Es Krim

October 16, 2009 at 12:51 am | Posted in filsafat, iseng, katarsis | 27 Comments
Tags: , ,

Saya pernah mengajukan pertanyaan ini kepada seorang perempuan sebelum dia menjadi gila dan memutuskan untuk memacari saya sekalian: mana yang kamu pilih; merasakan es krim yang luar biasa lezat untuk kemudian melupakan kelezatannya untuk selamanya, atau tidak pernah merasakan es krim sama sekali selama hidup kamu, tetapi kenangan akan lezatnya es krim yang tidak pernah kamu cicipi itu tidak pernah hilang dari ingatanmu untuk selamanya?

Ice Cream

Yummy!!!

Saya lupa dia jawab yang mana: sepertinya yang pertama maap neng lupa beneran ini. Yang jelas, pertanyaan ini mengingatkan saya pada kebencian Jensen pada filosofinya orang kalah bahwa cinta tak harus memiliki dan juga pada melankolinya Lambrtz, yang berharap Bapak di Sorga berkenan menghadiahinya cinta sebilanya dia dapet gelar PhD dan masuk surga.

Mana yang lebih penting: pengalaman an sich atau sensasi dari pengalaman?

Seperti Rumi yang percaya bahwa kerinduan pada Allah adalah penanda dari Wujud Yang Maha Cinta, atau seperti penjual kristal dalam novel Alkemis yang tidak ingin pergi Haji karena tidak ingin mimpinya musnah, manusia sebenarnya sudah dianugrahi banyak fakultas; yang dengannya mereka tidak harus merasa dipecundangi kenyataan bahwa sebenarnya mereka hanyalah pegawai rendahan dengan gaji pas-pasan pada sebuah perusahaan kecil. Harapan, mimpi, cita-cita dan angan-angan; apakah mereka tidak ada harganya? Ah, ya, mana yang Anda pilih: makan es krim dan kemudian lupa bagaimana rasanya, atau tidak pernah makan es krim tetapi selalu terkenang akan kelezatannya?

27 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. pilih yang pertamaπŸ˜€

  2. ^
    .
    Seperti sudah saya duga.πŸ˜€

  3. melankolinya Lambrtz, yang berharap Bapak di Sorga berkenan menghadiahinya cinta sebilanya dia dapet gelar PhD dan masuk surga.

    πŸ˜† LOL at thisπŸ˜†
    Ah ga segitunya kok.😳 :-”
     
    BTT, pilih yang pertama. Betapapun nikmatnya sensasi yang kedua, itu cuman ilusi. Saya sudah berkali-kali seperti ini: pingin makan sesuatu, tapi setelah makan akhirnya biasa saja, dan kalau berulang-ulang malah jadi bosan. Ya gimana lagi, sepertinya ini lumrah, jadi hadapi saja.

    pegawai rendahan dengan gaji pas-pasan pada sebuah perusahaan kecil.

    Ealah, intinya ini toh.πŸ˜•
    Emangnya tempat kerjamu itu perusahaan kecil?

  4. maap neng lupa beneran ini.

    Eh hati-hati lho. Berdasarkan pengalaman saya simulasi pacaran, cewek peduli dengan hall-hal kecil seperti ini.πŸ˜†
    Dulu sempet dimarahi.😳

  5. Kalau tidak bisa mencicipi, sebaiknya dari awal tidak usah tahu ada yang namanya es krim di dunia ini.
    Kalau sudah terlanjur tahu, ya pilih yang pertama. Sekedar merasakan sendiri, jadi bisa menceritakan pada orang lain apakah rasanya memang seenak yang diceritakan.
    Tapi ada juga orang yang lebih memilih untuk tidak merasakan sama sekali karena takut kalau ternyata kecengannya tidak sebaik es krimnya tidak seenak yang dikhayalkannya.

  6. Saya pilih yang pertama:mrgreen:
    Masalah tidak seenak seperti bayangan, atau malah jadi bosan, idem sama lambrtz, kayanya semua hal pasti begitu. Tapi kalau ga begitu, kita ga akan melirik makanan lain untuk kemudian di coba, dan pada akhirnya menemukan yang “selalu enak” di lidah.
    *halah malah curcol*πŸ˜›

  7. pilih yang pertama, apalagi kalau rasa cokelat.πŸ™‚

  8. Dua opsi yang agak aneh, saya pikir. Opsi pertama, menggelikan; “Makan es krim dan kemudian lupa bagaimana rasanya”. Lupa? Lupa kenapa? Jika sudah lupa tapi kemudian ada hasrat ingin mencicipi es krim lagi, maka balik lagi ke awal; ingin makan es krimnya lagi! Beda situasinya kalau setelah makan es krim, lalu kita mampus.
    .
    Opsi kedua, ini yang aneh. “Tidak pernah makan es krim, tetapi selalu terkenang akan kelezatannya”???. Bagaimana mungkin kita bisa me-nge-nang-kan suatu kelezatan/rasa jika kita sama sekali tidak pernah mencicipinya? Barangkali perlu diralat kata “terkenang” tersebut dengan kata “terlamunkan”. Sehingga kalimatnya menjadi, “tidak pernah makan es krim tetapi selalu melamunkan kelezatannya”, itu baru masuk akal.
    .
    BTW, maaf nih Mas, saya pernah baca tentang hal ini di blog pacar Anda (satu tahun silam) di blognya, tapi redaksinya bukan seperti yang Anda tulis deh. Yang pacar Anda tulis itu hampir mirip dengan yang Anda suguhkan, tapi beda. Sumpah, beda..πŸ˜›

  9. Ini tentang apa? Ketakutan menjalani komitmen? Apa yang sedang dilambangkan dengan es krim ini?πŸ™„

    merasakan es krim yang luar biasa lezat untuk kemudian melupakan kelezatannya untuk selamanya

    Lupa maupun ingat, intinya adalah: pernah merasakan. Dan itu titik tidak balik. Ya.. seperti kehilangan keperawanan gitu.

    tidak pernah merasakan es krim sama sekali selama hidup kamu, tetapi kenangan akan lezatnya es krim yang tidak pernah kamu cicipi itu tidak pernah hilang dari ingatanmu untuk selamanya?

    Kenangan tanpa kejadian? Seperti cinta pertama yang gak pernah kesampaian? Sensasi dari masturbasi hati ini namanya…πŸ˜•

  10. Tetap lebih enak makan es krimlah.

  11. @all
    .
    Karena jawabannya sama semua; komentar atas komemtarnya saya gabung aja alesansebenernyamales.:mrgreen:
    .
    Saya memilih yang kedua; apa bedanya ilusi dan bukan ilusi jika sesuatu hal itu sudah berlalu? Ingatan atau memori buat saya penting. Melakukan sesuatu kemudian lupa sama saja tidak melakukan sesuatu buat saya. I don’t know with u guys; tapi memori itu penting, lebih penting dari peristiwa itu sendiri.

  12. ^
    Dasar pemimpi.πŸ™„

    I don’t know with u guys; tapi memori itu penting, lebih penting dari peristiwa itu sendiri.

    To me it is the opposite, Ali; pengalaman itu penting, lebih penting daripada sekedar lamunan. Memangnya kamu mau cerita apa pada anak cucumu? “Dulu engkong pernah bermimpi jadi wartawan Al Jazeera, rasanya nikmaaat sekali.”?πŸ˜†

  13. ^
    .
    Dan cucumu bertanya: “Was it great to become a journalist?”
    .
    And you go like: “Well, I have completely forgotten about it!!”
    .
    Grandson talking to mom
    .
    “Mom, I think grandpa’s lying again.”
    .
    As for me, I could tell him/her a lot of exciting stories; doesn’t matter if they truly happened or not. What’s the use of a marvelous event you can never recall? Do you know that being nostalgic is probably a feature uniquely human? Cats do not listen to George Benson’s songs.:mrgreen:

  14. Lah, emang saya milih yang opsi pertama gitu?πŸ˜•

  15. ^
    .
    Abstain tidak dihitung.

  16. As for me, I could tell him/her a lot of exciting stories; doesn’t matter if they truly happened or not.

    Bisa saya bayangkan…πŸ™„:mrgreen:

    What’s the use of a marvelous event you can never recall?

    Kok seperti jaman prehistorik aja? Gunakanlah foto, video atau tulisan atau blog bos! Dipahat jadi relief macam candi juga gpp kok. Kalo semuanya dijejalkan di memori ya modyar!πŸ˜†

  17. As for me, I could tell him/her a lot of exciting stories; doesn’t matter if they truly happened or not.

    There are 2 possibilities. If you claim that as the truth, you teach your descendants to lie. If not, then you will merely be a laughing-stock for only being able to tell bullshits. Any better possibilities?
     
    @jensen99

    Gunakanlah foto, video atau tulisan [dst]

    Dari awal, postingan ini kan sudah mengarah ke false dilemma. Apa iya kenangan akan selalu dilupakan dengan mudahnya? Kecuali ybs sakit ingatan, rasanya tidak. Bahkan eyang saya yang kena Alzheimer pun masih ingat kejadian-kejadian pada masa lalu dengan baik, karena yang rusak cuma memori jangka pendeknya. Saya mah playing along aja. *dihajar xD *
     
    E Bang Ali, yang komen sebelumnya tolong dihapus dong, kecepetan pencet Submit. Makasih.:mrgreen:

  18. @ Ali Sastro

    Saya memilih yang kedua; apa bedanya ilusi dan bukan ilusi jika sesuatu hal itu sudah berlalu?

    Orang yang tidak pernah makan es krim kok berani-beraninya membayangkan rasa es krim seperti apa. Ini sama saja dengan orang yang belum pernah ketemu Tuhan, tapi percaya haqul yakin bahwa keyakinan/agamanya paling direstui. [-(

    /sarcasm dikit
    //yay:mrgreen:

  19. @jensen99
    .
    IT’s comical, I know. Tapi bukankah semuanya bisa dijadikan komik? Yesus dan Muhammad yang dianggap suci oleh dua kelompok manusia pun pun bisa dijadikan komik.
    .

    Kok seperti jaman prehistorik aja? Gunakanlah foto, video atau tulisan atau blog bos! Dipahat jadi relief macam candi juga gpp kok. Kalo semuanya dijejalkan di memori ya modyar!

    Ya kalau setia sama pertanyaan saya kan, berarti semua foto dan candi itu tidak akan membawa ingatan apa-apa. Lah, wong pilihannya kan lupa sekali. Sebenarnya es krim ini metafora dari berbagai hal yang kita anggap besar; misalnya cinta atau kerinduan kepada Tuhan. Selama ini bukankah tidak ada orang yang sungguh-sungguh “mengalami” cinta dan Tuhan? Tetapi mengapa setiap orang seolah-olah pernah bertemu Tuhan dan berkata: saya yakin Tuhan itu ada!! Ya jelas dong gak semua hal perlu diingat. Sekalipun ada peristiwa kecil yang akhirnya teringat, itu pasti peristiwa besar. Misalnya terjebak hujan bersama gebetan.
    .
    @lambrtz
    .
    What is a lie? Anda what is truth? Won’t argue further.:mrgreen:
    .
    On false dilemma: YES IT IS.
    .
    That’s the problem with you guys, IMO. Kalian sepertinya terlalu realis; terlalu pragmatis. Tentu ini bukan soal “salah” atau “benar”. I am just saying that in the end; all those special experiences we have had with our loved ones and significant others will evaporate into mere memories. And that’s what matters, right? As I said, what’s the use of an experience if it is forgettable? Apakah kita kan menjadi pelupa atau tidak, dokter dan para ilmuwan bisa berkata apa saja, tetapi faktanya kita terlalu mudah lupa? Konon katanya sastrawan, hidup adalah perjuangan melawan lupa. Mungkin Lambrtz masih ingat jalan pulang ke Yogya, tetapi apakah selalu bisa mengenang ambiance Yogya? That’s another issue.

  20. @sora9n
    .
    THAT’s the whole point of my argument.
    .
    Sarcasm buat beberapa orang; tetapi buat yang lain itu sebuah philosophical sanctuary….:mrgreen:

  21. @felicia
    .
    Duh adek-adek tolong ya jangan kasih saya karakter anime lagi. Ndak ngerti saya. Itu bukan Kapten Tsubasa?:mrgreen:

  22. *ngakak gila-gilaan baca komen mbak Feli*πŸ˜† πŸ˜† πŸ˜†
     
    @ Ali Sastro
     
    Bukan. Ceritanya beda, tokohnya juga beda.πŸ˜›
     
    *masih ngakak*πŸ˜† πŸ˜†

  23. ^^

    Saya beneran tidak mengerti.

  24. ^

    Aeh, sori. Anggap saja semacam reference atau inside joke. ^^;;
     
    /sorry for obscurity

  25. Iya, maafkan ya…
    Harus nonton atau baca komiknya dulu baru tahu…hehe…
    Ceritanya ada hubungannya dengan kehilangan memori sih, makanya saya komen itu… ^.^

  26. lieur ah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: