Kenapa Pakai Jilbab?

October 18, 2009 at 3:25 am | Posted in katarsis | 25 Comments
Tags: , , ,

Baiklah itu hak Anda jilbabers untuk mengenakan jilbab. Saya tidak bermaksud membatasi atau apa. Saudara perempuan saya pakai jilbab semua, karena tentunya disuruh ibu saya, yang waktu muda tentunya tidak pakai jilbab. Kawan-kawan dekat juga banyak sekali yang mengenakan jilbab. Mereka semua tentunya manis-manis, dan sepertinya tidak keberatan mengenakannya, sekalipun gaya hidup mereka sangat kebarat-baratan. Tetapi, sejujurnya, saya lebih nyaman melihat perempuan tanpa jilbab. Bolehlah mengenakan jilbab atas nama fashion, tetapi mestinya pakaian itu tak membatasi, kan? Kayaknya bajunya Gita Gutawa lumayan sopan tuh. Decent. Bukankah yang penting itu decency? Dan tentunya decent di sini bukan decent di hadapan Tuhan, tetapi di hadapan manusia-manusia lain. Tuhan kan Maha Tau, mau ditutupin gimana juga keliatan lah. Yah ini sih sekedar berpendapat saja.

NB: Di kantor saya ada dua orang yang baru pakai jilbab.

Advertisements

25 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. This post will attract troll.
     
    OK, I am an outsider, I don’t know the exact teaching of your religion, but to me (so I might be wrong), the essence of wearing jilbab (or whatsoever its relatives are) is that:
    1) Conformity
    2) Modest dressing
    3) As a response to western culture that “exposes too much skin”. :mrgreen:
    But of course this cannot be enforced. And this is not the only way. Queen Rania can be very elegantly modest without wearing one. πŸ˜€
     
    BTW, the comments are funny. I was expecting some fundamentalist reasonings, but instead, I find a flame war with our neighbouring country! πŸ˜†

  2. Sependapat, Kamerad.
    .
    *emoh membayangkan Fessy Alwi atau Eva Julianti pakai jilbab*

  3. Saya sependapat; tidak mestinya dipaksakan, langsung atau tidak langsung. Rasanya pakai atau tidak pakai tidak ada moral high ground. Namun demikian, saya juga tidak suka dengan golongan anti-jilbab yang menyamakannya dengan instrumen penindasan. Tidak harus seperti itu.
    .
    Dan Ratu Rania memang menyuarakan ketidakwajiban jilbab. Tapi beliau kok aman-aman saja, ya? Apa Yordania itu liberal? Menarik ini.

  4. Jadi mengenang jaman jahiliyah dikampus dulu, taruhan memacari cewek berjilbab..
    ===
    teman A: yes, dah bisa nyium dia
    teman B: masih kurang, gw sampai bisa melepas jilbabnya!
    Saya: kalo sudah dia yang inisiatif melepas jilbabnya demi kalian, baru datang lagi berkoar seri dengan saya…
    *semoga tuhan mengampuni semua kesalahan…*

  5. Well, pertanyaan “kenapa memakai jilbab?” itu adalah pertanyaan yang sulit di jawab dan saya jelaskan, untuk saya pribadi.
    Soalnya alasan kenapa saya memakai jilbab mungkin lebih kepada faktor kenyamanan. Bisa dibilang kalau ditanya “Kenapa tidak pakai jilbab?”, saya akan menjawab karena saya tidak nyaman.
    Dan saya setuju kalau penggunaan jilbab itu tidak boleh di paksakan, Orang tua saya menerapkan konsep ; yang penting sudah di beri tahu dan di beri contoh (ibu saya memakai), kalau masih menolak, ya itu menjadi pilihan masing2 saja.
    Tapi bagaimanapun juga, entah kenapa saya lebih senang kalo liat muslimah pakai jilbab, mungkin selera pribadi ya πŸ˜›

  6. Eh, apa ini?? Iramanya kok Tombo Ati banget?? 😯
    Oasem, tiwas antusias awan wingi πŸ˜•

  7. untung saya cowo, jadi gak kena sasaran pertanyaan ini πŸ˜€

  8. Oalah cuma satu perempuan yang komentar. Gejala apa ini. Sepertinya pertanyaannya sangat personal. Maafkan saya.
    .
    @frea
    .
    Saya juga tidak merasa terganggu dengan jilbab kok. Menurut saya jilbab juga bagus; tetapi saya hanya berfikir mungkin perempuan tidak perlu selamanya dan kapan saja mengenakan jilbab? Masalah kenyamanan berpakaian ini jadi agak ribet memang. Saya misalnya tidak pernah suka pakai sepatu dan kemeja. Kalau kerja selalu pakai sendal, kaos dan celana jeans. Kalo terpaka aja pakaiannya rapih; ke istana presiden misalnya. πŸ˜€
    .
    @lambrtz, geddoe, aris
    .
    Idemlah sama saya. Saya juga melihatnya sih begitu.
    .
    Tapi yah kesan “ini perintah Tuhan” itu kayaknya bagaimana begitu; kayaknya aneh saja kalo Tuhan juga mengatur catra berpakaian laki-laki. Bagaimana bila Tuhan mewajibkan sepatu!!!?
    .
    Soal Ratu Rania saya belum cek-cek lagi; tapi kayaknya ratu itu penganut paham “tidak menganggap agama terlalu serius” karena setahu saya Muslim liberal biasanya ada di Mesir, Lebanon, negara-negara maghribi dan Eropa. Dan Indonesia. πŸ˜€
    .
    @manusiasuper
    .
    Wah terbalik. Waktu saya masih sok alim patriakirkis dan patronizingtidak terlalu liberal, saya dan kawan-kawan pernah seperti berlomba-lomba menjilbabkan perempuan. Waktu itu Vira Yuniar masih tampak segar di layar TV. πŸ˜›
    .
    @g3mbel
    .
    :mrgreen:

  9. yowislah, saya komen… πŸ˜€
    Saya juga orang luar sih tapi banyak temen2 kampus yang berjilbab. Waktu kuliah dulu setiap masuk tahun ajaran baru tampaknya makin banyak aja…hehe…awal masuk, yang pake jilbab bisa dihitung pakai jari, waktu lulus, yang dihitung pake jari malah yang ngga pake :p
    Kalo soal gaya berpakaian yang sederhana, ah ngga juga sepertinya. malah ada beberapa yang tanpa jilbab yang lebih modest.
    Eh, tapi konon katanya kalau pake jilbab auranya keluar loh. Aura apa, saya juga ngga ngerti..hehe..

  10. Saya jadi ingat pernyataan Qory Sandioriva, Putri Indonesia barusan, waktu ada kontroversi soal “ketidak-Aceh-annya”:

    Aku tidak melepas jilbab, aku mewakili Aceh tanpa jilbab

    & she’s fuckin’ beautiful! Sayang banget kalo sampai dijilbabin. 😐
     
    BTW, cerita2 kampus dulu AFAIR saya pernah disukai seorang jilbaber (sayang saya dense saat itu). Uniknya kalo dia mau lepas jilbab saat pengen berduaan, saya gak boleh liat. Padahal dia nyopotnya di sebelah saya. :mrgreen:

  11. Saat ini masih banyak tanda-tanya soal ubun-ubun, ada tradisi menyarankan perlu ditutup (baik dengan kerudung, tulban, topi, wig) sedang di tradisi lain musti digundul sekalian. Dalam tradisi India ubun-ubun itu dipercaya sebagai crown chakra. Persisnya gimana saya juga ga mudeng πŸ™„

  12. Komentar di atas maksudnya suatu usaha melihat jilbab dari kacamata beda, tidak melulu sebagai cara berpakaian.
    .
    Apa esensi dari praktek menutup ubun-ubun?
    .
    Kalo ga nyambung, ya silakan protes 😎

  13. @felicia

    Eh, tapi konon katanya kalau pake jilbab auranya keluar loh. Aura apa, saya juga ngga ngerti..hehe..

    Iya saya juga pernah dengar begitu; mungkin benar sih. Tapi buat yang tidak terbiasa mungkin bukan aura, tapi tampak conspicious aja. πŸ˜€
    .
    @jensen99
    .
    Ya tuh si Qory. Ada-ada saja memang Aceh sekarang.
    .
    Wah apakah terasa seperti sebuah revelation kalo melihat dia tanpa jilbab? Or you never saw her without the veil?
    .
    @illuminationis
    .
    Iya yah. Kenapa yah? *clueless*

  14. ^
     
    Sesudah lepas jilbab kan lalu duduk berduaan lama banget, jadi ya tampak semua mahkotanya itu. Hanya saja pas proses melepas & menyimpan jilbab ke dalam tas itu, saya gak boleh noleh ke arahnya! πŸ˜† Soal revelation sih nggak, tetep gak cukup tuk menyadarkan saya bahwa: “cewek ini pasti mau kalo dikencani lho!”. Standar saya emang ketinggian waktu itu… 😦

  15. ^
    .
    Sekarang standarnya udah diturunin?
    .
    *kabur*

  16. ^
     
    Sudah. Beneran kok.

  17. Punten, numpang sok tahu.

    “Israel shares its longest and most fragile with Jordan. So it can’t be express “offensive” opinion – religious or otherwise – unless it’s ready to have Israel snuffing the entire region from the map, in one night.

    Mungkin karena liberalisme atau fanatisme atau apapun yang berhubungan dengan mentalitas butuh pemicu bilogis yang mendasar. Seperti pacar jensen99 di atas; dimana kebutuhan pacaran mendahului pentingannya pengakuan maupun konflik batin.

    Ataupun di Aceh, lebih aman berjilbab daripada didatangi polisi WH malam-malam karena dicurigai mesum, karena sehari-harinya tidak jilbaban. Mungkin Qory di kampungnya jilbaban?

    Jadi, yah, secara Yordania tidak berniat mati konyol, maka mau tak mau berbudaya liberal, sama dengan Jakarta & Bali.

  18. ^
     
    Wut? Pacar saya? Saya tidak pernah pacaran dengan cewek yang saya kisahkan diatas itu. Sudah dibilang kalo saat itu cewek tersebut dibawah standar. 😐 (& kenapa nama saya harus di-bold? πŸ™„ )
     
    BTW Qory itu lahir besar di Jakarta. Sedari kecil tidak berjilbab. πŸ™‚

  19. ^
    jadi, kapan Anda berencana menikahinya? Kasihan lho, JENSEN99, padahal udah buka jilbab demi dirimu. Sebagai lelaki sejati, kudu bertanggungjawab lho. πŸ˜€
    *Hning buka payung besi, siap-siap ditimpuki*

  20. ^
     
    Wah, bukan gaya saya tuk menikahi wanita yang tidak pernah saya pacari tuh. πŸ˜› (heu~ kali ini nama saya di-bold & kapital πŸ˜† )
    & gak tepat juga kalo saya mesti tanggung jawab, karena dia jatuh hati (or so I thought) tanpa saya sengaja tebar pesona. πŸ˜€
    *timpuki Hning pake cokelat isi bourbon*

  21. @jensen :

    & she’s fuckin’ beautiful! Sayang banget kalo sampai dijilbabin

    Kok saya mendengar kalimat ini jadi agak gimana gitu. Abisnya kaya seolah-olah jilbab menutupi kecantikan. Padahal kalo buat saya sih, cewek cantik ya di apain juga tetep cantik. πŸ˜›
    Tapi mungkin ini masalah selera ya?
    Yah, kalo yang masalah kontroversi lepas jilbab mbak putri Indonesia itu juga saya mikirnya terserah si mbak saja, mau copot ya pilihan si mbak,mau pake ya alhamdulillah, tapi ya agak ga enak juga kalau denger komentar bernada seperti ‘memaksa’ untuk tidak pakai, atau pun memaksa untuk pakai. πŸ˜›

  22. @hning, jensen, frea
    .
    Silahkan dilanjutkan. πŸ˜€

  23. @ Frea
     

    Padahal kalo buat saya sih, cewek cantik ya di apain juga tetep cantik.

    Tul, kecantikan (wajah)nya memang tak berubah, tapi IMO cuma bisa diapresiasi dua per tiganya kalo rambutnya tak terlihat. 😐
    Berdasar pengalaman sih, Frea, kalo sejak pertama bertemu cewek itu sudah jilbaban, ya segitulah cantiknya. No problem. Tapi kalo dari pertama bertemu gak jilbaban, lalu kemudian dia jilbaban, perasaan “ada yang hilang” itu ada. Serius… 😐

    Tapi mungkin ini masalah selera ya?

    Oiyatentusaja™

    […] tapi ya agak ga enak juga kalau denger komentar bernada seperti β€˜memaksa’ untuk tidak pakai, atau pun memaksa untuk pakai.

    Ya, betul. Seharusnya ini bisa disampaikan ke pemprov Aceh yang memaksa semua cewek (di?) Aceh (atau yang mau mewakili Aceh) tuk jilbaban. πŸ˜‰

  24. saya tidak sependapat nih.
    sebenarnya nutupin aurat itu wajib hukumnya dalam islam. Rambut cewek itu kan aurat,, ya harus ditutupin.. Nah, sayangnya cewek islam banyak yg suka memamerkan rambut. Bahkan gaya rambut mereka dimacam-macamin..
    Kita telah dipengaruhi budaya barat. Allah menyuruh hambanya nutup aurat pasti ada makna yg baik buat hambanya. Memakai jilbab itu menjaga diri kita sebagai cewek.

  25. Astaghfirullah
    Memang tidak ada perintah memakai jilbab, yang ada untuk menutup aurat πŸ™‚
    Dan perintah itu hukumnya wajib loh,
    Hanya mengingatkan πŸ™‚


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: