak kalau seriusnya sama para pemuda ting ting yang lagi menyala-nyala :mrgreen:

    Sepuluh tahun lalu, saya adalah wujud dari mimpi-mimpinya yang musnah ditelan sejarah. Sekarang?

    masih samalah, cuma lebih kombinatif dan kreatif
    *sok tahu mode on*

  7. waduh, semoga Mas pemilik blog yang terhormat mau berbaik hati membetulkan komentar saya yang kacau ituh :mrgreen:

  8. Turut berdukacita. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

  9. @lambrtz

    Lha berarti dulu sampeyan… 😕

    Yes. It’s a long story.

    @manusiasuper
    .
    Yah, mudah-mudahan.
    .
    @frea
    .
    Yah memang tidak semua orang bisa dekat dengan kakeknya; karena biasanya kakek itu rewel sekali.
    .
    @nenda
    .
    Makasih nenda.
    .
    @Aris
    .
    Sama-sama Aris.
    .
    @secondprince

    Ah saya menyayangkan ini, berbicara ideologi dengan orang yang jauh lebih tua lebih baik dibawa nyantai, gak perlu terlalu serius sampai menimbulkan memar di hati. lebih enak kalau seriusnya sama para pemuda ting ting yang lagi menyala-nyal

    Kakek saya itu tau kalo saya ngalah; dan mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. Dia selalu memaksa saya mengutarakan pendapat saya, agar bisa dipatahkan olehnya. Orangnya keras sekali. Sangat keras. Memang tidak selalu perdebatan itu sengit; kadang santai dan hangat. Tetapi memang pernah terjadi. Oh, well…

    masih samalah, cuma lebih kombinatif dan kreatif

    Halah… ada-ada aja.
    .
    @felicia
    .
    Makasih.

  10. Yah kehilangan teman bercerita, kehilangan lawan diskusi sama2 menimbulkan kekosongan. apalagi kehilangan kakek …:(

  11. Wah, telat baca…
     
    Turut berbelasungkawa ya, gen. 😦
    Berdebat dengan kakek adalah pengalaman yang unik dan berharga. Saya sendiri tak punya itu karena kakek dari ibu (opa) sudah wafat ketika saya lahir, sementara keluarga saya merantau jauh dari kakek satunya (eyang kakung) di Solo.

  12. Ah, saya berdusta bila saya mengatakan kepada Anda bahwa saya sangat berduka atas kepergiannya

    .
    kalau demikian saya turut berbahagia atas kerelaan dan keikhlasan ki sanak melepas orang yang begitu berarti dalam perjalanan hidup kisanak. 🙂
    .

    Berbeda sekali dengan saya. saya mulai berkenalan pertama kali dengan yang namanya si depresi itu justru ketika kakek saya wafat di usia yang ke- 73 taun.
    .
    waktu itu saya kelas 3 SMP taun 94. hal ini terjadi karena pada sosoknyalah saya mengenal jiwa seorang ayah ( saya ditinggal pergi oleh ayah kandung ketika baru berusaha 1 taun, dan dengan sangat terpaksa ibu menitipkan saya pada kakek dan nenek ). saya tidak tau wajah ayah saya seperti apa, cuma pada sosok laki2 tua itulah saya pertama kali menemukan figur seorang ayah. sehingga pada saat beliau pergi saya merasakan kehilangan dan kebingungan.
    .

    Kakek saya, tentu saja, hingga akhir hayatnya masih berkeras bahwa Negara Islam harus didirikan, dan bahwa negara sekuler peninggalan Sukarno adalah batil dan mesti digantikan oleh sebuah teokrasi yang berlandaskan Al-Qur’an dan Hadist.

    .

    berbeda dengan kakek saya, kakek saya seorang nasionalis islamis dan pemuja berat bung Karno. dia begitu menggandrungi pidato-pidato bung Karno. Kakek saya pun memimpikan saya agar seperti beliau. 🙂 . Kakek saya menilai bung Karno itu simbol ‘laki-laki berkarakter’ , seorang laki-laki yang berpendirian kokoh, jelas dan tegas jauh dari sifat mancla-mencle . 🙂
    .

    Kakek saya membenci Sukarno ketika saya begitu terpukau oleh pemikiran pemimpin revolusi itu. Dia menganggap Cak Nur pengkhianat Natsir ketika saya dilanda sesal tidak pernah bertemu pemikir Islam kenamaan itu waktu masih kuliah di IAIN, hingga akhirnya beliau wafat.

    .

    Oh.. berarti anda tak seberuntung saya 🙂 , saya bersama temen-temen berhasil mengundang beliau dalam satu acara diskusi kampus, saya sempat ngobrol bahkan mendebat beliau, yang saya kagum dari beliau adalah senantiasa menjawab semua pertanyaan2 itu dengan tetap tenang dan santai.

    .

    Sepuluh tahun lalu, saya adalah wujud dari mimpi-mimpinya yang musnah ditelan sejarah. Sekarang?

    .

    sekarang gimana gituh…? :mrgreen:

  13. @jensen99
    .
    Tidak berniat ke Solo?
    .
    @g3mbel
    .
    Wah kondisinya memang beda yah. Saya bisa memaklumi duka Anda.
    .

    berbeda dengan kakek saya, kakek saya seorang nasionalis islamis dan pemuja berat bung Karno. dia begitu menggandrungi pidato-pidato bung Karno. Kakek saya pun memimpikan saya agar seperti beliau

    Kakek saya juga mengagumi Sukarno sebagai musuh. Siapa sih yang tidak mengagumi pidato beliau? Nah, ngomong-ngomong soal nasionalis, kakek saya yang dari bapak itu seorang kejawen dan anggota TNI. Walah ideologi dan gaya hidupnya tabrakan sama kakek saya dari ibu yang baru saja wafat. Saya tidak pernah bertemu kakek saya yang satunya lagi itu.
    .
    Pernah ketemu Cak Nur??? Wah beruntung.
    .

    sekarang gimana gituh…?

    .
    Katanya SP sih:

    masih samalah, cuma lebih kombinatif dan kreatif

    :mrgreen:

  14. @ gentole
     

    Tidak berniat ke Solo?

    Eyang kakung & eyang putri keduanya sudah wafat juga. Pengen juga liat Solo lagi, tapi gak punya temen blogger disitu. Adanya tante2 dan sepupu2 saja.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: